
“Haldhooo ... Haldhooo ...” seketika bulu kuduk Aldo meremang kala mendengar suara bisikan di belakangnya. Sementara Siska yang berada di meja di hadapannya tetap fokus pada pekerjaannya. Perlahan, Aldo mengusap kepala belakangnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Haldhooo ... Haldhooo ...” suara itu, semakin mendayu-dayu, Aldo semakin bergidik ngeri.
“Apa di kantor ini ada hantunya ya??” gumam Aldo.
“Haldhoooo ...”
“Astaga! Nyonya! Sedang apa di sana??!” seketika Aldo mengerjap karena kaget setengah mati, kala melihat El tiba-tiba sudah berada di sampingnya, sementara Siska hanya terkekeh karena dia sudah menyadari kehadiran El dari tadi, yang datang dengan cara mengendap-endap.
“Hehe ... kalau bekerja itu, janganlah terlalu serius, nanti kamu cepet tua lho” Eliana terkikik.
“Nyonya mau bertemu Tuan?” tanya Aldo mengernyitkan dahinya, kala dia memperhatikan El, sudah berdandan dengan sangat cantik, dengan rantang makanan di tangannya.
“Yah ... mau bertemu siapa lagi dong?? Aku kesini mau ketemu AA pastinya” Eliana mengebikkan bibirnya.
“Baiklah, akan saya laporkan dulu pada Tuan, kalau Nyonya datang” Aldo beranjak dari duduknya, lalu berjalan memasuki ruangan Presdir.
“Nyonya, sebaiknya Nyonya duduk dulu” Siska menggeserkan sebuah kursi ke dekat Eliana,
“Ah, terimakasih” Eliana tersenyum, lalu duduk di kursi yang di sodorkan oleh Siska.
“Kenapa juga, mau ketemu suami sendiri, udah kayak mau ketemu presiden sih? Pake harus melewati asistennya segala, gak bisa gituh? Aku berlaku seenaknya seperti di novel-novel yang sering aku baca? Punya suami kaya raya, dan aku bisa bebas menggunakan segala fasilitas yang suami punya? Ish ...” Eliana terlihat mendengus kesal, sambil ngedumel sendiri, Siska yang mendengarnya hanya bisa tersenyum saja.
“Siska, sudah lama bekerja di sini??” tanya Eliana mendekati Siska, karena Aldo yang masuk kedalam ruangan presdir tak juga kunjung keluar dari ruangan.
“Sudah Nyonya” Siska menghentikan pekerjaannya, menatap Eliana yang tengah menopang dagu menghadap ke arahnya.
“Sudah berapa lama??” tanya Eliana semakin penasaran.
“Dari semenjak kita lulus kuliah, saya sudah menjadi sekretaris Tuan Ed” ucapnya dengan nada datar.
“Kita?? Kalian dulu teman??” tanya El lagi, rasa penasarannya semakin membuncah.
“Iya, saya, Tuan Ed, dan Tuan Imran adalah sahabat semenjak kita belajar di kampus yang sama” ucap Siska, matanya terlihat menerawang.
“Ooohh ... saya baru tahu, lalu kamu sudah menikah??” tanya El lagi,
“Sudah Nyonya” Siska menundukkan kepalanya, lalu menghela napas berat, Eliana yang menyadari kondisi tidak bertanya lagi.
__ADS_1
“Ah begitu” ucapnya singkat, dia faham betul, perubahan di wajah Siska begitu ketara.
“Tapi, saya sudah bercerai dengan suami saya” ucapnya lagi.
“A apa?? Tapi kenapa??”
‘Tapi kenapa?? Suamiku di kelilingi oleh perempuan singgle’
“Mungkin sudah takdirnya Nyonya” Siska tersenyum sendu menatap Eliana, yang sedang termenung.
“Oh, hehe ... Aldo mana ya? Kok lama sekali? Apa aku menerobos masuk saja ya??” Eliana menggaruk tengkuknya, tak ingin melanjutkan obrolannya dengan Siska.
“Sebaiknya Nyonya menunggu saja” Siska mengingatkan, dia faham betul, Edgar kalau sedang bekerja, sungguh tidak suka di ganggu.
“Ah, iya ... sambil menunggu Aldo, ayo ceritakan masa lalu suamiku kala di kampus dulu” pinta Eliana, menatap Siska dengan serius.
“Nyonya yakin mau mendengarnya?? Haha ... belum apa-apa saya sudah merasa lucu dengan masa muda kami dulu” Siska membekap mulutnya sendiri.
“Iya, ayo ceritakan padaku”
“Jadi begini ... “
***
“Tuan, Nyonya El ada di luar, katanya ingin bertemu” ucap Aldo.
“Apa?? Mau apa dia kesini?” seketika Edgar menatap wajahnya di cermin ponselnya,
Aldo mengerutkan keningnya, sambil menggaruk alisnya, merasa aneh dengan tingkah Tuannya.
“Saya tidak tahu Tuan” Aldo menggeleng,
“Tunggu sebentar, menurutmu apa ini sudah rapi? Apa aku terlihat gagah dan keren dengan duduk seperti ini??” Edgar berlenggak lenggok di atas kursi kebesarannya, berakhir dengan duduk menyamping sambil memanyunkan bibirnya.
“Eh? Kenapa duduknya begitu Tuan?? Saya rasa itu tidak pantas” Aldo semakin menggaruk jidatnya.
“Lalu? Yang keren menurutmu seperti apa? Sebentar, apa begini??” Edgar mengubah posisi duduknya, dengan menyilangkan kedua kakinya, sambil memutar-mutar bolpoint di hadapannya. Dengan tangan satunya lagi menahan keningnya. Seolah dia sedang memikirkan hal yang berat.
“Itu terlihat sangat tegang Tuan, tidak santai” Aldo kembali berkomentar.
__ADS_1
“Hah?? Apa begini saja ya??” Edgar kembali mengubah duduknya dengan duduk seperti biasa sambil menatap laptopnya dengan serius.
“Begini lebih normal Tuan, tapi wajahnya jangan terlalu dekat dengan laptop, nanti mata Tuan sakit lagi” Aldo menutup mulutnya menahan tawa, teringat kejadian beberapa hari lalu, Tuannya baru saja di periksa mata, karena merasa perih, yang di sebabkan oleh radiasi dari komputer lipatnya.
“Ah baiklah, apa begini??” Edgar menggeser kursinya, memberikan jarak antara kursi dan meja, melipat kedua tangannya di dada, sambil menatap komputernya dengan mata memicing.
“heee ... apa itu tidak terlihat aneh ya Tuan? Itu malah terlihat Tuan sedang tidak bekerja, nanti pundaknya pegel lagi, karena Tuan terlalu kaku” ucap Aldo lagi.
“Apa?? Ish ... jadi aku harus bagaimana??” Edgar kehabisan akal,
“Eh, Tuan? Kenapa telinganya merah sekali??” Aldo memperhatikan telinga Edgar yang terlihat sangat merah.
“Ah, entahlah, tapi ini terasa sangat panas, apa ada orang yang tengah membicarakan aku ya??” Edgar meraba telinganya yang terasa di bakar.
“Ah, ya sudahlah, ini tidak penting, sekarang aku harus bagaimana??” Edgar kembali fokus pada gayanya.
“Begini saja ...”
“Ah? Apa ini terlihat keren dan berwibawa??” Edgar mengerutkan keningnya,
“Ya jelaslah ... Tuan selalu terlihat istimewa,”Aldo mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum.
“Baiklah ... suruh dia masuk, bilang jangan lama-lama, aku pegal menahan posisi seperti ini” ucap Edgar, sambil memperagakan posisi yang menurut Aldo bagus tadi.
“Siap Tuan” Aldo melenggang pergi, sambil berdecak, berkali-kali dia menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan perubahan tingkah Tuan galaknya.
“Nyonya, silahkan masuk” samar terdengar suara Aldo oleh Edgar.
Krrriiieeettt ...
Terdengar seseorang membuka pintu, Edgar semakin fokus dengan posisinya.
Tap ... tap ... tap ...
Suara langkah sepatu semakin mendekatinya, Edgar semakin waspada, berusaha menahan dagunya, meski sudah terasa pegal, mungkin karena tegang juga.
“Haaayyy AA” suara ceria Eliana,
“AA lagi apa berdiri di pojokan??” Eliana mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan posisi Edgar, yang tengah berdiri tegap, menatap kaca di hadapannya, yang tembus pandang pada pemandangan kota, dengan kaki sedikit terbuka, sementara tangannya yang satu di lipat di dada, dan tangan yang satunya tengah menyangga dagunya.
__ADS_1
Edgar mengerjap, merasa telah gagal menunjukkan gaya terbaiknya, Edgar mengurai posisinya, lalu berjalan untuk kembali menuju meja kerjanya. Edgar menhempaskan bokongnya di kursi, dengan wajah kecewa, sementara Eliana terlihat biasa saja, lalu dia menarik kursi di hadapan Edgar, dan duduk di sana.
“Kenapa kau kesini?” tanya Edgar ketus.