DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Sudah Keriput


__ADS_3

“Kenapa kau kesini?” tanya Edgar ketus.


“Hehehe ... AA aku datang kesini, karena ada yang ingin aku katakan padamu” Eliana berdiri, memutari meja, lalu berdiri di samping Edgar, yang tengah fokus menatap laptopnya.


“Katakan” perintah Edgar dengan judes, membuat nyali Eliana sedikit menciut, tapi demi memenuhi janjinya, dia harus melakukan semua ini.


“AA ... hari kamis depan kosongkan waktumu ya, jangan masuk kantor, bisa kan??” tanya Eliana ragu, sambil mencoba memijit tangan kekar Edgar.


Edgar yang tengah di sentuh Eliana, hanya bisa menahan napasnya, merasa ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya.


“Hentikan!” Edgar mengamangkan tangannya, Eliana mengerjap, lalu kembali berjalan memutar, dan duduk di kursinya.


Edgar menarik napas panjang “Buat apa?” tanyanya lagi, kembali dengan nada datarnya.


“Hari kamis depan, adalah hari kenaikan kelas Azura, gurunya meminta agar para wali datang ke sekolah, untuk menghadiri acaranya, nanti akan ada pengumuman siswa terbaik, lalu Azura akan mempersembahkan sebuah lagu, kau mau datangkan??” tanya Eliana penuh harap.


“Aku sibuk, kamis depan jadwalku meeting dengan mentri dari Kamerun” ucap Edgar, lalu matanya kembali fokus ke laptopnya.


Eliana mendengus kesal, tapi dia tidak ingin menyerah.


“Ayolah ... kenapa kau tidak mau datang di acara putrimu sendiri? Aku fikir, putrimu lebih penting daripada meetingmu itu” mode bujukan level lima.


“Putriku penting, tapi meeting dengan mentri dari Kamerun itu, lebih penting, aku tidak bisa melewatkannya begitu saja, kau tahu? Aku harus menunggu dua tahun dulu agar aku bisa meeting dengannya” jelas Edgar dengan wajah datarnya.


“Ya ampuuunnn ... sesekali, cobalah berikan perhatian lebih pada Azura, Zura itu sudah beranjak remaja, dia butuh figur seorang Ayah, kau harus memberinya contoh yang baik, kau harus menjadi panutannya, kau tahu?? Ayah itu adalah cinta pertama bagi anak perempuannya” dengan kesal, El menjelaskan panjang lebar.


“O ya?? Ku rasa, aku memang cinta pertama bagi setiap perempuan, tanpa terkecuali putriku” ujar Edgar dengan rasa percaya diri tingkat tinggi.


“Ya sudahlah ... terserah dirimu! Yang penting, aku sudah memperingatkanmu!” Eliana mendengus kesal.


“Oh iya, aku memasakkanmu pepes ikan, apa kau mau memakannya??” Eliana meraih rantang makanan, yang dia letakkan di pinggir meja tadi.


“Tidak perlu, aku takut kolesterol” tolak Edgar.


“Eh? Ya gak mungkinlah, selama AA rajin berolah raga, itu tidak akan terjadi” Eliana masih membujuk.


“Tidak!” Edgar menggeleng.


“Astaga ... kenapa kau begitu galak sekali??? Pantas saja wajahmu semakin hari semakin keriput!” ucap Eliana seraya berdiri, bersiap meninggalkan Edgar.


“Apa??? Keriput???” Edgar terbelalak kaget,


“Eh? Tiap hari apa gunanya kau bercermin?? Coba perhatikan wajahmu! Kau ini, dasar AA!!!” dengan sangat kesal Eliana menghentakkan kakinya, sambil kembali menenteng rantangnya.


“Eeehhh sebentar, mau kau bawa kemana rantangmu itu??” Edgar membentikkan telunjuknya.


“Mau aku kasih kucing!” Jawab Eliana sarkas.

__ADS_1


“Hah?? Jangan! Biar aku saja yang memberikannya pada kucing, di kantor ini juga ada kucing” cegah Edgar.


“Hah?? Ya sudah! Terserah apa maumu!” Eliana kembali meletakkan rantangnya, lalu beranjak dari ruangan Edgar sambil ngedumel sendiri.


Sepeninggal Eliana ...


“Apa iya ya?? Wajahku sudah keriput?? Kurasa tidak” Edgar menggelengkan wajahnya di depan cermin ponselnya, sambil sesekali mengelus dagunya.


“Aldo, masuk ruanganku” panggil Edgar via intercom,


Selang beberapa menit, Aldo kembali muncul di ruangan Edgar,


“Ada apa Tuan??” tanya Aldo sambil menatap geli, pada sikap Tuannya.


“Coba, kau belikan aku skincare termahal yang pernah ada” pinta Edgar, semakin membuat Aldo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Skincare?? Buat apa Tuan??” tanya Aldo.


“Buat istriku, tadi dia memintanya” jawab Ed dengan wajah tegangnya.


“Hah ... Para perempuan muda memang begitu, oh iya, apa skincare bisa menghilangkan keriput??” lanjut Ed,


“Eh?? Saya tidak tahu Tuan, nanti akan coba saya tanyakan pada penjualnya” Aldo semakin bingung.


“Ya sudah, sana kembali kerja, oh iya satu lagi, tolong siapkan makan siang ini di meja itu” Edgar membentikkan telunjuknya, menunjuk pada meja di depan sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.


“Sudah Tuan”


“Ah, ya sudah, sanah keluar” usir Edgar.


“Baik Tuan” Aldo keluar ruangan, dengan kepala di penuhi tanda tanya.


Sementara itu, Edgar sepeninggalnya Aldo ...


“Emmmhhh ... kenapa rasanya pepes ikan ini selalu enak ya?? Aku jadi selalu ketagihan kalau makan pepes ikan ini, eh, kemarin juga rendang buatan El terasa enak di lidahku,” Edgar terus mengunyah makanannya.


“Adududuh ... kenapa pundakku terasa berat sekali ya??”


***


“HHHHH ...” Eliana menghela napasnya, sambil melemparkan tubuhnya di atas kursi sofa, setibanya dia di rumah.


“Bibi ... aku yakin, kau pasti tidak berhasil bukan membujuk Ayah??” Azura melipat tangannya di dada, sambil menatap Eliana dengan intens.


“Berhasil” ucap Eliana dengan lemas.


“Cih ... aku tidak yakin” Azura menatap Eliana dengan tatapan ragu.

__ADS_1


“Kau mau bertaruh denganku??” Eliana semakin gemas, tidak Ayahnya, tidak anaknya, mereka semua membuat Eliana merasa jengah.


“Boleh, aku akan memberikan semua koleksi bonekaku padamu, jika Ayah datang ke acaraku, cih ... Ayah bahkan tidak pernah datang ke sekolahku selama ini” Azura berdecih, lalu melewati Eliana begitu saja, bergegas menuju kamarnya.


“Deal!!” teriak Eliana sebelum Azura sempat memasuki kamarnya.


“Dan Bibi harus memberiku boneka dua kali lipat dari koleksiku yang sekarang, jika aku yang benar” ucap Azura sambil tersenyum menyeringai.


“Oke” Eliana menyatukan jari telunjuk dan jempolnya, hingga membentuk hurup O.


“Cih ...” Azura memasuki kamarnya, lalu menutup pintunya.


“Bibi ... apa Ayah akan datang ke acaranya Kakak Zura??” tiba-tiba Aksa datang, lalu duduk di pangkuan Eliana,


“Eh? Mungkin Ayah akan datang” jawab Eliana dengan ragu,


“Bibi ... kalau Ayah datang di acaranya Kak Zura, Ayah juga harus datang di acaraku” Aksa mengerucutkan bibirnya.


“Ah ... memangnya Aksa ada acara apa??” Azura mengelus rambut putranya dengan sayang.


“Senin minggu depan, Aku ada acara kenaikan kelas juga” ucap Aksa


Eliana menggaruk tengkuknya, ‘Masalah yang satu belum kelar, sudah ada masalah lainnya, ya ampuuunnn ... ngebujuk AA buat datang di acara Azura aja belum berhasil, sekarang acara Aksa lagi, hiks ...’ batin Eliana meronta.


“Bibi ...” Aksa menatap El, yang tengah garuk-garuk.


“Ah, iya, nanti akan Bibi usahakan” akhirnya El mengalah lagi,


“Janji??” Aksa menjentikkan jari kelingkingnya.


“Akan Bibi coba untuk membujuk Ayahmu” Eliana menyambut jari kelingking Aksa.


‘Sekarang rencana apa lagi yang harus ku lakukan untuk membujuk AA?? Apa aku harus menyeretnya saja?? Agar dia mau datang’.


***


“Sedang apa kau??” suara Edgar menggema di dalam kamar itu, sambil meletakkan sebuah papper bag kecil di atas nakas.


.


.


.


Bersambung ....


.

__ADS_1


__ADS_2