
“Eeeehhh??? Siapa kalian!!?? Mau apakalian rame-rame datang kerumahku???” Eliana terlihat pontang-panting, kala melihat beberapa orang yang datang berkerumun ke rumahnya, dengan seragam hitam putihnya.
“Jangan sentuh!”
“Aaaaa!! Kenapa kalian menyentuh benda-benda yang sangat di larang AA??”
“Jangaaan!!!”
“Kamu! Kenapa kamu beraninya memasuki wilayahku?? Ini dapurku! Jangan di acak-acak!”
“Ini? Kenapa banyak sekali baju baru?? Aku tidak pesan baju sama sekali!”
“Kenapa kalian tidak menjawab??!!”
“Hheeeeyyyy!!!”
“Halllloooooo ...!!!”
“Astaga apa yang mereka semua lakukan di sini?? Sebentar, aku harus segera menelpon si AA” ujar Eliana sambil merogoh sakunya, untuk meraih ponselnya.
Berkali-kali, Eliana menekan nomor ponsel AA, tapi tetap tak ada jawaban,
“Nyonya El??” sapa seseorang di balik punggung Eliana.
“Iya?? Eh, Mbak Siska??” seolah mendapat angin segar, Eliana segera mendekat.
“Bagaimana kejutannya?? Nyonya suka??” tanya Siska sambil mengedarkan pandangannya, mencoba memperhatikan cara kerja orang-orang yang baru saja di suruhnya untuk menjadi pelayan di rumah Edgar, tentu saja, itu atas dasar suruhan Edgar.
“Hah ... aku sungguh terkejut, kau berhasil” Eliana mengacungkan dua jempolnya.
“Hhheee ... bagus kalau Nyonya suka” Siska terkekeh,
“I ini, maksudnya apa ya??” Eliana kembali mengingat rasa penasarannya.
“Ini adalah salah satu proyek yang di berikan Tuan Ed pada saya” jawab Siska jujur,
“Proyek?? Proyek apa??” Eliana menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal.
‘Proyek meluluhkan hati istri’ batin Siska.
“Hehe ... proyek untuk membantu Nyonya di rumah, Tuan sengaja kembali menggunakan jasa ART, babby sitter, dan asisten pribadi untuk Nyonya” jelas Siska.
“Hahaha ... aku yakin, aku ini sedang bermimpi bukan??”
Plakkkk!!
“Aaaaaawwww sakiiittt” Eliana meringis, memegang pipinya sendiri, yang di tampar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
“Sekarang Nyonya tidak perlu lagi mengerjakan semuanya sendirian” ucap Siska berbinar.
“Hahaha ... sepertinya, aku sudah lama tidak makan seblak, jadi jiwa khayalku agak sedikit liar” Eliana terkekeh, masih belum percaya atas apa yang sudah di jelaskan Siska.
“Sekarang Nyonya ke kamar yaaa ... beberapa pelayan akan membantu Nyonya untuk berdandan” Siska memberikan kode kepada beberapa pelayan, untuk membantu Eliana berdandan.
“Eeeehhhh ... aku mau di apain ini??? Sebentar, hhhaaacciiihhh!!!” Eliana berkali-kali bersin, karena kuas makeup yang berkali-kali mengenai hidungnya, karena Eliana sangat aktif, tidak mau diam.
“Nyonya tenanglah ... ck” Siska berdecak, sambil sesekali tersenyum geli, melihat tingkah Eliana, yang masih merasa berada di alam mimpinya.
“Kenapa aku di dandani seperti ini?? Aku mau di bawa kemana?? Atau jangan-jangan AA punya rencana licik lainnya yang tidak aku ketahui?? Tidak mungkin, otak seseorang bisa bergeser dalam waktu semalam bukan?? Ish ... AA sesungguhnya proyek apa yang sedang kau lakukan?? Jika kau melakukan sesuatu yang merugikan diriku, maka terkutuklah kamu AA!!” Eliana masih mengumpat.
Selang beberapa jam, akhirnya mereka selesai mendandani El, Eliana terperangah melihat penampilannya sendiri di cermin, dia seperti melihat orang lain.
“Apa ini yang di namakan the power of make up?? Ini seperti bukan aku, Mbak Siska?? Apa AA akan mengajakku makan malam di restoran mewah ya??” tanya El, pada Siska yang tengah mengoprasikan tabletnya.
“Hah?? Eh, saya kurang tahu Nyonya” Siska tersenyum mesem.
“Sudah siap??” tiba-tiba suara berat itu membuat El mengerjap kaget.
Edgar sudah berdiri di ambang pintu, dengan menggunakan pakaian yang senada, dengan pakaian yang di gunakan Eliana, meskipun AA ada di usia kepala empat, tapi AA sungguh masih rupawan dan sangat mempesona.
Aa tersenyum dengan sangat manis, bahkan mungkin, ini adalah senyuman termanis yang pernah di lihat El. Seketika, kepala El di penuhi oleh berbagai macam bunga.
‘Gustiiiiii ... ini ada yang berbunga tapi bukan riba’ hati El bersorak.
“Terimakasih ...” El membentangkan ujung dres yang dia gunakan layaknya seorang princess.
Edgar hanya tersenyum kaku, lalu ikut masuk kedalam mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil, mereka tidak banyak bicara, mereka tenggelam dalam fikiran masing-masing.
‘AA mau ngajak aku dinner romantis di restoran mewah, aaaa ... menyenangkan!’
‘El, pasti senang di ajak nonton konser group metal yang lagi kekinian, sesuai dengan saran Aldo’
“Sudah sampai Tuan” tiba-tiba suara Pak Toto membuyarkan lamunan mereka masing-masing.
“Ayo turun” Ed membukakan pintu untuk El,
El yang baru menyadari keadaan langsung terbengong-bengong sendiri.
“Apa ini???” tanya El seolah bertanya pada diri sendiri.
“Harusnya anak muda seperti dirimu suka” ucap Edgar dengan penuh percaya diri.
“Rockeeerrrr juga manusia! Punya rasa punya hati!” terdengar music keras dengan alunan lagu yang sedang hits di kalangan anak metal, lampu kerlap-kerlip menyilaukan membuat El tidak berhenti merutuki kekagetannya.
“AA!!! Kenapa kita malah nonton kaleng rombeng seperti ini sih??” rutuk El kala mereka sudah berada di barisan paling depan.
__ADS_1
“Eh, kau tidak mengerti seni??” tanya Ed, sambil menutup kedua telinganya, seraya nyengir kaya kuda nil.
“Seni apa??!!!” El berteriak, karena kemungkinan suaranya pasti tidak akan jelas di pendengaran AA.
“Nikmati saja!” teriak AA kesal sendiri, sesungguhnya dia pun sangat merutuki ide Aldo ini, boro-boro bisa meluk El, dengan romantis, yang ada dia jadi sorotan banyak orang karena salah kostum.
Dan yang paling penting, mereka merasa tidak nyaman karena suara berisik yang keterlaluan. Akhirnya sambil menekan amarah, mereka mencoba menikmati dentuman musik metal yang mereka dengar.
“El!! Ini ice creamnya!” teriak Ed, sambil menyodorkan satu cup ice cream kepada El, sementara tangan kirinya masih setia menutupi sebelah telinganya, karena semakin malam music malah semakin memekakkan telinga.
El menerima ice creamnya, tapi lagi-lagi dia bingung, bagaimana cara memakannya??.
Semakin malam, orang-orang malah semakin heboh, mereka seolah tidak ada lelahnya berteriak sambil sesekali saling dorong.
“AAAA!!!” teriak El, kala ice cream yang dia pegang jatuh, lalu mengenai dress yang dia gunakan.
“Apa yang terjadi??” Ed membelalakan matanya, sambil mencoba menyeka baju El, dengan sapu tangannya.
“Heh!! Kenapa kau mendorong istriku?? Teriak Ed pada pria, yang tidak sengaja menyenggol lengan istrinya.
Pria itu menoleh “Santuy Mang ...” ucapnya sambil kembali berjingkrak.
“Astaga ... sebenarnya acara apa ini?? Kenapa Aldo memberiku ide seperti ini??” rutuk Ed akhirnya.
“Pulang!!” rajuk El, sambil menghentakkan kakinya menuju mobil, mendahului Ed.
***
“Eeeeeuuuuu ... Eeeeeuuuu ... Eeeeeuuu ...” di dalam mobil, Ed berkali-kali bersendawa.
“Apa sih??” El mendelik, masih kesal, karena impiannya untuk dinner romantis ternyata gatot.
“Sepertinya aku masuk angin” rengek Ed, sambil menepuk-nepuk perut sikspacknya.
“Makanya kalau udah jadi AA itu gak usah banyak gaya” El berdecak.
“Kerokin doooonnngg ...” AA menaik turunkan alisnya.
“Gak!”
“Ish ...”
.
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...
__ADS_1
Terimakasih banyak kepada kk yang masih setia menunggu cerita remahan peyek ini, terimakasih juga, karena sudah memberikan dukungan berupa komentar.