DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Harapan Edgar


__ADS_3

Edgar Pov


Aku masih sangat mengingatnya, kala itu putriku Azura berusia lima tahun dan putraku Aksa baru berusia beberapa bulan. Azura bicaranya saja masih belum terlalu jelas, apalagi Aksa dia hanya bayi merah yang masih sangat membutuhkan perhatian dan segenap kasih sayang dari kedua orangtuanya. Yaitu aku dan chelsi.


Aku akui, mungkin aku adalah seorang suami dan Ayah yang buruk bagi istri dan anak-anakku, beberapa perusahaan yang tengah aku jalankan, juga membutuhkan peranku sebagai pemiliknya.


Chelsi adalah seorang perempuan lembut, dan baik, chelsi adalah adik dari sahabatku Imran, melalui sebuah perjodohan singkat, akhirnya kami menikah.


Dari awal menikah aku memang lebih sering menghabiskan waktuku di kantor, mereka bilang harta adalah segalanya, dengan harta yang bergelimang kau akan mampu membahagiakan anak dan istrimu, dan itulah yang aku lakukan, aku bertekad akan membahagiakan keluargaku dengan pundi-pundi uang yang kudapatkan.


Tapi, kenyataan menamparku! Aku sadar aku telah di selingkuhi oleh Chelsi, aku sadar ternyata materi bukan lagi segalanya.


“Aku tidak pernah bahagia hidup denganmu! Ceraikan aku! Aku akan pergi jauh dari hidupmu, dan anak-anak, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri” ucap Chelsi kala itu.


Perkataannya sungguh menikam qalbuku, rasanya begitu sakit, aku sudah bekerja keras untuk membuat keluarga kecilku bahagia, tapi nyatanya semuanya sia-sia.


“Sebegitu buruknya kah aku di matamu??” aku berusaha menahan tangisku, teringat bagaimana dengan nasib anak-anakku jika di tinggalkan oleh Ibu kandungnya.


“Iya, sering terlintas di dalam fikiranku, kenapa aku harus mencintaimu? Kenapa aku harus menikah dengan pria dingin dan tidak berperasaan seperti dirimu? Kenapa aku harus memiliki anak dari Ayah yang buruk seperti dirimu? Kenapa? Rasanya begitu sakit, ketika aku harus menunggumu pulang sementara malam telah larut, rasanya begitu sakit kala aku harus membesarkan anak-anakku tanpa peran Ayahnya, Edgar, aku lelah, aku ingin hidup bahagia” ucapannya bagaikan pedang yang menghujam jantungku, aku terpaku. Hidup denganku beberapa tahun, inikah yang selama ini dia pikirkan???.


“Aku mohon, mari kita perbaiki semuanya, aku janji, aku akan berubah” aku masih berusaha mengiba, sekuat tenaga, ku simpan harga diriku di bawah telapak kakiku, hanya karena aku mengingat dua anak yang masih membutuhkan figur seorang Ibu.


“Tidak! Aku akan tetap pergi, aku tahu, kau tahu, aku sudah memiliki kekasih, dia menungguku di bandara, malam ini aku akan pergi” dia masih dengan egonya. Untuk pertama kalinya, aku menyadari perempuan lembut dan baik yang telah kunikahi ini, ternyata memiliki hati sekeras ini. Dia bahkan sudah tidak memperdulikan anak-anaknya lagi.


Sakit!


Itu yang kurasakan, rasanya begitu perih, aku seorang lelaki dewasa, tapi kenapa ujung pelupuk mataku tidak mampu menahan bendungan air mataku? Malam itu, aku sungguh menangis. Menatap punggung istri yang teramat kucintai, selama ini, aku membiarkannya bersenang-senang, aku membiarkannya menikmati banyak waktu dengan pria lain, tapi inikah balasannya? Sungguh tidak adil.

__ADS_1


Suara tangisan bayi merah itu membuatku berlari menuju kamarnya, mungkin dia sudah tahu, jika dia sudah di tinggalkan oleh Ibunya dengan sengaja, aku mendekapnya erat, aku begitu mencintai anak-anakku,


“Maafkan Ayah, Ayah janji akan menjaga kalian ...”


***


“Huuuaaaaa ... Ayaaaaahhhh ... Ayaaaahhhh ...” aku mengerjap, terlalu lama aku melamun di ruang kerjaku, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, anak-anak harusnya sudah berangkat sekolah, tapi kenapa ada suara tangisan putraku??.


Aku beranjak, menuju sumber suara, kudapati Aksa tengah menangis hebat, menggosok matanya dengan kasar, di belakang di ikuti oleh perawat yang mengasuhnya selama ini, berusaha menenangkannya.


“Aksa?? Kau kenapa??” aku berjongkok, mencoba meraihnya, tapi Aksa malah menepis tanganku, sambil terus menangis, kulihat celana seragamnya robek, lututnya terdapat darah.


“Apa yang terjadi??? Kau kenapa??” panik, apa yang terjadi pada putraku??.


Aksa tidak menjawab, dia masih terus menangis. Ku dongakkan kepala, menatap Suster Aksa, seolah bertanya ‘Ada apa?’ faham, suster itu menjawab.


“Bagaimana bisa???” ku tatap perempuan muda itu dengan pandangan yang dingin, Ayah mana yang tega melihat putranya terluka?.


“A aku di di dorooonnnggg” ucapnya terbata di sela isakannya.


“Di dorong?? Di dorong siapa??” tanyaku mulai bingung.


“Di dorong Nadiiiinnnnnn!!” tangisan Aksa semakin hebat, membuat seisi rumah penuh oleh suara tangisannya.


“Kenapa Nadine bisa mendorongmu??” tanyaku, mulai meraih kepalanya lembut, sementara itu tangan Aksa masih menolak belainku.


“Di dia bilang, aku tidak punya Ibu, Nadine mengadu pada Ibunya, dan Ibunya memarahiku, karena aku juga mendorong Nadine ... hhuuuaaaaa ...” tangisan Aksa sudah tidak bisa di diamkan lagi. Aku sungguh bingung, apa yang harus kulakukan? Kenapa ada seorang Ibu yang tega sekali memarahi anak sekecil Aksa??.

__ADS_1


“Jangan cengeng!! Kenapa kau cengeng sekali?? Ibumu ada, Ibumu selalu menjagamu dari jauh” ucapku, aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.


Sungguh, aku sangat bersimpaty kepada semua singgle parent yang ada di dunia ini, seorang singgle parent yang mampu membesarkan anaknya seorang diri hingga sukses, aku iri pada mereka semua, sungguh membesarkan anak sendirian tanpa partner hidup sangatlah susah.


“Ma mana??” tanya Aksa masih dalam isakannya.


“Ibumu menjagamu dari syurga” ucapku sambil berlalu, apa yang harus kukatakan pada anak-anakku? Haruskah ku katakan pada mereka jika Ibunya pergi meninggalkan mereka dengan pria lain?? Ibunya sudah mati! Hanya keyakinan itu yang kuterapkan pada mereka. Aku akan menjelaskan kebenaran itu pada mereka, suatu hari nanti saat mereka sudah memahami situasi ini.


“A ayaaahhhh ... Ayah jahaaattt!!” suara Aksa membuat aku menhentikan langkah, kenapa aku yang jahat??.


“A aku ingin bertemu Bibi yang kemariinnn” ucapnya lagi memilukan,


“Aku ingin bertemu Ibuuuu ...”


“Kenapa denganmu?? Kenapa kau selalu menempel pada perempuan yang baru kau temui??” aku mendelik, kesal.


“A aku hanya menyukai Bibi itu, aku tidak menyukai Bibi Siska” Aksa menggeleng kuat.


“Urus dia! Obati lukanya!” perintahku pada suster yang dari tadi hanya terdiam. Sungguh semuanya membuat kepalaku menjadi berat.


Terkadang, ada masa aku khilaf melakukan kesalahan dengan membentak, memarahi, hingga aku terkesan galak, dingin dan kasar. Tapi, semua itu aku lakukan semata-mata agar anak-anakku faham, mana hal yang salah, dan mana hal yang benar, mana yang harus di lakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan. Semua yang kulakukan adalah bentuk dari rasa kasih sayangku, agar mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.


Aku tahu, ada banyak cara memberikan nasihat dengan cara yang lebih baik, tapi aku selalu berpikir, cara orangtua dalam mendidik anaknya tentu dengan beragam cara, tapi tujuanku tetaplah sama, yaitu demi kebaikan masa depan anak-anakku.


Suatu hari nanti, jika mereka sudah faham, aku akan meminta maaf pada mereka, bukan berarti karena aku lemah di hadapan mereka, tapi aku juga ingin mengajarkan bahwa meminta maaf dan saling memaafkan adalah cara yang baik untuk mengakhiri masalah, meskipun masalahku dan Ibunya tidak terselesaikan meski dengan sebuah maaf.


Harapanku, semoga jagoan-jagoanku, tumbuh menjadi orang yang berguna dan bisa membanggakan aku sebagai orangtua tunggalnya.

__ADS_1


Bersambung ..............


__ADS_2