
“Maafkan semua salahku” ucap Edgar dengan penuh penyesalan.
“Aku tidak apa-apa, aku sangat menyayangi anak-anak, aku akan selalu berada di sisi anak-anak” ucap Eliana melemah, amarah yang tadi sudah membuncah, entah hilang kemana.
“Baiklah, itu memang sudah seharusnya, jangan tinggalkan anak-anak, tetap tinggal di sini, dengan posisimu,” ucap Edgar datar.
“Hah? Ma maksudnya??” Eliana kembali gelagapan, memikirkan kata-katanya sendiri.
“Baiklah, selamat malam Nona Eliana, aku akan memegang kata-katamu,” ucap Edgar seraya berdiri, lalu bergegas meninggalkan Eliana yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mencerna keadaan yang telah menjebaknya.
“Sebentar! AAAAAAAAAAAA apa kau sedang menjebakku?? Aaaaaaa!!!! Apa ini? Tadi kan aku yang mau bicara? Sekarang kenapa jadi dia yang bicara? Dan aku meng iya kan, semua permintaannya? Kenapa kata-kata nya begitu menghipnotis diriku??? Elianaaaa!!! Sadarlah!!”
***
Gemas. Akhirnya aku mengikuti langkah AA menuju kamarnya, setibanya di sana, aku sudah mengamangkan tangan, dan menyiapkan setumpuk kata-kata yang sudah terangkai dengan sempurna untuk protes.
“AA!! Aku ...” lagi-lagi kata-kataku menggantung, kala kulihat AA sedang sibuk di meja kerjanya, tengah memeriksa PR anak-anak.
“Ya ampuuunnn ... apa kau robot?? Aku ingin bicara ...” ucapku sambil menghentakkan kaki karena kesal di hadapannya.
“Apa kau tidak lihat? Aku sedang sibuk! Bicaralah nanti, setelah aku menyelesaikan semuanya” ucapnya datar. Membuatku semakin tak sabar.
“Huh ...” aku langsung berlari, dan melompat ke atas ranjang, lalu melempar tubuhku sendiri, dengan posisi tengkurep.
“Astaga ... lihat caranya tidur, ckckck” terdengar si AA menggumam, tapi aku tidak perduli. Ku pejamkan mataku dengan kasar. Rasanya amarahku telah memenuhi dadaku. Aku sungguh sangat kesal!.
Pagi hari ...
Seperti biasa, aktivitas pagiku di penuhi dengan segudang pekerjaan. Setelah menyelesaikan beres-beres di bagian depan rumah, aku menuju area belakang rumah, rasanya jarang aku membereskan area belakang ini.
Tepat ketika aku berjalan di sebuah lorong yang lumayan panjang, aku melihat ada sebuah ruangan. Entah ruangan apa? Akupun baru melihatnya.
Perlahan, aku mendekati ruangan tersebut, lalu tanganku mulai menjulur pada handle pintu.
“Loh? Kok gak bisa di buka sih??” aku mengerutkan keningku, kala kurasakan pintu itu terkunci, selang beberapa menit, aku masih berusaha untuk membukanya secara paksa.
Gggrreeeppp ...
Tiba-tiba tanganku di tarik seseorang, aku mengerjap karena kaget.
“Aldo?” aku mengerutkan kening, kala kulihat Aldo tengah berdiri tegap, tepat di hadapanku.
__ADS_1
“Nyonya? Sebaiknya Nyonya jangan membuka ruangan ini, jika tidak ingin terkena masalah” ucap Aldo tegas. Aku semakin bingung.
“Loh? Kenapa? Memangnya ini ruangan apa?” tanyaku.
“Nyonya tidak perlu tahu” ucapnya dengan senyuman terlukis di bibirnya.
“Kenapa? Aku ingin tahu, ayolah, kita buka ruangan ini” aku kembali membuka paksa ruangan ini.
“Nyonya! Jangan nekad! Ruangan ini sudah sangat lama, di haramkan di buka oleh siapapun, apa isi di dalam ruangan ini, hanya Tuan yang tahu, jadi saya harap, Nyonya simpan saja rasa penasaran Nyonya” ucap Aldo semakin tegas.
Nyaliku menciut mendengar ucapan Aldo, meski penasaran, aku lebih memilih untuk menurut.
“Sedang apa kalian?” suara berat itu berasal dari balik punggungku. Aku menoleh,
“Tidak! Aku hanya sedang beres-beres” ucapku sambil mengibaskan kemoceng yang tengah aku genggam, lalu berlalu meninggalkan mereka.
“Huh ... terlalu banyak rahasia di rumah ini, tidak boleh ini, tidak boleh itu, menyebalkan!” aku berjalan sambil menggerutu.
“Bibi ...” aku kembali menoleh ke arah sumber suara.
“Azura?” aku mendekati Azura yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
“Oh ... aku melupakannya” aku menepuk jidatku, aku melupakan janjiku pada Azura.
“Nanti, Bibi akan mencoba membujuk Ayah ya ...” aku mengelus kepala Azura.
“Baiklah ...” Azura berlalu meninggalkanku, yang tengah berkacak pinggang sambil menepuk jidatku berkali-kali.
Setelah selesai membereskan rumah, aku kembali berkutat di dapur, memasak menu sehat untuk seisi rumah.
Aksa dan Azura sudah duduk di tempatnya masing-masing, aku masih menata makanan, dan AA sudah datang bersama Aldo, kemudian dia juga duduk di tempatnya.
“Aldo, ayo duduk, kita makan bersama” ucapku pada Aldo, jika ku perhatikan, usia Aldo itu tidak jauh beda dengan usiaku, tapi kenapa kadang dia terlihat sangat kaku dan serius, kerjaannya hanya terus mengekori si AA. Ya iyalah, kan dia asistennya.
AA melirik Aldo, dengan wajah datar dia berkata “Aldo, ayo duduk”
“Ah, tidak Tuan, silahkan sarapan dan saya akan menunggu” jawabnya menolak.
“Eiiihhh ... jangan menolak, ayo kita sarapan bersama” aku setengah memaksanya,
“Ayo Aldo” AA ikutan maksa Aldo,
__ADS_1
Dan akhirnya, Aldo ikut duduk, dengan posisi duduk di sampingku, AA menoleh seolah tidak suka.
“Aldo? Berapa usiamu?” tanya AA tiba-tiba memecah hening.
“Ah? Saya tahun ini dua puluh tujuh tahun Tuan, kenapa?” Aldo mengerutkan keningnya.
“Tidak, hanya saja aku baru menyadari, jika kamu masih sangat muda” ucap AA sambil mengunyah makanannya.
Aksa menatap Aldo dengan tatapan tidak sukanya, juga sambil mengunyah makanannya, hingga pipinya terlihat mengembung.
“Azura, Ayah akan mengambil ponsel yang di berikan pamanmu! Kamu akan menggunakan ponsel, hanya jika kamu sudah masuk perguruan tinggi!” ucap AA datar, lagi-lagi suasana sarapan ini di rusak oleh mood nya yang buruk.
“Tapi Ayah ...” Azura berniat membantah.
“Tidak ada bantahan!” semuanya diam, menghadap piring masing-masing dengan tangan bergetar.
“Aksa! Jangan terus merengek ketika di kelas, Gurumu bilang, kamu sering menangis hanya karena di goda anak perempuan!” ucap AA lagi sambil menatap Aksa, Aksa hanya diam sambil menunduk.
“AA kenapa kamu mengatakan hal-hal yang merusak mood semua orang di pagi hari?” peringatku tidak terima.
“Dan kau! Berhenti bertukar pesan dengan group geng para istri pengusaha itu! Itu akan menghancurkan harga dirimu sendiri!”
‘Eh? Dari mana dia tahu semua itu? Bukankah dia manusia yang selalu acuh? Tidak pernah mau tahu kegiatan orang lain??’
“Baiklah ...” daripada panjang kali lebar, lebih baik aku diam saja, mengiyakan semua ucapannya.
“Aldo? Apa kau sudah punya pacar?” tanya AA kemudian,
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...” Aldo tersedak makanan yang sedang dia kunyah,
“Ish ... sudah kubilang, jangan bertanya ketika makan!” peringatku, lalu aku meraih air minum, dan menyodorkannya pada Aldo.
“Aku harap, kamu sudah memiliki kekasih Aldo, pria tampan, mapan, dan masih muda sepertimu harusnya sudah memiliki kekasih” ucapnya lagi.
“Ish ... “
“Haha ... sayangnya saya belum memiliki kekasih Tuan” ucap Aldo tertawa, sambil menyeka mulutnya dengan tissue.
“Ah ... sulit di percaya” ucap AA sambil menatap Aldo dengan intens, tatapan yang sulit ku artikan, untuk pertama kalinya, aku melihat AA bertanya banyak hal pada orang lain, selain aku dan anak-anak.
bersambung...
__ADS_1