DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Skin Care


__ADS_3

“Sedang apa kau??” suara Edgar menggema di dalam kamar itu, sambil meletakkan sebuah papper bag kecil di atas nakas.


“Eh?? Aku sedang mencoba baju” jawab El, sambil berlenggak lenggok di depan cermin.


“Acaranya kan masih tiga hari lagi, kenapa kau sudah sibuk dari sekarang??” tanya Edgar sambil berjalan, dengan tangan berusaha melepaskan dasi.


“Eeeehhh ... untuk acara anaknya itu kita harus preeper dari sekarang, semuanya harus terlihat sem pur na!” Eliana mengeja kata sempurna, berharap Ed mau mengerti kode darinya.


“Cih, kau ini, seperti baru kali ini saja mendatangi sebuah acara” Edgar melengos lalu memasuki kamar mandi.


“Dasar gak peka!” umpat Eliana, lalu duduk di samping ranjang, sambil memangku baju yang baru saja di cobanya.


“Eh, apa ini??” Eliana meraih papper bag yang tadi di letakkan Edgar di atas nakas, terdorong rasa penasaran, Eliana membuka papper bagnya.


“Hah?? Ini kan skin care yang mahal, dan lagi kekinian itu, ya ampuuuunnn ... AA kok baik banget sih?? Beliin aku kayak ginian, tau aja wajah aku udah buluk banget gara-gara udah lama gak di rawat” Eliana berjingkrak kegirangan.


“Ternyata AA tidak seburuk yang aku fikirkan, AA baik banget siiihhh ... aku harus bilang makasih nih” Eliana lagi-lagi berjingkrak-jingkrak gak jelas.


“Sedang apa kau?? Kenapa wajahmu terlihat begitu senang??” Edgar keluar dari kamar mandi, sambil menggosokkan handuk di kepalanya.


“AA makasiiihhhh ... kamu tahu aja, apa kebutuhanku, aku memang sudah lama ingin barang ini, dan kau membelikannya tanpa aku minta, mana banyak banget lagi, makasiiihhh yyaaa” Eliana bergelayut di tangan AA, tanpa sadar.


“Hah?? Apa? Aku membelikan apa untukmu??” AA mengerutkan keningnya.


“Ini, skin care mahal ini” Eliana mengacungkan beberapa skin care ke hadapan wajah Edgar.


“Hah?? I ini ... ini ...” Edgar gagap, entah apa yang harus dia katakan pada El, karena pada kenyataannya, Edgar membeli skin care itu untuk dirinya sendiri.


“Ini untukku kan??” Eliana menatap Ed dengan mendelik.


“I iya, untuk siapa lagi?? Tentu saja untuk dirimu, ha ha ha ha” Edgar tertawa kikuk, sambil berlalu duduk di atas ranjang, sambil menoyor-noyor kepalanya, karena merasa bodoh.


“Makasiiihhh ... AA kau sungguh luar biasa!” Eliana mengacungkan kedua jempolnya, lalu kembali berjingkrak.


Sementara AA??? Dia hanya bisa tepok jidat pemirsah ... wkwkwk.


***


Pagi hari yang cerah, embun-embun yang membasahi dedaunan tanah, yang agak basah, karena semalam hujan gerimis, hingga menambah suasana dingin dan sejuk di pagi hari.


“Hooooaaammm ...” Eliana terbangun dari mimpi indahnya, seolah sudah menjadi kebiasaan, kini Eliana sudah sangat terbiasa bangun di pagi buta, bahkan jauh sebelum Ayam berkokok, dia sudah sibuk berkutat dengan pekerjaannya.

__ADS_1


“Hari ini, acara Azura di sekolah, aku belum memastikan lagi, AA mau gak sih datang ke acara anaknya??” Eliana bergumam sambil menatap pria yang tengah terduduk di kursi kerjanya. Eliana mengerjapkan matanya lagi.


“Eh?? AA gak tidur?? Kok dia masih di sana sih??” Eliana mengucek matanya berkali-kali.


“AA ...” sapa Eliana, sambil mendekati meja kerja AA yang jaraknya lumayan jauh dari ranjang, bahkan ada sekat kaca yang menghubungkannya.


AA masih diam tak bergeming, dia duduk dengan menyelonjorkan kakinya ke atas meja, lalu tangannya di lipat di dada, sementara itu, kepalanya bersandar pada sandaran kursi, AA terlihat keren dan Elegan dengan posisinya. Karena di usianya yang mapan AA masih terlihat tampan dan segar.


“A ...” Eliana mencoba mengguncangkan tubuh pria itu dengan pelan,


“AA!” Eliana mulai panik, karena melihat AA yang tidak juga bergeming setelah di guncangkan berkali-kali.


“Waduh?? Apa AA mati ya?? Eeehh?? Gimana ini??” Eliana mulai di landa rasa panik.


“AA! Jangan bercanda, bangun dong!” Eliana mulai kembali mengguncang lengan AA.


“Sebentar! Aku harus mengecek detak jantungnya, untuk memastikan dia masih bernyawa atau tidak? Masa iya orang tidur di bangunin gak bangun-bangun??” Eliana mulai mencondongkan wajahnya, untuk mendengarkan degup jantung AA. Hingga telinganya tiba di dada AA.


Dug,


Dug,


Dug,


“Jangan-jangan AA mati karena serangan jantung, ish ... A bangun A!” Eliana mulai histeris.


“AA bagun!”


Plak,


Plak,


Eliana memukul pipi gemboy AA pelan,


“A kita kan mau mendatangi acara Azura, kalau kamu mati berarti gak jadi dong?? Eh, aku bisa jadi janda dong?? Hhuuuaaa ... A banguuunn!!” Eliana semakin histeris, kemudian bersiap memukul wajah AA kembali, Eliana sudah mengamangkan tangannya di udara.


Grrreeppp ...


“Kamu mau jadi janda??” tiba-tiba Edgar membuka matanya, menahan tangan Eliana yang sudah hampir mendekati pipi mulusnya, AA menatap Eliana dengan tatapan tajamnya.


“Huh ... huh ... huh ... aku takut! Aku takut kamu mati!” Eliana menghentakkan kakinya, menjauh dari meja kerja AA.

__ADS_1


“Lihat! Pipiku jadi merah karena kau tampar! Memangnya tidak ada cara lain untuk membangunkanku??” Edgar semakin marah, kala melihat pantulan pipinya di cermin, terlihat merah karena ulah istrinya tersebut.


“Ya ampuuunnn ya mana aku tahu, aku kan tadi panik” sahut Eliana sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai,


“Lagian tidur kok kayak kebo, susah amat di banguninnya!” Eliana mendengus kesal, sambil masuk kedalam kamar mandi.


“Dasar perempuan gak peka! Aku kan cuman mau mamerin wajah aku, yang baru pakai skin care, malah di sangka mati” gumam Ed, sambil menatap wajahnya di cermin.


***


“Anak-anak ayo makan dulu!!” teriak Eliana dengan nyaring, semangatnya pagi ini, membuat semua orang tertular semangatnya.


Aksa dan Azura berjalan menghapiri Eliana, dan duduk di kursi masing-masing, dengan sarapan yang sudah di ambilkan Eliana.


“Bibi ... Ayah tidak akan datang ya???” Azura menatap El lekat, tatapan gadis itu mengandung harapan yang sangat tinggi.


“Emmmhhh ...” Eliana bingung, entah apa yang akan dia katakan. Karena dia belum bicara kembali dengan Ed.


“Pasti tidak akan datang, iya kan??” tuduh Azura,


“AA, kamu mau kemana?? Sini sarapan dulu! Kau jadi datang ke acara Azura kan??” teriak Eliana kala melihat bayangan AA lewat di hadapannya.


“Aku sibuk, aku buru-buru, aku berangkat dulu!” ucap Ed sambil menyambar sebuah roti dari meja makan, lalu pergi begitu saja.


“Apa??? Eh, bukannya makan roti itu tidak baik?? Kenapa kau makan roti??!!” teriak Eliana dengan kesal.


“Cih ... sudah ku duga, Ayah tidak akan datang” Azura melipat tangannya di dada, sambil memanyunkan bibirnya.


“Aku yang akan datang ke sekolahmu, kau tenang saja” Eliana menatap Azura lekat, merasa iba dengan nasib gadis kecil di hadapannya.


“Aku ingin Ayah datang! Bibi tidak bisa di andalkan! Sekarang, mana? Berikan padaku boneka yang lebih banyak daripada boneka milikku sekarang!” Azura merajuk.


“Apa??” Eliana mengurut pelipisnya pelan,


“Baiklah” Eliana menunduk lesu, merasa kalah dalam taruhannya dengan putrinya.


“Sekarang, ayo kita berangkat” Eliana menuntun tangan Azura, lalu berjalan menuju pintu utama. Sementara Aksa akan di antar oleh sopirnya.


Deg!


“Ayo masuk!” Eliana terpaku dengan penampakan di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2