
“Aaaahhh ... sudah, sudah, ini pokoknya rahasia, kau harus diam! Kau mengerti?” tanya Edgar meyakinkan.
“Mengerti Ayah” Aksa memanggutkan kepalanya.
“Dan satu lagi, kau jangan memanggil wanita ini dengan sebutan Bibi di hadapan mereka” ucap Edgar lagi, memperingatkan putranya.
“Emmmhh ... Paman Aldo bilang, aku harus memanggil Bibi dengan sebutan Mamih” ucap Aksa polos,
“Kenapa harus Mamih?” tanya Eliana mengerutkan keningnya.
“Katanya biar keren Mamih, hihi” Aksa cekikikan.
“Tuan, semua sudah siap, semuanya sudah menunggu, hari ini akan di mulai dengan memasak bersama, sarapan bersama, dan menyiram bunga bersama” jelas Aldo.
“Apa – apaan itu? Kekanakkan sekali” Edgar memberenggutkan wajahnya.
“Di ikuti saja Tuan, biar cepat selesai” Aldo menahan tawanya, kala melihat pakaian yang di gunakan Edgar hari ini.
Kaos yang di gunakan Edgar bertuliskan ‘Ayah’ di depan dadanya, kaos yang di gunakan Eliana bertuliskan ‘Mamih’, begitu pula dengan kaos yang di gunakan Azura dan Aksa, bertuliskan ‘Kakak dan Adik’ di depan dada nya.
Edgar mendelik sebal, lalu melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
“Tuan, Tuan dan Nyonya harus bergandengan, tunjukkan jika kalian adalah pasangan paling romantis dan harmonis” ucap Aldo.
“Apa? Tidak!” Eliana menggelengkan kepalanya.
“Apa susahnya menggandeng tanganku?” Ed menatap Eliana tajam, akhirnya Eliana menurut, dia menggandeng tangan Ed,
Semua mata tertuju pada keluarga harmonis ini, Eliana yang bergelayut di tangan Edgar, Edgar yang memangku tubuh Aksa dan Azura di tuntun Eliana, sungguh terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia.
Akhirnya kegiatan di awali dengan memasak bersama, Edgar dengan telaten memotong sayuran, dan eliana yang meracik bumbu, mereka terlihat sangat kompak dan harmonis.
Lalu di lanjutkan dengan acara sarapan bersama,
“Buka mulutmu!” ucap Edgar dengan suara tertahan setengah berbisik, Eliana mengerutkan keningnya.
“Ayo buka mulutmu!” perintah Ed lagi.
Eliana membuka mulutnya, lalu Edgar memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut Eliana, eliana tersenyum di paksakan.
“Waaahhh ... ternyata mereka sangat romantis sekali yah ...” ucap salah satu juru kamera,
“Mengingat ke kompakan mereka, aku yakin semua berita itu pasti hanya gosip belaka, yah ... maklum, pak Ed kan pengusaha kaya, jadi mungkin saja mereka iri dan ingin menghancurkannya” bisik kameramen yang satu nya.
“Bikin iri yah, ke romantisan mereka” ucap seseorang yang dari tadi hanya menenteng tas.
__ADS_1
“Hihihi ... paman, apa kau tahu? Aku tadi bahkan melihat Ayah dan Mamih sedang berpelukan dan berciuman, hihi” tiba – tiba suara Aksa membuat semua orang menatapnya.
“O ya?” seorang juru camera mengarahkan kameranya pada Aksa.
“Iya, Ayah bilang ini rahasia, ssssttt ... ini rahasia yaaa ...” Aksa menempelkan telunjuknya di bibirnya,
Dan semua orang tergelak, wajah Ed sudah sangat memerah karena menahan malu, sementara Eliana menyembunyikan wajahnya di balik meja makan.
“Tuan, setelah ini kita akan melanjutkan acara menyiram bunga bersama ya, setelah itu ada sesi terakhir, yaitu tanya jawab” bisik Aldo yang berjalan di samping Edgar.
“Aldo? Apa kau tahu? Rasanya akan lebih baik jika aku mati saja dari pada harus melakukan hal konyol seperti ini” ucap Edgar sambil menundukkan pandangan, dan pandangannya tertahan pada celemek couple berwarna pink dengan motif bunga.
“Heee ... di tahan saja ya Tuan” Aldo terkekeh, kemudian berlalu setelah melihat beberapa wartawan mendekat.
“Waaahhh ... rumah Tuan Ed besar dan bagus sekali ya” ucap salah satu dari mereka, Ed hanya tersenyum lalu mengajak mereka untuk berbincang.
Sementara itu, Eliana tengah sibuk menata rambut dan make upnya, di bantu oleh beberapa orang perempuan yang entah siapa, Eliana sungguh ingin memperbaiki penampilannya, setelah kemarin tersebar foto – fotonya, yang terlalu alami.
Setelah semuanya siap, kemudian mereka kembali melakukan acara menyiram bunga dengan romantis.
Edgar yang membantu Eliana menyemprotkan air yang berasal dari selang pada bunga – bunga di hadapannya, kini tengah berpose sambil tersenyum, begitupun Eliana.
“Apa?” eliana mengedikkan bahunya, menantang Edgar, Edgar yang kesal ikut mengedikkan wajahnya, “Apa? Apa?” balas Edgar berkomat – kamit.
Eliana tersenyum kikuk, sambil menatap kamera, tanpa dia sadari jika selang yang dia pegang menyemprot wajah edgar. Edgar yang tidak terima langsung membalas perbuatan Eliana, hingga akhirnya terjadilah aksi kejar – kejaran, sambil siram – siraman. Seketika tubuh mereka sudah basah kuyup. Terlihat jelas gambar wajah bahagia, kompak, dan harmonis mereka. Hingga menimbulkan decak kagum dari mereka yang melihatnya.
Edgar yang memiliki usia jauh di atas Eliana terlihat sangat mengemong, dan mau membantu Eliana, Eliana yang jelas masih sangat muda, terlihat penurut, dan sangat baik pada Edgar dan anak – anak sambungnya.
Selesai basah – basahan, akhirnya mereka berganti pakaian dan bersiap kembali untuk melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu sesi tanya jawab.
Edgar dan Eliana duduk berdampingan di sebuah kursi, duduk dengan santai di temani dengan teh hangat yang masih mengepul dan beberapa camilan, sesekali mereka tersenyum ke arah kamera, meskipun usia mereka terpau jauh, tapi mereka terlihat serasi.
“Pak Edgar, pertanyaan pertama untuk anda, Apa arti rumah bagi Anda?” salah seorang dari mereka mulai melontarkan pertanyaan pada Edgar, Edgar terlihat kalem dan santai menerima berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan.
“Arti rumah bagiku? Aaahhh ... aku membangun rumah ini untuk di huni oleh istriku” Edgar menepuk punggung Eliana, menatapnya sekilas lalu melanjutkan ucapannya.
“juga di huni oleh putra – putriku, rumah bagiku bukan hanya sekedar tempat pulang, tapi juga saksi ketika kami berbagi, dan bukti jika aku sangat mencintai keluargaku” ucap Edgar sambil menerawang. Entah apa yang sedang dia pikirkan sesungguhnya.
“Apa arti keluarga bagimu?” tanya mereka lagi bergantian.
“Keluarga? Keluarga utuh adalah hal yang selalu ingin aku miliki dari dulu, dan sekarang aku sudah mendapatkan keluarga utuhku, aku akan membangun keluarga yang bahagia bersama perempuan ini, perempuan ini sangat berarti bagiku, dan dia dan anak - anaklah arti keluarga sesungguhnya bagiku” ucap Edgar yakin, sambil memegang jemari Eliana, Eliana bergetar sambil tersenyum kikuk.
“Lalu, bagaimana tanggapan Anda tentang gosip miring kemarin, yang menimpa istri Anda?” pertanyaan kembali terlontar, dan Edgar kembali bersiap menjawab.
“Ah, kalian pasti tahu, usia kami terpaut sangat jauh, aku sangat memahami jiwa istriku yang masih ingin bersenang – senang, aku percaya padanya, dia perempuan yang setia, dia juga perempuan yang sangat lembut, dan mampu menjaga anak – anakku dengan sangat baik” jawab Edgar yang membuat para wartawan menganggukan kepalanya berkali – kali.
__ADS_1
“Apa kalian memiliki rencana untuk memiliki momongan kembali dalam waktu dekat ini??”
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ... “ pertanyaan tadi membuat Eliana langsung tersedak, tapi Edgar menjawabnya dengan santai.
“Yah ... tentu saja, jika Tuhan menghendaki, anak – anak akan senang jika kedatangan adik baru di rumah ini” Edgar terkekeh, sementara Eliana hanya mendelik.
“Pertanyaan terakhir ya Pak Ed”
“Silahkan”
“Apa kalian memiliki nama panggilan khusus? Maksud saya nama panggilan kesayangan kalian apa?”
“Hah?” Eliana terbelalak
‘Si Tua!’ hati Eliana terbahak.
“Saya memanggilnya dengan panggilan yang umum” jawab Edgar mesem,
“Apa pak?” tanya mereka semakin kepo.
“SAYANG” ucap Edgar melirik Eliana dengan senyuman mengembang.
“Hah?” Eliana terbelalak,
“Kalau Nyonya El, memanggil Tuan Ed dengan sebutan apa?” tanya mereka semakin penasaran.
“Hahaha” Eliana tertawa, sambil memicingkan matanya, mencoba berfikir mencari nama panggilan dadakan untuk suami galaknya.
“AA” kata Eliana sambil tersenyum malu – malu”
“Hahaha ...” Edgar tertawa kikuk, lalu mendekati Eliana, dan berbisik.
“Apa itu AA??” bisik edgar.
“AA itu singkatan dari AKI-AKI”
.
.
Bersambung ...
.
.
__ADS_1