
“Akhirnya ... kita pulang juga” ucap El, berjalan tertatih, dengan tangan kiri memegang bokongnya yang masih terasa ngilu, sementara tangan kanannya sibuk membawa empat piala, yang mereka dapatkan dari berbagai lomba tadi.
“Hhhhoorrreee ... piala kita banyak” Aksa berjingkrak, sambil melakukan tos dengan Kakaknya, tidak ada raut wajah lelah dari wajah anak-anak, mereka sangat mengukai acara hari ini. Meskipun tubuh mereka sudah kumal, dan baju yang mereka gunakan sudah sangat kotor.
“Huh ... kalian anak-anak kenapa seperti tidak ada kata lelah??” El mendesah, sambil berjalan terpincang, sakit di bokongnya semakin terasa kala dia berjalan. Sementara AA hanya menjadi pendengar setia, berjalan di samping mereka.
“Ed!” suara itu, membuat El kembali membulatkan matanya tidak suka. Ed memutar tubuhnya.
“Iya Say? Mau pulang ya??” tanya Ed pada perempuan di hadapannya.
“Iya, kau juga ya??” tanyanya dengan senyuman lembutnya, membuat dada El kembali terasa panas.
“Iya, kalau begitu hati-hati di jalan, sampai jumpa besok di kantor” ucap Ed menatap perempuan itu sambil tersenyum, dada El hampir saja meledak, karena menahan panas.
‘Sampai jumpa di kantor?? Jadi mereka sering bertemu di kantor??’ batin El histeris.
“Kau juga hati-hati ya” ucapnya lagi, setelah mereka terlibat obrolan singkat sejenak, lalu perempuan itu berlalu pergi, setelah menjabat tangan Ed dan El.
“Dasar AA!! Gak inget umur! Gak punya perasaan!” El berlalu pergi, dengan kecepatan supernya.
“Loh?? Kenapa jalannya cepat sekali?? Tadi jalannya susah banget, katanya lagi sakit bokongnya” AA mengerutkan keningnya, lalu terkekeh, anak-anak berlarian mengikuti langkah El yang terburu-buru menuju mobilnya.
“Ekhem! The power of cemburu, hheee ...” AA menggoda El, kala anak-anak sudah terlelap di kursi belakang.
“Apa sih??” El mendelik tidak suka, membuang wajah ke jendela mobil.
“Iya, karena cemburu, kita jadi memenangkan lomba tarik tambang, karena cemburu juga, bokongmu jadi sembuh seketika” AA terkekeh lagi, beda dari biasanya, laki-laki yang terlihat masih muda tapi selalu di panggil Aki-Aki oleh istrinya itu, hari ini banyak tersenyum.
“Siapa yang cemburu?” El masih membuang muka.
“Kau” ucap AA singkat, fokusnya masih pada kemudi.
“Aku tidak cemburu” El menggeleng.
“Begitu ya??” AA masih menahan senyumnya.
Hening.
“Dia pacarmu ya?? Kenapa kau tega menghianatiku??” mata El mulai berkaca-kaca, setelah beberapa saat mereka terdiam.
“Siapa yang menghianatimu??” AA masih fokus mengemudi.
“Tadi kau memanggil perempuan itu Say, itu pendeknya dari Sayang kan?? Bahkan kau tidak pernah memanggilku sayang” air mata El sudah luruh, entah kenapa dia menjadi cengeng hari ini, hatinya terasa teriris, kala mendengar AA memanggil nama perempuan lain dengan sebutan seromantis itu.
__ADS_1
“Jadi, kau mau aku panggil sayang??” tanya AA, tangannya membekap mulutnya, menahan tawa.
“Tidak!” El menggeleng kuat.
“Dia hanya sahabatku sejak lama, kami telah melakukan banyak kerjasama di perusahaan, dia juga memiliki saham di salah satu perusahaanku, yaaa walau hanya sedikit sih” jelas Ed, panjang lebar, demi meyakinkan istrinya.
“Bohong!!” El menggeleng tidak percaya.
“Baiklah sayang, dengarkan aku, aku tidak pernah memanggil nama perempuan lain, dengan sebutan sayang” ucap AA yakin.
“Lalu tadi??” El menatap AA lekat.
“Karena namanya memang Sayidah, hahhaa” akhirnya tawa AA lepas juga.
“Appppaaaaaa???!!!!!”
Blush ...
Seketika wajah El memerah, semerah tomat masak, tangannya segera menutup wajahnya menahan malu. Sementara AA terus terbahak.
“Aku suka jika kau cemburu, itu artinya kau mencintaiku bukan??” tanya AA mengintimidasi.
“Hhhhmmmmpppttttttt”
Ting!
‘Welcome to malam jum’aaattt’ sebuah chat datang dari seseIbu yang sudah amat senior dalam urusan rumah tangga.
‘Yah ... sayang, suamiku lagi ada tugas di luar kota, malam jum’atnya kelabu’ pesan langsung di balas oleh sesama senior.
‘Suamiku ada, tapi tidurnya munggungin!’ emot marah.
‘Haha ... apalah daya, kalau syudah tua ya beginilah’ emot ngakak.
‘Makanya, beli obat kuat daganganku dong’ ahli jualan, dalam situasi apapun selalu saja sempat-sempatnya dagang.
‘Apa sih? Ada apa sih? Kenapa dengan malam jum’at?’ pengantin baru yang belum pernah di jamah, membalas chat dengan so polos, membuat para emak-emak senior menertawakan kehadirannya.
‘Nyonya El, Tuan Ed nya kemana? Tidak sedang keluar kota kan? Tidak loyo kan? Tidurnya ngadep wajah kamu kan? Atau perlu saya paketkan obat kuat jualan saya?’ masih aja sempet dagang.
“Kenapa sih dengan malam jum’at?? Malam apapun kan sama saja” El memutar kedua bola matanya. Alih-alih membalas pesannya, El malah scroll ponselnya, hanya menyimak.
Ting!
__ADS_1
‘Kalau saya lagi malas banget ngelayanin suami, lagi gak mood’ balasan dari seseIbu yang tiba-tiba muncul, setelah chat di group sudah ramai, entah ada apa dengan mereka, jika membahas tentang malam jum’at seseIbu ini terlihat sangat bersemangat.
‘Eh? Jangan malas dosa!’ nah, sekarang Ibu ustadzahnya keluar.
‘Melayani suami itu dapat pahala, jadi jangan malas, kalau lagi gak mood, beli dong obat jualan saya, biar jadi semangat lagi’ dasar tukang dagang! Apapun situasinya, masih aja sempet-sempetnya jualan.
“Eh? Kalau misalnya kita gak mau melayani suami emang dosa ya?? Duuuhhh ... jadi ngerasa bersalah banget sama AA yang akhir-akhir ini minta jatah malam pertamanya, tapi aku selalu menolak karena belum yakin, aku pasti dosa banget ini” El masih berjalan mondar-mandir.
Ting!
Menatap ponselnya yang sudah kelap-kelip, El segera membuka ponselnya kembali.
‘Tau gak? Kalau kita gak mau layanin suami, emangnya pada mau suaminya pada jajan di luar?’ ustdazah masih memberikan ceramah gratisnya, mencoba mengingatkan seseIbu durhaka, yang masih pada ngeyel mau menghindari suaminya.
“Hah?? Jajan? Maksudnya apaan ya?? Maksudnya AA selingkuh gituh?? Hhiiihhh ... awas saja kalau berani!” seketika El mengeratkan giginya.
“Tapi, jelas banyak kemungkinan untuk AA bisa selingkuh dari aku, secara dia kan kaya raya, iiihhhh ... mikir apa aku ini?? Ck” El berdecak, sambil memukul pelan kepalanya, mencoba menghalau segala fikiran buruknya.
Kkkrriieettt ... pintu di buka, membuat El yang tengah bicara sendiri sedikit terlonjak kaget.
“Lagi apa??” AA datang sambil melemparkan tubuhnya di atas kasur, merasa lelah karena seharian telah bertempur melawan kerasnya dunia kerja.
“Eeemmmhhh ... lagi chatingan” jawab El sambil meraih jas yang sempat di lempar AA di ujung ranjang.
“Sama Ibu-Ibu geng mu lagi??” tanya AA sambil memejamkan matanya, merasakan nyamannya kasur empuk yang sedang di tidurinya.
“I iya ...” fikiran El masih traveling dengan percakapannya tadi di chat group.
“Kenapa dengan wajahmu??” AA membuka matanya, menilik wajah El yang sedikit pucat.
“Ti tidak apa-apa” El menggeleng, menyembunyikan kecemasannya.
“Aku mandi dulu” AA beranjak, menuju kamar mandi,
El menatap punggung AA dengan tubuh gemetar, dia amat takut berdekatan dengan AA, bayangan malam pertama yang mengerikan sudah terekam jelas di otaknya. Dari mana El tahu jika malam pertama akan mengerikan dan menyakitkan? Tentu saja dari mesin pencarian yang ada di ponsel pintarnya.
Semenjak AA rajin meminta jatahnya, diam-diam El mencari tahu seperti apa bayangan malam pertama, meskipun hal seperti itu bukanlah hal tabu baginya, namun tetap saja, El masih ragu dan terus kepikiran.
“Jangan lupa! Siapkan dirimu!” ucap AA sebelum menutup pintu kamar mandi.
Seketika El mengerjap,
Maksudnya siapkan diri??.
__ADS_1