DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
TIMIT


__ADS_3

Satu minggu setelah acara kejutan dari AA telah berlalu.


Kembali pada hari minggu selanjutnya. Kini, pagi-pagi sekali, aku dan AA, juga anak-anak tengah bersiap, untuk menghadiri acara pembukaan yayasan yang sudah menjadi milikku, pagi ini, aku teramat bersemangat. Acara akan di lakukan pukul sepuluh siang, tapi dari pukul tujuh pagi aku sudah bersiap. Dengan segera aku menyeret tangan AA dan anak-anak agar segera berangkat, membuat mereka kelimpungan, karena mereka belum siap. Tapi, lagi-lagi demi menyenangkan hatiku, mereka hanya mengikuti inginku saja.


Tak lupa, aku juga mengundang geng drove girls, sekumpulan emak-emak ini gak mau ketinggalan untuk hadir, saat mereka tahu aku memiliki acara, mereka sangat mendukungku, dan aku sangat bersyukur untuk itu, bahkan tanpa ragu, mereka juga mengajukan diri mereka untuk menjadi donatur tetap di yayasanku. Ah ... mereka memang luar biasa, ternyata mereka bukan hanya senang menghamburkan uang untuk foya-foya saja, tapi mereka juga memiliki sisi baik, mereka mengeluarkan uang untuk beramal juga.


Selain mereka, aku juga mengundang Bundanya anak-anak dan keluarganya, yaitu Imran dan istrinya. Kenapa aku mengundang mereka?? Karena mereka adalah bagian keluarga dari anak-anakku, dan otomatis mereka juga keluargaku sekarang. Jujur, melihat pertikaian antara AA dan mantan adik iparnya itu, membuatku miris selama ini, ingin rasanya aku bisa mempersatukan mereka kembali, mengingat sebelumnya mereka adalah sahabat baik. Dan mungkin, ini adalah moment terbaik untuk membuat mereka berbaikan. Ya semoga saja aku berhasil.


Lagu kemesraan yang di lantunkan oleh Om Iwan fals menggema menemani perjalanan kami. AA terlihat ikut bersenandung kecil, sementara anak-anak di belakang malah menguap berkali-kali. Aku hanya bisa menatap suamiku ini dengan tatapan berkecamuk, antara seneng, bahagia, kagum, juga ... entahlah, aku tidak bisa menjabarkan perasaanku kini.


Bibirku tertarik, menyiptakan sebuah lengkungan. Aku tersenyum menatap AA yang tengah menikmati musiknya.


“Kenapa?? Apa aku terlihat tampan??” tanyanya tanpa mengalihkan fokus pada kemudi.


“Sejak kapan AA jadi narsis begitu??” tanyaku, memutar kedua bola mata, malas.


“Sejak kita ...” aih ... dia sudah senyum-senyum sendiri, sambil memiringkan bibirnya. Dasar mesum!.


“Stop! Ada anak-anak!” aku merentangkan tangan, menyetop ucapannya.


“Ah ... AA emang tampan sih” ucapku kemudian. Eh?? Apa ini?? Apa aku sedang merayunya sekarang?? Duh ... ketularan AA ini mah. Tapi, AA memang tampan kok, wajahnya enak di pandang, meski usia kami terpaut lebih enam belas tahun, tapi AA masih terlihat mempesona di usianya yang sudah matang. Aku lebay?? Bodo amat ah, yang penting aku lagi seneng hari ini.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya kami tiba di lokasi. Aku turun dari mobil, dan langsung di sambut oleh banyak orang, di antaranya oleh geng drove girls, loh? Aku fikir aku datang terlampau pagi, tapi ternyata mereka sudah betkumpul di sini.


“Selamat ya Nyonya El ...” Bu Lili memelukku erat, lalu menautkan kedua pipinya padaku.


“Terimakasih” jawabku masih terharu.


“Selamat ... selamat ... selamat ...” kata itu terus menggema di telingaku, aku hanya bisa membalasnya dengan ucapan terimakasih.


“Selamat ya El” suara di belakang punggungku, membuatku menoleh.


“Mbak Chelsi??” aku membelalakan mata, ternyata Mbak Chelsi juga datang sepagi ini.

__ADS_1


“Selamat” ucapnya, lalu memelukku erat.


“Dan terimakasih, karena sudah menjaga anak-anakku dengan sangat baik” Mbka Chelsi berbisik tepat di telingaku, membuatku terpaku.


“Sama-sama Mbka, sudah menjadi tugasku kok” balasku.


Mbak Chelsi tersenyum padaku.


“Selamat” seorang Pria menjulurkan tangannya di hadapanku.


“Terimakasih, Kak, eh Om Imran” ucapku gugup, aku harus memanggil sahabat suamiku ini apa??.


“Hahaha ... panggil aku senyamanmu” pria itu tergelak.


“Edgar ... selamat” kini juluran tangan itu menuju arah suamiku.


“Terimakasih” AA menyambut uluran tangan itu dengan ragu.


Grreepppp ...


Acara selanjutnya adalah gunting pita, sebagai tanda jika yayasan ini, akan segera beroprasional. Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca, rasa haru menyelimuti qalbuku.


Setelah acara gunting pita, kemudian kami mempersilahkan tamu undangan untuk makan jamuan yang telah di sediakan. Termasuk aku, dan keluargaku.


“Wah ... pengantin baru, tambah mesra aja” ucap Kak Imran mendekati kami, AA hanya tergelak.


“Kapan kalian akan bulan madu??” tanyanya,


“Uhuk ... uhuk ...” seketika aku tersedak.


Gak bulan madu aja, AA terlihat ganas, gimana kalau bulan madu?? Ish ... aku geli membayangkannya.


“Ed, mulai sekarang, mari kita jalin kembali tali persahabatan kita” Kak Imran menatap AA lekat.

__ADS_1


AA terdiam sejenak, lalu menengadahkan wajahnya kembali “Ayo kita ulangi masa muda kita dengan bahagia, haha” AA tergelak, sambil menepuk pundak Kak Imran.


“Terimakasih, sudah jadi Ayah yang baik untuk keponakanku” ucapnya lagi, dengan tatapan sendu.


“Sudah menjadi tugasku, lagi pula sekarang, sudah ada Ibunya yang membantuku” ucap AA sekilas dia menatapku, lalu tatapannya beralih pada anak-anak yang sedang tertawa bersama Chelsi.


“Nah, begitu dong, kalau akur kan enak di lihatnya” tiba-tiba Siska datang, sambil menenteng tas branded di tangannya. Aku tersenyum, lantas dia memberikan selamat padaku, aku menerimanya dengan senyuman tulus.


“Ah, kita seperti sedang reunian yaaa ...” Siska tergelak di ikuti AA dan Kak Imran.


“Ah, sejak kapan si kanebo kering bisa tertawa??” Kak Imran menghentikan tawanya.


“Sejak hidup bersamanya” AA melirikku, lalu menarik tubuhku kedalam pelukannya. Seketika wajahku memerah karena menahan malu.


“Ciiieeee ... umur udah kepala empat, tapi berasa masih dua puluh yaaa ...” mereka tertawa lagi. Aku semakin malu saja.


“Bahkan mereka sudah merencanakan bulan madu, haha”


“Basi ah” ucapku sambil menghempaskan tangan di udara, dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.


“Haha ...” mereka semua semakin tergelak, tertawa bersama, menertawakan aku yang tengah di rundung malu.


Bulan madu?? Mungkin itu akan menjadi agenda selanjutnya antara aku dan AA. Doakan semoga rumah tangga kami bahagia selamanya yaaa.


***


Edgar  Adiswara, sosok pria dingin, cuek, kaku dan galak, yang dalam kehidupannya, jauh dari kata santai atau menikmati hidupnya. Meski Chelsi hadir dalam hidupnya, memberi cinta, kasih sayang dan juga buah hati untuknya, tapi tidak membuat Edgar bisa berpaling dari dunia kerja yang di gelutinya. Hingga pada akhirnya Chelsi jenuh dan memilih untuk meninggalkan AA dan anak-anaknya. Hingga AA bertemu dengan Eliana Pramesti, gadis konyol yang selalu pesimis akan hidup yang di jalaninya.


Dalam proses pernikahan mereka, perasaan keduanya tumbuh, mereka jadi saling ketergantungan satu sama lain. Eliana membutuhkan Edgar untuk bisa melindunginya, dan Edgar membutuhkan Eliana untuk melindungi anak-anaknya. Edgar merasa jika Eliana adalah pelengkap kebahagiaan untuknya, perlahan dia mulai menggenggam nyata bahagianya. Hanya Eliana tempat Edgar menumpahkan segala keresahannya, hanya Eliana yang hadir di tengah pusaran perasaan Edgar.


Hubungan Edgar dan Eliana berjalan apa adanya tanpa ada yang mengawali, pun tak akan mungkin di akhiri.


.

__ADS_1


.


TIMIT


__ADS_2