
“Apa yang kau ragukan dari aku? Hmh?” kini nada bicaranya sudah turun satu oktaf, seperti berusaha sedang merayu, bagaimanapun AA adalah pria normal sejati, di suguhi pemandangan tubuh El setiap malam, bukan AA tidak ingin segera memangsanya, hanya saja AA perlu menata hatinya agar dia yakin. Dan kini, AA sudah yakin akan perasaannya terhadap El, dan kini, AA tinggal menunggu keputusan dari El saja.
“A aku ... aku ... takut” jawab El gugup.
“Takut?? Takut kenapa??” tanya AA mengerutkan keningnya dalam.
“Takut sakit” jawab El malu-malu.
“Hahaha ... kau ini, sudah seperti anak bau kencur saja, takut sakit” AA tergelak mendengar jawaban dari El.
“Cih, kau kan sudah bau tanah, mana bisa mengerti rasa khawatirku??” El mendengus kesal, benci dengan respon dari AA.
“Kau ini, tidak akan sakit kok, palingan juga seperti di gigit semut” AA menyeringai, duduk bersila, sambil memeluk guling, tatapan matanya masih pada El yang tengah duduk di ujung ranjang, sambil mencubiti bantal bulu-bulu yang tengah di peluknya.
“Mau main tebak-tebakan denganku??” tanya AA menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membuat El sedikit rileks, AA merasa prihatin, akan kegugupan El semenjak beberapa hari terakhir, semenjak dia meminta haknya sebagai suami.
“Boleh” El mengangguk, lalu menengadah menatap AA.
“El, coba mendekat, aku janji tidak akan menerkammu sekarang, jika kau masih belum siap juga” AA mencoba membujuk.
Masih dengan posisi awas, El merangkak mendekati AA, lalu meletakkan bantal yang dari tadi di peluknya sebagai pembatas, El terlihat waspada.
“Buah, buah apa yang tidak akan pernah jatuh meski berusaha di petik??” tanya AA dengan senyum menyeringai.
Sadar dengan perubahan wajah suaminya, El langsung berfikir keras, setelah faham maksud AA, dia segera menutup dadanya secepat kilat, dengan kedua tangannya, mencoba melakukan pertahanan diri.
“Hahaha ... kau kenapa??” AA terbahakmelihatwajah El yang sudah sangat pucat, tangannya semakin bergetar.
“Kau mesum!” ucap El sambil bergidik.
“Hah?? Mesum?? Aku??” AA menunjuk wajahnya sendiri.
“Kau yang mesum! Memang apa jawabannya??” AA tergelak,
“Pasti buah dada! Iya kan??” El menatap AA dengan tatapan tajamnya.
“Haha ... kau pandai, belajar dari mana??” tanya AA, menatap El setelah berhenti tertawa.
“Dari internet” jawab El yakin.
“Jadi, kau so tahu jika malam pertama pasti menyakitkan juga belajar dari internet??” tanya AA, memastikan, padahal tadi sudah di jawab.
“Iyalah” jawab El ketus.
“Apa kau juga menonton peragaannya??” tanya AA menatap El semakin lekat.
__ADS_1
“Maksudmu??” El gagal faham.
“kau menonton video iya iya kan??” AA menunjuk wajah El, mengintimidasi.
“Kau mesum!” lanjut AA, membuat El terbelalak tidak terima dengan tuduhannya.
“Tidak!” El kembali menyilangkan kedua tangannya pada bagian dadanya, kembali membuat perlindungan diri.
“Ah ... kau lama sekali fahamnya El, terlalu banyak drama, pembaca sampai kesel nungguin kita malam pertama” ucap AA menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa prustasi, karena malam pertamanyaterlalu banyak drama.
“Ih ... apaan sih??” El menggeleng.
“Ayo sekarang!” tegas AA.
“Sekarang apaan??” El masih belum terima.
AA merangkak, mencoba menggapai tubuh El yang sudah gemetaran.
“Ti tidak AA ...” El memelas, mencoba memohon belas ksihan dari AA.
“Ah ... lama!” AA langsung inisiatif, semakin mendekat pada tubuh El.
“AA tahan duluuuu” El masih menggeleng.
Tap
Tap
Tap
Tubuh AA semakin mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajah El, hingga sapuan napas AA terasa di wajah El, El memejamkan matanya dengan erat, tangannya mencengkram seprai sekuat tenaga.
Deg
Deg
Deg
El semakin ketakutan, ketika dia merasakan bibir AA semakin dekat dengan bibirnya, lalu tubuhnya terasa hangat karena perlahan AA sudah memeluk tubuhnya erat.
1
2
3
__ADS_1
Gubraaakkkk!!!
“Apa itu???” AA langsung menghentikan kegiatannya, lalu celingukan.
“El? Kau pingsan??” tanya AA meraih pipi El, yang sedang memejamkan matanya.
“Tidak” El menggeleng sambil kembali membuka matanya.
“Suara apa tadi??” El bertanya pada AA yang tengah tersenyum mesem.
“Itu suara pembaca yang terjungkal, karena mau di peyuk aku juga, hahha”
“AAAAAAAAAAAAA!!!!”
“Jangan berisik! Nanti pembaca iri” AA kembali melanjutkan aksinya yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
“Mesum!” teriak El mencoba menangkis gerakan AA.
Tapi AA tidak peduli lagi, akhirnya dia menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, yang selama ini sudah di tahannya sekian lama.
*Sensor*
Malam ini, hujan turun dengan deras, menyelimuti malam yang kian kelam, untuk pertama kalinya pasangan gaje AA dan El melakukan kewajibannya di malam jum’at kliwon, mereka telah mempraktekan banyak gaya, dari mulai gaya salto, gaya botol, sampai gaya bebas telah mereka lakukan berkali-kali. El membalasnya, sesuai dengan apa yang telah dia pelajari dari internet, dan dari seseIbu geng drove girls tentunya.
***
Tek ... tok ... tek ... tok ...
Waktu menunjukkan pukul empat pagi, udara di luar masih terasa dingin, membuat dua orang yang masih berada di bawah selimut semakin mengeratkan pelukan masing-masing.
“Engh ...” Eliana terbangun, kala di rasakan ada sesuatu yang berat yang menindih perutnya, El mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia benar-benar terlelap beberapa jam yang lalu.
“Hhhhhh ...” El mendesah, ia mengingat semuanya, perlahan El mengedip-ngedipkan matanya, merasa masih belum percaya.
“Ish ... aku sudah melakukannya??” El bergumam sendiri, sambil mengintip ke dalam balik selimut, terlihat dirinya yang masih belum menggunakan sehelai benangpun.
El mencoba memindahkan tangan kekar yang masih posesif memeluknya, setelah berhasil, dia mencoba bangkit, tapi nahas, rasa sakit mendominasi di bagian tertentu tubuhnya.
El meringis, lalu kembali pada posisinya.
“Semua ini gara-gara AA!” El menggeram tidak suka, sejenak dia kembali membayangkan kegiatannya semalam. El tersenyum, lalu dia kembali menerawang, memikirkan kehidupan pernikahannya dengan AA selama ini. Sungguh, sebelumnya tak pernah terbayangkan kehidupan seperti ini sebelumnya. El menertawakan dirinya sendiri kini.
Awalnya, pernikahan mereka di awali dari sebuah kesalah fahaman, lalu terbayang kembali sikap AA selama ini, AA yang galak, judes, otoriter, dan kaku seperti kanebo kering. Tapi, di balik sifat AA yang galak, AA adalah pria terbaik yang pernah El temui, AA seperti sosok Kakak, Ayah, sahabat dan suami yang baik yang mampu melindungi El selama ini, dan untuk itu El mensyukurinya, terlepas dari segala kekurangan AA maupun El, bagaimanapun, manusia tidak ada yang sempurna.
Dalam pelukan AA, mata El menatap ke arah langit-langit kamarnya, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan tingkahnya. Tanpa berkedip. Dan pemilik mata itupun ikut tersenyum. Setelah sekian purnama ia menunggu malam ini, akhirnya apa yang dia impikan bisa terealisasi juga.
__ADS_1