
Esok hari tiba, keluarga El sudah tiba di tempat acara gathering, saat ini mereka tengah berjalan menuju sebuah lapangan luas, tempat acara beragam permainan akan berlangsung. AA berjalan tegap menggandeng tangan El, untuk menghampiri beberapa rekan kerjanya, sementara itu, di beberapa titik, sudah ada banyak karyawan yang menatap kehadiran mereka.
AA terlihat antusias dan PD, sementara El terlihat biasa saja, sesekali dia memanggutkan kepalanya, sebagai bentuk sapaan pada orang-orang yang tengah menatapnya.
“Ed! Apa kabar??” tiba-tiba suara perempuan terdengar dari arah belakang El dan AA, membuat mereka menoleh seketika.
“Kabarku baik Say” ucap AA membalas juluran tangan perempuan yang ada di hadapannya, perempuan itu terlihat tersenyum sumringah, tanpa menatap El yang dari tadi ada di samping AA.
“Ekkhheeemmm!!!” El berdehem, membuat AA sedikit tersenyum.
“Oh iya, kenalin Say, ini Eliana istriku” ucap AA mencoba memperkenalkan mereka.
‘Say??? Say??? Say?? Oooohhhh ... Tuhhhaaaannn!! Siapa perempuan ini?? Kenapa AA dengan tidak tahu malunya memanggil perempuan ini dengan panggilan SAY?? Maksudnya apa sayang??’ batin El meronta-ronta, seketika hatinya bergemuruh, segala rutukan di lontarkan di dalam hatinya.
“Oooohhh ... ini istrimu itu Ed?? Cantik sekali, masih muda lagi” perempuan itu tersenyum, lalu menjabat tangan El.
“Terimakasih” jawab El ketus, lalu melepaskan jabatan tangannya, sementara itu, perempuan itu malah terkekeh.
“O ya Ed, bagaimana sekarang bisnismu??” tanya perempuan itu, dengan wajah sudah menghadap kepada Ed kembali.
“Baik, lalu bagaimana denganmu Say??” tanya AA sambil tersenyum.
‘AA emang kurang asem ya!!! Sama aku aja gak pernah manggil sayang, cih!! Aku marah!!’ El menghentakkan kakinya, lalu menjauh dari mereka, menghampiri anak-anak yang tengah tertawa karena menonton lomba balap karung, sudah seperti acara tujuh belasan saja, tapi mereka bilang acara ini, acara silaturahmi, guna mendekatkan para karyawan, agar kekeluargaan mereka tercipta dengan baik.
‘Kenapa jantungku berontak ya?? Haiiisssshhh!! Bagaimana ini??’ El masih memegang dadanya, merasakan ada gejolak aneh di sana.
“Ibu! Ayo sekarang giliran kita, buat ikutan main tarik tambang” ajak Azura, menarik lengan El.
El mengerjap “Hah?? Tarik tambang?? Bagaimana mungkin??” tanya El terbelalak.
“Iya, katanya sekarang giliran keluarga kita” ucap Azura yakin.
“Loh?? Kamu tahu dari siapa??” tanya El bingung, kenapa juga Azura lebih tahu rangkaian acaranya di banding El.
“Dari Om Aldo, dari tadi nyariin Ayah sama Ibu” jelas Azura.
“Ooohhh ... ya sudah kalian bersiap, Ibu mau memberi tahu Ayahmu dulu” El membalikkan tubuhnya.
Jedug ...
__ADS_1
“Aduuuhhh ...” El meraba keningnya, kala di rasa keningnya membentur sesuatu,
“Kenapa tidak hati-hati?? Tidak lihat aku di hadapanmu??” AA menatap El dengan aneh.
“Ish ... mana selingkuhanmu??” El celingukan.
“Selingkuhan?? Siapa yang selingkuh??” tanya AA mengerutkan keningnya.
“Ya kau lah, beraninya kau selingkuh secara terang-terangan di hadapanku!” El berdecak sebal, sambil mengelus keningnya. Sementara AA menahan tawanya.
“Maksudmu perempuan yang tadi??” tanya AA, El mengangguk.
“Haha ... kau cemburu ya??” tanya AA dengan nada menggoda.
“Hah?? Ngimpi” El mengedikkan bibirnya.
“Dia itu ...”
“Tuan! Sudah di tunggu dari tadi, sekarang giliran acara keluarga Tuan untuk lomba tarik tambang” Aldo datang dengan napas tersenggal.
“Apa?? Kenapa harus tarik tambang?? Dengan keluarga siapa aku bertanding??” tanya AA penasaran.
“De dengan keluarga Tuan Imran Tuan” jawab Aldo masih ngos-ngosan.
“Apa???” AA membulatkan matanya.
“De dengan keluarga Tuan Imran Tuan” jawab Aldo masih ngos-ngosan.
“Apa???” AA membulatkan matanya.
“Keluarga Imran kan keluarga Samson, mereka semua kuat, apa kita kuat ya melawan keluarga Imran??” AA bertanya pada dirinya sendiri, lalu menatap El yang tengeh mengerucutkan bibirnya, AA tersenyum, lalu menggandeng tangan El menuju arena.
Sebuah tambang sudah teronggok di tanah, keluarga Imran yang berada di hadapan kelaurga AA sudah bersiap, mereka beranggotakan lima orang, sementara AA empat orang, sebelumnya AA sempat protes, karena anggota keluarga Imron kelebihan, membuat permainan menjadi tidak seimbang. Tapi, Imran menolak mengeluarkan anggota keluarganya, dan malah meledek kalau keluarga AA lemah. AA yang tidak terima di bilang lemah, langsung menyanggupi permainan tanpa protes lagi.
“Sebelum memulai permainannya, peserta boleh berdo’a dulu” ucap MC mengingatkan, lalu dengan segera keluarga Ed membuat sebuah lingkalan, lalu mereka sedikit membungkuk,
“Ingat anak-anak kita harus menang, kita tidak boleh kalah!” peringat El “Siapkan tenaga kalian, hhuuuhhh ... hhhaaahhh ...” El menarik napas lalu membuangnya.
“Siap semua??” suara MC membuat semua peserta terlonjak, lalu mengatur posisi masing-masing.
__ADS_1
“Sekarang, kita mulai permainannya yaaa” suara MC terdengar menggema,
“Satu ... dua ... tiga!!! Go!!!”
“PRRRRIIIIITTTTT!!!” suara peluit menggema, menandakan acara permainan baru saja di mulai.
Suara teriakan dari para suporter mulai terdengar, keluarga El dan keluarga Imran sudah mulai melakukan Aksinya.
Sepuluh menit permainan masih seri, keduanya masih seimbang.
Hingga di menit kedua puluh, keluarga El mulai kewalahan, mereka mulai terseok kedepan, hampir saja mereka tertarik jika Ed tidak kuat menahannya.
“Ibbuuuuuu ... ayo doonnnggg jah nganh lemaaaahhh” suara Azura yang berada di belakang El mulai terdengar.
“Ih yyyyaaahhhh ...” jawab El sambil mengejan.
“Iiiiiiihhhhh ... Ibuuuuu ayyyooo semangaaatttt” Aksa terdengar ikut mengejan juga.
“Ah kuh ... gak kuuuaaatttttt” El mulai ngos-ngosan. Sementara AA dengan posisi paling belakang, tetap tegap mempertahankan pertahanannya.
Keluarga Imran mulai terlihat tersenyum sinis, mereka yakin, jika mereka pasti menang, seperti yang di katakan mereka sebelumnya, membuat El tidak terima dan kembali menambah tenaganya, menjadi tenaga ekstra.
“Eeeeedddddd!!! Semangat Eeeeedddd!!!” terdengar teriakan perempuan, membuat El menajamkan pendengarannya, sekelebat, dia menatap perempuan yang di panggil ‘Say’ oleh AA sedang melompat-lompat memberi AA semangat, seketika El mendelik tidak suka. Seketika amarahnya kembali membuncah.
Keluarga Imran yang menyadari El menurunkan konsentrasinya, langsung memanfaatkan situasi itu, dengan PD mereka menambah kekuatan mereka, untuk menarik tambangnya.
“Ed, kau pasti kalah!” teriak Imran.
Seketika fokus El kembali, dengan tatapan penuh amarah, dan nafsu dia langsung menghentakan tarikannya sekuat tenaga, hingga tiba-tiba saja ...
Bbbrrruuuukkk!!!
Tubuh El terjungkal ke belakang seketika matanya terpejam, kala di rasakan bokongnya mendarat sempurna di atas tanah, El segera celingukan, mengingat anak-anak yang berada di belakangnya tadi.
“Ibuuuuuuu ... sakit” rengek Azura yang tengah menindih tubuh Aksa.
“Iyaaaa sakiiiitttt” Aksa ikut merengek, sementara AA tak bersuara, ia hanya berdiri, lalu memangku tubuh anak-anaknya satu persatu, dan menempatkannya di pinggir arena, lalu terakhir tubuh El, AA membantu El berdiri, meskipun El tengah kesal pada AA, tapi demi menghargai AA El menggapai tangan AA, lalu berdiri, sambil memegang bokongnya yang terasa ngilu.
“Hooorrrreeeeee, keluarga Tuan Edgar pemenangnya!!!” teriakan MC menyadarkan mereka, seketika suara riuh tepuk tangan terdengar amat memekakkan telinga.
__ADS_1