
Aku terusik dari tidur nyenyakku, kala kurasakan ada sesuatu yang berat menimpa perutku, apa ini?.
Perlahan aku membuka mata, meski masih terasa berat karena mengantuk tapi aku memaksakan membukanya.
Deg ... !
Sesuatu yang menimpa perutku itu ternyata tangan si AA tampan, ya ampuuunnn ... apa semalaman dia tidur seperti ini?? Apa semalaman dia tidur memelukku?
Tangannya menjulur di atas perutku, sementara tubuhnya terjuntai kebawah, dan kepalanya bersandar di bantal yang aku gunakan, sungguh terlalu dia. Jangan-jangan dia mau mencari kesempatan dalam kesempitan lagi.
Duh ... gimana cara nyingkirin tangan segede gaban ini ya? Kalau aku banyak gerak, nanti dia malah bangun, duh ... aku tidak ingin dia terbangun di saat posisi kami dalam keadaan seperti ini. Bisa gaswat ini!.
Perlahan, tangan itu mengerjap, sedikit terkesiap kaget, namun akhirnya aku kembali pura-pura tidur. Perlahan tangannya meraba keningku, dih ... aku itu sakit menstruasi bukan sakit demam.
Etapi, sebentar ... setelah meraba kening, kenapa dia juga meraba pipiku ya? Dasar mesum! Sungguh dia sedang mencari kesempatan dalam keadaan aku seperti ini! Tidak bisa dibiarkan!
“Mau apa kau??” sentakku langsung membuka mata, dan mencengkram tangannya kuat.
“Kau sudah bangun?” dia balik bertanya tanpa dosa, dengan wajah calm, dan so kiyuuutt.
“Kalau mataku terbuka, ya berarti aku sudah bangun!” ucapku kesal, jangan-jangan kalau aku gak keburu bangun, dia juga mau *****-***** bagian tubuhku yang lain lagi. Ish ...
“Gimana? Udah baikan?” tanyanya lagi, masih dengan wajah tanpa bersalahnya.
“Masih sakit sedikit” jawabku acuh, memperagakan ukuran sedikit dengan menjentikan ujung jariku.
“Baguslah, itu artinya aku tidak perlu lagi memijat perutmu itu” ucapnya sambil mengarahkan pandangannya pada perutku yang sudah terbuka, mungkin tadi selimutku sempat melorot tanpa aku sadari, Ish ... memalukan!. Secepat kilat aku segera menutupi kembali perutku dengan selimut.
“Memangnya dari tadi kau memijit perutku?” tanyaku, bingung. Apakah mungkin si AA mau melakukan hal seperti itu?.
“Kau lupa? Kau yang memintanya!” wajah datar dan dinginnya langsung keluar, di tambah tanduk dan juga asap yang mulai mengepul dari atas kepalanya, pertanda dia sudah mulai marah. Hish ...
“Hah? Sungguh? Pasti aku sedang tidak sadar” ucapku acuh, padahal aku ingat sih, aku memang suka manja kalau anggahota tubuhku ada yang sakit. Terbiasa kala ada Ibu dulu, kalau sakit pasti selalu dimanjakan.
“Apa???” dia mulai mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
“Ya elah, gitu aja marah” aku mengalihkan pandanganku. Menatap kesekeliling asal tidak bertatapan dengan si AA.
“Dasar tidak tahu terimakasih! Mulai malam ini, tidur di luar!” seringainya, membuatku terlonjak. Kemudian dia beranjak pergi ke dalam kamar mandi, sambil mengurut pinggangnya. Dasar Aki-Aki!
Hhuuuhhh ... aku menarik napas panjang, kenapa sih? Dia itu sukanya marah-marah? Coba deh kalau dia itu sedikiiittt aja tersenyum, pasti akan lebih tamvan lagi kan??.
Aku mengedarkan pandangan, ternyata hari sudah gelap, sudah berapa lama aku tertidur dengan sentuhan tangannya? Aku tertidur? Apa karena aku menikmatinya? Ish ... aku tidak suka pikiran kotorku!.
Dinginnya angin malam, di tambah dinginnya suhu AC, tidak sebanding dengan dinginnya sikapmu AA, sikapmu itu mampu membekukan hati, kulit, hingga daging dan menusuk tulang, huh ... aku tak sanggup!.
“Mau kemana kamu? Bawa-bawa bantal sama selimut segala?” tanyanya datar, saat dia keluar dari kamar mandi, dan melihatku tengah memangku selimut dan bantal, ish ... bukannya tadi dia yang nyuruh aku buat tidur di luar? Dasar pikun.
“Oooohhh ... ini? Ini buat temen tidur aku, ya siapa tahu aja, bantal dan selimut ini bisa aku ajak ngobrol sebelum tidur kan? Kalau aku ngomong sendiri tanpa benda di sampingku, nanti aku di sangka gendeng lagi” jawabku sambil mendelik, gemas.
“Lah? Emang udah gendeng kan?” balasnya pelan, tapi aku masih bisa mendengar ucapannya.
“Mending aku gendeng, daripada gak peka!” ucapku, sambil melangkahkan kaki, menuju keluar kamar, tidak lupa bantal dan selimut sudah berada di tangan.
‘Lihat aja, dia belum pernah sih, di bully sama emak-emak readers, ... wkwkwk’
‘Hah? Sejak kapan dia tahu kegiatanku yang suka baca via aplikasi? Gahol juga dia’
“Ngomong apa sih?” ucapku acuh,
“Gak ada, ya udah sanah kalau mau ngobrol sama bantal, jangan lupa bantal jangan di ajakin ghibah! Dosa!” ucapnya sambil merangkak naik ke atas ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya. Dasar jahat! Aku lagi sakit tapi malah di usir, dan dia enak-enakan tidur di atas ranjang empuk itu?. Hiks ...
“Gak usah di suruh! Aku bakalan pergi!” ucapku langsung ngacir nyari lapak buat aku tidur malam ini. Ngapain tidur sekamar juga? Toh selama ini kita tidur terpisah juga kan? Dia di kursi, dan aku di ranjang. Ish ... suami istri macam apa kayak gitu??.
Langkahku terhenti di hadapan kursi yang berhadapan dengan televisi, aku segera melempar bantal dan selimut yang dari tadi aku pangku, lalu aku mulai menyambar remot, lalu memutar chanel televisi yang aku sukai. Lalu chanel berhenti pada sebuah tayangan di chanel ikan terbang. Dengan judul ‘suamiku kanebo kering’.
“Lah? Itu mah aku, hhheee ...” aku terkikik geli melihat judulnya, ada-ada saja.
Lama, mataku belum juga terpejam, apa karena tadi aku kelamaan tidur ya? Akhirnya aku bangkit, dan kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar Aksa.
Kulihat Aksa tengah bergerak gelisah, entah apa yang berada dalam mimpinya.
__ADS_1
“Aksa ...” bisikku,
“Bibi ...” tiba-tiba mata Aksa terbuka, dan langsung menatapku.
“Belum tidur?” tanyaku sambil menghampirinya, duduk di tepi ranjangnya.
“Belum” jawabnya sambil menggeleng.
“Kenapa?” tanyaku membelai rambut hitam legamnya.
“Aku mimpi bertemu perempuan cantik, dia bilang dia Ibuku,” ucap Aksa polos.
Deg ...
Ada rasa aneh dari dalam hatiku, rasa apa? Entah.
“Aksa ... mau Bibi bacakan cerita sebelum tidur?” tawarku.
“Emh, mau” Aksa menganggukan kepalanya, kemudian kembali berbaring.
“Aksa mau cerita apa?” tanyaku sambil meraih buku cerita yang berada di atas nakas, di samping ranjang.
“Apapun yang Bibi ceritakan aku suka” Aksa mulai menguap,
“Baiklah ...”
Lalu aku mulai menceritakan sebuah cerita pada Aksa dengan penuh penghayatan, hingga Aksa dengan mudah bisa terlelap dengan tenang, aku memeluknya perlahan.
“Aksa ... sebenarnya Ibumu di mana?” gumamku sembari menyeka air mata yang hendak menetes, aku sangat menyayangi Aksa, tapi ... kenapa jadi banyak hal buruk yang berlalu lalang dalam fikiranku???.
.
Bersambung .........
.
__ADS_1
AA duda sama Mbak El balik lagi nih, jangan lupa dukungannya yaaaa ...