
Edgar Pov
Penasaran dengan apa yang terjadi, aku mengintip apa yang terjadi dari balik kaca jendela dari luar, terlihat beberapa Dokter tengah memasangkan alat pemicu jantung, sementara Eliana masih histeris di samping Ibunya.
Aku sungguh tidak tega melihatnya, Eliana pasti butuh sandaran dalam hidupnya, setengah jam berlalu, aku dan kedua anakku di temani Aldo, masih berdiri terpaku di depan ruangan ini. Bingung, apa yang harus kulakukan? Setelah di rasa suasana sudah agak reda, aku mencoba memasuki ruangan tersebut, setelah sebelumnya beberapa petugas medis sudah keluar dari dalam ruangan tersebut.
“El??” sapaku, kulihat gadis itu terlihat begitu kacau
Hening, hanya suara monitor saja yang terdengar nyaring. Kutatap Eliana yang tengah berdiri di samping kepala Ibunya, wajahnya di penuhi dengan air mata.
Bisa kupahami, jika dia merasa sangat hancur, satu-satunya sosok paling berharga yang tersisa dalam hidupnya dan orang yang paling dicintainya, kini tengah terbaring dalam masa kritisnya.
Di besarkan sebagai anak tunggal, oleh orangtua tunggal, membuatnya harus hidup mandiri, dan tegar, meski aku yakin mungkin hatinya tidak setegar kelihatannya.
Takdir hidup memang tidak selamanya indah, adakalanya episode manis itu berlalu begitu cepat, dan hanya menyisakan sekelumit kenangan indah, yang hanya bisa di kenang.
Begitulah takdir hidup di ciptakan, tidak ada pesta yang tidak berakhir, tidak ada kebahagiaan yang abadi, begitupun dengan luka. Tuhan menciptakan duka dan nestapa agar kita tahu, bagaimana caranya bersabar dan bersyukur.
Ibunya masih terbaring lemah, perlahan matanya terbuka, dia memandangku lekat, senyumnya menyungging padaku, aku mengernyit bingung.
Alat pembantu fungsi organ tubuh terpasang lengkap di beberapa bagian tubuhnya.
“Kau Edgar bukan??” tanyanya dengan suara tertahan, ku tatap layar monitor di sampingnya, terlihat grafiknya naik turun.
“Kemarilah ...” ucapnya, aku semakin bingung, darimana dia tahu namaku?.
Aku hanya bisa mengikuti perintahnya, ku bungkukkan tubuhku, perlahan aku meraih tangannya, lalu menciumnya.
Bayangan kedua orantuaku yang sudah tidak ada, membuat mataku berkaca-kaca, perlahan kenangan manis bersama mereka terputar jelas dalam memoryku. Tanpa terasa air mataku hampir saja luruh.
“Edgar?? Aku ingin menitipkan Eliana padamu” ucapnya, kata-katanya terdengar ambigu, aku sungguh bingung mengartikan permintaannya.
“Ma maaf, maksud Ibu apa?” tanyaku dengan suara tertahan, kenapa perasaanku jadi tidak karuan??.
Ibunya Eliana menatapku, dengan tatapan yang mengiba.
“Kau calon suaminya bukan??”.
__ADS_1
Deg ...
Apa lagi ini?? Apakah Ibunya Eliana mendengar gosip itu juga?? Bagaimana caraku menjelaskannya?.
“Kamu ... mau kan??”.
Aku masih membisu.
Napas Ibunya Eliana semakin melemah, berkali dengan sisa tenaganya dia memohon dan bertanya hal yang sama, tapi aku masih tetap membisu, bibirku kelu. Ingin rasanya aku menjelaskan semuanya, tapi bibirku terasa di kunci aku hanya takut salah bicara, mengingat Ibunya Eliana jelas sedang kritis.
Terlihat Ibunya Eliana semakin putus asa, menanti jawaban dariku yang belum juga aku berikan. Kini tangannya mencoba meraih tanganku, aku segera menyambutnya, tangan lemahnya menggenggam erat jemariku, matanya berkaca-kaca.
“Bolehkan aku memohon padamu??”.
Aku mengangguk “Iya ... boleh”
Sunyi. Dia kembali terdiam, kemudian mencoba menyeka sudut matanya yang sudah mengeluarkan lelehannya.
“Bolehkah aku memintamu untuk menikahi putriku sekarang??”.
Aku semakin tidak mengerti, aku kembali terdiam, mencoba menimang keputusan paling bijak yang akan aku katakan.
Tes ...
Air mata itu menetes di jemariku, sementara Eliana terus menangis sesenggukan.
“Mau kan? Edgar??” matanya semakin mengiba.
“Sa saya bersedia Ibu. Saya tidak keberatan untuk menikahi Eliana sekarang juga” ucapku lantang. Eh? Apa yang sudah kukatakan barusan?? Sementara itu kutatap Eliana tangisnya berhenti sejenak, mungkin dia juga bingung, matanya membelalak.
“El?” Ibunya Eliana menatap putrinya, kemudian tangan yang tengah di pasangi infusan mencoba menggapai tangan Eliana, Eliana menyambutnya. Tidak lama tangan kami sudah bersatu.
“Hidup bahagialah El, Ibu akan tenang jika kamu sudah memiliki pendamping sebaik Edgar” ucapnya kemudian, suara isakan dari Eliana semakin nyaring, seiring dengan suara monitor yang semakin nyaring pula,
“Te terimakasih Edgar, aku ti tip putriku” suaranya semakin lemah.
“Jadikan dia istrimu” aku semakin kelu, seulas senyum masih tersungging di bibirnya.
__ADS_1
Suara Ibu Eliana perlahan semakin lemah dan ... hilang.
Suara monitor terdengar mendengung dengan grafiknya perlahan mendatar, seiring dengan tangisan Eliana juga perawat dan tim medis lainnya yang berdatangan memberikan pertolongan dengan berbagai cara.
Tubuh Ibunya Eliana terguncang saat dokter memberikan terapi kejut dengan alatnya, sayang Ibunya Eliana tidak tertolong, meski tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Matanya tertutup. Tapi, seulas senyum bahagia tersungging dari bibir pucatnya.
Kulirik Eliana yang tengah tersedu, langit terasa gelap, hatiku terasa runtuh melihat kejadian ini, apalagi ketika mengingat pesan terakhir dari Ibunya Eliana. Rasanya duniaku berputar seketika.
“Aldo ... siapkan segala kebutuhan untuk acara pernikahanku, aku akan menikah sekarang”
“Appppaaaaaa????
***
Eliana Pov
Sesuatu yang hangat mengaliri wajah, membangunkan aku dari mimpi indah. Aku menyentuh dada, merasakan sesak yang begitu nyata. Beberapa hari berlalu setelah kepergian Ibu, sampai hari ini tidak ada yang bisa membuatku tertarik untuk beranjak dari kasur besar ini. Bahkan, mereka bilang aku sudah resmi menjadi istri dari seorang Edgar Adiswara pengusaha ternama tidak ada duanya.
Aku tidak perduli, setelah kepergian Ibu, kini semuanya menjadi tidak berarti lagi bagi hidupku. Aku hanya terpaku pada kamar ini, ku edarkan pandanganku di ruangan asing ini. Tidak ada minat untukku bergerak. Aku hanya ingin seperti ini, duduk memeluk lutut, dengan derai air mata sebagai teman sepiku.
Ibu ... aku rindu ...
Ya ... kadang rindu sekuat itu, dapat membawamu kembali mengulang dan merasakan aroma serta kenikmatan yang sama, meski hanya lewat sebuah mimpi. Namun, rindu begitu menyesakkan saat kau tidak memiliki kesempatan untuk melepaskannya secara nyata. Nikmati hari-harimu sebelum rindu seberat itu menyiksamu.
Ku bayangkan kala itu usiaku masih lima belas tahun, ibu yang sedang menyiapkan sarapan untukku menoleh padaku, lalu tersenyum penuh kenyamanan yang berakhir menenangkan di dalam sini. Wanita itu berjalan mendekati meja, lalu meletakkan piring berisi nasi, telur dadar, tahu, dan tempe goreng buatannya.
“Ini, makanlah El”
Aku menerima makanan itu, “Enak” ucapku dengan mata berbinar.
Ia tersenyum. Indah, dan selalu begitu.
Aku mengerjap, terjaga dari lamunanku, kala kurasakan mentari tengah menyoroti sekujur tubuhku, melalui gorden kamar di ruangan ini. Aku berdiri, lalu berjalan menuju jendela, lalu perlahan ku sibak gorden. Ku tatap taman yang terletak di luar kamar ini, kembali kulihat bayangan Ibu yang tengah menyiram bunga kesayangannya, lalu dengan jahilnya Ibu menyiramkan air itu ketubuh kecilku, hingga aku berlarian karena takut air, dan Ibu mengejarku. Aku tersenyum menatap bayangan itu.
Yah ... begitulah, kadang sesuatu yang kita kenang tentang seseorang bukanlah sesuatu kejadian yang istimewa. Melainkan kejadian sederhana yang terus terulang di tiap harinya. Hingga alam bawah sadar kita perlahan merekamnya. Lalu menyimpannya, dalam file kenangan saat semua hanya menjadi sebuah masa yang tertinggal, namun tidak untuk terlupakan.
Sikap sederhana yang penuh makna, tak pernah ia ucapkan kata cinta namun aku bisa merasakannya, mengalirkannya pada nadiku hingga membuatku kini tidak ubahnya seperti dia. Selalu letupkan semangat untuk sebuah cita-cita. Menebarkan kebaikan bagi orang-orang di sekelilingnya.
__ADS_1
Kini sang pemilik raga telah merenta, menyisakan daksa yang dulu tampak gagah dan kuat. Sepasang mata yang dulu tampak begitu membara dengan jutaan mimpi kini perlahan meredup sayu. Entah karena usianya atau karena penyakit yang menderanya, kini dia sudah tidak bisa lagi menciptakan mimpi, atau mungkin karena semua mimpinya sudah terwujud. Atau mungkin karena aku sudah tidak mampu lagi mendampinginya?. Dia ... sudah tiada, tuhan jauh lebih mencintainya di banding aku. Darinya aku belajar banyak hal, tentang arti belajar dalam mencinta, mencinta dalam sabar, dan sabar dalam bersyukur.
Ibu ... bahagialah di sisinya ...