
Hari ini adalah hari minggu, hari yang paling di tunggu-tunggu semua orang yang memiliki kegiatan di luar rumah, suami yang bekerja, anak-anak yang sekolah, mereka semua harusnya libur, tapi tidak dengan AA tampan suamiku, meskipun hari minggu, dia tetap berangkat kerja, entahlah ... sebenarnya apa yang dia lakukan di kantornya? Masa iya tiga puluh hari dalam sebulan, tidak sehari pun dia libur kerja, selalu adaaaa saja alasannya. Heran emang.
Impianku sebelum menikah, ketika hari minggu tiba aku ingin jalan-jalan bersama suami dan anak, tidak perlu jauh-jauh atau jalan-jalan ke tempat yang mahal, cukup piknik di tepi danau misalnya.
Huuuuhhh ... punya suami beda era, emang repooottt.
Bosan dengan segala kegiatanku yang itu-itu saja, yang nyapu lah, ngepel lah, nyuci lah, aku ini istri orang kaya, tapi kenapa juga aku di perlakukan seperti babu?? Hhuuhh ... aku harus sadar diri, aku ini Upik Abu.
Kadang nih ya, kalau aku tidak ingat pada air mata Ibu yang menitipkan aku pada si AA tampan, sebelum Ibu meninggal, ingin rasanya aku pergi saja dari rumah ini. Sesungguhnya apa alasanku untuk tetap bertahan dengan AA tampan? Alias Aki-Aki tampan itu?.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh siang, karena seperti biasa aku selalu bangun pukul tiga malam menjelang shubuh, jadilah pekerjaanku membenahi rumah sudah selesai, lagi pula aku sudah bisa menyiasati semua pekerjaan rumahku sekarang, aku sudah tidak lagi membereskan semuanya setiap hari, cukup ku bereskan saja apa yang wajib di bereskan, dan hanya yang terlihat oleh mata saja, hhee ... ssssttt ini rahasia.
Jam sepuluh menuju jam sebelas siang, saatnya bikin camilan untuk anak-anak, eemmmhhh ... kira-kira bikin apa ya? Selama ini AA tampan selalu menyuruhku membuatkan camilan yang penuh dengan nutrisi, gak boleh terlalu manis lah, gak boleh banyak lemak lah, gak boleh kepedesan lah, karena katanya itu tidak baik untuk pertumbuhan anak-anak.
“Aha!” mumpung AA lagi gak ada di rumah, aku bebas bikin apa saja untuk anak-anak, di rumah sebesar ini, aku cukup kesepian, para penjaga selalu ada di luar rumah, dan anak-anak selalu sibuk dengan urusan belajarnya.
Kkrrriiieettt ...
“Azura lagi apa??” aku membuka pintu, lalu menampakkan kepalaku di balik pintu, kulihat Azura tengah menyisir rambutnya, selepas dia mengerjakan tugas, yang entah apa?.
“Hmh!” Azura memalingkan wajahnya, dasar anak kurang asem!.
“Azura mau Bibi bantu?” tanyaku, mencoba mendekatinya.
Azura tetap diam, sambil menghentikan gerakannya, aku tersenyum, lalu mulai menyentuh rambutnya, dan mulai menyisirnya.
“Azura, suka di kepang gak?” tanyaku, menatapnya dari cermin,
Azura hanya mengangguk, aku kembali tersenyum, mungkin butuh waktu yang banyak untuk mengambil hati anak yang sedang mengalami masa pubernya.
Akhirnya aku menghias rambut Azura, dengan cara di kepang dua, gadis ini terlihat cantik dan imut di usianya.
__ADS_1
“Azura, suka makan yang pedes gak?” tanyaku, di tengah acara mengepang rambutnya.
Dia mengangguk “Suka, tapi Ayah bilang, kita jangan terlalu banyak makan pedas, tidak baik bagi lambung” ucapnya menunduk.
“Haish ... Ayahmu itu, ada-ada saja, anak-anak itu harusnya makan apa saja yang dia mau, melakukan apa saja yang dia mau, kenapa Ayahmu selalu banyak melarang sih?” ucapku gemas sendiri.
“Zura, bagaimana kalau kita bikin seblak saja?” tanyaku antusias,
Azura menatapku ragu, tak lama dia menganggukan kepalanya, “Hmh, aku suka makanan itu Bibi, tapi aku belum pernah mencobanya, apa Bibi bisa membuatkannya untukku?” tanya Azura penuh harap.
Aku tersenyum lalu mengangguk, lalu kami segera menuju dapur, untuk membuat seblak bersama-sama.
“Bibi, apa Ayah tidak akan marah?” tanya Azura takut-takut.
“Tidak akan jika dia tidak tahu, hhee” aku terkikik geli membayangkan wajah AA tampan yang lagi misuh-misuh.
Akhirnya aku membuat seblak yang tidak terlalu pedas sesuai level pedas yang Azura inginkan, untuk pertama kalinya di dapur ini, aku melihat Azura tertawa riang dan berbicara banyak hal, aku tersenyum. Ternyata aku hanya perlu melakukan pendekatan yang benar dengan gadis ini.
Setelah selesai, aku menatanya di meja makan, Azura sudah duduk di kursi makan, kemudian aku berlalu menuju kamar Aksa, dia sedang mencoret-coret crayon di buku gambarnya. Kemudian aku mengajak serta Aksa untuk bergabung bersama aku dan Azura.
“Roti!” teriaknya riang, karena ... ssssstttt ... aku seringkali mencuri roti dari dapur untuk Aksa, tanpa sepengetahuan AA tampan, hhee.
“Baiklah, makan sepuasmu” ucapku sambil memberikan beberapa roti dengan berbagai varian rasa kepada Aksa. Aksa terlihat sangat senang, lalu dia mulai memakannya, sementara aku dan Azura mulai memakan seblak buatan kami tadi.
Seblak dengan rasa gurih, pedas, langsung menyatu kedalam mulut, rasanya begitu lezat, aku dan Azura tersenyum senang.
“Apa-apaan ini???!!!” tiba-tiba suara berat, dingin, dan datar itu membuat kami bertiga terlonjak.
“Astagaaaa ... apa yang harus ku lakukan?? Bukankah seharusnya dia berada di kantor sekarang?? Kenapa dia sudah pulang sih??” aku menatap Azura yang juga tengah menatapku.
“A ayah, Bibi yang sudah memberikan makanan ini untukku” Azura turun dari kursi, lalu menunduk.
__ADS_1
“Apa?? Anak kurang asem! Bukannya tadi kita masak bersama-sama?? Ish ... harusnya aku jangan terlalu percaya pada anak ini. Dia sungguh licik! Ooouuuhhh ...” aku sungguh prustasi.
“Apa yang kau makan??!! Apa ini?? Ini seperti pakan Ayam!!” AA tampan melempar sendok, setelah dia memperhatikan seblak itu.
“Ish ... ini makanan enak! Aku tadi yang membuatnya!” jawabku sebal,
“Makanan enak belum tentu sehat! Kau! Berani sekali kau meracuni anak-anakku!” teriaknya sambil melotot.
“Ya elah, sekali ini, sesekali anak-anak tidak apa-apa makan apa yang mereka suka” ujarku sambil balas menatapnya.
“Aksa! Buang rotimu! Sudah berapa kali Ayah bilang! Roti itu mengandung pengembang! Tidak baik untuk kesehatan!” dia berteriak lagi, ya ampuuuunnn ... bahkan orang-orang dengan sengaja sarapan roti, kenapa dia malah melarang anaknya makan roti? Dasar aneh!.
“Dan kau Azura! Jangan pernah sekali-kali lagi makan makanan aneh ini! Kembali ke kamar!” teriaknya lagi,
Dengan ketakutan anak-anak langsung pergi ke kamar masing-masing. Menyisakan aku yang tengah khawatir pula.
“Ehheeeehhee ...” aku mengembangkan senyuman, sementara dia menatapku tajam.
“Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi!” ucapku sambil membentikkan dua jari, tanda mengajak berdamai.
“Jadi, ini yang kau lakukan setiap hari ketika aku tidak ada di rumah?!” bentaknya menyeringai,
“Gak kok, suer! Aku baru sekali ini masak seblak,” ucapku bersungguh-sungguh.
Dia menatapku tidak percaya, lalu dia mulai melangkahkan kakinya mendekatiku, aku memundurkan langkah seiring dengan gerak kakinya, mau apa dia? Jangan-jangan dia mau memukulku? Aaaahhhh ... aku takuuutt!!.
Tapi, tiba-tiba saja, perutku terasa keram, kenapa ini? Apa karena aku telat makan? Atau karena makan seblak yang terlalu pedas??.
“Adudududuh ...” aku mencengkram erat perutku, sambil berjongkok.
“Gak usah pura-pura!” ucapnya datar.
__ADS_1
“Aaaaaahhhh ... ini sungguh sakit!” teriakku kesal, karena di sangka pura-pura. Aku meringis dan hampir guling-guling di lantai saking sakitnya.
“El! Kenapa kamu??!!!”