
“HUUUUAAAAA!!! HIKS!! HIKS!!” terdengar rintihan Eliana, rintihan itu lama-lama menjadi raungan yang terdengar memekakkan telinga.
“Sudah Nya, jangan nangis lagi, kan yang paling parah lukanya saya, kan tadi saya yang nahan tubuh Nyonya, hingga Nyonya nimpa tubuh saya, sudah tertimpa Nyonya, tertimpa sepeda lagi” ujar Pak Mamat sambil meringis, menahan sakit di lehernya yang tidak bisa di putar, karena dia harus menggunakan gips.
Setelah tragedi kecelakaan jatuh dari sepeda, kini Eliana, Pak Mamat dan AA sedang berada di rumah sakit ternama, untuk mengobati luka El, dan Pak Mamat.
“Aku menangis bukan karena sakitnya! Tapi aku sakit hati sama majikanmu itu! Hhuuuaaaa!!” Eliana kembali meraung, sambil meniupi lutut dan sikutnya yang bared dan sedikit berdarah.
“Nyonya?? Adudududuh ...” tanya Pak Mamat dengan suara terbata karena harus menahan lehernya.
“Apa???!!” Eliana menatap Pak Mamat dengan tatapan marahnya.
“Ya majikan saya kan Nyonya” Pak Mamat ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun urung, karena tangannya terasa kaku, akibat harus menahan tubuh El tadi, bahkan tangannya pun harus di gips, kini tubuh Pak Mamat sudah di bungkus banyak perban, hingga dia terlihat seperti mumi. Tangan, lutut, jidat, dan leher pastinya, gerakannya pun menjadi sangat kaku, dia tidak lagi bisa menengok ke arah kiri dan kanan, apalagi ke belakang.
“Maksudku majikanmu yang lainnya, AA!!” teriak El, dengan air mata yang sudah berderai.
“Nya, jangan nangis gitu dong, nanti dikira saya ngapa-ngapain Nyonya lagi, mana rumah sakitnya lagi sepi, lagi” Pak Mamat makin kebingungan.
“Kenapa menangis?? Apa masih sakit??” AA datang tiba-tiba dengan papper bag berukuran kecil berisi obat di tangannya, tadi AA baru saja menebus obat di apotek.
“Sakkiiiitttt!!! Hhhuuuuaaaa!!!” Eliana kembali meraung, sambil memegang sikutnya.
“Lebay amat” AA mencebik, sambil melirik Pak Mamat yang tengah kebingungan.
“Semua ini gara-gara kamu!!! Sudah kubilang! Aku benci sepedah! Aku trauma naik sepeda!! Kenapa kau memaksaku??” Eliana kembali tersulut emosi. Sudah di paksa naik sepeda yang tidak di sukainya, sakit karena cedera di katain lebai pula sama AA. Jadilah, amarahnya kian membuncah.
“Ish ... tak perlu berteriak, aku tidak tuli, lagian cuman luka baret dikit kok, tuh kau lihat! Yang sakitnya parah itu Pak Mamat, sampai tubuhnya kayak mumi gituh” AA menunjuk Pak Mamat dengan wajahnya, Pak Mamat hanya bisa meringis menahan periiiihhhh.
“Kalau tidak tuli, kenapa masih memaksakan kehendak??!!” kembali berteriak, membuat AA terjingkat.
“Iya, semua salahku, ayo kita pulang” AA beranjak.
“Ayo Pak Mamat saya bantu” AA meraih tubuh Pak Mamat, membantunya berdiri, lalu memapahnya perlahan.
__ADS_1
“AA!!! Suami gak ada akhlak! Aku istrimu! Kenapa yang di papah Pak Mamat??!!” El protes tidak suka.
“Ah, hanya luka kecil, kau masih bisa berjalan kan?? Lihat Pak Mamat susah jalannya” AA kembali berjalan, dengan Pak Mamat di sampingnya.
“Ish ...” Eliana menghentakkan kakinya dengan keras.
“Adudududuh, sakiiittt” Eliana kembali mengerang, karena tanpa sengaja dia menghentakkan kakinya yang cedera.
“Mana yang sakit??” AA menghempaskan tubuh Pak Mamat dan memburu El.
Bbbrrruuuukkk!!
“AADDDUUUUHHH!!!” kali ini Pak Mamat yang mengaduh, karena tubuhnya terhempas ke lantai.
“Ish!!!!” AA mengacak rambutnya dengan kasar, merasa jengkel dengan dua orang di hadapannya.
“Kenapa aku harus menderita hanya karena sepeda?? Hhhhuuuaaaa” Eliana kembali mencak-mencak, membuat jiwa galak AA kembali bangun, namun pria yang masih menggunakan kaos dan trening olahraga itu, menahan amarahnya sekuat tenaga.
“Iya, semua salahku, ayo aku gendong” AA berjongkok, menyodorkan punggungnya pada Eliana.
“Ayo naik!” perintah AA dengan tegas, membuat El, mau tidak mau mengikuti keinginan AA, perlahan El menaiki punggung AA.
“Huuuppptttt” AA mulai menggendong tubuh El, dan mulai berjalan. Selang beberapa langkah ...
“Tuan, ba gai ma na de ngan sa ya??” langkah Ed terhenti, dia menoleh kebelakang, terlihat pak Mamat berjalan dengan gerakan kaku, layaknya Mumi.
“Aiiissshhhhh ... ini namanya senjata makan Tuan!! Saya yang nyuruh El latihan naik sepeda, saya juga yang kerepotan sendiriiii!!!” AA berteriak kesal, sambil berusaha memapah pak Mamat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menahan gendongannya, untuk tubuh Eliana. Istrinya.
***
Pagi yang begitu cerah, para burung mulai beterbangan begitu searah. Tetesan embun mulai membasahi pucuk-pucuk bunga, hadirkan keindahan yang begitu sempurna.
Sementara itu, di sebuah ruangan hangat yang begitu besar, terdapat seorang gadis yang masih tergolek di atas kasurnya.
__ADS_1
“Selamat pagi Indonesiaaaa!!” seperti biasa AA meneriakan kata-kata itu, hanya saja, kali ini tidak menggunakan toa, ataupun terompet, bahkan kini suaranya turun satu oktaf dari biasanya.
El menggeliat, membuka sebelah matanya, mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang menerpa wajahnya.
“Indonesia! Indonesia! Aku ini EL LI A NA!!! Ck!” decaknya masih sebal, karena ketika dia sadar, hal yang pertama kali dia ingat, adalah ketika dia jatuh dari sepeda kemarin, akibat di paksa AA.
“Jangan marah-marah terus! Kau sudah seperti Nenek-Nenek saja, sukanya marah-marah!” AA mendengus sebal.
“Ini masih sakit!” teriaknya sarkis.
AA memutar kedua bola matanya, tahu persis jika itu hanya akal-akalan El, AA seperti bisa merasakan, jika luka yang di rasakan El tidak seberapa.
“Baiklah, ayo kita mencuci wajahmu, lalu kita sarapan” AA beranjak, menggulung tubuh Eliana dengan bad cover.
“AA! Apa yang kau lakukan?? Astaga ...” El mengerjap kala AA membopong tubuhnya yang sudah di balut bad cover.
“Apa yang kau lakukan??” El berusaha melepaskan tubuhnya, tapi sayang tenaga AA jelas lebih besar dari tenaga El yang kini sudah seperti lontong.
“Duduk di sini dengan manis” AA mendudukkan tubuh El di atas kursi di depan wastafel, tempatnya mencuci wajah.
“Apa yang akan kau lakukan??” El masih saja bertanya, dengan perasaan awas.
“Pertama-tama, cuci wajahmu” AA membasahi tangannya lalu mengusapkannya pada wajah El, dengan gerakan cepat.
“AAAAAA!! Tidak usah, aku bisa sendiri, jangan!!” El berusaha menolak, tapi tidak berdaya, karena tubuhnya telah terbungkus bad cover dengan sempurna.
“Selimutnya jadi basah AA” protes El, kala melihat bad cover berwarna abu-abu muda itu sudah mulai basah akibat ulah AA.
“Tak apa, nanti bisa di cuci” ucap AA dengan santai, tangannya masih asik menggosok wajah El.
“Ya ampuuunn!! Pelan-pelan AA! Kau itu sedang mencuci wajah atau mencuci mobil sih??” El kembali protes, kala di rasakan tangan AA begitu kasar menggosok wajahnya.
“Selesai mencuci wajah, sekarang kita gosok gigi” AA mulai menuangkan pasta gigi pada sikat gigi.
__ADS_1
“Sekarang buka mulutnya aaaaaa ...” AA membuka mulutnya latah, memerintah El, agar mau membuka mulutnya.
“Tidak! Aku bisa sendiriii” El kembali menolak, dia menggeleng berkali-kali.