
AA hanya menatap kami, tanpa sepatah katapun, dia langsung kembali bergegas menuju keluar kamar. Dia memang selalu begitu. Acuh, kaku, dingin, galak, tapi perhatian, AA mencurahkan seluruh kasih sayang, tenaga, fikiran, kesetiaan, hanya untuk keluarganya, tanpa banyak bicara.
Dia bilang “Aku lebih suka Aksi daripada fiksi”
***
Kami berangkat menuju lokasi yang AA ingin tuju, di dalam mobil, keceriaan mendominasi, Aksa yang terus bernyanyi, dan Azura menimpalinya, sesekali mereka juga membicarakan tentang pengalaman lucu mereka ketika di sekolah. Aku hanya menimpali, lalu ikut tertawa terbahak, mendengar cerita mereka.
“Ayah! Sebentar lagi kita bakalan nyampe lho!” Zura seperti memberikan kode kepada Ayahnya yang tengah fokus menyetir. Aku hanya mengerutkan kening, bingung dengan kode Zura.
“Kak, ambil penutup matanya” ucap AA tanpa menoleh ke belakang, aku semakin bingung, kok ngebahas penutup mata? Apa kita di paksa buat tidur??.
Zura mengeluarkan sebuah kain panjang berwarna hitam, lalu dia mendekatiku,
“Bu pakai ini dulu yaaa ...” ucapnya sambil mengenakan kain tersebut di antara kedua mataku, aku tak bisa menolak, hanya menuruti permintaan mereka saja, walaupun dalam hati aku sangat bingung, ada apa ini?? Apa mereka akan memberiku kejutan??.
“Nah, sudah Yah ...” Aksa dan Azura bersorak riang, sejak kapan mereka jadi sekompak ini??.
Lama ...
Aku tidak bisa menikmati perjalananku, hanya bisa duduk dengan tenang, sambil mencoba mendengarkan bisikan mereka yang samar, sesekali mereka terkikik geli, sementara AA, aku sama sekali tak mendengar suaranya.
Akhirnya mobil berhenti, entah di mana, aku masih belum tahu, aku hanya tahu, seseorang membuka pintu mobil untukku, lalu menuntunku untuk berjalan.
“AA sebenarnya aku mau di bawa k mana sih?? Tanyaku masih penasaran”
AA tak terdengar menjawab pertanyaanku, dia masih bergeming. Membuatku mendesah, kesal.
Kakiku terhenti, kala mendengar instruksi dari AA.
“Stop!” ucapnya, lalu terdengar suara orang berjalan, aku menajamkan penderanku, sementara itu, suara anak-anak sudah tidak terdengar lagi. Kemana mereka?? Aku tak menyangka, jika ajakan AA malam tadi, akan menjadi sebuah kejutan untukku. AA emang luar biasa!.
“Buka penutup matanya” perintahnya, masih dengan suara beratnya.
“Ish ... bukannya, kalau di film-film, perempuan yang di beri kejutan, akan di bukakan penutup matanya oleh prianya??” tanyaku, ngedumel, seperti biasa, AA orang yang jauh dari kata romantis.
__ADS_1
“Ah, repot banget sih?? Kalau bisa sendiri kenapa tidak??” ish ... ambyar sudah, khayalanku, akan kejutan romantis ini, baru masalah penutup mata aja udah berdebat. Gimana sih??.
Grreeppp ...
Tapi, tiba-tiba saja kurasakan tangan AA membuka penutup kain yang menutup mataku. Bukannya dari tadi kek. Ish ...
“Wow!!”
Mulutku menganga, dengan mata mengerjap tak percaya, saat penutup mata ini di lepaskan oleh AA, sang suami.
Sebuah taman, yang telah di dekorasi sedemikian rupa, terpampang jelas di depan mata. Mataku berkaca-kaca lagi saking terharunya.
“AA ... ini semua kamu yang menyiapkannya??” tanyaku dengan hati yang membuncah.
“Iya, kau suka??” masih dengan wajah datarnya.
“Suka” aku mengangguk berulang kali, pandanganku mengedar, lalu mataku menangkap sebuah meja yang terletak di pinggir danau buatan, aku segera berlari menghampirinya, lalu terlihat ada banyak makanan yang sudah tertata rapi. Kalau ada makanan di sini, kenapa dia tadi memintaku untuk menyiapkan bekal?? Dasar AA.
Lelaki berkemeja putih itu, mengikutiku dari belakang, dengan sigap ia menggeser kursi, lalu mempersilahkan aku untuk duduk.
Kami duduk berhadapan, AA merentangkan tangannya, seolah memberi kode, aku memperhatikannya, tiba-tiba saja datang segerombol orang yang sudah agak berumur, lalu setelah sang ketua memberikan kode, mereka mulai memainkan musiknya.
Dengan nada seriosa penyanyi mulai mendendangkan lagu yang di bawanya.
“Suasana sepi begini ...”
“Apa ini??” aku masih menutup mulutku dengan kedua tanganku.
“Hari ini, adalah hari pertama kali kita bertemu, selamat yah ... sudah satu tahun kita hidup bersama, menjalani suka, duka, tangis, tawa, dan bahagia bersama, maaf belum bisa jadi suami terbaik untukmu” AA meremas jemariku kuat, seolah sedang menyalurkan rasa bahagianya.
Astaga! Bahkan aku lupa, jika hari ini, adalah hari pertama kita bertemu.
“Ma maaf, aku juga belum bisa jadi istri, dan Ibu yang baik untukmu, dan untuk anak-anak” ucapku, lagi-lagi mataku sudah berkaca-kaca lagi, saking bahagianya. AA bisa romantis juga ternyata.
“Tidak, kau adalah istri dan Ibu yang sangat baik, bagiku dan bagi anak-anakku” ucapnya lembut. Aku semakin terisak.
__ADS_1
“Ada satu kejutan lagi untukmu” ucapnya lagi.
“Apa??” tanyaku menengadah, menatap manik matanya, yang hari ini penuh sekali dengan kejutan.
“Nanti aku kasih tahu, sekarang kita makan dulu ya” ucapnya, lalu dia menyendokkan makanan yang ada di hadapannya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Sejenak kemudian, kami hanya terdiam, menikmati moment romantis yang di ciptakan AA.
“Ini kejutan untukmu” ucapnya setelah kami selesai makan, dia menyodorkan sebuah map dan juga kunci.
“Apa ini??” tanyaku bingung.
“Bukalah, dan bacalah” dia tersenyum manis, sangat manis. Aku semakin deg-degan tak karuan.
“AA makasiiiihhhh ...” seketika aku berdiri, lalu menghambur kedalam pelukannya, setelah membaca kertas yang ada di hadapanku.
“Kau senang?” tanyanya, membalas pelukanku.
“Hhhmmhh” aku mengangguk, kali ini air mataku jatuh bercucuran.
Sebuah sertifikat kepemilikan sebuah bangunan yang di atas namakan, atas namaku. Bangunan ini berdiri luas di atas tanah yang cukup luas. Bangunan ini, nantinya akan di jadikan sebuah yayasan yatim piatu yang akan di kelola langsung oleh diriku. Iya, ini adalah salah satu mimpiku sedari dulu, bisa berbagi suka, bahagia, dan tawa dengan mereka yang tidak mampu, dengan mereka yang tidak memiliki keluarga. Itu adalah impianku yang belum terwujud, dan dulu, sebelum menikah dengan AA mungkin mimpi ini mustahil bisa terwujud.
“Dari mana kau tahu? Jika aku memimpikan semua ini??” tanyaku menatapnya curiga.
“Apa yang aku tidak tahu tentang dirimu??” dia malah balik bertanya.
“Apa yang harus ku lakukan untuk membalasmu??” tanyaku saking girangnya.
“Ehehehe ... kau tahu apa inginku.” Dia tersenyum mesum! Ish ... nyeselkan jadinya udah nanya kayak gitu.
“Terimakasih ...” aku kembali memeluknya.
“Ciiieeee ... Ibu sama Ayah pelukan hhihihi ...” terdengar tawa renyah, meledek dari belakang punggungku.
“Aksa, Azura??” aku menatap anak-anakku dengan pandangan bahagia, mereka ternyata sedang berusaha untuk berdansa, tapi karena tubuh Aksa yang masih kecil, mereka sempat terhuyung-huyung melakukannya.
__ADS_1
“Ayo kita berdansa juga” tangan AA mengulur di hadapanku, dengan malu-malu aku menerima uluran tangan AA.
Lalu kami berempat mulai berdansa, dengan di iringi lantunan lagu tahun tujuh puluhan, yang sudah di request AA.