DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Gara-gara Bra


__ADS_3

Hari sudah lewat tengah malam, namun aku masih betah berada di dalam ruangan kantorku, tidak seperti biasanya, pekerjaan hari ini sungguh banyak, karena kesibukanku dalam mengerjakan pekerjaan hingga aku lupa mengabari Eliana untuk pulang terlambat, aku yakin mereka pasti menungguku, ah ... dan satu lagi, anak – anak pasti tidak akan makan jika aku belum pulang, karena itu yang selalu kuajarkan pada mereka, bukan apa – apa, aku hanya tidak ingin melewatkan momen malam bersama kedua anakku.


Eh ... kenapa aku merasa takut ketika menuju pulang kerumah? Yang ada di dalam fikiranku adalah aku melihat bayangan El yang tengah melipat tangannya di dada sambil berdecih, bersiap membrondongku dengan banyak pertanyaan. Hhuuhhh ...


Itu rumahku, dua anak yang di asuh El adalah anak – anakku, aku pulang lewat tengah malam karena pekerjaanku, lalu apa yang salah? Kenapa aku merasa khawatir dan was – was? Ini aneh.


“Tuan kenapa? Anda terlihat begitu gelisah?” tanya Aldo sambil melirikku dari kaca spion depan.


“Tidak apa – apa” aku menggeleng sambil memijit tulang hidungku, rasanya begitu ngantuk dan lelah. Inginnya langsung rebahan di kasur dan terlelap tidur, sepertinya itu akan lebih baik.


“Tadi Nyonya El sempat telpon, menanyakan Tuan” ucap Aldo memberitahu, seketika aku terbelalak kaget, benarkah Eliana menghubungiku?


“O ya? Apa yang dia katakan?” tanyaku lagi antusias. Penasaran apa yang di tanyakan oleh gadis itu.


“Hanya bertanya tuan sedang berada di mana?” jawab Aldo sambil mengulum senyum, menirukan bagaimana cara Eliana tadi bertanya.


“O ya? Lalu dia bertanya apa lagi?” aku mulai tidak waras rupanya, kenapa aku senang ketika mendengar El menanyakan keberadaanku? Harusnya dia senang bukan? Karena aku tidak ada di rumah? Bukankah dia selalu tersiksa jika aku berada di dekatnya?.


“Hanya itu tuan” jawab Aldo singkat, fokusnya kembali pada kemudi.


“Kapan dia menelponku?” aku mulai penasaran lagi, kenapa aku jadi banyak bertanya seperti ini sih? Ini aneh, ini tidak benar!.


“Tadi, tepat ketika Siska mengajak Tuan makan” jawab Aldo datar, rasa lelah membuatnya sedikit kesal ketika aku terus saja bertanya.


“Apa???” haduuuhhh ... apa yang harus kulakukan? Apa El akan salah paham padaku? Apa dia akan marah padaku? Apa dia akan cemburu padaku? Eh ... aku ini kenapa sih?? Pikiranku terus melayang – layang entah kemana?.


Tiba di rumah ...


Aku sempat mengecek dapur, hanya ingin tahu El masak apa hari ini? Jangan sampai dia memasak mie instan lagi untuk anak – anakku, ya, aku pernah mendapatinya memakan mie instan bersama anak – anak, waktu itu aku sangat marah, tapi dia hanya berkelit, dengan jawaban “Eeehhh ... gak apa – apa, anak – anak makan mie instan, cuman sekali ini kan??” itulah jawabannya, dengan di dukung oleh kedua anakku dengan tatapan memelas dan memohon, membuatku tidak berdaya. Gadis itu sungguh ...


Hari ini, El memasak rendang, ya Tuhaaannn ... perempuan itu, tidakkah dia tahu? Minyak yang sangat banyak terdapat pada rendang bisa mengakibatkan kolesterol??? Dan itu sangat tidak baik untuk kesehatanku, yang ehem ... sudah mulai bertambah umurnya. Lalu, sayur sop?? Kenapa rasanya sangat gurih? Hhuuhh ... makanan terlalu banyak MSG juga tidak baik untukku dan untuk anak – anak. Dan ini apa?? Pepes ikan??

__ADS_1


Sslluurrrpppp ...


Tiba – tiba aku menelan salivaku dengan susah payah, “kenapa penampilannya begitu menarik? Sepertinya ini enak?” aku mulai menyingsingkan lengan baju kemeja yang kugunakan hari ini, mengendurkan dasi, lalu menyampirkan jas kerjaku di kepala kursi makan, lalu menyicipi pepes ikan di hadapanku.


“Eemmmhh ... kenapa rasanya begitu pas di lidahku??”


“Ini enak sekali”


Tanpa kusadari aku sudah duduk di kursi makan, menyambar piring, lalu mengisinya dengan nasi, semua makanan sudah dingin,


“Apa saja kerjaannya? Aku sudah pulang, tapi dia tidak menyambutku? Tidak melayaniku makan? Menyebalkan sekali dia! Istri macam apa dia itu?” aku terus mengumpat sambil terus mengunyah,


“Hah??? Apa ini?? Kapan aku menghabiskan makanan ini? Kemana perginya sepiring nasi, dan satu ekor ikan tadi?” umpatku sambil mengangkat piring, siapa tahu ikannya loncat. Tapi tidak, semua makanan itu sudah pergi kedalam perutku.


“Ya Tuhaaannn ... apa yang harus kulakukan? Kenapa aku makan lagi di malam ini? Huuhh ... besok perutku pasti akan membuncit. Belum lagi ikan ini mengandung lemak, jelas itu tidak baik untuk kesehatanku. Ck, pepes ikan sialan!”


Setelah kenyang makan, aku segera masuk kedalam kamar, perlahan kubuka pintu kamar, ku intip sebentar, takutnya El masih bangun.


Aku bergidik, lalu kembali berjalan, berniat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tappiii ...


Dduuukkk!!!


Aku terpeleset, entah benda apa yang ku injak, hingga aku malah terjungkal ke ranjang, dan hampir saja menimpa tubuh El yang sedang terlentang, jika aku tidak sigap menahan tubuhku dengan tanganku.


“AAAAAAAAA!!! Siapa kau???!!!” tiba – tiba El menjerit sekuat tenaga, sambil memukul tubuhku dengan bantal guling.


Buk ... bak ... buk ...


“AAAAAA!!! Ini aku!!” teriakku, tapi sepertinya El belum menyadari kehadiranku. Dia terus memukulku sekuat tenaga. Di kira aku maling mungkin.


Buk ... bak ... buk ...

__ADS_1


“AAAAAAA!!! Sadarkan dirimu!! Ini aku!!” teriakku lagi. Pukulannya terhenti.


“Hah?? Kau?? Baru pulang??”


El menggisik matanya, menatapku lekat, sambil menyeka air liur yang menetes dari ujung bibirnya. Ish ...


“Iya! Kenapa kau memukulku!” teriakku tak terima, sambil meraba pinggang yang tadi menjadi korban keganasan El.


“Ma maaf” El menunduk,


Aku memutarkan pandangan, mencari benda yang tadi telah membuatku terjatuh.


“Apa ini??” aku mengamangkan sebuah bra berwarna hitam, yang membuatku tadi tersungkur, dan hampir saja aku menodai diriku sendiri dengan menindih tubuh El.


El terbelalak, membulatkan matanya sempurna.


“AAAAAAAAAAA!!!” setengah terbang, dia meraih benda yang aku gelantung di udara.


“Kenapa kau mengambil milik pribadiku! Ini privasi!” teriaknya sambil memeluk benda itu, dengan kedua tangannya, seolah benda itu adalah benda yang sangat berarti bagi hidupnya.


“Kau yang jorok! Kenapa benda itu bisa ada di lantai??” tanyaku menatapnya tajam.


“Ehheee ... tadi aku membukanya sebelum tidur, dan melemparnya, aku pikir kau tidak akan pulang” ucap El tanpa rasa bersalah.


“Cih ... kenapa aku harus tidak pulang? Ini rumahku” decihku, sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Bersambung ...


yuk follow akun IG-ku di Teteh_neng2020


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ... aku sukaaaa sekali membaca komentar readers semua, aku tunggu lhhhooo terimakasiiihhh.

__ADS_1


__ADS_2