
Edgar pov
“Tuan! Gawat Tuan! Gawat!” Aldo datang terengah-engah dengan wajah paniknya, di kala aku tengah berdiri menggunakan jas, dan bersiap untuk pulang. Hari ini cukup melelahkan untukku.
“Apanya yang gawat Aldo?” tanyaku lemah, pekerjaan hari ini sungguh sangat menguras isi kepalaku, akhir-akhir ini, aku jadi sering pulang larut, karena pekerjaan yang tiada berujung, sementara itu aku bisa tenang meninggalkan anak-anak di rumah, karena aku percaya pada Eliana.
“Nyonya, Tuan. Nyonya!” teriak Aldo lagi, membuatku semakin bingung, dan langsung meningkatkan awasku.Perasaanku menjadi tidak enak seketika.
“Kenapa lagi dengan perempuan itu?” tanyaku, sambil memasukkan ponsel kedalam saku celanaku.
“Nyonya ada di club malam bersama geng Drove Girl tuan!” jelas Aldo akhirnya, masih dengan napas terengah.
“Apa??!! Bagaimana bisa??!!” teriakku tak percaya, bagaimana mungkin, Eliana bisa pergi ketempat seperti itu, bersama para perempuan itu?.
“Entahlah Tuan,” Aldo masih panik.
“Kita susul Eliana!” perintahku, langsung turun kelantai bawah, menuju parkiran dan segera menaiki mobil.
“Aldo, kenapa mobilnya pelan sekali?” tanyaku yang sudah di landa cemas, apa yang akan terjadi pada perempuan itu? Sekalipun aku baru mengenal Eliana, tapi aku tahu betul latar belakangnya, Eliana adalah perempuan baik – baik, yang tidak mungkin pergi ke tempat – tempat seperti itu.
“Kita akan mencari jalan alternatif lain Tuan” Aldo memutar setir,
“Cari jalan tercepat untuk menuju tempat terkutuk itu!” perintahku, dan Aldo langsung menganggukan kepalanya.
“Tuan kita sudah tiba” ucap Aldo, lalu turun dari mobil, dan membukakan pintu mobil untukku.
“Ayo cepat! Sebelum gadis itu melakukan kesalahan!” teriakku, sambil berjalan menuju pintu masuk.
“Maaf Tuan, anda di larang masuk!” tegas kedua orang yang berada di antara pintu masuk.
“Kenapa?” aku mengernyitkan keningku,
“Kostum anda tidak sesuai dengan tema kita malam ini Tuan” jelasnya, kostum? Kostum apa yang mereka maksud?.
Aku melirik Aldo, Aldo itu masih muda, aku yakin dia pasti mengerti maksudku.
“Tuan sini!” Aldo menarik tanganku, lalu mengajakku untuk kembali masuk kedalam mobil.
“Pakai ini Tuan” Aldo menyodorkan satu setel pakaiannya, yang sebelumnya dia ambil dari dalam bagasi mobil.
“Apa ini? Apa kau sudah gila? Pakaian macam apa ini?” dahiku mengkerut kala melihat baju Aldo, aku yakin aku akan sesak memakai baju kekecilan ini.
__ADS_1
“Pakai saja Tuan, demi menyelamatkan Nyonya” ucap Aldo sambil menahan senyuman.
Terpaksa aku menggunakan pakaian Aldo, celana jeans ketat, kaos ketat, tak lupa Aldo juga menata rambutku, hingga rambutku yang awalnya di tata ke belakang dengan rapi, kini jadi di tata ke atas, aku sungguh merasa tidak nyaman. Aldo juga memasang kain di dahiku, untuk di ikatkan. Apa – apaan ini? Aku sungguh, sungguh sangat tidak nyaman, apalagi ketika berjalan aku harus sedikit mengangkang, karena selangkanganku terasa terjepit, karena celana Aldo jelas bukan ukuranku.
Akhirnya penjaga itu mempersilahkan kami masuk, ku edarkan pandangan mencari sosok Eliana, sorot lampu yang berwarna – warni membuat penglihatanku agak sedikit kabur.
Tapi akhirnya aku menangkap sebuah pemandangan, Eliana sedang duduk bersama geng drove girl, lalu di sampingnya ada seorang pria muda, yang mungkin seumuran dengannya.
Oh Tuhaaannn ... ingin rasanya aku marah! Aku bahkan sudah membulatkan tanganku erat! Perempuan itu, selalu menguji kesabaranku!.
Tapi tiba-tiba ...
Lampu mati, music berhenti, dan orang-orang mulai berlarian, akupun di tarik Aldo, dan Aldo membawaku berjalan melewati sebuah lorong, entah kemana, sementara aku dengan celana kesempitan ini, hanya bisa mengikuti Aldo, aku tahu, jika seperti ini pasti ada hal urgent.
“Tuan! Tunggu di sini, biar saya yang akan menyelamatkan Nyonya” bisik Aldo, dia kembali bergegas masuk kedalam, aku hanya bisa menunggunya.
Selang beberapa lama, Aldo datang dengan membopong tubuh Eliana yang sudah mabuk berat, dia berjalan sempoyongan, sambil meracau.
“Kau! Kau pria tua yang membuat hidupku sulit! Hahaha ...” teriaknya sambil menunjuk wajahku, Aldo mengedikkan kedua bahunya. Kemudian berlalu, meninggalkan kami.
“Kenapa kau ada di sini? Dasar perempuan merepotkan! Bagaimana jika media menangkap keberadaanmu? Mau di taruh di mana mukaku ini?!” teriakku gemas, jengkel, dan kesel bercampur aduk jadi satu.
“Jelas aku peduli! Kau istriku!” teriakku kalap, aku sungguh marah melihatnya seperti ini, dia tak ubahnya seperti perempuan rapuh, yang sudah kehilangan separuh hidupnya.
“Istri? Hahaha ... aku ini pembantu! Upik abu!” dia memajukan wajahnya tepat pada wajahku, tercium aroma aneh dari mulutnya, ish ...
“Jika kau tidak mencintaiku, kenapa kau menikahiku? Aku ingin menikah dengan pangeran yang seusia denganku, yang mencintaiku, kami akan menikah, punya anak, lalu kami bahagiaaaaa!!” teriaknya sambil merentangkan kedua tangannya, menghirup napas lalu tertawa terbahak.
“Kau tua! Aku membenci priaaa ttuuaaa!! Hahaha ...” lanjutnya lagi, membuatku semakin marah!.
“Apa? Apa? Apa? Kau mau apa? Mau marah? Marah saja haha ... sebentar, kenapa kau mirip burung ungry bird? Wajahmu merah, lalu ada asap dari kepalamu, itu ... itu ...” racaunya sambil menunjuk kepalaku, dia berjingkrak, lalu tertawa terbahak.
“Keluarkan saja semua unek – unekmu itu! Dan lihat! Besok hukuman apa yang akan aku berikan padamu!” geramku.
“Hiks ... hiks ... hiks ... aku ingin ikut Ibu, aku tidak ingin ikut kau, hiks ...” tiba – tiba dia menangis, aku hendak meraihnya, tapi urung, kala Aldo sudah datang dengan mobilnya.
“Tuan! Ayo masuk” teriak Aldo sambil celingukan,
“Ayo pulang!” ajakku sambil meraih tangannya.
“Lepaskan! Aku tidak mau jadi upik abu lagi! Aku membenci pria tua itu!” dia menghempaskan tanganku. Cukup! Meskipun aku tahu dia tengah mabuk dan tidak sadar, tapi aku tidak suka dengan racauannya.
__ADS_1
“Apa itu kesungguhan hatimu?!” teriakku menatapnya yang tengah limbung.
“Aaaahhh ... kau seksi, jika sedang marah ... haha,” dia menyentuh pipiku, dengan telunjuknya. Aku masih menatapnya dalam, wajahnya begitu kacau, apa hidup denganku selama ini membuatnya sungguh menderita?.
“Iya, aku seksi, ayo kita pulang” aku merendahkan nadaku, lalu menuntunnya untuk pulang.
“Gendooonnggg ...” rajuknya sambil mengambangkan kedua tangannya.
“Jalan!” teriakku sudah tak sabar.
“Gendoooonnggg ...” rajuknya lagi semakin manja.
“Baiklah” aku menurunkan tubuhku, bersiap menggendongnya, dia langsung naik tanpa aba-aba, hingga aku kaget sendiri.
“El, apa aku seksi?” godaku sambil menahan senyum,
“Hummm” gumamnya.
“Apa aku tampan?” tanyaku lagi.
“Huuummm” kembali dia menjawab,
“Apa kau bisa mencintaiku?” spontan, pertanyaan itu terucap begitu saja,
“Hhhooooeeeekkkkk!!!”
“Astaga!!! Eliana!!!! Kenapa kau muntah dia atas punggungku???!!!! Sial! Aldo! Bantu aku!”
Bersambung ...
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ... masukan karya ini kedalam list perpustakaan kalian, dan jangan lupa berikan komentar dan like kalian untuk karya ini yaaaa, makasiiihhh ...
__ADS_1