
Sayup di antara kesadaranku, aku merasakan AA tengah membopong tubuhku, untuk masuk kedalam mobilnya, aku sama sekali tidak bisa menolaknya, karena tenagaku serasa telah habis, tubuhku lunglai, dan kepalaku terasa berputar-putar. Kesadaranku setengah mengambang, tubuhku terasa menggigil.
Kali ini, kubiarkan dia membopong tubuhku, entah apa maunya, tadi dia mengusirku dengan kejam, sekarang dia malah memaksaku untuk kembali ke rumah rasa penjara.
Tiba di rumah, dia mengangkatku dari dalam mobil, lalu berjalan menuju kamar, dan segera meletakkan tubuhku di atas ranjang.
Terasa beberapa saat dia mondar-mandir, sambil sesekali melirik tubuhku, entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku tak mampu berfikir lagi, aku terlalu lelah hari ini, hingga sayup aku tak menyadari lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Entah jam berapa, aku mulai menyadari keberadaanku, ku rasakan tangan pria itu masih aktif menyeka dahiku dengan kompresan di tangannya. Aku tidak berniat membuka kedua mataku, hanya mampu merasakannya saja.
“Maaf ...” terdengar suaranya begitu lirih, aku tak peduli.
Hingga lambat, aku kembali menemui alam mimpiku.
***
Semburat jingga menyeruak, menyebar kedamaian rinai pagi hari yang sejatinya menghangatkan yang membeku, meneteskan pucuk-pucuk embun dari tangkai daun. Dalam pandangan kehidupan, adakah yang paling nikmat selain waktu pagi? Dimana hari baru, semangat baru, sehingga terciptalah harapan baru yang tercetak dari sanubari yang paling dalam.
“Hoooaaammm ...” aku menguap, sambil berniat bangkit dari tempat tidurku, tapi seketika kurasakan tangan besar itu menimpa tanganku, duh ...
“Gimana caranya biar tangan ini bisa pindah, tanpa aku yang harus memindahkannya ya??” perlahan aku menyentuh tangannya, tapi kembali urung, saat ku rasakan ada pergerakan darinya.
Aku kembali berpura-pura tertidur, memejamkan mataku.
“Hoooaaammm ...” terdengar dia menguap, lalu kurasakan dia meraba dahiku, gerakan selanjutnya dia berdiri, kemudian beranjak, dengan baskom kompresan di tangannya.
“Hhhhh ...” aku menghela napas. Sekarang apa yang harus ku lakukan selanjutnya?.
Tak lama, kurasakan ada pergerakan dari seseorang, tapi aku enggan menoleh, dari bayangannya sudah kurasakan dia adalah AA.
“El, makan dulu” AA duduk di sampingku, dengan semangkuk bubur yang masih mengepul.
“Gak!” tolakku sarkis, entahlah, rasanya masih kesel aja dengan sikapnya kemarin.
“Jangan begitu El, kau sakit, semalaman demam, ayo makan dulu, lalu minum obatnya ya” ucapnya lagi, dengan nada lembut, tumben.
“Gak!” aku masih menggeleng,
“Ish ... kenapa kau ini keras kepala sekali??” dia mulai kesal, tapi aku tidak perduli, hatiku lebih kesal dari pada dia.
“Bukankah semalam kau sudah mengusirku?? Kenapa kau kembali membawaku ke rumah ini?? Aku ingin pulang!” teriakku sarkis.
“Pulang? Pulang kemana?” tanyanya mengernyitkan dahi.
“Sudahlah ... pulangkan saja, aku pada Ibuku, atau Bapakku” ucapku masih dengan nada tinggi, masih kesal, rasanya hatiku ingin meledak.
AA terkekeh “Cih, kau ini ... pulangkan ke makam maksudnya??”
“Eh?” segera aku menyadari, kedua orangtuaku kan sudah meninggal dunia, kenapa aku bisa lupa sih?.
“Sudahlah, sudah tidak ada pilihan lain, tinggallah di sini dengan posisimu, jangan pergi lagi” ucapnya melemah, sambil menunduk.
“Tapi kau yang menyuruhku untuk pergi, apa kau lupa??” aku mencebik, nasib nikah sama AA ya gituh, pikun.
“Maafkan aku, aku hanya shock, karena selama ini tidak pernah ada yang menentang laranganku, selama ini aku selalu mengunci ruangan itu, tapi kau beraninya masuk kesana” jelasnya, dengan sorot mata merasa bersalah.
__ADS_1
“Tiada maaf bagimu AA!” aku masih belum terima.
Kkrriieettt ...
“Bibi ...” terlihat Aksa masuk kedalam kamar, dia berlari kemudian naik ke atas ranjang, lalu memelukku erat.
“Sayang ...” aku balas memeluknya,
“Bibi ... jangan pergi lagi” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Hah? I iya” jawabku gugup.
“Ayah tidak bisa menceritakan dongeng sebelum tidur semenarik Bibi” ucapnya dengan bibir mengerucut, sementara AA hanya mengedikkan bibirnya.
“O ya??” aku membelalakkan mataku sambil tersenyum,
“Hmh, Bibi jangan kemana-mana lagi yaaa” pintanya lagi.
“hah? Eh, gimana ya?” aku masih bingung, tadi aku kan sudah mencak-mencak minta di pulangkan, masa iya sekarang aku harus terkena bujuk rayu Aksa sih? Mau di taruh di mana harga diriku ini?.
“Bibi El tidak akan kemana-mana, Bibi El akan tetap di sini bersama kita semua, sekarang Bibi El mau makan dulu” AA menyendokkan bubur lalu menyodorkannya ke mulutku, aku mendelik kesal.
“Ayo buka mulutnya aaaaa ...” ucapnya lagi, mencoba merayuku.
“Ayo Bibi makan dulu” Aksa menyemangati.
“Iya malu sama anak-anak, ayo makan aaaa” seolah mendapat angin segar, AA malah semakin bersemangat.
“Pake Ayamnya” aku menunjuk Ayam sewir yang berada di atas mangkok.
***
“Aksa, sayang ...” seorang perempuan cantik berlari memeluk tubuh kecil Aksa,
Aksa memudurkan langkahnya meronta, menolak pelukan dari perempuan cantik, yang tengah memaksanya untuk masuk kedalam pelukannya.
“Aksa ... ini tas mu” seorang perempuan muda, keluar dari rumah menghampiri Aksa, dengan tas punggung di tangannya, langkahnya terhenti, kala melihat seorang perempuan tengah memeluk tubuh Aksa yang meronta.
Perempuan itu tersenyum menatap Eliana yang tengah mematung, dan terlihat sangat bingung.
“Hay ...” Chelsi mengulurkan tangannya ke arah Eliana,
“Hay ...” El meneriama uluran tangan Chelsi, dengan wajah kikuk.
“Aku Chelsi, Ibu nya Aksa dan Azura” ucapnya sambil tersenyum lembut,
“Ah ... ya, aku Eliana” lalu El terdiam, terlihat bingung dan canggung.
‘Jadi, dia sungguh Ibunya anak-anak? Cantik sekali, di banding aku, tentu aku tidak ada apa-apanya’ El membatin.
“Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan kepadamu, atau kepada Ed,” ucapnya kemudian, El mengerjap, lalu menganggukan kepalanya kikuk.
“El, bisa kita bicara sebentar?” tanyanya menatap Eliana penuh harap, El hanya bisa mengangguk.
“Baiklah, kita akan bicara setelah mengantarkan anak-anak sekolah” ucap Eliana,
__ADS_1
“Baiklah” perempuan itu berjalan menaiki mobilnya. Begitupun dengan El.
***
“Maafkan aku” ucap Chelsi, kala mereka tengah duduk di sebuah kursi taman, dekat dengan sekolahan Aksa.
“Eh? Ma maksudnya bagaimana Mbak?” El gelagapan,
Perempuan itu tersenyum lembut, dia terlihat begitu mempesona di usianya yang menuju senja.
“Maaf, selama ini anak-anakku pasti sangat merepotkanmu, begitu bukan??” tanyanya sambil membenahi anak rambut yang menghambur karena di terpa angin, dia terlihat semakin seksi.
“Ti tidak” jawab El masih gelagapan,
‘Masih lebih merepotkan si AA sih’ batin Eliana.
“Dan terimakasih, selama ini kau sudah menjaga anak-anakku dengan sangat baik, kau sudah merawat mereka melebihi aku” Chelsi menunduk, mencoba menahan bulir beningnya.
“Sama-sama Mbak, saya suka sama anak-anak, saya sayang sama mereka semua” El mulai relaks, dia tersenyum lembut.
“Kau bukan Ibu kandungnya, tapi kau mampu menjadi Ibu yang baik bagi mereka,”
“Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Ed, tapi mungkin aku akan sering-sering datang kerumah kalian, untuk bertemu dengan anak-anak, bolehkah??” tanyanya penuh harap.
“Eh? Te tentu saja boleh Mbak” jawab El, merasa sungkan, jauh dari perkiraannya, ternyata Chelsi tidak seburuk yang di pikirkannya.
‘Ku fikir Chelsi akan mencak-mencak, marah-marah kayak di film-film, eh ternyata tidak’ El membatin.
“Terimakasih, untuk kebesaran hatimu” Chelsi menggenggam tangan El, lalu tersenyum lagi, perempuan itu begitu bersinar di mata El.
“Sama-sama Mbak, Mbak Ibu kandung mereka, jadi Mbak juga berhak menemui mereka, kapanpun Mbak mau” El mengangguk,
“Oh iya, selama kalian menikah, apa Ed sudah banyak berubah?” tanya Chelsi.
“hah?? Berubah bagaimana Mbak?” El mengerutkan keningnya,
“Dulu, dia pria yang sangat sibuk, ku harap sekarang dia sudah bisa meluangkan banyak waktunya untuk keluarganya, terutama untukmu” ucap Chelsi,
“Ke kenapa?” El semakin bingung.
“Kau masih muda, tentu saja kau butuh perhatian lebih dari seorang suami, hhiiihhii ... aku pernah merasakannya dulu” Chelsi berbisik, lalu terkekeh.
“Ah, hehe” Eliana terkekeh,
“Mbak sendirian?” Eliana celingukan, baru menyadari Chelsi dari tadi hanya sendirian, bahkan dia datang tanpa sopir.
“Aku sendirian, karena suamiku masih berada di luar negri” jawabnya, sambil memalingkan wajah.
“Oh, begitu ya Mbak” El menganggukkan kepalanya,
“Saat ini, aku sedang menjalani proses perceraian dengannya”
Deg!
“Ke kenapa?” seketika rasa khawatir menjalar di hati El, entah ke khawatiran macam apa yang dia rasakan sekarang. Yang jelas hatinya merasa takut.
__ADS_1