DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
El, Kamu di Mana?


__ADS_3

Kenapa hujan selalu datang di saat yang tidak tepat? Bagiku selalu seperti itu, bahkan hari itu, aku masih mengingatnya, hari di mana Ayah pergi untuk selama-lamanya, hujan deras mengiringi kepergiannya. Bolehkah jika aku membenci hujan? Tentu saja tidak bisa, hujan itu adalah anugrah dari Tuhan, kita hanya boleh mensyukurinya, dan tidak boleh mengutuknya.


Aku berlari menghindari derasnya hujan, sore ini. Tidak ada tempat dan tujuan yang bisa aku tuju, rumah peninggalan Ibu, hanya itu yang aku fikirkan, aku akan pergi kesana saja. Aku berlari menuju halte bus dengan tersenyum getir, menyembunyikan air mata yang terus mengalir, nah, benar bukan? Hujan itu anugrah, karenanya aku mampu menyembunyikan air mataku.


Aku mengedarkan pandangan, mungkin karena hujan lebat, dan petir yang menyambar-nyambar, membuat kendaraan lain menjadi enggan untuk berlalu lalang, aku menggigit bibir bawahku, rasanya begitu dingin. Karena dari tadi aku sudah basah kuyup.


“Kenapa hidupku jadi sesulit ini??” gumamku pada diri sendiri,


Rasanya begitu sakit, yah ... aku memang harus tahu diri, memangnya siapa aku di banding perempuan itu? Jelas aku bukan apa-apa.


Sore sudah mendekati malam, langit mulai menggelap, tapi hujan belum juga reda, berkali-kali orderan taksi onlineku di cancel, bus tak ada yang lewat. Haruskah aku menyerah pada takdir?.


***


“Aaaaahhhhh!!!” terlihat seorang pria tengah membanting semua benda-benda yang berada di dekatnya, termasuk foto-foto yang sudah bertahun-tahun dia simpan dengan baik, juga harus jadi korban amarahnya.


“Kenapa sulit sekali mengerti perempuan? Atau para perempuan itu yang tidak mau mengerti maksudku??” dia mengacak rambutnya dengan kesal. Sementara itu, hujan di luar rumah megahnya tengah turun dengan derasnya.


Ting ... tong ... ting ... tong ... ( Suara bel )


Lama, dia mengabaikan suara bel tersebut, hingga tak berselang lama, Pak Toto menghampirinya.


“Tuan, maaf, ada tamu yang mau bertemu dengan Tuan” ucapnya dengan tergopoh-gopoh.


“Siapa?” tanyanya datar, dan dingin.


“Seorang perempuan Tuan” jelas Pak Toto.


“Aku Ed” tiba-tiba suara perempuan dari belakang punggung Pak Toto, membuat Edgar sedikit terperanjat.


“Kamu? Untuk apa kamu datang lagi kerumah ini??” tanya Edgar memicingkan matanya, tanpa mau menoleh.


“Aku, ingin bertemu dengan anak-anak” ucapnya tanpa dosa.


“Hah ... anak-anak? Anak siapa?” kini Edgar menatap perempuan itu dengan tajam.


“Aku mohon, maafkan aku Ed, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anak-anakku, selama ini aku sudah cukup merasa bersalah karena meninggalkannya, jadi ku mohon, biarkan aku menebusnya” ucap perempuan itu, dengan wajah mengiba.


“Tidak! Kau bukan Ibunya!” ucap Edgar dengan lantang.


“Tidak Ed, aku yang melahirkannya!”


“Tapi kau meninggalkannya! Bahkan di saat mereka sangat membutuhkan kasih sayangmu!” Edgar semakin berapi-api.


“Aku minta maaf, aku akan menebusnya!” kini perempuan itu tak kalah histeris.

__ADS_1


“Bunda ...” tiba-tiba suara itu mengagetkan mereka, Edgar menoleh, terlihat kedua anaknya tengah melihat pertengkaran mereka dari ambang pintu.


“Bunda!!” Azura menghambur kedalam pelukan Ibunya.


“Sayang ...” perempuan itu mengelus kepala Azura dengan lembut, di sertai isak tangisnya, sementara itu, Aksa hanya melihat kejadian itu di tempatnya berdiri tadi.


“Aksa ... sayang, sini peluk Bunda” pintanya, tapi Aksa malah memundurkan langkahnya.


“Ayah, apa dia Ibu yang berada di syurga itu?” tanya Aksa dengan polosnya.


Edgar tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya.


“Kakak, apa dia Ibu itu?” tanya Aksa menatap Azura,


“Emmhh ... ini Bunda, Bunda yang telah melahirkan kita!” jelas Azura,


“Kenapa Kakak ingat, tapi aku tidak ingat??” tanya Aksa,


“Aku ingat semua tentang Bunda, aku ingat Bunda tengah mengepang rambutku, aku ingat Bunda membacakan cerita untukku” kata Azura dengan tangan terus bergelayut pada perempuan di sampingnya.


“Kenapa hanya Kakak yang ingat, kenapa aku tidak bisa mengingat apapun, hanya bibi El yang membacakan cerita untukku, hanya Bibi El juga yang selalu menyuapiku makan” ucapan Aksa membuat Edgar mengusap wajahnya kasar.


“Aksa mau di suapin Bunda? Sini, Bunda akan memasak untuk Aksa, dan kita makan bersama, Bunda akan suapin Aksa” Chelsi memangku tubuh Aksa, lalu membawanya ke dapur.


“Bibi ... kenapa kau duduk di sana? Di sana itu tempatnya Bibi El!” ucap Aksa sambil melipat kedua tangannya, kala dia melihat Chelsi tengah duduk di kursi yang biasa di tempati Eliana.


“Hah? Eh, emmm ... aku bukan Bibi, aku ini Ibumu, panggil aku Bunda” ucap Chelsi gelagapan,


“Bu Guru bilang, Ibu itu yang selalu membacakan cerita sebelum tidur, suka menemani di saat sakit, dan waktu Kak Azura sakit, Bibi El yang menemaninya” ucap Aksa dengan wajah polosnya.


“Emhhh ...” Chelsi menunduk, bingung apa yang akan dia jelaskan pada putranya.


“Waktu itu, Bunda lagi sibuk! Iya kan Bunda?” Azura membuka suara,


“Huuueekkk!! Masakanmu juga tidak seenak masakan Bibi El” Aksa melepehkan makanannya,


“Be benarkah??” Chelsi gelagapan.


Sementara Edgar hanya mendelik, lalu bergegas keluar rumah, hujan masih belum reda, sementara itu kilat masih menyambar-nyambar.


“Di mana kamu El?” gumam Edgar.


*


“Hai! Cewek! Cantik-cantik, ngapain sendirian di sini?” tanya seorang pria yang tengah memegang sebuah botol minuman, menghampiri Eliana, yang sedang memegang kedua sikutnya, untuk menetralisir rasa dingin.

__ADS_1


“Maaf, tolong jangan dekat-dekat” Eliana mengibaskan tangannya berulang kali.


“Hah?? Kenapa aku jangan dekat-dekat? Ayo kita nikmati malam ini bersama, hahaha” tawa pria itu begitu membahana, seketika Eliana menutup hidungnya, merasa ada bau aneh yang tercium olehnya.


Perlahan, Eliana memundurkan langkahnya, kepalanya terasa pening, karena dia terlalu lama berada di cuaca dingin.


“Ayolah cantik, kita pergi saja dari sini, yuk” pria itu dengan sempoyongan hendak meraih lengan Eliana.


“Tidak! Jangan!” Eliana sudah berancang-ancang, memasang kuda-kuda, takut-takut kalau pria itu melakukan sesuatu yang buruk padanya.


“Ayolah ...” pria itu semakin nekat, dia mendorong tubuh Eliana ke belakang, hingga Eliana terpental,


“Ah ... sial! Tidak ada gunanya aku memasang kuda-kuda, toh aku tidak bisa apa-apa, apa yang harus kulakukan?” Eliana merutuki hidupnya sendiri.


“Haha, makanya nurut sama Abang, cantik, yuk ikut” pria itu kembali hendak meraih lengan Eliana.


“Tolong, hentikan!” tangis Eliana pecah seketika.


“Hentikan!” suara berat itu, menghentikan aktifitas pria mabuk itu, lalu menoleh ke asal sumber suara.


“Haha ... siapa kau? Beraninya mengganggu kegiatanku??!!” bentak pria itu dengan lantang.


“Aku suami perempuan yang kau goda!” teriaknya tak kalah lantang.


“Uppppsss ... hahaha ... suami? Suami macam apa membiarkan istrinya kehujanan di luar? Sendirian pula, haha” pria itu terus meracau dengan sempoyongan.


“El, kenapa kau masih di sini?? Ayo masuk mobil!” teriak Edgar menatap Eliana dengan tajam.


“Tidak! Aku tidak akan pulang!” teriak Eliana memecah suara hujan.


“Ayo pulang! Bahkan Ayam akan pulang ke kandangnya jika hujan tiba, sekarang kenapa kau malah ujan-ujanan??!!”


Gggrrreeepppp!!!


Bbbrrruuukkk!!!!


“Eliana!!!”


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2