DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Apa Harus ku Buktikan???


__ADS_3

Byuuurrr!!!


AA mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia sudah tak lagi peduli dengan rasa dingin yang menyerangnya. Kepalanya terasa panas dengan kejadian yang terjadi belakangan ini.


“Ish ... kenapa perempuan itu selalu saja salah faham??” AA kembali ngedumel, sambil membilas rambutnya yang di penuhi busa shampoo.


“Apa harus ku buktikan saja sekarang juga?? Jika aku ini pria sejati!” AA menggeram dengan penuh amarah.


“Kenapa nasib cintaku selalu seperti ini?? Hhuuhh ... kenapa urusan cintaku tak semulus perjalanan karierku??” AA kembali mendesah pilu.


“Sebentar ... apa karena aku selama ini terkesan acuh ketika melihatnya? Makanya dia berprasangka seperti itu?? Dia tidak tahu saja, seberapa kuat aku menahan gejolak hatiku selama ini. Aku harus membuktikannya sekarang juga!” AA membulatkan tekadnya.


Kkrriieettt ...


Pintu kamar di buka, setelah AA lebih dari setengah jam mengguyur tubuhnya.


AA celingukan, mencari keberadaan perempuan yang tengah salah faham itu, tapi nyatanya setelah dia berkeliling, perempuan itu tidak di temukannya.


Perlahan, AA menutup rapat seluruh jendela kamar yang terbuka, ‘Takut ada yang ngintip, saat nanti AA sedang melakukan aksinya’ begitu fikir AA.


“Sebentar ... kenapa lampu ini terasa terlalu terang??” AA celingukan, mendekati sakelar lampu, mematikan sebagian lampu, lalu menggantinya dengan lampu tidur, hingga pencahayaan di kamar itu menjadi remang-remang. Ck, rupa-rupanya AA sudah tidak sabar lagi, ingin membuktikan kejantanannya pada istrinya itu.


“Ngomong-ngomong kemana perempuan itu?? Apa dia masih marah padaku? Hingga dia tidak ingin masuk kamar ini lagi??” AA semakin menggerutu, bahkan setelah dia duduk di tepi ranjang, Eliana masih saja belum masuk kamar. AA menjadi semakin gusar, lalu dia memutuskan untuk mencari El sendiri keluar kamarnya.


***


“Ibu ... kenapa aku harus menikah dengan seorang pria yang memiliki kelainan?? Hiks ...” di taman, El sedang meratapi nasibnya sendiri, fikirannya masih saja berkelana, akan fakta yang di dapatinya tadi siang.


“Nyonya??” sapa Aldo, yang berjalan ke arah Eliana yang tengah duduk di sebuah kursi, pria muda itu terus menatap El dengan canggung, mengingat tadi siang dirinya, baru saja di tuduh dengan tuduhan yang sangat keji menurutnya.


“Jangan dekat-dekat!” Eliana merentangkan tangannya.


“Nyonya, saya ingin bertemu Tuan, kebetulan, ada berkas yang harus saya serahkan sekarang” Aldo mengacungkan sebuah file yang dari tadi ada dalam genggamannya.


“Hah ... alasan! Aku tahu, kau pasti sudah sangat merindukan AA bukan?? Baru tadi siang kalian saling mengungkapkan cinta, sekarang kalian sudah saling merindu!” Eliana memicingkan matanya, sambil ngedumel sendiri.


Aldo yang mendengarkan gerutuan El, hanya bisa pasrah atas apa yang di tuduhkan Nyonya nya.

__ADS_1


“Nyonya, bagaimana cara saya membuktikannya?? Saya ini pria normal Nyonya, bahkan saya memiliki beberapa kekasih ...” ujar Aldo keceplosan saking kesalnya pada perangai Eliana kali ini.


“Apa?? Kau itu playboy Aldo?? Ckckck aku tidak menyangka! Tapi ngomong-ngomong, pacar-pacarmu itu laki-laki atau perempuan??” selidik El kemudian.


“Astaga Nyonyaaaa ... nama pacar saya itu, Iceu, Shanti, Lina, Mutiara, Luya Mana, semuanya perempuan Nyonyaaaa” dengan gemas Aldo mulai mengabsen nama-nama pacarnya.


“Hah?? Pria di mana-mana sama saja!” Eliana mendengus kesal.


“Tapi, kenapa hati kecilku masih saja berkata, jika kau itu bohong!” Eliana masih kukuh dengan pendapatnya.


“Sebentar ...” Eliana berjalan mendekati Aldo.


Tap ...


Tap ...


Tap ...


Eliana menggerakkan tubuhnya, memepet tubuh Aldo, hingga Aldo merasa risih, dan sedikit memundurkan langkahnya.


“Kau harusnya tergoda padaku bukan??” tangan Eliana mulai mengamang, hendak meraba pipi Aldo.


“Eliana!!!”


Deg!


“Haduuuhhh!!! Sakit AA, aku ini manusia! Bukan truk gandeng! Kenapa harus di seret-seret??” Eliana meronta, kala tangannya tengah di seret AA menuju kamarnya.


“Diam!!” Edgar membentak El, karena sudah tidak tahan lagi atas tuduhannya yang keterlaluan.


“Ish ...” Eliana mendelikkan matanya jengah.


“Apa yang kau lakukan??!!” AA meninggikan suaranya, kala dia mengingat tingkah Eliana tadi pada Aldo.


“Aku hanya ingin membuktikan, kalau Aldo itu masih menyukai perempuan!” jawab Eliana, sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Oooohhh ... jadi kau butuh pembuktian?? Baiklah, kita buktikan saja sekarang!!” AA bersiap membuka baju kaos yang tengah di gunakannya.

__ADS_1


“Cih ... kau ini, seperti yang iya saja” Eliana terkekeh, lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang, lalu menyelonjorkan kakinya bersiap tidur.


“Astaga ... perempuan ini!” AA semakin geram dengan tingkah El.


“Sini! Kita buktikan! Aku ini adalah pria sejati! Jika aku pria kaleng-kaleng, maka tidak akan ada Azura dan Aksa sekarang!” ucapan AA sungguh serius sekali, membuat dada Eliana kian bertalu-talu.


Sekujur tubuh AA sudah bergetar, tapi Eliana masih tetap mematung pada posisinya.


Sssttrreeeeesssss!!!


“Ayo kita buktikan!” AA merangkak naik ke atas ranjang, mencoba menggapai tubuh El, yang kini sudah berbalut selimut tebal.


“Hahaha ... buktikan apa?? Kau itukan jeruk! Jeruk kok makan jeruk!!” Eliana menutupi tubuhnya hingga ke atas kepala dengan selimut, hingga kulitnya tak terlihat lagi, dan itu semua membuat AA yang sudah bertelanjang dada semakin kesal saja.


“El! Jangan menguji kesabaranku!” AA semakin prustasi di buatnya.


“Sini kamu!!” AA mencoba membuka paksa selimut yang telah melilit tubuh istrinya tersebut.


“Tidaaaaaakkkkk!!!” terdengar suara lengkingan Eliana dari dalam selimut.


***


“Suster, aku tidak bisa tidur! Aku ingin Ibu yang membacakan ceritanya! Suster adalah pendongeng yang buruk!! Sama seperti Ayah!” di dalam kamarnya Aksa merajuk pada Suster yang sedang membacakannya sebuah dongeng.


“Tuan Aksa jangan begitu dooonngg ... hooaaammm ...” Suster Eni berkali-kali menguap, kebiasaannya, dia yang membacakan dongeng, tapi dia yang merasa mengantuk, dan tak jarang dia malah tertidur duluan di banding Aksa. Mungkin itulah sebabnya, kenapa Aksa tidak menyukai cara Suster Eni dalam mendongenginya.


“Yuk bobo lagi, biar Suster bacain lagi ceritanya yaaa ...” rayu Suster Eni kemudian.


“Tidak, tidak, tidak! Ibu El adalah pendongeng terbaik! Aku mau Ibu El yang membacakan dongengnya untukku!” Aksa masih keras kepala, bahkan sekarang anak itu sudah berdiri, lalu berlari menuju kamar Eliana.


“Tuan Aksa jangan lari-lari, nanti jatuh!” Suster Eni mencoba menangkap tubuh Aksa, namun tetap saja, tubuh Aksa yang kecil, membuatnya menjadi sangat lincah, dan berlari dengan cepat.


kkkrriiiieeetttt ...


Pintu di buka dengan mudah, karena kebetulan tidak di kunci.


“Ibu! Aku ingin di bacakan ... “ suara Aksa menggantung, kala dia melihat adegan yang tengah di lakukan Ayahnya.

__ADS_1


“Ayah?? Apa yang kau lakukan pada Ibu El?? Ibu El bukan kuda, kenapa Ayah menungganginya???” tanya Aksa dengan polosnya, kala melihat AA yang bertelanjang dada tengah duduk di atas tubuh El, yang sedang di gulung selimut.


“Aksa! Kenapa kau masuk kamar tanpa izin??” AA menghentikan Aksinya, lalu menatap anaknya dengan geram.


__ADS_2