DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Ngintip


__ADS_3

“Tidur dalam satu ruangan, tapi tidak ada kontak fisik, sekarang bolehkah aku merubahnya??” tanya AA mulai menggeser tubuhnya ke sisi tubuh El.


Glek ...


“Ma maksudnya?? A aku ... aku tidak mengerti” El menggeleng.


“Aturan nomor empat, aku ingin kita tidur di ruangan yang sama, tapi dengan melakukan kontak fisik, bagaimana?? Apa kau setuju??” AA menatap El lekat, lagi-lagi dia berharap jawaban El adalah ‘Iya’.


“Hah? Ti tidddaaakkk!!” El menutupi dadanya dengan kedua tangannya, lalu perlahan memundurkan langkahnya, sambil menggelengkan kepalanya, berkali-kali matanya mengerjap, dia tidak bisa membayangkan kontak fisik yang di maksud AA.


Kkrruuussuukkk ... kkrruuussuuukkk ... kkrruuusssuuukkk ...


Seketika AA dan El mengedarkan pandangan, kala merasakan ada pergerakan di balik semak-semak.


“Siapa itu??!!” bentak AA, sambil berjalan mendekati sumber suara.


“AA aku takut!” El menggenggam tangan AA erat, lalu mengekor di belakangnya.


“Siapa???!!!” AA meraih tongkat kayu yang tergeletak di tanah, lalu berjalan mengendap mendekati rumpun yang bergoyang.


Tangan AA siap mengamangkan kayu tersebut, bersiap memukul apa saja yang berada di balik rumpun tersebut.


“Hiiiaaatttt!!”


Buk ... buk ... buk ...


“AAAAAAAAAAAA!!!”


“Bu Nana, Bu Mirna, Bu Lili?? Kalian ngapain di sana??” El membelalakan matanya, kala melihat tiga perempuan anggota geng drove girls sedang berjongkok, sambil menggaruk-garuk seluruh tubuhnya.


“Kami di kerubungi semut Tuan Ed, Nyonya El, hehe ...” Bu Mirna garuk-garuk.


“Kalian ngintip??” tanya El, menatap mereka dengan tatapan menelisik.


“Hah?? Ti tidak! Hheee ... Bu Nana, ayo kita cari kayu bakar lagi” seketika, Bu Lili meraih tangan Bu Nana lalu mereka lari tunggang langgang, sementara Bu Mirna yang tertinggal segera menyusul mereka.


“Apa mereka mendengar percakapan kita ya??” tanya El menatap AA.


“Entahlah ...” AA mengedikkan bahunya, kemudian berlalu di ikuti El.


***


“Bu Mirna, Nyonya El kemana ya?? Kok mereka gak datang-datang?? Kita kan mau manasin makanan” Bu Nana ngedumel sejak tadi, karena El tidak kunjung datang.


“Ah ... namanya juga pengantin baru, jangan-jangan merekaaaaa ...” Bu Lili langsung cengengesan, membayangkan sesuatu yang entah apa.


“Sssstttt ... kita ikutin mereka yuk” Bu Mirna langsung berinisiatif.


Lalu mereka langsung berjalan mengendap-endap, layaknya detektif yang tengah mencari barbuk.


“Eh, itu mereka!” sebagai ketua geng, Bu Nana langsung menemukan keberadaan El yang terlihat tengah berbincang dengan AA di tepi danau.

__ADS_1


“Mereka lagi ngapain ya?? Kita sembunyi di sana yuk” ketiga perempuan itu langsung mengendap duduk di tanah sambil menguping di antara rerumpun rumput yang menjulang.


“Kok gak kedengeran sih??”


“Kok bisik-bisik ya??”


“Jangan-jangan mereka ... hhiii”


“Apa sih?? Apa sih??”


“AAAAWWW!!”


“Kenapa??”


“Sepertinya aku di gigit semut!”


“Apa?? Sungguh menggelikan, adududuh, hush ... hush ... hush ... aaaaawwww!!”


Tanpa mereka sadari pergerakan mereka menimbulkan kerusuhan, hingga mereka tertangkap basah oleh AA.


***


Berbeda kala mereka berangkat menuju lokasi perkemahan, yang terlihat ceria dan bersemangat, kini perjalanan pulang mereka, di temani oleh wajah-wajah lelah, hampir seluruh anggota geng drove girls terlelap di kursi masing-masing, berbagai macam gaya mereka kala tidur, membuat Eliana sedikit terkikik geli. Sementara itu, Eliana melirik pada sosok pria berumur di sampingnya. Eliana menatap pria itu dengan seksama, memindainya tanpa ada yang terlewatkan.


Tubuh kekar, berotot, dadanya di tumbuhi bulu halus, wajahnya tegas, kulitnya yang berwarna kuning langsat, hidung mancung, kini El sadar, kenapa AA beberapa kali di tawari untuk menjadi model di beberapa majalah bisnis, berkali-kali AA di nobatkan sebagai pengusaha sukses termuda pada masanya. AA terlihat begitu sempurna, di mata semua orang, tampan, kaya, pengusaha handal, bukankah itu adalah batas sempurna menurut kebanyakan orang??. Hanya saja, yang kurang dalam hidup AA adalah AA gagal dalam membina rumah tangganya.


Yah ... di muka bumi ini tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, sempurna itu hanya milik sang penciptanya saja.


‘Hah?? Dari mana AA tahu kalau aku tengah memperhatikannya?’ batin El bergumam.


El berdecak sebal, lalu dia mengalihkan perhatiannya pada pemandangan jalanan yang terlihat dari jendela kaca mobil yang mereka tumpangi. Tapi, rasa kagum membuat El kembali memandang AA.


Deg ...


Seketika dada El berdebar kuat, kala menyadari AA pun tengah menatapnya, ternyata AA tidak benar-benar tertidur.


“Kenapa kau melihatku terus??” tanyanya sambil mengangkat alisnya.


“Kau yang melihatku!” ketus El, terlihat AA memajukan bibirnya, alisnya mengkerut, menatap El yang juga tengah menatapnya.


“AA gak kerasukan hantu dari hutan tadi kan??” tanya El memberanikan diri,


“Apa??” AA langsung beringsut, duduk menjauhi El tidak suka.


“Haaaacciiihhh!!”


“Kenapa kau??” tanya AA kembali mendekati El, lalu meraba dahi gadis itu perlahan.


“Aku pilek kayaknya, dingin” jawab El, sambil bergidik, merasakan tubuhnya yang terasa panas dingin.


“Kalau dingin di peluk aja Nyonya El, hhii ...” terdengar bisikan dari belakang, ternnyata Bu Nana sedari tadi sudah memperhatikan tingkah mereka.

__ADS_1


“Tentu saja” jawab Ed, tersenyum penuh kemenangan, lalu memeluk El dengan sebelah tangannya.


“Ih ... AA jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya!” El berbisik tepat di telinga AA.


“Ssssttt ... ingat peraturan nomor sembilan!” bisik AA.


“Tapi peraturan nomor sembilan juga kan sudah di hapus!” Eliana tak mau kalah,


“Di hapus?? Kapan?? Aku belum menyetujuinya!” ucap AA sambil mengeratkan pelukannya, sementara Bu Lili yang duduk di samping mereka, sudah senyum-senyum sedari tadi.


“Licik! AA licik!!” rajuk El,


***


Sejak kejadian peluk-pelukan di mobil, sepertinya El tengah ngambek, setibanya di rumah El langsung masuk kedalam kamar, lalu berbaring  membuat AA jadi bingung, apa juga yang membuat gadis itu merajuk?.


AA berjalan menyusuri kamarnya, dengan nampan di tangannya yang berisi semangkuk bubur, dan beberapa butir obat penurun demam.


Merasa ragu untuk memasuki kamarnya sendiri, akhirnya AA memberanikan diri untuk duduk di samping El,


“El ...” akhirnya AA membuka suara, tangan kekarnya kembali meraba dahi El yang terasa panas.


Hening, El masih saja memejamkan matanya.


“El, kau marah padaku??” tanya AA dengan suara beratnya.


“Ayo makan dulu bubur sama obatnya” ucap AA.


“Engh ... “ El membuka matanya, lalu membenahi posisinya.


“Ayo makan dulu” perintah AA kemudian.


“Tapi, janji, peraturan nomor sembilan beneran di hapus” El membentikkan jari kelingkingnya, membuat AA memutar kedua bola matanya merasa jengah.


“Kau itu, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan” AA berdecak sebal.


“Siapa yang mengajariku?? Kau bukan?” El tersenyum menyeringai.


“Ternyata kau perempuan cerdas El” AA tersenyum bangga.


“Jadi bagaimana??” El kembali memastikan.


“Baiklah, semua peraturan akan aku hapuskan!” AA mengangguk tanda setuju,


“Makasih AA!!” El berjingkrak, lalu memeluk AA tanpa sadar, hingga membuat AA kelimpungan, lalu tak lama AA tersenyum menyeringai.


“Termasuk peraturan nomor empat yang di ganti itu, kau sudah menyetujuinya bukan??” tanya AA mengeratkan pelukan El.


“A apa??? Tiddaaakkk!!”


.

__ADS_1


__ADS_2