
Eliana Pov
Siang menjelang, saatnya aku menjemput anak-anak pulang dari sekolah, pertama-tama aku akan menjemput Aksa.
Tiba di sekolahan Aksa, aku turun dari mobil, terlihat Aksa sudah menungguku di depan gerbang sekolahnya. Melipat tangan di dada anak berusia tujuh tahun itu terlihat begitu tampan, beberapa saat aku sempat memperhatikannya dengan senyuman mengembang di bibirku.
“Aksa!” aku memanggilnya, sembari melambaikan tangan, dan Aksa membalasnya, secepat kilat, dia memelukku penuh kasih sayang, lalu aku mengusap kepalanya dengan tak kalah sayang.
“Bibi ... ayo kita pulang” ucapnya dengan nada manja khasnya.
“Ayo ...” aku menggandeng tangan Aksa, kami berjalan bergandengan tangan dengan riang.
“Nyonya El?!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang perempuan. Aku menoleh,
“Ibu Nana?” hatiku bertanya-tanya, kira-kira apa yang ingin dikatakan oleh Bu Nana padaku.
“Nyonya El, bagaimana dengan kegiatan yang sudah kita bicarakan kemarin malam?” tanya Ibu Nana, yang telah di dampingi oleh dua Ibu-Ibu lainnya.
“Hmmhhtt ... aku tidak tahu, aku belum meminta izin pada AA” ucapku mengingat.
“AA??” Ibu Nana mengerutkan keningnya,
“Ahaha ... itu panggilanku untuk suamiku” aku tertawa kikuk, kala menyadari ucapanku sendiri, kenapa juga aku harus keceplosan manggil AA di sini sih?.
“Aaaahhh ... romantis sekali, panggilanku pada suami cukup sayang saja, hhii” Ibu Lili yang tengah menggunakan syal bulu-bulu dengan motif macan menimpali, ya ampuuunnn ... gak gerah apa? Pake syal bulu-bulu di siang bolong kayak ginih?.
“Ahhh ... aku juga punya panggilan sayang untuk suamiku” Bu Nana tak mau kalah,
“Apa?” tanya Bu Lili kepo,
“Rahasia!”
“Ish ...” mereka berdua melengos, dan aku hanya bisa menahan tawaku sendiri.
“Jadi? Bagaimana acaranya? Kita harus menggalang dana, untuk acara sosial kita” lanjut Bu Nana,
“Nyonya El harus ikut ya, kalau bisa, untuk tahun ini, Nyonya El yang jadi ketuanya” ucap Bu Nana tersenyum sinis padaku. Apa maksudnya?.
“Aaahhh ... tidak! Jangan aku, aku belum berpengalaman seperti Bu Nana Cantik!” ucapku,
“Ya ya ya ... aku memang selalu pantas menjadi ketua geng ini, karena aku terlahir untuk menjadi seorang leader di hidupku, uuugghh ...” ucapnya sambil mengelus elus pipinya, aku hanya bisa mengedikkan bibirku.
__ADS_1
“Baiklah, sampai ketemu di acara nanti ya Bu ...” ucapku, sambil segera bergegas menuntun Aksa, tanpa mendapat izin dari mereka, lalu aku segera menuju mobil. Dan masuk kedalamnya.
“Bibi ... boleh aku jajan?” tanya Aksa, menatapku penuh harap.
“Aksa mau jajan apa?” tanyaku, sambil tersenyum.
“Jajan Sosis ...” ucapnya, dengan tatapan memohon.
‘Haduuuhhh ... gimana ini?? AA kan udah larang Aksa buat gak jajan sembarangan, apalagi jajan makanan instan’ hatiku perang sabil.
“Tapi sekali ini aja yaaa ...”
“Janji ...” kata Aksa mengaitkan jari kelingkingnya, pada jari kelingkingku.
“Baiklah,” kami tersenyum bersama,
Sementara itu, pak Toto sudah mendelik, terlihat olehku dari kaca spion depan, tapi aku tidak peduli. Yang penting Aksa senang, gak apa-apa sesekali kita memberikan apapun yang anak kita mau, jika kita mampu, hhee ... alibiku, karena melanggar perintah si AA.
Akhirnya, aku menemukan pedagang sosis di pinggir jalan, mobil menepi, lalu aku dan Aksa membeli sosis berukuran jumbo, Aksa memegang sosisnya dengan mata berbinar.
“Bibi terimakasih” ucapnya riang.
“Sama-sama sayang, sekarang kita jemput Kakak Azura yaa ...” aku kembali menuntun Aksa masuk kedalam mobil.
Aku menunggu Azura di depan pintu gerbang, biasanya Azura akan menungguku tepat di depan gerbang, tapi sekarang dia tidak ada, apa aku terlambat menjemputnya? Tidak juga.
“Siang Pak, apa Bapak melihat Azura?” tanyaku pada seorang satpam.
“Azura hari ini tidak masuk sekolah Nyonya” ucapnya, membuatku ternganga, Aku tadi mengantar Azura hingga depan gerbang, bagaimana mungkin Azura tidak masuk sekolah?.
“Tapi, tadi saya mengantarnya sekolah Pak” Pak satpam terlihat bingung,
“sungguh Nyonya, Azura tidak masuk sekolah hari ini, bukan hanya hari ini, tapi hari-hari sebelumnya juga Azura jarang masuk sekolah” Pak satpam membentikkan dua jarinya.
“Ya ampuuunnn kemana dia? Kenapa aku bisa kecolongan?? Gimana ini? Kalau AA sampai tahu? Aku bisa di hukum gantung sama dia? Ckck El ... bagaimana nasibmu selanjutnya??” setengah mati aku sungguh sangat kaget, kenapa aku bisa kecolongan seperti ini?.
“Aksa, ayo kita cari Kakak Azura” aku menuntun Aksa untuk mencari Azura di sekitaran sekolahnya, setiap pagi aku menurunkan Azura di depan sekolah, jadi aku yakin, azura tidak akan jauh-jauh dari sekolahannya, dan lagi Azura tidak di berikan bekal uang yang berlebih, jadi sudah pasti dia hanya akan berada di sekitaran sini.
“Azuraaaa!!” teriakku, sambil menuntun Aksa yang tengah menggenggam sosisnya.
“Kakak Azura kemana yaaa??” aku celingukan, keringat sudah mengalir di dahiku, rasanya udara hari ini begitu panas.
__ADS_1
“Hush ... hush ... hush ...” terdengar samar suara anak perempuan,
Aku menajamkan pendengaranku, berjalan mengendap-endap sambil menuntun tangan Aksa.
“hush ... hush ... hiks ... Ibu ...”
“Azura?? Ternyata dia ada di sini rupanya!” aku sungguh kesal setengah mati, ternyata Azura ada di sebuah taman yang tidak jauh dari sekolahannya, dia tengah di kerubuti oleh dua ekor Anjing berwarna hitam, entah Anjing jenis apa? Yang pasti Anjing itu terlihat seperti kelaparan, karena lidahnya yang menjulur.
“Apa yang harus ku lakukan?? Aksa? Kamu tunggu disini, Bibi akan menyelamatkan Kakakmu” ucapku, Aksa mengangguk, sambil memakan Sosis.
“Hiks ... ibu tolooonngg” terdengar Azura merintih,
“Tenang Zura, aku akan menolongmu ... hhuuuhhh ... hhhaaahhh” aku menarik napas berkali-kali.
“Aksa, tolong pinjam sebentar makananmu” Aku menyambar sosis yang di genggam Aksa, lalu berjalan mengendap menuju Azura.
“Zuraaaa” sapaku setengah berbisik, sambil meletakkan telunjukku pada bibir, memberinya kode untuk diam dan tenang.
“Bibi!!” teriak Azura, membuat kedua Anjing itu mengerjap, dan menoleh ke arahku.
“Guk! Guk! Guk!” Anjing-Anjing itu berbalik mengejarku,
“Astagaaaa!! Kenapa Azura malah berteriak? Sekarang bagaimana ini??” gerutuku sambil ngacir, berlari ketakutan menghindari gigitan binatang buas itu.
“Ibuuuuu ... tolong berkahi hidupku Ibu, aku sungguh takut di gigit Anjing” sambil terengah-engah ku rapalkan segala do’a, berharap Anjing itu lelah, lalu berhenti mengejarku, tapi nahas, bukannya Anjing itu yang lelah, tapi malah aku yang lelah.
“Huh ... huh ... huh ...” aku berhenti, merasakan Anjing itu sudah tidak mengejarku lagi, aku tersenyum di sela napasku yang memburu. Lalu aku menoleh ke belakang,
“Guk! Guk! Guk!”
“AAAAAA!!!”
Hupt ...
Segera kulemparkan sosis yang dari tadi aku pegang ke arah Anjing tersebut, seketika fokus Anjing itu menjadi pada sosis. Aku bernapas lega.
“Akhirnya ... kalian baik-baik yaaa ... aku mau pulang dulu!” ucapku, sambil berlalu, berniat menghampiri anak-anak dan mengajaknya pulang.
“Guk!”
“Aiiihhh ... kenapa kalian masih mengejarku?? Apa kalian begitu lapar??? AAAAAAAAA tolooooonnnggg!!!”
__ADS_1
Bersambung ...
.