
“Ayah?? Apa yang kau lakukan pada Ibu El?? Ibu El bukan kuda, kenapa Ayah menungganginya???” tanya Aksa dengan polosnya, kala melihat AA yang bertelanjang dada tengah duduk di atas tubuh El, yang sedang di gulung selimut.
“Aksa! Kenapa kau masuk kamar tanpa izin??” AA menghentikan Aksinya, lalu menatap anaknya dengan geram.
“Pintunya di buka” ucap Aksa polos sambil menunjuk pintu kamar yang terbuka lebar, dan Suster Eni tengah berdiri di sana, sambil menutupi wajahnya dengan jari-jari yang tidak rapat.
“AAARRRGGGGHHHH!!!” AA mengacak rambutnya dengan kasar.
“Aku mau tidur dengan Ayah!” tanpa basa-basi, Aksa melompat naik ke atas ranjang, dan menyelusup ke dalam selimut, yang sudah di longgarkan El.
“Huuuhhh ... selamat ...” El mengelus dadanya, lalu tersenyum lebar, sambil menciumi dan memeluk tubuh kecil Aksa.
“SUSTER!! KENAPA MASIH DI SANA??!!” teriak AA jengkel.
“Maaf Tuan!” Suster Eni langsung menutup pintu kamar, lalu berlari terbirit-birit.
Bbbrruuukkk!!!
AA masuk kedalam kamar mandi, tak lama terdengar suara gemericik air dari sana.
“AA ngapain??” El mengerutkan keningnya dalam, tapi dia tidak peduli, dia melanjutkan aksinya memeluk Aksa.
“Aksa ... janji satu hal pada Ibu” ucap Eliana sambil menepuk-nepuk punggung Aksa dengan sayang.
“Apa??” tanya Aksa sambil menguap.
“Apa yang tadi Aksa lihat, antara Ayah dan Ibu, jangan bilang siapa-siapa ya? Ini rahasia” ucap Eliana dengan mata sayunya.
“Eeeemmmhh ...” hanya kata itu yang terdengar dari bibir mungil Aksa,
Tak lama kemudian, keduanya sudah asyik berkelana di alam mimpi masing-masing.
Kkrriieettt ...
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat AA tengah mengibaskan rambut basahnya, sambil menggosoknya dengan handuk kecil.
“Hhhaaaccciiihhh!!” berkali-kali AA bersin karena kedinginan, bahkan hidungnya sudah memerah.
“Kenapa keadaan selalu tidak berpihak padaku??” rutuk AA dengan kesal, saat melihat istri dan anaknya sudah terlelap, dia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, AA memutuskan untuk memeriksa tugas harian anak-anaknya saja.
__ADS_1
***
Pagi yang cerah ...
“Ssssstttt ... paman jangan bilang siapa-siapa ya?? Ini rahasia! Sangat rahasia!” Aksa menempelkan telunjuknya di tengah bibir mungilnya.
“Rahasia apa Tuan??” tanya Pak Toto dan Pak Mamat mengerutkan keningnya, dengan secangkir koffee yang mengebul di tangan masing-masing.
“Semalam, Ayah dan Ibu sedang main kuda-kudaan” ucap Aksa dengan wajah polosnya.
“M maksudnya Tuan??” Pak Toto melap mulutnya yang belepotan oleh dedak koffee.
“Semalam, aku melihat Ayah tengah menaiki tubuh Ibu yang di gulung selimut,” jelas Aksa, membuat Pak Toto dan Pak Mamat menjadi salting.
“Suster Eni juga melihatnya” Aksa melipat tangannya di dada.
“Uhhhuuukkk!!” seketika Pak Toto dan Pak Mamat tersedak,
“Ssssstttt ... ingat! Ini rahasia! Jangan bilang siapa-siapa ya” ucap Aksa sambil berlalu, kemudian dia memanggil seluruh asisten rumah tangga yang lainnya, untuk menyebarkan rahasia umum yang dia lihat semalam.
***
Pernah mendengar jika anak adalah peniru ulung?? Maka sekarang inilah yang sedang Aksa lakukan, mencontoh gerakan Ayahnya yang sedang menunggangi Eliana sebagai kuda, dan Aksa melakukannya pada Suster Eni, pengasuh barunya.
“Haduuuhh ... Tuan, udah ya ... Suster udah capek banget ini, udah pegel, pinggang Suster rasanya mau patah, kita sudah dua puluh tujuh putaran Tuan” keluh Suster Eni, sambil menghentikan putarannya, dengan tubuh Aksa masih di atas tubuhnya.
“Ibu El semalam gak ngeluh pegel sama capek, padahal tubuh Ayah lebih besar dari Aku” Aksa mengerucutkan bibirnya, sambil merentangkan tangannya, memperagakan betapa besarnya tubuh sang Ayah.
Bingung, entah jawaban apa yang pantas Suster Eni katakan, Suster Eni akhirnya mengalah, kembali melakukan kuda-kudaan untuk yang kesekian putaran.
“Aksa ...!” terdengar teriakan dari luar kamar,
Krriiieeettt ...
Pintu di buka, terlihat Chelsi sedang berdiri di ambang pintu, dengan kening berkerut, sebelah tangannya menjinjing sebuah papper bag.
“Loh?? Aksa sedang apa??” tanya Chelsi menghampiri putranya, seketika Aksa turun dari tubuh Suster Eni, lalu menghampiri Bundanya.
“Bunda, aku sedang mempraktekan apa yang Ayah lakukan semalam pada Ibu El, tapi ssstttt ... ini rahasia!!” jawab Aksa dengan polosnya, sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya.
__ADS_1
Masih belum mengerti Chelsi kembali mengerutkan keningnya.
“Memangnya apa yang Ayah lakukan dengan Ibu El??” tanya Chelsi sambil memangku tubuh Aksa, lalu di letakkan di pangkuannya.
“Ayah menunggangi Ibu El, seperti kuda” jawab Aksa dengan wajah polosnya.
“Uhhhuukkk!!” seketika Chelsi tersedak, menatap Suster Eni yang tengah menggaruk keningnya bingung.
“Suster Eni juga melihatnya, iya kan Suster??” Aksa menoleh pada Suster Eni, sementara Suster Eni hanya mengangguk pelan.
“Ya ampuunn ... sayang, dengarkan Bunda, rahasia itu artinya sesuatu hal yang tidak boleh di katakan pada orang lain” jelas Chelsi, sambil mengusap kepala putranya.
“Tapi Bunda bertanya, kata Ibu El, kalau ada orang yang bertanya kita harus menjawabnya” Aksa menatap Bundanya dalam, Chelsi mulai bingung mengatasi tingkah putranya.
“Eeemmhhh ... begini, jika oranglain mengatakan sebuah rahasia, meskipun ada oranglain yang bertanya, maka Aksa tidak boleh menjawabnya, mengerti??” tanya Chelsi menatap putranya, yang tengah memainkan jari telunjuknya.
“Mengerti Bunda” jawab Aksa lemah,
“Sekarang, siapa saja yang sudah Aksa beritahu rahasia itu??” tanya Chelsi, dengan raut wajah yang khawatir.
“Semua orang!” jawab Aksa dengan mata berbinar.
“Apa?? Astagaaaa!! Anak ini sungguh berbahaya!!” Chelsi menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Siapa Bunda yang berbahaya??” tanya Aksa mendongakkan kepalanya, menatap Chelsi yang sedang berdecak.
“Ah tidak” Chelsi kembali menggeleng, tak lama kemudian, dia tersenyum sendiri.
“Suster, lain kali, jangan biarkan Aksa masuk kedalam kamar Ayahnya sembarangan ya, tolong jaga Aksa dengan baik, jangan sampai mata sucinya ternodai sejak dini” peringat Chelsi, menatap tajam pada Suster Eni yang tengah menunduk, sambil mengurut pinggangnya.
“Baik Bu ...” Suster Eni mengangguk.
“Ini apa??” Aksa menarik papper bag yang di bawa Chelsi,
“Oh ... ini roti kesukaan Aksa” Chelsi tersenyum, lalu membuka papper bagnya.
“Whhooaaaa ... banyak sekali, aku akan membaginya dengan Ibu El!!” teriak Aksa girang sambil berlari kecil menuju kamar El.
“Eeeehhh ... Aksa sayang! Jangan! Hadduuuhhh ... gimana ini??” Chelsi segera berlarian mengejar Aksa, takut-takut anaknya itu membuat ulah kembali.
__ADS_1
bersambung ...