
“Jangan bohong, aku tahu kamu pasti lagi punya masalah kan? Ayo cerita, anggap saja aku ini Kakakmu” ucapnya lagi, tersenyum lembut dan tulus, aku hanya bisa menghela napas. Haruskah ku katakan resahku padanya? Heeeyyy ... dia dan aku adalah manusia biasa, sebiasa-biasanya manusia, mulut boleh bilang tidak apa-apa, tapi hati?? Siapa yang tahu??.
“Emmmhh ...” masih berfikir, masih menimang, kira-kira pantaskah aku mengatakannya?.
“Kemarin malam, aku dengar kalian habis dinner ya?? Selamat ya ...” ucapnya, seolah faham, jika aku bukan manusia yang mudah mengungkapkan kata pada sembarang orang, dia mengalihkan pembicaraan.
“Hmht ...” jawabku lesu,
“Gimana?? Apa kalian sudah melakukannya??” Mbak Chelsi tergelak,
Melakukan?? Melakukan apa?? Jika yang di maksud Mbak Chelsi, melakukan hak dan kewajiban sebagai seorang suami atau istri, maka jawabannya adalah gatot!.
Memang sih, kemarin malam sempat mau mencobanya, tapi ...
Flashbak on.
Di dalam mobil ketika aku sudah selesai dengan acara yang di siapkan suamiku, aku duduk manis, sambil berkali-kali menguap, tidak tahan oleh kantuk, para AA itu, sukses menyanyikan beberapa tembang lawas, yang sukses membuatku hampir terlelap.
Pak Toto masih belum masuk ke dalam mobil, setelah sebelumnya AA membisikkan sesuatu yang entah apa, Pak Toto malah berlari menjauh seperti sedang mencari sesuatu, aku memperhatikannya dari dalam mobil.
AA masuk kedalam mobil, lalu duduk di sampingku, tersenyum kikuk, dan aku justru lebih kikuk darinya, sekarang apalagi yang ingin dia lakukan??.
“El, aku ingin bicara” ucapnya sambil menatapku,
Deg ...
Tatapannya, sungguh mencabik-cabik hatiku, aawww ...
“Bicara apa??” tanyaku, balik menatapnya yang kini sudah menunduk,
“Itu ... aku ...” suaranya tertahan, seperti sedang menimang sesuatu,
“Aku?? Kenapa??” aku semakin penasaran,
“Emmhh ...” tiba-tiba AA memonyongkan bibirnya ke arah pipiku, mau ngapain dia??.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Apa ciuman pertamaku akan terjadi disini?? Hatiku berkecamuk hebat.
Sesungguhnya, AA itu meskipun usianya jauh lebih tua dariku, tapi dia itu masih sangat mempesyona kok, wajahnya masih tampan, tubuhnya atletis, dan gagah, hanya saja usianya yang terpaut sangat jauh, membuatku enggan mengakuinya.
AA masih memonyongkan bibirnya, dan perlahan, karena aku shock, dan merasa belum siap, aku menggeser tubuhku ke samping, hingga tubuhku mentok di pintu mobil, AA masih memajukan wajahnya dengan mata tertutup, dan bibirnya tetap monyong mengarah bibirku, perlahan akupun menutup mataku, walaupun AA masih belum menyatakan cintanya padaku, tapi aku harus bisa belajar menerimanya.
Duuuuttt ...
__ADS_1
“Emh ... bau apaan nih??” refleks, aku membuka mata, lalu menutup hidung, kala kurasakan ada bau yang sangat menyengat hinggap di hidungku.
“Ehehehe ... maaf, sepertinya aku masuk angin” AA terkekeh, lalu gelagapan, mungkin karena merasa malu, telah mengacaukan acara ciuman pertama kami.
“Hish ... ternyata orang cakep kentutnya bau juga!” aku mendengus kesal, sambil membuka jendela mobil, mengeluarkan gas beracun yang keluar dari salah satu anggahota badan AA.
Nyebelin banget gak sih?? Bahkan di saat sepenting ini, AA sendiri yang mengacaukannya, padahal, itu kan yang pertama bagiku. Hiks ...
“Maaf, aku ...” suasana semakin kikuk,
Aku membuang wajah ke sembarang arah, nasibku kok begini amat ya?? Punya suami gak ada romantisnya sama sekali, ish ...
AA kembali memonyongkan bibirnya, terlihat dia kembali bersemangat, begitu pula denganku, aku kembali semangat ingin mencobanya kembali.
Jarak antara bibir AA dengan bibirku, tinggal beberapa senti lagi, mungkin inilah saatnya,
Ceklek ...
“Maaf Tuan tukang cendolnya ... eeehhh ... maaf Tuan!!”
Brrruukkkk!!!
Pintu mobil kembali tertutup, terlihat Pak Toto sedang mengusap dadanya mungkin karena shock, melihat acara live orang mau ciuman, apalagi posisi AA, duuuhhh ... bikin malu.
Kesal, shock, malu, bercampur aduk jadi satu.
“Pak Toto Jalaaaannn!!!” teriakku prustasi, karena dua kali gagal melakukan first kiss dengan AA, sementara AA hanya berdehem, lalu membuang muka.
“Hhhhh ...” aku menenggelamkan wajahku di meja.
“Tenang ... kamu bisa mengambil hati Ed, melalui perhatian, kamu tahu?? Ed itu sebenarnya pria kesepian, yah ... di balik sikapnya yang galak itu” ucap Mbak Chelsi sambil terkekeh.
“Perhatian?? Perhatian yang seperti apa??” tanyaku bingung.
“Sinih ... ikut aku” Mbak Chelsi menarik lenganku menuju tempat pavoriteku dulu.
“Mbak yakin?? Mau menaklukan hati AA dengan cara ini??” tanyaku menatap Mbak Chelsi, sambil memegang spatula,
“Yakin,” Mbak Chelsi mengangguk,
“Bukannya AA itu gak suka makanan yang seperti ini ya?? Makanannya kan harus teratur banget, gak boleh begini, gak boleh begitu” ucapku nyerocos sendiri, sambil membumbui ikan di hadapanku.
“Haha ... kamu itu terlalu polos, Ed itu mau makan apa aja kok, selama yang memasaknya orang yang sangat di cintainya” ucapnya sambil tertawa.
“Mbak Chelsi pernah mencobanya??” tanyaku masih ragu,
“Pernah, dulu hobyku adalah memasak, hanya saja, karena Ed jarang pulang, aku jadi jarang masak lagi, tapi kalau dia ada di rumah, dia suka makan semua masakan yang aku buat kok” jawabnya yakin.
“Ya udah deh, aku coba, nanti aku anterin ke kantornya” aku mengangguk pasrah, sambil mengaduk masakan yang berada di dalam wajan.
__ADS_1
“Nah, gitu dong ... aku seneng kalau kalian akur, dan mencoba menjalani kehidupan rumah tangga yang baik” Mbak Chelsi tersenyum tulus padaku, dan aku membalas senyuman tulusnya.
***
Di kantor ...
“Jadi, apa Tuan sudah melakukannya??” tanya Aldo antusias mendengar cerita Ed,
“Belum ...” jawab Ed, sambil menekan pelipisnya perlahan.
“Loh?? Jadi belum ini sama sekali??” Aldo menyatukan kedua tangannya, memperagakan orang berciuman.
“Belum ...” Jawab Ed lesu,
“Yah ... kenapa belum Tuan??” Aldo mendesah kecewa, aneh memang, yang gagal berciuman Edgar, tapi yang merasa kecewa Aldo.
“Waktunya belum pas” ucap Ed lagi, padahal di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sungguh merasa kecewa, dan merutuki ke adaan semalam.
“Ah ... apanya yang tidak pas Tuan?? Tempat, suasana, semuanya sudah sangat mendukung, tapi minimal Tuan sudah mengatakannya bukan??” tanya Aldo menatap Tuannya lagi.
“Mengatakan apa??” Ed menatap Aldo lekat.
“Ya mengatakan perasaan Tuan” Aldo memperjelas maksudnya,
“Memang harus di katakan ya?? Bukannya sikapku sudah mewakili perasaanku??” Ed mengerutkan keningnya,
“Ya ampuuunnn Tuan, tidak semua orang bisa faham dan peka terhadap perasaan lawan jenisnya, perasaan itu harus di ungkapkan Tuan, Tuan kan sudah lebih berpengalaman dariku” Aldo berkali-kali menepuk jidatnya.
“Dari dulu, aku tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu, rasanya geli saja” ucap Ed sambil bergidik.
“Kok ngeri sih? Tuan hanya tinggal bilang ‘Aku cinta kamu’ itu saja Tuan, atau bilang ‘I love you’”
“Tidak! Sampai matipun aku tidak ingin mengatakannya, itu hanya akan menjatuhkan harga diriku saja” ucap Ed menggelengkan kepalanya kuat.
“Yah ... Tuan ini, sudah, ayo bilang I love you!” Aldo memaksa,
“I ... I ... I ... Aku ... Aku ... Aku ... Aaaaaaaahhhhhh ... tidak! Jangan paksa aku!” Ed membekap mulutnya sendiri, merasa jijik dengan yang di ucapkan mulutnya.
“Aku cinta kamu!, ayo Tuan pasti bisa!” Aldo membulatkan tangannya.
“Aku ... Aaaaarrrggghh!!! Cukup! Kau keluar saja dari ruanganku!” Ed membentikkan telunjuknya,
“Ah ... Tuan, kalau seperti itu, Nyonya El tidak akan bisa Tuan miliki, Nyonya El akan berpaling dari Tuan” ancam Aldo,
“Benar juga, ya sudah, ayo kita belajar lagi” Edgar membenahi posisinya, agar semakin relaks,
“Aku cinta kamu!” ucap Aldo lantang tepat di hadapan Ed,
“Aku cin cin cinta kamu!” akhirnya Ed mampu mengucapkan kata keramat itu.
__ADS_1
Tttrrraaaannnggg!!!!
Bersambung ......