DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Aku Ini Kenapa Sih???


__ADS_3

***


Di dalam mobil ...


“Aldo? Apa pendapatmu, tentang menikahi perempuan yang lebih muda??” tanya Edgar yang duduk di kursi belakang, sementara Aldo menyetir.


“Eeeemmhh ... tidak masalah tuan, semuanya sah – sah saja, bukankah sekarang sedang tren menikahi gadis yang usianya jauh lebih muda?” Aldo menahan tawanya, dengan pandangan tetap fokus kedepan.


“Aaaahhh ... aku merasa ada yang salah dengan keputusanku” Edgar memalingkan wajahnya, menatap jalanan dari jendela kaca mobilnya.


“Maksudnya tuan??” Aldo mengerutkan keningnya.


“Eliana masih sangat muda, aku fikir dia berhak mendapatkan pria yang sepadan dengannya, pria muda yang enerjik” Ucap Edgar sambil mengurut pangkal hidungnya.


“Apa anda berniat melepaskannya?” ucap Aldo tanpa sadar.


“Apa kau senang?”


Deg!


“Ahhh ... tuan bicara apa? Aku hanya bertanya” ucap Aldo sedikit kikuk.


Sunyi ...


“Aldo, apa kau tidak lupa membawa bekal makan siangku?” tanya Edgar, menatap Aldo dari kaca spion depan.


“Tidak tuan, nasi goreng buatan nyonya sudah saya masukan ke dalam rantang, dan sudah saya masukan kedalam bagasi” ucap Aldo, kembali menahan tawanya.


“Sudah kau pastikan, Eliana tidak melihatnya?” Tanya Edgar dengan suara dinginnya.


“Sudah, Tuan tenang saja, tidak ada yang tahu”


“Baguslah ...”


“Apa rasanya begitu enak Tuan?” Tanya Aldo lagi,


“Emmhh ... itu nasi goreng terenak yang pernah aku makan” jawab Edgar serius,

__ADS_1


“Syukurlah ...” Aldo mengangguk, kemudiana kembali memfokuskan dirinya untuk menyetir, sementara Edgar lebih memilih untuk memejamkan matanya, memikirkan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.


***


Senja yang di kelilingi awan tebal membuat dia semakin indah dilihat, lewat jendela kamar aku menatap senja yang hampir saja menghilang. Setiap kali aku memandang senja, aku selalu teringat akan masa laluku bersama keluaragaku, terutama bersama Ibu. Ibu adalah orang yang pertama kali mengenalkan aku pada senja. Seandainya Ibu tahu, semenjak Ibu tiada tak ada hal yang kupikirkan selain Ibu, boleh aku jujur? Jujurnya aku sama sekali belum menikmati peranku sebagai istri dan Ibu. Apa yang harus kunikmati? Sementara suami dan anakku tidak menganggapku sepenuhnya sebagai keluarga?. Entah mengapa senja yang kulihat sore ini terasa cepat menghilang, belum khayalanku tentang Ibu menghilang, tiba – tiba saja warna pastel dari angkasa berubah menjadi gelap.


Aku segera menutup gorden, lalu berlalu menuju keluar kamar, berniat menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Huuuhhh ...


Lama aku berkutat di dapur, untuk menu malam ini aku memilih memasak rendang, sayur sop, dan juga pepes ikan. Untung saja aku tidak terlalu buruk dalam hal memasak, karena Ayahku dulu adalah seorang koki handal. Aku belum sempat di ajarkan apapun oleh Ayah, tapi masalah rasa makananku yang selalu enak, mungkin itu karena faktor keturunan. Bolehkah di sebut begitu??.


“Bibi ...” Aksa datang dari dalam kamarnya, dengan buku di tangannya.


“Hmh? Apa sayang?” aku berjongkok lalu mengusap rambut hitam legam miliknya.


“Aku belum mengerjakan PR.” Aksa mendengus kesal.


“Loh? Kenapa?” tanyaku tersenyum sambil mencubit hidung kecilnya.


“PR nya susah,” Aksa berdecak, lalu menyodorkan sebuah buku gambar padaku,


“Aku di beri tugas untuk mewarnai, bisakah Bibi membantuku?” tanya Aksa menatapku penuh harap.


“Baiklah, tapi kita makan malam dulu yah ... kita tunggu Ayah dan Kakak Azura, lalu setelah itu kita kerjakan PR Aksa, setuju?” tanyaku meminta pendapatnya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Edgar belum juga pulang, kemana dia? Ah ... aku lupa, kadang pemilik perusahaan seringkali lebih sibuk daripada karyawan. Cerita di novel yang selalu bilang kalau pemilik perusahaan bisa kerja sebebasnya sepertinya tidak sepenuhnya benar, mengingat akupun pernah bekerja di beberapa perusahaan. Tapi ... entahlah.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Aksa, aku segera menata makanan di meja makan, lalu Aksa dan Azura datang, mereka duduk di kursi mereka masing-masing, tak ada yang berani menyentuh makanan sebelum Edgar datang.


Waktu terus bergulir, Aksa dan Azura masing – masing sudah menguap karena terlalu lama menunggu.


“Bibi ... kapan Ayah datang? Aku sudah sangat lapar” Aksa merengek, bergelayut manja di lenganku, aku menarik napas, tidak biasanya Edgar pulang terlambat tanpa pemberitahuan.


“Sebentar Bibi hubungi dulu Ayahmu yah ...” Aku meraih ponsel dari saku celanaku, lalu menekan nomor ponsel Edgar.


Tuuuuttt ... ttuuuttt ... ttuuuttt ...


Hanya suara itu yang kudengar, mungkin Edgar benar-benar sibuk saat ini. Aku kembali menghela napas. Tak patah arang, kembali kuhubungi Aldo, mungkin Aldo tahu keberadaan boss nya itu.


“Hallo Nyonya?” suara Aldo di seberang sana, akhirnya telpon di angkat setelah beberapa panggilan terabaikan.

__ADS_1


“Hallo Aldo, lagi di mana?” tanyaku tanpa basa-basi lagi, kasihan juga anak-anak, Azura sudah menenggelamkan kepalanya di meja makan, sementara Aksa masih bergelayut di lenganku, anak-anak sungguh tidak berani makan duluan tanpa Ayahnya. Aku salut pada Edgar yang sudah mendidik anak-anaknya hingga menjadi sedisiplin ini.


“Eh? Saya Nyonya?” tanya Aldo gugup,


Aku mengedikkan bibirku, maksudku bukan Aldo, tapi boss nya.


“Boss mu! Ayahnya anak-anak,” ucapku kesal,


“Ah ... boss masih bekerja Nyonya, katanya harus lembur” jawab Aldo menjelaskan,


“Lembur? Kenapa tidak memberitahuku, anak-anak menunggunya untuk makan malam!” ucapku lagi gemas pada si tua itu.


“Ah, mungkin tuan lupa Nyonya” kelit Aldo.


Aku menarik napas berat, dasar gak ada akhlak!


“Ya sudah kalau ...”


Belum kata-kataku selesai di ucapkan, tiba – tiba saja terdengar suara riang dari belakang Aldo.


“Hay Ed, ini makan malammu, ayo di makan dulu” itu yang ku dengar, siapa wanita itu? Jangan-jangan ... dan apa panggilannya? Ed? Hanya Ed? Tanpa embel-embel Tuan? Boss? Atau semacamnya.


Tapi, apa peduliku? Meskipun Edgar suamiku, tapi aku tidak pernah mencintainya. Hellloowwww ... dia lebih cocok jadi pamanku di banding harus jadi suamiku. Aku menikah hanya karena Ibu.


“Nyonya?” suara Aldo mengagetkanku. Aku mengerjap, tanpa basa-basi lagi, aku langsung mematikan telpon, setelah mendengar suara sambutan Edgar pada perempuan bersuara merdu itu.


“Mari makan sama-sama” itu yang ku dengar dari suara Edgar. Kenapa aku tidak suka? Segera ku tutup telpon secara sepihak.


“Anak-anak, ayo kita makan” aku memerintah pada Aksa dan Azura, mereka hanya menatapku bingung, sementara waktu sudah menunjukkan pukul delapan, dan makanan sudah dingin.


“Ta tapi ... Ayah belum pulang,” Aksa menggeleng,


“Tidak apa-apa Ayah kalian sudah menyuruh kalian untuk makan duluan, nanti setelah makan Bibi akan menemani kalian untuk mengerjakan PR” ucapku lagi, sambil menyendokkan makanan di piring masing-masing. Mereka mengangguk lalu kami makan dalam hening.


Pukul sepuluh, aku kembali masuk kedalam kamar setelah menemani anak-anak mengerjakan PR nya masing-masing. Aku kemudian merangkak menaiki ranjang, setelah sebelumnya sempat membersihkan diri. Lalu ku buka braku, dan melemparnya entah kemana? Itulah kebiasaanku sebelum tidur. Karena aku tidur sendiri, jadi aku tidak perlu takut jika tiba-tiba Edgar datang.


Edgar belum juga pulang, kira-kira sedang apa dia? Apa dia sungguh tengah bekerja? Apa setiap malam sebelum aku datang dia selalu melakukan hal yang sama? Ck ... aku ini kenapa sih???

__ADS_1


__ADS_2