DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Pria Dewasa


__ADS_3

Edgar pov


Hari minggu seperti biasa aku berangkat ke kantor, hari ini aku berencana untuk tidak terlalu lama di kantor, aku hanya akan menandatangani beberapa dokumen yang belum sempat aku tandatangani sebelumnya. Setelahnya, aku berencana untuk kembali pulang kerumah, entahlah, aku hanya ingin mulai belajar mendekatkan diriku pada anak-anak, dan ... ekhem, pada Eliana juga tentunya, aku ini sudah berumur, kenapa rasanya aku ini menjadi sangat tidak bijak sekali ketika memperlakukan Eliana? Biar bagaimanapun dia itu istriku, yah ... meskipun awal pertemuan kita sungguh sangat mengenaskan.


Pukul sebelas lewat, aku baru tiba di rumah, rumah tampak sepi, tapi ketika tiba di ruang tengah, aku mendengar suara anak-anak dari arah dapur, mereka terdengar sangat bahagia, suara tawa mereka sudah lama sekali aku tidak mendengarnya, entah kapan terakhir kali aku mendengarnya.


Perlahan, aku mulai mendekati sumber suara, aku mulai mencium bau-bau makanan aneh, seperti makanan terlarang di rumah ini, aku memang sangat melarang anak-anakku memakan sesuatu yang sembarangan, apalagi minim gizi dan nutrisi.


Kulihat dari jarak dekat, tanpa mereka sadari, Aksa sedang memakan roti berbagai rasa, Astaga!!! Tidak tahukah dia? Jika membuat roti kemasan seperti itu menggunakan ragi atau pengembang? Dan itu sangat tidak baik bagi kesehatan, lalu ku tatap El dan Azura, mereka sedang memakan sesuatu yang entah apa? Sesuatu yang sangat asing bagiku, tapi yang jelas makanan itu terlihat sangat berminyak dan pedas, terlihat dari bagaimana cara mereka memakannya.


“Apa-apaan ini???!!!” aku berteriak untuk menghentikan mereka, terlihat mereka terlonjak kaget, lalu terdiam menghentikan kegiatannya.


“A ayah, Bibi yang sudah memberikan makanan ini untukku” ucap Azura sambil menuduk, dan bergetar.


Aku berjalan, mengitari meja makan, mengcek makanan yang ada di hadapan mereka, dan benar saja, ternyata mereka memakan sesuatu yang lebih mirip seperti pakan Ayam. Ah, tidak! Bahkan Ayam pun di beri pakan yang lebih baik dari ini.


“Apa yang kau makan??!! Apa ini?? Ini seperti pakan Ayam!!” teriakku kesal.


“Ish ... ini makanan enak! Aku tadi yang membuatnya!” jawab Eliana membuatku semakin geram, bukannya merasa bersalah dan minta maaf, malah ngeyel.


“Makanan enak belum tentu sehat! Kau! Berani sekali kau meracuni anak-anakku!” teriakku sambil melotot.


“Ya elah, sekali ini, sesekali anak-anak tidak apa-apa makan apa yang mereka suka” jawabnya lagi, tidak sadarkah dia? Jika ucapannya sangat memojokkan aku di hadapan anak-anak?.


“Aksa! Buang rotimu! Sudah berapa kali Ayah bilang! Roti itu mengandung pengembang! Tidak baik untuk kesehatan!” teriakku lagi, sambil menatap tajam pada putraku.


“Dan kau Azura! Jangan pernah sekali-kali lagi makan makanan aneh ini! Kembali ke kamar!” perintahku,


Dengan ketakutan anak-anak langsung pergi ke kamar masing-masing. Menyisakan Eliana yang tengah berdiri mematung, sambil memilin ujung bajunya. Dasar gadis pembangkang! Kenapa juga Tuhan harus mempertemukan aku dengan gadis seperti ini? Ya Tuhaaannn ... rasanya aku sungguh ingin murka karena kesal.


“Ehheeeehhee ...” dia malah tersenyum cengengesan, aku semakin mendelik tidak suka, apa maksud dia malah senyum-senyum? Apa dia sedang mencoba meledekku?. Ish ...


“Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi!” ucapnya sambil membentikkan kedua jarinya, apa-apaan itu? Tidak sopan!.


“Jadi, ini yang kau lakukan setiap hari ketika aku tidak ada di rumah?!” ucapku dengan nada tinggi,


“Gak kok, suer! Aku baru sekali ini masak seblak,” ucapnya, tapi aku tidak percaya, selama ini aku jarang ada di rumah, sudah pasti dia sering melakukannya.

__ADS_1


Aku mulai melangkahkan kaki mencoba mendekatinya, berniat untuk memberinya peringatan, tapi dia malah terus memundurkan langkah, hmh ... kenapa dia, gadis yang aneh.


“Adudududuh ...” tiba-tiba saja dia berjongkok, mencengkram perutnya, seperti menahan sakit, aku yakin dia pasti sedang berakting. Karena tidak ingin aku mengomelinya.


“Gak usah pura-pura!” ucapku datar.


“Aaaaaahhhh ... ini sungguh sakit!” teriaknya sambil terus menggigit bibir bagian bawahnya, eh ... jangan-jangan dia beneran sakit. Apa iya??.


“El! Kenapa kamu??!!!” tanyaku sambil ikut berjongkok.


“Sa kkiiittt” ucapnya terbata,


“Mana yang sakit??” tanyaku mencoba memegang perut yang tengah dia cengkram. Sementara itu wajahnya sudah memucat.


“Aaaaahhh ... sakiiittt!!” teriaknya,


Aku semakin panik, apa yang harus kulakukan sekarang??.


“Huaaaaaa!!” eeehhh ... dia malah nangis, merepotkan!.


“Kenapa tubuhmu ringan sekali?” ucapku, kala merasakan tubuhnya begitu ringan, tidak seperti ketika pertama kali aku menggendongnya.


“Kau tidak lihat itu??!!” teriaknya sambil menunjuk kebawah, aku meliriknya.


“Astagaaaa ... pantas saja terasa ringan” ucapku terkekeh geli, kala melihat ternyata kaki Eliana yang sebelah kiri tidak terangkat, dan malah ikut berjalan, ini saking paniknya aku tadi, hingga tidak menyadari, jika kaki Eliana terjuntai satu, dan malah ikut berjalan. Ck.


Hhuuupppttt ...


Akhirnya, aku tiba di kamar, dan segera meletakkan tubuh Eliana di atas ranjang.


“Adddaaawww pinggangku” gumamku, sambil mengurut pinggang yang terasa ngilu, apa encokku kumat?.


Sementara Eliana langsung meringkukkan tubuhnya,


“El, aku akan menelpon Dokter” ucapku sambil meraih ponselku dari dalam saku celana.


“Gak perlu, hiks ...” ucapnya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“Loh? Kenapa?” tanyaku sambil mengernyitkan kening.


“A aku, hanya sedang datang bulan” ucapnya, membuatku menganga, apa iya datang bulan sampai sebegitunya? Dulu Chelsi tidak pernah seperti itu, ah ... apa aku yang tidak tahu?.


“Hiks ... hiks ... sakit” gumamnya, sambil terus bergerak gelisah,


“Apa yang harus kulakukan??” gumamku sambil menekan ponsel, mencari cara bagaimana cara meredakan rasa sakit ketika menstruasi di mesin pencarian google.


Tidak lama, akhirnya muncul beberapa saran dari Mbah google, Minum air hangat, menekan area yang sakit dengan air hangat, itu salah satunya dan ada juga beberapa rekomendasi obat yang bisa di pesan secara online, dan aku segera memesannya.


Aku segera turun ke lantai bawah, menuju dapur, untuk mengambil air panas, setelahnya aku segera kembali ke kamar.


“Minum dulu El,” ucapku sambil menyodorkan air panas yang tengah aku bawa.


El, membuka matanya, lalu menerima air dariku, lalu perlahan meminumnya.


“Hati-hati panas El” ucapku, merasa khawatir kala melihatnya minum dengan derai air mata, apa sungguh sakit menstruasi sampai sesakit itu???.


“Aku akan turun kebawah, mungkin pesanan obatku sudah datang” ucapku sambil meletakkan cangkir di atas nakas.


“Jangan!” El meraih tanganku, membuatku terperanjat kaget.


“Kenapa?” tanyaku.


“Kalau sedang sakit, biasanya Ibu suka mengelus perutku sambil menyanyikanku lagu” ucapnya membuatku terbelalak.


“Lalu?” tanyaku yang sudah mencium hawa-hawa aneh.


“Bisakah kau melakukannya untukku?” tanyanya memohon.


“Hah?? Eh, emmm ...” aku masih berfikir.


“Pasti bisa” ucapnya sambil menarik lenganku, dan mengarahkannya ke perutnya.


Deg ...


El, sadarkah kamu??? Aku ini pria dewasa Eliana!

__ADS_1


__ADS_2