
Pendar cahaya lampu hias di taman, menemaniku malam ini, di samping bangku yang aku duduki terdapat kolam ikan kecil, yang di penuhi dengan ikan hias warna-warni.
Dulu, aku selalu memimpikan memiliki rumah yang ada taman bunganya juga ada kolam ikan hiasnya, rasanya terasa asri dan adem saja. Dan sekarang apa yang menjadi mimpiku dulu, kini sudah terwujud. Orang-orang melihatku sebagai Nyonya Eliana, istri sah dari seorang pengusaha kaya raya Tuan Edgar Adiswara. Meskipun, kadang apa yang mereka lihat belum tentu yang sebenarnya.
Beberapa bulan hidup bersama Edgar, rasanya hanya begini-begini saja, aku yang selalu di dzalimi habis-habisan sama dia, dan dia yang semena-mena pada hidupku.
Ah ... rasanya aku ingin menyerah saja, bolehkah???.
Oh, iya. Hobby ku adalah membaca buku, selain buku berbentuk fisik, aku juga senang membaca buku fiksi di berbagai platform. Rasanya, membaca buku dengan kehaluan yang luar biasa itu, bisa membuatku melupakan dunia nyata yang di penuhi dengan beban.
Tapi, jika di fikir-fikir, setelah aku membaca beberapa novel, aku jadi memikirkan satu hal. Alasan. Iyah, kemarin malam aku membaca beberapa karya fiksi, dan dari setiap karya fiksi yang aku baca kebanyakan tentang sebuah pernikahan, entah yang awalnya di paksa, atau saling benci tapi ujungnya jadi bucin, entah yang awalnya cinta tapi berujung lara, tapi dari berbagai kisah yang aku baca, mereka selalu punya alasan kenapa mereka harus menikah. Entah karena di jodohkan, karena hutang, karena terjebak, atau selainnya.
Nah aku? Harusnya aku juga punya alasan, kenapa aku harus menikah dengan AA tamvan, ah iya ... karena Ibu, tapi sekarang Ibu sudah tidak ada, lalu? Alasan apalagi yang bisa aku gunakan untuk bisa bertahan dengan suami galak model AA??.
Cinta? Kami mungkin tidak saling mencintai. Karena hutang piutang?? Juga aku tidak memiliki sangkut paut hutang piutang dengannya. Atau karena apa sih??. Yang ada aku di perlakukan dengan sangat tidak baik di rumah ini. Lalu? Kenapa aku masih saja mau bertahan?.
Lama, aku terpekur di samping kolam ikan ini, berharap mendapat jawaban atas pertanyaanku sendiri.
“Ah ... dari pada aku melamun gak jelas di sini, mendingan aku me time aja, sudah cukup lama aku tidak memanjakan diriku sendiri”
Aku melangkahkan kaki, menuju ke dalam rumah, lalu menuju ke dalam kamar, kemudian langkahku berhenti di hadapan cermin besar. Aku menatap pantulan wajah itu dengan teliti, rasanya aku hampir lupa merawat diriku sendiri. Setiap hari hanya di sibukkan dengan pekerjaan rumah dan urusan anak-anak yang tiada ujungnya. Aku sudah seperti Ibu-Ibu anak tujuh saja.
“Oke, semua tugasku sudah selesai, anak-anak sudah tidur, jadi aku akan sedikit merawat wajahku” gumamku, lalu aku meraih cream masker wajah, lalu perlahan aku menggunakannya, wangi lemon langsung menyeruak ke dalam hidungku. Rasanya begitu segar, dan membuatku perlahan menjadi relax.
Aku menunggu tiga puluh menit, sebelum di bersihkan. Aku duduk di tepi ranjang, sambil selonjoran, rasanya begitu nyaman. Hingga sayup aku hampir saja tertidur.
__ADS_1
“Bibi ... Bibi ...” sebuah tangan kecil mengguncang tubuhku, aku yang hampir saja akan terbuai ke alam mimpi, kembali mengerjapkan mataku.
“Aksa? Ada apa?” tanyaku sambil menguap.
“Kenapa wajah Bibi putih??” Aksa menatapku dalam, sambil menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, mencoba menelisik wajahku.
“Ah ... ini? Bibi sedang menggunakan masker wajah” ucapku dengan suara tertahan, berusaha agar tidak merusak masker yang ku gunakan.
“Ooohhh ... biar apa pakai masker?” tanya nya lagi semakin ingin tahu.
“Biar cantik” jawabku, kembali dengan suara tertahan.
“Bibi ... Kakak Azura sakit, dahinya panas” ucap Aksa kemudian, segera aku membelalakan kedua mataku, aku segera berdiri lalu menuntun Aksa untuk segera memeriksa Azura, yang katanya sakit.
Tiba di kamar Azura, dengan tergesa aku segera memeriksa dahinya, dan benar saja Azura mengalami demam tinggi, sementara itu tubuhnya sangat menggigil.
“Azura ...” aku mengelus pucuk kepala Azura dengan sayang, aku tahu betul, seperti apa rasanya di tinggal seorang Ibu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi AA belum juga pulang. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku hanya bisa mengobati Azura dengan obat penurun demam, dan mengompresnya dengan air.
Dua jam berlalu, tapi Azura masih saja mengalami demam, aku semakin bingung dan panik di buatnya, haruskah aku membawanya ke rumah sakit? Tapi, malam-malam begini? Aku harus membopong Azura?. Sementara itu para penjaga rumah ini tetap berada di luar.
Beberapa kali, aku mencoba menghubungi AA, tapi tidak ada jawaban, sementara waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, berkali aku menguap, rasa lelah karena pekerjaan tadi siang, membuatku tak berdaya, hampir saja aku tidak bisa melawan kantukku.
Aku berdiri, untuk mengambil air minum untuk Azura, tapi tiba-tiba saja tangan Azura mencengkram tanganku erat.
__ADS_1
“Ibu ... jangan pergi” ucapnya dengan suara bergetar dan terbata. Aku diam mematung, lalu menatapnya dengan mata sudah berkaca-kaca.
“Ibu tidak akan pergi ...” ucapku, kembali duduk, lalu memeluk tubuhnya yang terasa panas. Sementara Aksa sudah tertidur di ujung ranjang Azura, dia bilang ingin menemani Kakaknya.
Aku menautkan jariku pada jari jemari Azura, sesekali aku mengganti kompresan Azura. Lambat, aku mulai ikut tertidur di samping Azura, dengan genggaman yang tidak terlepaskan.
“El ... bangun!” tubuhku kembali tersentak, kala kurasakan ada tangan yang mengguncang tubuhku.
“Engh ...” kurasakan leherku begitu kaku,
“Asataga!!! Kenapa dengan wajahmu???” tiba-tiba orang yang membangunkan aku menunjuk-nunjuk wajahku, memangnya kenapa dengan wajahku??. Aku hanya bisa menggaruk tengkukku, sambil mengerutkan keningku.
“Ah ... lupakan! Kenapa kau menelponku? dan kenapa kau tidur di sini??” tanyanya dengan wajah sayunya, mungkin karena lelah.
“Azura sakit” ucapku datar, merasa jengkel dengan sikap AA yang sama sekali tidak perhatian pada anak-anak nya.
“Apa? Azura sakit?? Apanya yang sakit??” dia mulai terlihat panik, sambil meraba-raba dahi Azura.
“Demam” ucapku singkat.
“Ah ... maafkan Ayah, kita bawa saja Azura ke rumah sakit!” seketika AA membopong tubuh Azura, di ikuti olehku.
“Ah, tunggu! Bersihkan dulu wajahmu! Jangan sampai orang-orang mengira, aku berjalan bersama seorang hantu!” ucapnya dingin.
Aku mengernyitkan dahiku, lalu meraba wajahku. Ah ... bahkan aku lupa, tadi aku tengah menggunakan masker untuk mempercantik wajahku, tapi apa?? Seharusnya aku menggunakan masker dalam tiga puluh menit, dan ini malah berjam-jam. Jadilah wajahku agak sedikit berkerut. Huh ... niat pengen cantik, malah jadi keriput kayak nenek-nenek.
__ADS_1
Eh? Apa suamiku sedang mengutukku ya? Aku kan sering banget bilang dia udah tua. Bahkan panggilanku padanya juga AKI-AKI.