
“Sekarang buka mulutnya aaaaaa ...” AA membuka mulutnya latah, memerintah El, agar mau membuka mulutnya.
“Tidak! Aku bisa sendiriii” El kembali menolak, dia menggeleng berkali-kali.
“Ayo buka dulu mulutnya” AA memaksa membuka mulut El, mulut El sedikit terbuka, dengan kesempatan itu, AA langsung memasukkan sikat giginya.
“Aaaaaaaaa ... buka mulutnya lebih lebar lagi” AA kembali memerintah.
“Aaaaaaa” El membuka mulutnya perlahan, tapi AA masih kesusahan
“Tapi, ngomong-ngomong itu sikat gigi siapa?? Bukankah milikku sikat giginya berwarna ping?? Kenapa ini warnanya biru??” tanya El baru menyadarinya.
“Tentu saja ini milikku sepertinya” jawab AA santai.
“Apa?? Aaaaaaaaa!!” tanpa sadar El membuka mulutnya lebar karena kaget.
“Bagus! Aaaaaaaa ...” kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh AA, dengan leluasa AA menggosok gigi El dengan sesuka hati.
“Nah, selesai menggosok gigi, mari kita sarapan” tanpa aba-aba, AA langsung kembali membopong tubuh El layaknya karung beras menuju dapur, lalu mendudukkannya di sebuah kursi makan, sementara itu, anak-anak sudah berangkat sekolah di antar babby sitternya masing-masing.
“Sebentar, pagi ini aku akan memasak” AA beranjak mendekati kompor, perlahan dia mulai menunjukkan aksi memasaknya, sementara itu, El hanya bisa memandang punggung AA yang bergerak lincah kesana kemari dengan perasaan entahlah ...
Setengah jam kemudian ...
Segala macam makanan sehat sudah terpampang di hadapan El, seketika El berdecak kagum karena kepiawaian AA dalam hal memasak, pria ini begitu sempurna, semua hal bisa dia lakukan tanpa cela, sungguh luar biasa!!.
“Ayo makan! Aaaaaa” AA duduk tepat di kursi di hadapan El, lalu AA menyendokkan sayuran fresh kedalam mulut El, tapi El malah menggeleng.
“Kenapa?? Aku suapi aaaaa” AA kembali membuka mulutnya memperagakan.
“Aku bisa sendiri” ucap El menolak.
“Tanganmu masih sakit, ayo jangan bantah!” AA memaksa, membuat El menyerah, El membuka mulutnya.
“Eeemmhhh ... enak banget!” El berteriak girang, merasakan betapa enaknya masakan AA.
“Aku mau itu juga” El menunjuk telur mata sapi setengah matang, yang berada di dekat AA.
__ADS_1
“Kau suka ini??” AA menyendok telur, lalu memasukkannya kedalam mulut El.
“Kau tidak makan??” tanya El setelah banyak makanan masuk kedalam perutnya.
“Aku makan ini” AA meraih yoghurt yang berada di samping kirinya, menyendoknya lalu memakannya.
“Ish ... apa kenyangnya makan yoghurt” El berdecak.
“Aku mau makan sendiri saja” El berusaha mengeluarkan tangannya, dari gulungan bad cover, lalu mulai meraih salad di hadapannya.
“Eeemmhh ini juga enak” El membulatkan matanya, kala kembali merasakan masakan AA yang terasa begitu lezat.
“Kau suka?? Aaahhhh ... aku harap setiap pagi, kita bisa seakrab ini, aku rasa mungkin ini alasan orang-orang kenapa mereka langgeng dalam menjalani hidup berumah tangga” AA sedikit tertegun.
“Tentu saja, mari kita seperti ini di setiap pagi, kedepannya” mata El berbinar, menyetujui usulan AA.
“Jadi?? Apa kau suka dengan cara romntis ku??”
Deg!!!!
“Uhuk ... uhuk ... uhuk!!!”
***
Aksa datang ke kamar Eliana tanpa mengetuk pintu, dengan mainan di tangannya, membuat El mendongakkan kepalanya, tangannya masih sibuk membereskan baju yang akan di pakai esok, esok, rencananya mereka akan menggunakan baju couple keluarga, agar terlihat serasi dan harmonis.
“Ibu, besok boleh bawa ini??” Aksa mengacungkan mainan robot-robotan kesayangannya.
Sejenak El berfikir, apa tidak repot membawa serta mainan Aksa?? Mereka di sana sudah di jadwalkan akan mengikuti berbagai acara, yang salah satunya adalah acara permainan yang akan melibatkan mereka sekeluarga sebagai pesertanya. Tapi, tak tega dengan wajah memelas Aksa akhirnya El mengangguk juga.
“Boleh, tapi bawa yang kecil aja ya, jangan yang besar” tawar El penuh kelembutan.
“Kalau pesawat boleh di bawa juga??” tanya Aksa,
El terdiam, pesawat mainan Aksa lumayan besar, bagaimana mungkin harus di bawa juga?.
“Kalau pesawat kebesaran sayang, nanti gak muat di mobilnya, bawanya yang kecil aja ya?” tawar El.
__ADS_1
“Yah ...” Aksa mendesah kecewa.
“Anak pinter, gak boleh sedih gitu dong, nanti di sana juga banyak permainan kok, Aksa boleh pilih semua mainan yang Aksa suka, kalau bawa mainan dari rumah, Ibu keberatan bawanya, barang kita sudah banyak, nanti kalau misalnya Ibu pingsan gimana?? Siapa yang mau gendongin??” tanya El, membuat mata Aksa kembali berbinar, namun juga bingung.
“Beneran Bu?? Kalau Ibu pingsan kan ada Ayah, Ayah kuat, bisa gendong Ibu” ucap Aksa mengingatkan.
El terbelalak, “Haha ... Ibu badannya berat, makannya banyak, Ayah gak akan kuat” ucap El ngasal, sementara Aksa mengerutkan keningnya.
“Sekarang Aksa bobo dulu ya, bilang sama Suster Eni, Aksa mau cuci kaki, cuci tangan sama gosok gigi dulu, nanti Ibu nyusul buat bacain Aksa dongeng, oke jagoan??” El mengacak rambut Aksa gemas.
Aksa mengangguk senang, lalu berlari kembali ke kamarnya. Sementara El meneruskan pekerjaannya, yang sempat tertunda.
“Bu, besok kita pakai baju apa??” lagi-lagi kegiatan El terganggu karena sebuah pertanyaan, yang kali ini datang dari Azura. Azura tengah berdiri di samping El yang sedang membereskan baju-baju untuk di pakai esok hari.
“Pakai baju ini Kak, kamu suka kan?? Harusnya sih suka, ini baju kekinian banget Kak” jawab El dengan mata berbinar, sambil memutar bajunya di udara.
“Ibu yakin?? Mau pakai baju ini??” Azura mengerutkan keningnya.
“Kenapa memangnya??” El ikut mengerutkan keningnya, sambil menelisik baju yang ada di genggamannya.
“Itu warna pink lho” Azura sedikit bergidik.
“Kenapa kalau pink?? Anak perempuan harusnya suka bukan??” El kembali bertanya bingung.
“Ayah emang mau pakai baju pink ginih?? Ada gambar bunga mataharinya lagi, selera Ibu payah” Azura memutar jempolnya ke bawah sambil berlalu.
“Aiiiissshhhh ... anak itu, selalu saja begitu! Sama seperti Ayahnya, dia tidak tahu saja, baju ini di pesan khusus dari Bu Mirna, mahal lagi” El berdecak, lalu kembali menyiapkan kembali peralatan lainnya yang belum masuk ke dalam tas.
***
Esok hari tiba, keluarga El sudah tiba di tempat acara gathering, saat ini mereka tengah berjalan menuju sebuah lapangan luas, tempat acara beragam permainan akan berlangsung. AA berjalan tegap menggandeng tangan El, untuk menghampiri beberapa rekan kerjanya, sementara itu, di beberapa titik, sudah ada banyak karyawan yang menatap kehadiran mereka.
AA terlihat antusias dan PD, sementara El terlihat biasa saja, sesekali dia memanggutkan kepalanya, sebagai bentuk sapaan pada orang-orang yang tengah menatapnya.
“Ed! Apa kabar??” tiba-tiba suara perempuan terdengar dari arah belakang El dan AA, membuat mereka menoleh seketika.
“Kabarku baik Say” ucap AA membalas juluran tangan perempuan yang ada di hadapannya, perempuan itu terlihat tersenyum sumringah, tanpa menatap El yang dari tadi ada di samping AA.
__ADS_1
“Ekkhheeemmm!!!” El berdehem, membuat AA sedikit tersenyum.