DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Oleh-oleh


__ADS_3

“Aku cin cin cinta kamu!” akhirnya Ed mampu mengucapkan kata keramat itu.


Tttrrraaaannnggg!!!!


Tiba-tiba saja Ed dan Aldo mengerjap kaget, kala terdengar sebuah benda jatuh tepat di arah pintu, di sana terlihat Eliana tengah berdiri di ambang pintu, dengan rantang makanan yang sudah berhamburan di lantai.


“El??”


“Nyonya??”


Sementara itu, El hanya menutup mulutnya, sambil memelototkan matanya, menatap Aldo dan Ed bergantian,


“Jadi?? Ini alasan kenapa kau tidak bisa mengucapkan kata itu padaku?? Karena kau sudah berubah haluan??” ucap Eliana sambil berlari, menubruk Siska yang sedang berjalan menuju ruangan Ed, membuat Siska kelimpungan, karena harus memunguti berkas-berkas yang tercecer di mana-mana.


“Berubah haluan?? Apa maksudnya??” Ed menatap Aldo, dan Aldo menatap Ed, lalu mereka saling menunjuk dengan jari telunjuk masing-masing, setelah menyadari maksud El, Edgar langsung berlari mengejar Eliana, yang entah sudah berada di mana.


“Perempuan aneh! Di kira aku ini gay apa?? Ish ...” Ed segera memasuki liftnya.


***


Pulang ke rumah, moodku sangat hancur, aku sungguh tidak menyangka atas apa yang aku lihat tadi, sungguhkah AA adalah ... aaahhhh ... aku tidak bisa membayangkannya,


Apa ini alasan Mbak Chelsi pisah dari AA?? Apa ini alasan kenapa selama ini AA terlihat biasa saja di dekatku?? Padahal aku ini masih muda dan cantik lho, ish ... aku harus apa sekarang??.


Aku melangkah ke dalam rumah dengan langkah yang gontai,


“Jangan Dek, jangaaannnn!!!” terdengar teriakan panjang dari arah kamar Aksa, kenapa lagi dengan mereka? Aku segera bergegas menuju kamar Aksa.


Terlihat mereka sedang berebut sesuatu entah apa, aku masih memperhatikan mereka di ambang pintu, tanpa mereka sadari.


“Jangan Dek, ini punya Ibuuuuuu ... nanti marah! Masa kamu warnain gambar pakai lipstik siiihhh???!!” lipstik?? Lipstik apa?? Jangan-jangan lipstik mahal, yang baru aku pesan dari Bu Mirna?? Hasil ngerajuk manja pada si AA?? Oh nooooo!!!.


“Balikin Kakak! Ini punyaku! Aku mau gambar pakai warna ini!!” Aksa masih ngotot mempertahankan keinginannya.


“Jangaaaannn!!!” Azura terlihat menariknya dengan keras,


“Tuh kaaannnn ... patah deeeehhh ...” tubuh Azura melemah, lalu ...


Bbbrruuukkk ...

__ADS_1


Aksa jatuh dari kursi belajarnya,


“Ya ampuuunnn!! Kenapa ini??” aku datang menghampiri, sambil membantu tubuh Aksa untuk berdiri.


“Huuuuaaaa ... kak Zura jahat!! Aku mau warnain gambar tapi di laraaaannnggg!!!” seketika Aksa nangis kejer sambil guling-guling di lantai.


“Eeehhh ... udah jangan nangis!” Aku segera memeluk Aksa, lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan.


“Aksa tuh ... udah di bilangin juga” Azura melipat tangannya di dada.


“Kalian kenapa sih?? Berantem terus?? Bibi mana??” tanyaku celingukan.


“Bibi pergi, tadi Aksa jahilin Bibi” jelas Azura lagi,


“Jahilin?? Jahilin apa??” tanyaku bingung,


“Aksa nyuruh Bibi buat lari ngejar tukang tahu bulat, tapi pas udah dapet, malah di buang, katanya udah gak mau” jelas Azura.


“Aksa?? Kok kamu gitu sayang??” aku menatap bocah yang masih sesenggukan.


“Hhhuuuaaa!!! Habis, kalau mau jajan tahu bulat suka dilarang terus sama Ayah, hhuuuaaa” Aksa malah makin kejer.


“Udah, jangan nangis lagi, nanti ini biar di beresin sama Bibi, Aksa ikut Ibu aja ke dapur” ajakku, sambil beranjak menuntun bocah usia tujuh tahun itu.


Dengan masih menyisakan isak, Aksa mengikuti langkahku menuju dapur, lalu aku mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat tahu bulat, makanan yang di inginkan Aksa.


Lima belas menit kemudian ... aku masih asyik sendiri, tanpa kusadari Aksa sudah tidak ada di tempatnya, tiba-tiba ...


“Bu ... Ibu ...” Azura memanggilku, aku menoleh lalu menatapnya.


“Kenapa Kak??” tanyaku, sambil asyik membulatkan adonan tahu.


“Aksa tuh, lagi nangis guling-guling di depan gerbang rumah, bikin malu aja” gerutunya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


“Loh?? Tadi dia di sini kan??” aku celingukan, baru beberapa menit, sudah lari kemana itu anak.


“Aksa mau lari ngejar tukan tahu bulat, tapi si Abangnya gak mau berhenti, soalnya kapok di PHP in melulu” ujar Azura sambil berlalu,


Yassalaam ... begini amat jadi emak dua anak, gak pernah seharipun bisa hidup damai seharian, meskipun udah ada banyak ART masih aja kualahan, lah ... yang di hadapinya juga bukan sembarang bocah, bukan sembarang Aki-Aki. Mereka semua adalah manusia paket komplit yang sangat menyebalkan. Huh ...

__ADS_1


Segera aku beranjak menuju pintu utama, begini nih ... kalo punya rumah kegedean, halaman rumah yang terlalu luas, mau jalan rasanya kok jauh amat ya?. Dari jauh aku sudah melihat Aksa tengah guling-guling sedang di saksikan pak Toto, pak Mamat, dan beberapa ART yang mencoba membujuknya.


“Aksa?? Kok guling-guling di tanah sih??” tanyaku menghampirinya, ah ... nyampe juga ke gerbang depan, meskipun sambil ngos-ngosan.


“Aku mau tahu bulaaatttt, hhuuaaaa!!” dia kembali berguling-guling di tanah, sementara Pak Mamat sudah berhasil menutup pintu gerbangnya.


“Aksa! Kalau mau tiduran jangan disini dong, malu-maluin, Kakak bilangin Ayah lho!” ancam Azura, sambil melipat kedua tangannya di dada.


Mendengar ancaman Kakaknya Aksa semakin menjadi, dia semakin menangis di dramatisir, hadeeuuuhhh ...


“Ya udah, Aksa kalau mau tiduran di sini gak apa-apa, kita tinggal aja yuk ... Ibu kan lagi bikin tahu bulat, kita makan bareng-bareng yuk ...” Aku menuntun Azura, lalu bersiap berangkat.


“Ibuuuuuu!!!” tangisnya semakin menjadi, lalu merentangkan kedua tangannya, mungkin ingin di pangku. Ya gustiiiiii ...


“Ya udah, sinih Ibu pangku, hupt ...” tubuh Aksa sudah lumayan tinggi, sekarang minta di pangku pula, hhhh ...


‘Pinggangkuuuuu ... aawwww’ apa si AA udah ngutuk aku ya?? Aku kan sering banget ledekin dia, kalau dia ngeluh sakit pinggang, karena dia emang udah tuir, hiks ... pliiiissss, aku cuman bercanda, jangan di catet dong.


Akhirnya tiba juga di kursi makan, aku segera menyiapkan tahu bulat buatanku, lalu memberikannya pada mereka.


Mereka memakannya dengan lahap,


“Lagi apa??” suara berat itu mengagetkanku,


“Ayah pulang?? Bawa apa itu??” seketika mata Aksa tertuju pada sebuah papper bag kecil yang ada di tangan Ed,


“I iniii ...” Ed terlihat bingung, sementara aku hanya menatapnya saja, aku butuh penjelasan, atas apa yang kulihat tadi di kantor. Apa iya? AA sudah berubah haluan??, kalau iyaaa?? Ck.


“Whhoooaaa ... coklat” Aksa langsung membuka kotak tersebut, yang ternyata isinya coklat warna warni, terlihat lucu dan menggemaskan bagi anak-anak.


“Ini untukku” Aksa langsung mendominasi.


“Ayah jahat!” Azura memonyongkan bibirnya,


“Hah??” Ed terlihat celingukan, aku hanya menatapnya tajam.


“Kenapa yang di kasih oleh-oleh hanya Aksa? Kenapa aku tidak?? Ayah pilih kasih ... ish” Azura menghentakkan kakinya, berlalu menuju kamarnya dengan air mata yang sudah menggenang.


“Eeehhh ... Azura jangan marah” Aku berusaha mengejarnya, sementara AA terlihat makin bingung.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2