
“Aaaaa ... jangan-jangan kau ingin memanfaatkan diriku demi kelangsungan perusahaanmu?? Kenapa semua berita tentang diriku tidak ada baik-baiknya sama sekali??? Di seluruh media, kenapa hanya nama dirimu yang terkesan baik? Kenapa nama diriku seluruhnya buruk?? Tega-teganya kau memanfaatkan seorang gadis seperti diriku!!!” Eliana melipat kedua tangannya di dada, membuat Edgar mengerjapkan matanya berulang kali.
“Apaaaa???” Edgar mengerutkan keningnya dalam, bukankah seharusnya wanita ini yang sedang memanfaatkan namanya?? Bahkan sekarang nama gadis ini sudah menjadi trending topik, dan menjadi pencarian pertama di berbagai media, tapi kenapa sekarang malah perempuan ini yang mengaku telah di manfaatkan?.
“Ya ya ya ... tentu saja, jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja, kau ingat apa yang kau katakan padaku malam itu?? Tidak tahu diri?? Yah ... kau mengatakan jika aku adalah perempuan tidak tahu diri sekarang, aku akan membalas semua itu!” Eliana terlihat menghembuskan napasnya berat, hingga hidungnya menjadi kembang kempis.
“Edgar!! Edgar Adiswara!! Kau sungguh manusia tidak tahu diri!!”
Edgar terdiam mematung, berusaha untuk menguasai dirinya sendiri, perlahan tangannya membulat sempurna, hingga urat-urat di tangannya terlihat.
“Apa kau sudah puas??” dengan suara datarnya Edgar menatap Eliana dengan tajam,
“Tidak, masih banyak yang ingin ku katakan, silahkan manfaatkan diriku sebisamu! ...”
“Tidak! Aku tidak akan melakukan semua ini!” dengan cepat Edgar memotong ucapan Eliana,
“Apa??” Eliana mengerutkan keningnya dalam,
“Yah ... karena aku adalah pria tidak tahu diri seperti yang kau katakan! Maka aku akan berkata jujur pada publik! Aku akan mempertahankan apa yang aku miliki dengan caraku sendiri! Dan kau silahkan pertahankan harga dirimu dengan caramu sendiri!” pungkas Edgar, lalu pria itu beranjak pergi meninggalkan Eliana sendirian yang tengah mematung tak percaya.
“Hah??? Jadi pria itu sama sekali tidak akan membelaku?? Sial! Bagaimana ini bisa terjadi padaku?? Sekarang apa yang harus ku lakukan??? Hhhuuaaa ... El, kau memang bodoh!”
Eliana merutuki nasibnya sendiri, sambil menghentakkan kakinya berulang kali. Kini, nasib Eliana sungguh berada di tangannya sendiri,
Sementara itu, di lobby kantor Edgar, Siska dan Aldo tengah sibuk menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan,
“Apa benar gadis itu adalah kekasihnya pak Edgar??”
“Mohon maaf untuk saat ini kami masih belum bisa menginformasikan apapun,”
Siska berjalan dengan gontai, menjauh dari wartawan yang terus menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Siska mendesah, lalu bergumam,
“Edgar, inikah yang kau inginkan???”
***
Kusukai hening yang menusuk jantung dan mengoyak hati, di antaranya kurasakan sakit teramat hingga tidak seorangpun tahu gemuruh rasaku.
__ADS_1
Kusembunyikan isi hatiku di dalam relung hatiku yang paling dalam, tidak kubiarkan siapapun tahu, bahkan bulu mata inipun tidak ku izinkan dia mengetahui penderitaanku, walau pada kenyataannya dia seringkali menahan buliran tetesan yang tidak bisa aku bendung.
Kadang, adakalanya aku begitu menggilai keheningan, hening yang pada akhirnya mampu mengantarkan aku tertidur di samping tubuh yang tengah tergolek di sampingku.
Lambat, hening masih menjalar, ku tatap wajah sayu itu, lalu perlahan ku usap pipinya perlahan, tanpa berniat mengusik tidur lelapnya.
Ibu ...
Jika waktu bisa kuputar, maka ingin ku ulang kembali masa-masa itu, masa di mana begitu cerewetnya dirimu, masa di mana engkau mengejarku dengan sepiring makanan kesukaanku, karena aku selalu susah untuk makan. Ibu ... jika aku mampu membeli syurga, maka akan kubelikan syurga itu untukmu.
Wajah lelahmu, peluhmu, kesahmu, membuatku tidak bisa menghentikan segala upaya untuk membuatmu sehat kembali. Tanpa terasa air mataku menetes menelusuri pipiku.
“El ... kau menangis lagi?? Kenapa kau cengeng sekali??” tiba-tiba Ibu membuka matanya, lalu bangkit, dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang rumah sakit.
“Ibu ...” aku menggeleng perlahan, mencoba menahan air mata yang hendak terjun kembali.
“El ... Ibu ingin bertemu Ayahmu ...” ucap Ibu dengan tatapan sendunya.
“Akan aku panggilkan Dokter,” aku segera berdiri berniat memanggil Dokter Andi, aku merasa jika sedang terjadi sesuatu pada Ibuku.
“Bukan Dokter Andi,” Ibu menggeleng, lalu tersenyum samar, aku mengernyitkan keningku, bingung.
“Ibu beristirahatlah” ujarku, sambil mengusap-usap lengan Ibu.
“Kenapa aku tidak di perbolehkan untuk menemui cinta pertamaku??” Ibu tersenyum, lalu beranjak hendak turun, menggantungkan kakinya di antara ranjang dan lantai, kemudian menggunakan sandalnya.
“Ibu, Ibu masih sakit, sebaiknya Ibu beristirahatlah,” aku menahan tubuh Ibu, berharap Ibu tetap pada posisinya.
“Tidak, Ibu ingin ke makam Ayahmu, yah ... walaupun Ibu tahu, sebentar lagi Ibu akan segera menemui Ayahmu di tempat lain” Ibu menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
Deg ...
Ada rasa yang begitu menusuk di dalam hatiku, aku menarik napas panjang, lalu mencoba memapah tubuh Ibu.
Kami berjalan melewati koridor rumah sakit, sesekali Ibu menghentikan langkahnya, beberapa perawat menyapa Ibu, karena sudah terlalu lama Ibu tinggal di rumah sakit ini, membuat Ibu di kenal beberapa pegawai medis disini.
***
__ADS_1
Tiba di makam Ayah, Ibu berjongkok sambil menaburkan bunga di atas makam Ayah, Ibu tersenyum lalu merapalkan sesuatu yang entah apa.
Dua puluh menit berlalu, sayup mata Ibu seperti orang yang mengantuk, aku segera menarik tubuhnya perlahan, lalu segera memapahnya kembali, untuk membawanya kembali ke rumah sakit.
Berjalan bergandengan bersama Ibu, membuatku kembali mengingat masa kecilku, aku tumbuh besar hanya berdua dengan Ibu, sementara Ayah sudah kembali duluan menghadap sang pencipta.
“Huuuhhh ... hhhaaahhh ...” Ibu menghentikan langkahnya, merentangkan kedua tangannya, lalu menghirup udara sebanyak mungkin, lalu mengeluarkannya, Ibu melakukan kegiatan itu berulang-ulang, aku memperhatikannya dengan senyum mengembang, selama beberapa tahun, Ibu di kurung di ruang rawat, pasti sangat membosankan baginya. Sementara itu sinar mentari menerpa tubuh Ibu, memberinya kehangatan agar menjadi lebih kuat.
“Ibu suka?? Jalan-jalan seperti ini??” tanyaku, sambil kembali menggandeng bahunya, mengajaknya kembali berjalan perlahan.
“Suka” Ibu menganggukan kepalanya,
“Lain kali, ajak Ibu jalan-jalan lagi” pintanya sambil mengedarkan pandangan.
“Setelah Ibu sembuh, kita akan berjalan kemanapun Ibu mau” perlahan aku mengusap air mataku yang hampir terjatuh, rasanya begitu sakit, karena aku tahu, sulit bagi Ibu untuk sembuh, di tambah usia Ibu sekarang yang sudah sangat senja, harapan untuk bisa sembuh, mungkin hanya tinggal harapan saja. Meski aku tahu, tidak ada yang tidak mungkin bagi sang pencipta.
“El??” Ibu menoleh ke arahku,
“Iya Bu??” aku membalas tatapan Ibu, hingga pandangan kami beradu, ku lihat juru mata Ibu sudah mengembun.
“Kapan kamu akan menikah??” tanyanya lagi, membuatku kelu.
“Setelah Ibu sembuh” lagi-lagi jawaban itu yang bisa ku ucapkan.
“Ibu hanya ingin, sebelum Ibu pergi, kamu sudah menemukan pendampingmu” ucapnya lagi, kembali berjalan tertatih, meninggalkan aku yang masih tertegun.
Seandainya, dari dulu sudah ada pria yang bisa menikahiku, mungkin dari dulu aku sudah menikah, tapi, apalah daya, kesibukan yang begitu padat, membuatku lupa untuk memikirkan tentang jodoh, di tempatku bekerja bukan tidak ada pria yang mendekatiku, hanya saja entah kenapa, tapi rasanya aku hanya ingin tetap fokus menjaga Ibu. Aku tidak ingin pikiranku terbelah untuk Ibu dan untuk kekasih.
Perlahan aku menyusul langkah Ibu, aku kembali mendampingi Ibu, hingga kami tiba kembali di rumah sakit, dan aku sudah kembali menidurkan Ibu di tempat tidurnya semula.
“Siang El ...” Dokter Andi masuk kedalam ruangan dengan satu orang perawat di belakangnya.
“Siang Dok ...” Aku memanggutkan kepalaku, sementara Ibu, kulihat Ibu tengah memejamkan matanya.
“Dari mana?” tanya Dokter Andi menatapku dan Ibu bergantian.
“Kami dari makam Ayah” jawabku, menatap Dokter Andi dengan senyuman getir.
__ADS_1
Dokter Andi tidak bergeming, dia langsung memeriksa kondisi Ibu, sejenak Dokter Andi mengernyitkan keningnya, lalu menatapku.
“El, bisa kita bicara?” Dokter Andi keluar dari ruangan, aku mengikutinya dari belakang, sementara Ibu sepertinya Ibu langsung tertidur.