DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Tertangkap


__ADS_3

Tiba di sebuah tempat yang sangat asing bagiku, aku bingung, sebenarnya ini tempat apa? Terlihat sepi, tapi kenapa banyak orang yang masuk kedalamnya setelah dua orang berbaju hitam menganggukkan kepalanya, aku mengernyitkan keningku dari dalam taksi. Perlahan aku turun dari dalam taksi, setelah sebelumnya aku membayarnya, taksi meninggalkan aku sendirian, lalu ku langkahkan kakiku menuju tempat asing itu.


“Selamat malam Nona” sapa seorang pria dengan tubuh tegapnya.


“Malam,” Aku menganggukkan kepala.


“Maaf, kalau mau masuk kedalam, silahkan buka jaket dan syalnya Nona” ucapnya yang membuatku semakin bingung, memangnya kenapa kalau aku menggunakan jaket dan syal? Ah ... mungkin udara di dalam cukup panas.


“Baiklah ...” aku menyerahkan jaket dan syalku pada mereka, lalu mereka mempersilahkan aku masuk.


Seketika aku terhenyak kaget, saat memasuki ruangan tersebut, musik berdentum, lampu-lampu blitz menyilaukan, bau alkohol yang menyengat di penciuman, jauh di depan sana, para perempuan yang tadi mengajakku tengah duduk berderet di sebuah sofa, dengan menggunakan pakaian kekurangan bahan.


Sungguhkah? Ini tempat yang di maksud mereka? Iya ... aku memang perempuan muda, yang di bebaskan untuk bergaul, bahkan setelah Ibu ku sakit, aku jadi semakin bebas, tapi datang ke tempat seperti ini? Ini ternyata club! Kenapa tidak ada keterangan di luar sana jika tempat ini adalah club? Aku sama sekali belum pernah datang ke tempat seperti ini. Bagaimana ini? Bukankah tempat seperti ini sangat berbahaya?.


Bagaimana jika aku bertemu dengan pria hidung belang? Addudududuh ... gaswat ini!.


Apa kuputuskan saja untuk pulang lagi? Iya, aku lebih baik pulang lagi saja.


“Nyonya El?” tiba-tiba teriakkan itu mengurungkan langkahku,


“Ayo sini!” ternyata Bu Lili, dia menarik tanganku kuat, hingga mau tidak mau aku mengikuti langkahnya,


Duh ... apa iya? Istri orang kaya kumpulannya di tempat seperti ini? Kenapa aku takut sekali ya? Di tambah akupun baru mengenal Ibu-Ibu ini. Sementara itu postingan mereka di media sosialnya menunjukkan jika mereka adalah perempuan terhormat yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Tapi? Apa yang kulihat sekarang? Semuanya berbanding terbalik.


“Nyonya El tidak nyasar tadi?” Bu Nana tergelak, di ikuti yang lainnya, huh ... sudah mengikuti ke inginan mereka,tapi mereka tetap saja memperlakukan aku dengan sinis seperti ini. Sebel!.


“Tidak” aku menggeleng, kepalaku terasa berputar-putar karena music yang terlalu keras. Aku merasa pusing.


“Bu Nana tidak turun?” teriak Bu Lili,


“Tidak,” Bu Nana menggeleng, lalu menatapku “Nyonya Eliana mau turun?” teriaknya,


“Turun kemana?” tanyaku lagi, bingung.


“Haha ... kesana” Bu Nana menunjuk lantai dance dengan telunjuknya,


“Astaga!” aku berdecak, ternyata banyak sekali orang-orang yang sedang menari bagai orang kesurupan, perempuan dan laki-laki bercampur baur, bahkan ada beberapa tangan laki-laki itu yang dengan nakalnya menyentuh anggahota badan perempuan di sisi kanan, dan kirinya, tanpa perempuan itu sadari. Aku bergidik. Fiks, aku ingin pulang! Aku merasa terjebak telah datang ke tempat ini. Karena aku fikir mereka akan mengajakku ke kaffe atau restoran.


“Hahaha ... ayolah Nyonya El” teriak Bu Nana lagi, sambil menenggak minumannya, minuman berwarna merah darah, entah apa?.


“Tidak!” teriakku,


“Kalau begitu minum ini” teriaknya, sambil menyodorkan segeras minuman yang berwarna serupa, aku mengerutkan dahi, minuman apa ini?.

__ADS_1


“Minum aja, gak apa – apa kok” ucapnya meyakinkan.


Aku menerimanya, lalu mulai menyesapnya perlahan, mereka tertawa bersamaan.


‘Kenapa rasanya aneh? Sepertinya aku baru minum, minuman seperti ini’ gumamku dalam hati, ‘tapi kok rasanya nagih?’ perlahan aku mulai meneguknya, hingga satu gelas minuman itu telah tandas olehku.


“Haha ... minum!”


“Minum”


“Minum”


“Minum”


Itu yang mereka teriakkan, sementara aku, aku mulai merasakan rasa pusing mendominasi kepalaku, kenapa ini?


“Haha ... baru minum dikit aja udah mabok” aku mendengar ejekan mereka di antara kesadaranku, berkali-kali aku mengerjapkan mataku, kenapa semakin pusing.


Dari jauh, aku melihat seorang pria tengah menatapku, lalu mendekati kami, kesadaranku sudah hampir sepenuhnya hilang.


“Hay Nona, boleh berkenalan?” sapanya, tapi aku masih mengacuhkannya, bibirku terasa berat, tubuhku terasa melayang-layang.


“Heh! Jangan menggodanya, dia sudah menikah!” teriak Bu Lili yang sudah sama-sama berada di ambang kesadarannya.


“Kau tampan juga, tidak berniat menggodaku?” kini Bu Nesya yang mencoba bicara, sambil sesekali bersendawa.


“Nona, kau sungguh sudah menikah?” pria itu menangkup wajahku yang sudah sangat memerah karena terasa panas.


Bbbuuukkk!!!!


“AAAAAWWW!!” pria itu menghempaskan tangan Bu Lili yang tengah memukulnya dengan menggunakan tas tangannya, sementara aku masih tetap dengan posisiku, menyandar pada kursi soffa.


“Per giii ... hahaha” Bu Lili masih tertawa,


Pret ...


Semuanya tiba-tiba menjadi gelap, suara music berhenti, pria yang tadi menggodaku pun sudah menghilang entah kemana, semua orang tengah berteriak, sambil berlarian, ini ada apa??? di antara kesadaranku, aku mendengar geng Drove Girl tengah meracau, sambil sesekali terbahak,


“Kau! Kenapa selalu tidak pulang kerumah? Tidak tahukah? Jika aku kesepian? Ish ... menyebalkan!” teriak Bu Nana sambil menoyor kepala Bu Lili.


“Haha ... kau juga selalu memarahiku, dan selalu membawa perempuan lain kerumah! Haha” Bu Lili juga menghentakkan kakinya.


Sementara yang lain hanya menggumam, entah apa.

__ADS_1


Ngiung ... ngiung ... ngiung ...


Tiba-tiba terdengar suara sirine di kejauhan, “Ini di mana? Apa ini di rumah sakit? Kenapa ada ambulance?” gumamku.


“Hah? Suara apa itu Bu Nesya? Apa itu polisi? Kalau begitu kita harus lari, bagaimana kalau kita tertangkap wartawan? Bagaimana kalau suami kita marah karena surat kabar besok?” Bu Nana meracau.


“Haha ayo lari ... lariiiii ...” Seru Bu Lili sambil membentikkan telunjuknya ke angkasa.


“Nyonya! Ayo pergi nyonya! Polisi di luar!” aku menajamkan pandangan, kala seorang pria berbadan tegap tengah membopong tubuh anggota Drove Girl satu persatu, kecuali aku. Alam sadarku meronta, dan bertanya siapa yang akan menyelamatkan aku?.


Samar aku mendengar suara itu dari jauh “Geng Drove Girl semuanya sudah aman!”.


“hah? Bagaimana denganku?” aku berdiri, lalu memaksakan langkah yang sudah mulai terseok-seok.


“Semuanya! Diam di tempat!” teriakan itu begitu memekakan telingaku.


Aku mengerjap, bagaimana ini? Apa itu polisi?. Samar aku melihat sebuah meja dengan kolong yang lumayan tinggi, jika aku bersembunyi di sana, mungkin tubuhku akan tertutupi. Perlahan aku berjalan.


Bbrrruuukkk!!!


Kakiku tersandung kursi, hingga membuat tubuhku tersungkur dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.


“Siapa itu??”


Samar kudengar langkah kaki yang mendekatiku.


Gggrrreeepppp!!!


Tiba – tiba tubuhku terasa di tarik seseorang.


.


.


.


masukan karya ini kedalam list perpustakaan kalian


tinggalkan komentarnya agar aku makin semangat


follow akun Ig-ku di Teteh_neng2020


makasih...

__ADS_1


__ADS_2