
Akhirnya, AA berhasil menginstal beberapa akun media sosial, lalu AA mulai membuat akun sosial medianya.
“Sebentar, apa aku harus menuliskan nama asliku di sini?? Bukankah itu memalukan??” perlahan, AA memasukkan nama aslinya di akunnya. Dengan nama akun ‘EdgarAdiswara79’
“Apa aku juga harus menuliskan nama penyanyi pavoriteku?? Siapa ya?? Ah ... Siti nurhaliza saja, atau Ebiet G Ade, atau Obie Mesak?? Mereka adalah penyanyi terbaik sepanjang masa” AA juga mulai menuliskan hobby, gendre music, aktor pavorite dan lain sebagainya.
“Nah, jadi juga, apa aku harus menggunakan foto profileku menggunakan foto pribadiku??” AA masih bingung mau menggunakan foto profile yang mana, dan pada akhirnya dia menggunakan foto keluarganya, foto yang terdiri dari AA, Eliana, Azura, dan Aksa.
Kemudian AA mulai mengintip kegiatan El di media sosialnya, AA tersenyum kala melihat setiap foto yang di unggah oleh El, El terlihat fotogenik ketika berfoto. Tak lama, AA membelalakan matanya, kala dia melihat betapa banyaknya followers Eliana. Dan betapa banyaknya komentar yang memenuhi kolom komentar di setiap postingan El. AA mulai asyik berselancar di dunia maya.
Namun, ada yang membuat AA terbelalak, kala melihat salah satu komentar dari detergen, komentar tersebut sangat membuat AA ingin marah, komentar ini berasal dari akun pria.
“Kak El, cantik banget, masih muda, keibuan lagi, mau gak jadi pacar saya??”
“Eliana cantiknya dari hati, boleh dong kenalan, saya masih singgle loh”
“El, cantik luar dalam, lempar nomor WA nya dong”
“El perempuan sempurna, saya lebih kaya dan lebih tampan dari suamimu, menikahlah denganku”
“Ya Tuhan, plis atuh, sisain satu perempuan kayak Kak El satu ajah, buat akoh”
Dan segala komentar yang membuat darah tinggi AA kumat terus berdatangan. Membuat jari jemari AA gatal ingin menuliskan komentar juga.
“TOLONG JANGAN GANGGU!! ELIANA ISTRI ORANG!!!”
AA tersenyum puas, setelah memposting komentarnya. Namun, tak lama kemudian, banyak komentar yang membalasnya.
“Siapa Lu?? Fans panatiknya Kak Eliana ya??”
“Idih ada Aki-Aki komentar, wkwkwk”
“Gak inget umur, Aki-aki pergi sanah!”
__ADS_1
“Dasar gak ada akhlak, kalau belum bisa ngetik komentar mending gak usah komen deh, kasian Kak El, punya fans dari Era tujuh puluhan, wkwwkk”
AA mendesah sebal kala membaca komentar demi komentar yang terus menghujat postingan komentarnya. Lalu dia menenggelamkan kepalanya di atas meja.
“Hhhhhh ... kenapa sulit sekali untuk bisa menyeimbangkan diri dengan perempuan itu?? Aaahhhh ... lama-lama aku bisa gilaaaa!!”
***
.
Edgar Pov
Angan-angan memenuhi malam, wajah Eliana dan semua gerak-geriknya terekam jelas di memoryku. Kupikir urusan hati bisa tuntas hanya dengan cara bertemu, tapi nyatanya semua tidak semudah itu. Bahkan meski aku sudah bersamanya sepanjang hari, tetap saja rasanya ada yang mengganjal di hati. Apa benar kata mereka?? Cinta itu harus di ungkapkan??.
Aku meneguk segelas air putih yang berada di atas meja kerjaku, bahkan sepagi ini, aku sudah berada di kantorku, sengaja, niat hati ingin menghindarinya, tapi apalah daya? Ingatanku terlalu tajam untuk mengingat bentuk wajahnya. Menyebalkan. Ingin rasanya aku amnesia saja jika mengingat tentang perasaanku padanya.
Sejenak, aku membuka kembali akun mediasosialku, mengintip kegiatan Eliana di medsosnya, tapi Eliana belum memposting apapun pagi ini, kuputuskan untuk kembali menutup akunku.
Kusandarkan tubuhku di kepala kursi, ku urut pelipisku perlahan, rasanya begitu pening.
“Tenang aja ...”
“Iya ... nanti aku kirim”
Terdengar dari luar suara Aldo tengah bertelepon ria, mungkin saja dengan kekasihnya, ah ... anak muda zaman sekarang sungguh tidak tahu adab, tanpa rasa malu mereka mengumbar setiap kemesraan mereka di hadapan umum, bahkan di media sosialnya, apa bagusnya seperti itu?? Kegiatan seperti itu hanya akan menambah mata jahat yang memandang kita dengan tatapan iri saja. Mending kalau sudah halal, ini baru juga pacaran. Lucunya, kalau suatu saat mereka putus, maka seluruh foto itu akan ikut raib juga. Memalukan!.
“Selamat pagi Tuan ...” Aldo datang menghampiriku, menyodorkan setumpuk file yang harus aku tandatangani, aku menerimanya.
“Tuan, pesanan anda sudah jadi, dan akan segera tiba di rumah dalam waktu lima belas menit lagi” ucapnya memberi tahuku.
“Hmmhh ... bagus” aku mengangguk pelan, sementara tanganku meraih beberapa file di atas meja, membacanya, lalu mengkoreksinya.
“Barangnya lucu-lucu sekali, pilihan Tuan memang is the best” Aldo mengacungkan dua jempolnya, sambil tersenyum jenaka. Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku, ya iyalah ... pilihanku pasti yang terbaik.
__ADS_1
“Selamat pagi Tuan Edgar Adiswara!” tiba-tiba pintu terbuka, tanpa permisi, seorang pria bertubuh tegap masuk kedalam ruanganku tanpa di perintah, aku kembali memutar kedua bola mataku, rasanya begitu muak melihatnya.
“Pagi ...” jawabku asal.
“Woooaahhh ... pengusaha terkaya pagi-pagi sudah sangat sibuk yaaa” sindirnya, lalu duduk di salah satu kursi di hadapanku, lagi-lagi tanpa di perintah. Menyebalkan!.
Aldo keluar ruangan, seolah mengerti dia langsung undur diri.
“Ada apa??” tanyaku tanpa basa-basi, langsung pada intinya saja.
“Tidak apa-apa, aku hanya rindu adik iparku, eh maksudku, mantan adik iparku, dan juga ... sahabatku” dia tersenyum menyeringai, aku tahu persis wataknya, bagaimanapun dia pernah menjadi sahabatku sekian lama.
“Hmmhhh ...” jawabku berusaha menciptakan suasana dingin dan datar, berharap dia faham, jika aku tidak sudi berlama-lama dengannya.
“Haha ... santai saja Ed, jangan seperti kanebo kering begitu, aku datang kesini hanya untuk memastikan kontrak kerja sama kita, bagaimanapun saham Chelsi masih ada di perusahaan ini bukan??” tawanya pecah, memuat gendang telingaku terasa mau pecah juga. Aku berusaha menaha diri, tahu persis, itu yang dia inginkan.
“Saham Chelsi?? Bukankah saham itu sudah di ambil alih olehmu?? Chelsi sudah tidak memiliki saham lagi di perusahaan ini” jelasku tak terima, sejak kami memutuskan berpisah, harta gono-gini sudah kami bagi secara adil, dan Chelsi memindahkan sahamnya ke perusahaan Kakaknya.
Imran mengerutkan keningnya tidak suka, sementara aku masih tetap bersikap santai, meski hatiku sudah dongkol.
“Harusnya Chelsi masih punya saham di sini, karena Aksa dan Azura adalah anak-anaknya, dan usia mereka masih di bawah umur” ucapnya lagi tak mau kalah.
“Kau lupa?? Hak asuh anak jatuh padaku, tolong, jangan serakah lagi Imran, tidak cukupkah semua harta pemberian mertuamu itu?? Cih ... harusnya kau bahagia bukan? Karena kau mendapatkan semuanya tanpa usaha, kau hanya perlu menikmati semua harta istrimu itu, tanpa harus mengemis padaku” senyumku mengembang, kala melihat wajahnya yang tiba-tiba saja memerah.
“Kau ...” dia menunjuk wajahku dengan telunjuk yang sudah bergetar.
“Silahkan keluar dari ruangan ini, kau bukan lagi Kakak iparku, kau juga bukan lagi sahabatku, dan satu lagi, keluarga kalian sudah tidak memiliki saham di perusahaanku, dan yang lebih penting, aku tidak ingin bekerja sama dengan perusahaanmu!!” teriakku, membuatnya semakin marah.
“Kita lihat! Apa yang bisa ku lakukan untuk membuatmu hancur!!” ancamnya lalu beranjak pergi dari hadapanku.
“hhhuuuhhh ...” aku menghela napas berat, kenapa sulit sekali terlepas sepenuhnya dari jeratan mantan?? Adaaaa saja kendala yang harus aku hadapi.
***
__ADS_1