
Menjelang malam, geng Drove Girls dan para suaminya menyalakan api unggun, suasana tampak semarak, karena Bu Nana, dan Bu Lili meramaikan suasana dengan bernyanyi, meskipun suara mereka sesungguhnya sangat mengganggu pendengaran, tidak ada pilihan lain. Terpaksa mereka mendengarkan lagu-lagu lawas yang di bawakan mereka.
“Kau suka berada di tempat seperti ini??” tanya AA berbisik tepat di telinga El.
El mengangguk, sambil tersenyum “Suka” jawabnya.
“El, aku ingin mengatakan sesuatu” bisik AA kemudian.
‘Apa yang ingin dia katakan?? Jangan-jangan dia mau minta jatah malam jum’at? Seperti yang di bicarakan Ibu-Ibu itu?? Hhiiiyyy ... aku sungguh belum siap’ Eliana membatin.
“Aku masuk tenda dulu! Gak kuat dingin!” El berlari menuju tendanya, kemudian masuk kedalam selimutnya.
“Ugh ... sakit banget tidur di atas tanah” El menggerutu, lalu dia kembali duduk.
“Eh, ngomong-ngomong, si AA bawa apa aja di dalam tasnya??” El bermonolog, kala netranya menangkap tas AA.
“Lihat aaaahhh ...” tangan El menggapai tas AA, lalu perlahan dia membukanya.
“Hah?? Hahaha ... apa ini??” Eliana terbahak, kala dia melihat novel 21++ dan beberapa botol obat, yang entah obat apa.
“AA ngapain sih bawa kayak ginian?? Haha ... eh?? Jangan-jangaaannn ...” El langsung membekap mulutnya sendiri, kala menyadari apa fungsi dari benda-benda yang tenagh dia pegang.
“Tiddddaaaakkkk!!” El langsung masung kedalam selimut, menggulung tubuhnya sekuat tenaga.
“El! Apa yang kau lakukan??” tiba-tiba AA masuk kedalam tenda.
“Hah?? Jangan! Sebaiknya kau tidur di luar sana! Disini sempit!” teriak El dari dalam selimut.
“Apa kau bilang??” suara AA meninggi, tidak terima dengan usulan El.
“Kau yang harus tidur di luar!!” AA menarik selimut yang menggulung tubuh El, hingga terlepas.
“Ish ... jangan terlalu banyak gerak, jangan kasar-kasar, nanti tendanya roboh” El memelankan suaranya, kala samar terdengar suara cekikikan dari tenda sebelah.
“Apa peduliku?? Sana tidur di luar!! Kecuali ...” AA tersenyum menyeringai.
“Kecuali apa??”
“Panggil aku sayang dulu” AA tersenyum licik.
“Apa?? Ogah!” El membanting tubuhnya, kembali tidur menyamping.
“Ooohhh begitu, ayo keluar!! Ini malam jum’at, di luaran sana banyak hantu belau yang sedang mengincarmu!!” ancam AA menahan tawanya, sementara itu tubuh El sudah menggigil ketakutan.
“AA jangan tega gitu dong” El memelas, kala tangannya di seret AA keluar tenda, lalu AA bersiap menutup tendanya, setelah El berhasil di keluarkan.
“AA plis, jangan keluarin Aku, pliiisss” El berbisik dari luar tenda.
“Ekkkhheeemmm!!! Sayang pliss aku mau masuk tenda” bisik El dengan tubuh sudah bergetar.
“Kurang keras!!” ucap AA dari dalam tenda, sambil menahan tawanya.
__ADS_1
“Sayang ... aku mau masuk tenda” suara El terdengar, namun masih terdengar sedikit berbisik.
“Kurang keras!” AA kembali memerintah.
‘Astaga!! AA awas saja kau akan kubalas!!’ gerutu El dalam hati.
“AAAUUUUUNNNGGG!!” suara serigala tiba-tiba memekakkan telinga.
“SAYANG!! AKU MAU MASUK TENDDAAAAA!!!”
BBRRUUUKKK!!!
“PAPAH!! KENAPA KAU MENENDANG TENDANYA??!!!”
Seketika Eliana terjingkat, kala melihat tenda di samping kirinya roboh.
“Bu Nana?? Kok gak pake baju?? Emang gak dingin??”
***
Bagi Eliana tak pernah ada kata bosan ketika berada di tempat kemah tersebut, suasana sejuk, sunyi, dan damai. Sementara itu, matanya tengah di manjakan oleh pemandangan alam yang begitu indah, kini, Eliana dan AA tengah berjalan di tepi danau yang tidak terlalu luas tersebut.
Ya ... tadi pagi, Bu Nana meminta El dan AA untuk mencari kayu bakar, sementara mereka tengah menyiapkan kebutuhan lainnya, untuk mereka bisa sarapan pagi ini.
Alih-alih fokus mencari kayu bakar, Eliana malah terlihat sangat menikmati jalan-jalan di tepi danau ini, berjalan sambil menikmati semilir angin, dan mendengarkan suara kicauan burung yang saling menyahut, sungguh ini terlihat seperti anugrah bagi seorang Eliana pramesti.
Sementara itu, tepat di belakangnya, AA hanya mengikuti langkah kaki Eliana, sambil sesekali menyunggingkan senyumnya.
“Kamu suka El??” suara itu membuat mata El yang terpejam langsung terbuka.
“Suka” jawabnya, kembali melanjutkan aktifitasnya.
“El, boleh aku bertanya sesuatu??” tanya AA tiba-tiba.
El menoleh, menatap AA yang tengah menatap danau di hadapannya, pandangannya lurus kedepan.
“Apa??” tanyanya.
“Apa mimpimu??” tanya AA masih dengan posisi yang sama.
“Mimpiku??” El mengernyitkan alisnya, merasa bingung.
“Hmh ... ketika aku berada di usiamu, aku memiliki banyak mimpi” ucap AA dengan pandangan menerawang.
“Apa mimpi AA kala itu??” tanya Eliana merasa penasaran, dengan mimpi pria galak di sampingnya.
“Aku bermimpi untuk bisa hidup sempurna, aku bermimpi ingin memiliki perusahaan besar, untuk bisa membahagiakan orang-orang yang aku sayangi dengan fasilitas yang istimewa” ucap AA yakin.
“Lalu??” tanya El, kembali menatap kedepan, dengan tangan di masukan kedalam saku jaketnya, aura dingin mulai terasa.
“Di usiaku yang kedua puluh lima tahun, aku mulai merintis usahaku, perlahan, aku merangkak, bangkit, lalu berdiri kemudian berlari, berusaha menggapai apa yang menjadi mimpiku, dan yah ... di usiaku yang ke tiga puluh tahun aku mampu mewujudkan semuanya” ucap AA mengenang masa lalunya.
__ADS_1
“Apa kau bahagia??” pertanyaan El sukses membuat AA menoleh.
El mengangkat bibirnya, dia tersenyum tipis, tahu betul meskipun AA memiliki banyak harta, tapi dia tidak terlihat bahagia sebelumnya.
“Setelah kau mewujudkan mimpimu, apa kau bahagia??” tanya El lagi.
“Hmmhh ...” hanya itu jawaban AA, jawaban yang terdengar ambigu.
“Kau bertanya apa mimpiku?? Maka mimpiku adalah bisa hidup bahagia, dan untuk bisa menggapai bahagia itu, kita tak perlu menjadi sempurna AA” ujar El yakin.
“Maksudmu?? Bukankah kesempurnaan adalah sumber kebahagiaan??” AA semakin bingung.
“AA ... Bahagia itu di sini” El menunjuk dadanya, tepat mengenai letak hati.
“Bukan di sini” El menunjuk kepala, tepat menunjuk bagian otaknya.
“Lalu? Apa sekarang kau bahagia??” tanya AA menatap El lekat, berharap jawaban El adalah ‘Iya’.
“Hhhmmhh ...” El tersenyum memandang AA lekat. Hingga tatapan mereka beradu, tatapan yang sulit di artikan dari keduanya.
“Kamu memiliki ke inginan?? Hari ini, alam terlihat begitu indah, hingga membuat suasana hatiku menjadi sangat baik, kau boleh meminta apapun dariku” ucap AA sambil kembali menatap danau yang airnya terlihat sangat jernih itu.
“Aku ingin menghapus peraturan nomor sembilan ...” Eliana terkekeh, sementara AA kembali mengerutkan keningnya.
“Ketika aku menginjakkan kaki di rumahmu, kau membuat sembilan peraturan yang harus aku tepati, aku ingin kau menghapus peraturan nomor sembilan” ucap El, ekor matanya melihat perubahan ekspresi AA.
“Kenapa hanya nomor sembilan? Bukankah aku sudah menghapus semua peraturan itu??” tangan AA masih bertahan di dalam saku celananya, membuatnya terlihat keren.
“Hanya saja ... peraturan nomor empat yang belum di hapus” ucap AA kembali menerawang, tapi kini bibirnya sudah terangkat ke atas.
“Apa??” Eliana berusaha mengingatnya.
“Tidur dalam satu ruangan, tapi tidak ada kontak fisik, sekarang bolehkah aku merubahnya??” tanya AA mulai menggeser tubuhnya ke sisi tubuh El.
Glek ...
.
.
.
.
.
.
Buat kalian yang sudah baca tapi gak pernah komen atau like, aku doain semoga hari kalian senin terus wkwkwk ... bercanda.
Happy reading readers ...
__ADS_1