DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Lagu Dari Azura


__ADS_3

“Sekarang, ayo kita berangkat” Eliana menuntun tangan Azura, lalu berjalan menuju pintu utama. Sementara Aksa akan di antar oleh sopirnya.


Deg!


“Ayo masuk!” Eliana terpaku dengan penampakan di hadapannya,


Terlihat, Edgar yang berpakaian sangat rapi, menggunakan kacamata hitamnya, membukakan pintu mobil untuknya.


“Hah??” Eliana masih melongo tak percaya.


“Ayah akan datang ke acaraku??” Azura bersorak,


“Heemmm ...” Edgar mengangguk, dengan pandangan masih pada Eliana yang masih menganga.


“Apa rahangmu tidak pegal?? Terus menganga seperti itu??” tanya Ed, sambil tersenyum mesem.


“Hah? Apa?? Ah, i iya, aku masuk” Eliana gelagapan, lalu dia memasuki mobilnya.


“Bukankah kau sibuk??” tanya Eliana setelah duduk manis di kursi tengah bersama Edgar, sementara Azura duduk di depan bersama Aldo, yang menjadi sopirnya.


“Aku sibuk, sangat sibuk”


‘Bahkan semalam aku tidak tidur, karena harus mengerjakan pekerjaan yang harusnya di lakukan hari ini’ batin Edgar.


“Lalu?? Kenapa kau datang??” tanya Eliana dengan pandangan menyelidik.


“Azura putriku, jadi aku harus datang” jawab Ed santai.


Ting!


Suara notifikasi chat di ponsel Eliana, Eliana segera membuka ponselnya.


‘El, hari ini aku boleh datang di acara Azura??’


Pesan dari chelsi, Eliana menghela napas berat. Lalu memutuskan untuk membalas pesannya.


‘Boleh Mbak, Azura pasti akan tambah senang’


***


Mobil memasuki gerbang sekolah, menghadirkan pemandangan halaman sekolah yang luas, bangunan megah tempat Azura menuntut ilmu selama ini, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kagum. Eliana turun dari dalam mobilnya, tak berselang lama Edgar pun turun dari dalam mobilnya di ikuti Azura. Semua mata tertuju pada mereka, Edgar yang menggenggam tangan Eliana pun tak luput dari pandangan mata orang-orang yang berada di sana.


Sadar semua mata tertuju padanya, Edgar segera menguasai dirinya, tersenyum tenang pada orang-orang yang tengah menatapnya. Berjalan bak model yang sedang berjalan di red karpet.


“AA? Apa-apaan sih?? Kok aku di gandeng gini??” Eliana berbisik, sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Ed.


“Diam! Dan ikuti permainannya!” hardik Edgar, sambil memicingkan matanya, Eliana terdiam, kemudian ikut tertawa kikuk. Sementara itu, Azura ada dalam genggaman tangan Eliana, mereka sudah seperti keluarga harmonis dan bahagia.


“Cih! Nyonya El, pasti sedang berakting!”


“Kemarin aku bertemu Chelsi, dia bilang juga akan datang ke acara anaknya!”

__ADS_1


“Tuan Ed, seperti sedang tertekan yah”


“Aku yakin mereka tidak saling mencintai, lihat itu! Betapa kakunya mereka!”


Segala bisik-bisik tetangga, terdengar oleh Eliana, tapi dia lebih memilih untuk tetap berjalan, mengikuti langkah suaminya.


Hingga tiba di sebuah aula, tempat acara kenaikan kelas di selenggarakan, Eliana dan Edgar duduk di sebuah kursi, mereka duduk berdampingan, sambil memperhatikan panggung. Sementara itu, Azura sudah pergi ke belakang panggung, untuk bersiap-siap, karena Azura juga akan bernyanyi nanti.


“Tuan Ed? Anda datang di acara putri Anda? Waahhh ... tumben sekali??” sapa salah seorang pria sambil duduk di samping Edgar.


Edgar hanya tersenyum tipis sambil mengangguk “Yah ... acaranya hanya setahun sekali, aku fikir, aku harus lebih sering menyempatkan diriku pada acara anak-anakku” ucap Ed.


“Aaahhh ... ya ya ya, tentu saja” pria itu manggut-manggut, sambil mengangkat sebelah bibirnya tidak suka.


“Aaaahhh putriku akan tampil” pria itu tersenyum ke atas panggung, sambil melambaikan tangannya, dengan tangan kiri mengangkat papan nama yang bertuliskan nama putrinya.


“Aaahhh, selama ini aku sudah melewatkan banyak hal tentang anak-anakku, terimakasih El, sudah menyadarkanku” gumam Ed, sambil menatap lekat ke atas panggung, menatap pertunjukan anak-anak yang tengah berjingkrak-jingkrak menari.


“Mbak Chelsi kemana ya?” sementara itu, Eliana terus celingukan mencari Chelsi.


“AA aku ke toilet bentar ya” pamit Eliana, sambil berdiri.


“Heemmm ...” jawab Ed, tak memalingkan wajahnya dari panggung.


Eliana berjalan menuju gerbang, sambil celingukan, menunggu Chelsi yang tak kunjung datang.


“Kalau Ayah dan Ibunya datang secara bersamaan, pasti Azura tambah senang” fikir Eliana,


Waktu berlalu, Eliana masih berdiri terpaku di depan gerbang, waktu menunjukkan sudah sangat siang, tapi Chelsi tak kunjung datang.


“Mbak Chel, kemana sih?? Apa dia tidak jadi datang??” Eliana masih menengok ke kiri dan ke kanan, berharap Chelsi segera datang.


“El?? Apa yang kamu lakukan di sini?? Aku mencarimu kemana-mana!” tiba-tiba suara Edgar terdengar dari balik punggung Eliana.


“Ah, eh? Ma maaf, aku sedang menunggu seseorang” Eliana menunduk.


“Chelsi?? Kau fikir, dia sungguh akan datang??” Edgar menatap El, dengan tatapan tidak suka.


“Dia berjanji akan datang” jawab El,


Setengah jam berlalu,


“El, sebentar lagi Azura akan naik ke atas panggung, ayo cepat! Sudah tidak ada waktu lagi!” Edgar menarik lengan Eliana. Hingga mereka menaiki sebuah tangga untuk menuju aula tadi,


“El!!! Tunggu!!” terlihat dari jauh, Chelsi tergopoh-gopoh, berlari, dengan riasan yang sudah acak-acakan.


“Mbak! Sinih!” Eliana melambaikan tangannya.


“Apa aku terlambat El?? Huh ... huh ...” Chelsi berusaha mengatur napasnya pelan.


“Belum Mbak, sebentar lagi Azura tampil” Eliana menarik lengan Chelsi, melupakan AA yang tengah mematung terlihat shock.

__ADS_1


“Maaf, aku terlambat, tadi aku ...”


“Sudah Mbak, nanti aja ceritanya, sekarang waktunya Azura tampil” Eliana mendaratkan bokongnya di kursi, di ikuti Chelsi dan Edgar di sampingnya.


“Test ... sekarang, mari kita sambut! Penampilan dari Ananda Azura, putri dari Bapak Edgar dan Ibu Chelsi!”


Prok


Prok


Prok


Terdengar, suara tepuk tangan dengan riuh, menyambut kedatangan Azura ke atas panggung.


“Hah ... anak dari Ibu Chelsi?? Kenapa aku tidak suka mendengarnya?? Harusnya namaku yang di panggil tadi” Eliana terdiam, lalu menunduk sedih.


“Lagu ini, aku persembahkan untuk Bunda, dan ...” terdengar Azura menahan suaranya, Eliana yang tidak ingin melihat semuanya, segera berdiri, lalu beranjak menuju luar aula, berniat bersembunyi di toilet, daripada dia merasa sakit.


“Dan untuk Ibu Eliana” terdengar suara Azura begitu lantang, hingga mengurungkan langkah kaki El.


“A apa??? Azura memanggil namaku??” langkah El tertahan, dia kembali memutar tubuhnya, Chelsi menghampirinya, lalu menggandengnya untuk kembali duduk di kursinya.


“Kau juga Ibunya, terimakasih, sudah membuat pria ini mendatangi acara Azura” Chelsi menunjuk Edgar dengan wajahnya sambil tersenyum.


“Sama-sama Mbak, aku bahagia” Eliana menyeka air matanya.


Chelsi tersenyum, sambil mengelus punggung Eliana, sementara AA tidak bergeming, dia hanya fokus menatap panggung.


...‘Apa yang ku berikan untuk Mamah??’...


...Untuk Mamah ... tersayang ......


...Tak ku miliki sesuatu berharga, untuk Mamah ......


...Tercinta ......


...Hanya ini, ku nyanyikan,...


...senandung dari hatiku...


...untuk Mamah,...


...hanya sebuah, lagu sederhana,...


...senandung dari hatiku untuk ......


...Mamah ......


Suara Azura membuat seluruh Ibu yang hadir meneteskan air matanya, suaranya begitu sendu, mengundang tangis, termasuk El dan Chelsi, mereka merasa tersentuh dengan nyanyian Azura.


“Terimakasih Bunda, terimakasih Ibu El, sudah merawatku selama ini, sudah menjagaku, mengajariku, dan membuat hidupku bahagia” ucap Azura polos dari atas panggung, tak lama Azura membungkukkan tubuhnya, lalu turun dari atas panggung.

__ADS_1


__ADS_2