
“Aku ingin bicara denganmu! Bisa kita bicara sebentar??” Eliana menajamkan pandangannya, seolah ingin menerkam tubuh suaminya hidup-hidup.
“Apa yang ingin kau bicarakan??” tanya Edgar dengan wajah datar.
“Aku sudah ...” Eliana menghentikan ucapannya, mencoba menahan perutnya yang terasa melilit.
Kkkrrruuuccuuukkk ...
“Sudah apa??” Edgar mengedikkan wajahnya, sambil menatap wajah Eliana.
“Sudah ...” Eliana kembali menggantungkan ucapannya, sambil menggigit bibir bagian bawahnya, rasa perih yang berasal dari perutnya, sungguh sangat menyiksanya.
Kkkrruuuccuuukkk ...
“Sudah lapar???” tanya Edgar sambil mengulum senyum, kala mendengar bunyi usus yang tengah berdemo.
“Bukan!!” Eliana menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mempertahankan harga dirinya.
“Lalu apa??” tanya Edgar lagi, yang sudah merasa geli dengan tingkah istrinya.
Kkrruuccuuukk ...
‘Ya ampuuunnn ... kenapa bunyi-bunyi ini gak tahu waktu banget sih??’ batin Eliana meronta.
“Aku sudah tidak tahan lagi!!!” teriak Eliana, dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
“Baiklah, ayo kita makan dulu” Edgar menggandeng bahu Eliana, mendudukkannya di kursi makan.
“Bukan! Aku bukan ingin makan!” Eliana berusaha menjelaskan,
“Lalu? Apa?” Edgar mengerutkan keningnya.
“A aku ...” Eliana kembali menggantung kata-katanya, mencoba merangkai kata dengan baik dan benar.
Kkkrruuccuukkk ...
“Baiklah, kita makan dulu, setelah makan, kau boleh bicara apa saja” ucap Edgar, sambil membuka tudung saji, yang berada di hadapannya.
“Kau tidak memasak??” tanya Edgar menatap Eliana dengan tatapan dinginnya.
“Mana sempat??” ucap Eliana ketus.
__ADS_1
“baiklah, kali ini aku akan mengampunimu, aku yang akan memasak” ucap Edgar sambil meraih celemek yang menggantung di antara lemari piring.
Eliana sudah tidak bisa bergeming lagi, dia hanya menatap punggung suaminya, yang begitu piawai dengan benda-benda di hadapannya.
Eliana menopang dagunya dengan kedua tangannya, Edgar yang merasa di perhatikan, sekilas menoleh pada istrinya yang sedang menganga.
“Apa kau begitu terpesona melihatku??” tanya Edgar kembali fokus pada ayam di hadapannya.
“Hah? A apa?? Kau? Mempesona??” Eliana membelalakan kedua bola matanya.
“Iya, lalu kenapa kau hanya menatapku?” tanya Edgar lagi, dengan tangan sibuk membumbui Ayam di hadapannya, sesekali dia menepuk-nepuk Ayam yang sudah di bumbui itu.
“la lalu aku harus apa?” tanya Eliana dengan raut wajah yang mulai kesal kembali.
“Tidak, hari ini kau cukup duduk cantik saja” ucapan Edgar kembali membuat Eliana merasa kikuk.
Setengah jam kemudian ...
“Makan ini ...” Edgar menyodorkan beberapa makanan di hadapan Eliana, hingga membuat Eliana terperangah, Eliana menggisik matanya berkali-kali,
‘Pria tua ini pandai memasak juga? Pantas saja dia selalu menganggap mudah pada pekerjaan semua orang, ternyata dia pandai dalam segala hal’ bisik batin Eliana.
“Mengampuni? Memangnya aku ini kenapa? Dosa apa yang sudah ku lakukan, hingga aku harus mendapat pengampunan??” Eliana berapi-api, rasa kesal masih menjalar di hatinya.
“kau ingat perjanjian itu kan Nona??” Edgar tersenyum menyeringai.
“Perjanjian? Perjanjian itu jika di setujui oleh kedua belah pihak, dan aku tidak pernah menyetujuinya, perjanjian itu hanya menguntungkan dirimu! Dan malah merugikanku sepenuhnya!” ucap Eliana sarkas.
“Ingat nomor sembilan Nona, di rumah ini aku selalu benar” ucap Edgar sambil menyodorkan sepiring makanan ke hadapan Eliana.
“Sakarepmu AA! Aku lapar!” teriak Eliana, sambil menyambar makanan yang di berikan Edgar, dengan lahap Eliana mulai menyuap makanannya.
“Eeeemmmhh ...” Eliana memanggutkan kepalanya berkali-kali, merasa kagum dengan rasa masakan yang di masak oleh Edgar, rasanya begitu enak, dan mantap.
‘Ternyata masakannya seenak ini? Pantas saja dia selalu banyak protes pada masakan orang lain’ hati Eliana kembali bermonolog.
Sementara itu, Edgar hanya menopang wajahnya dengan kedua tangannya, memperhatikan Eliana yang tengah makan dengan porsi yang lumayan banyak.
“Apa masakanku enak?” tanya Edgar di sela makan Eliana.
“Tidak buruk” ucap Eliana acuh, dengan mulut masih mengunyah.
__ADS_1
Edgar hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah Eliana, yang begitu menikmati makanan hasil karyanya.
“Aku ingin bicara!” ucap Eliana, setelah di rasa dirinya sudah memiliki kekuatan untuk bicara kembali, hatinya masih di penuhi dengan rasa kesal yang luar biasa pada suaminya itu.
“Baiklah, bicaralah, setelah aku selesai mencuci piring” ucap Edgar sambil berlalu, membawa piring bekas makan Eliana.
“A apa? Hish ...” Eliana melipat kedua tangannya di dada, kenapa pula suaminya yang galak itu, tiba-tiba mau melakukan hal-hal seperti ini?.
Selesai mencuci piring, dan membereskan benda-benda yang agak berantakan, Edgar kembali duduk di hadapan Eliana, yang masih komat-kamit seperti sedang membaca mantra.
“El? Sebelum kau yang bicara, bolehkah aku yang bicara duluan?” tanya Edgar, kali ini suaranya sedikit lembut, tidak seperti biasanya.
“Tidak! Aku harus bicara sekarang!” Eliana tidak mau mengalah,
“Tidak El, aku tidak akan membicarakan sesuatu yang panjang lebar, aku hanya ingin mengucapkan satu hal” ucap Edgar setengah memaksa.
“Apa??” akhirnya Eliana mengalah.
“Maafkan aku untuk hari ini” ucap Edgar menurunkan volume suaranya, suara Edgar di buat menjadi selembut mungkin, hingga Eliana yang mendengar suaranya, menjadi sedikit tergugu.
“Ma maaf? Untuk apa?” Eliana gelagapan, untuk pertama kalinya Edgar mengatakan kata MAAF padanya.
“Maaf, karena anak-anakku membuatmu repot, dan lagi, maaf karena mantan Kakak iparku, datang ke sini, dan pasti dia telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu bukan?” Edgar menatap Eliana dalam,
“Hah?? Eee ... tidak apa-apa” Eliana menggelengkan kepalanya, hatinya perlahan menjadi luruh, karena permintaan maaf dari Edgar.
“Apa yang di katakan Imran, mungkin sangat membuatmu tersinggung, tapi sungguh semua itu di luar kendaliku, aku janji, lain kali aku akan memperingatkan Imran, agar tidak berani macam-macam padamu” ucap Edgar dengan penuh penekanan pada kata Imran, seolah dia akan menghajar pria bernama Imran tersebut.
“eeehhh ... aku tidak apa-apa, kau tidak perlu melakukan apapun” Eliana kembali menggeleng, sejenak dia melupakan semua unek-uneknya, yang tadi sudah berada di ubun-ubun.
“Maafkan semua salahku” ucap Edgar dengan penuh penyesalan.
“Aku tidak apa-apa, aku sangat menyayangi anak-anak, aku akan selalu berada di sisi anak-anak” ucap Eliana melemah, amarah yang tadi sudah membuncah, entah hilang kemana.
“Baiklah, itu memang sudah seharusnya, jangan tinggalkan anak-anak, tetap tinggal di sini, dengan posisimu,” ucap Edgar datar.
“Hah? Ma maksudnya??” Eliana kembali gelagapan, memikirkan kata-katanya sendiri.
“Baiklah, selamat malam Nona Eliana, aku akan memegang kata-katamu,” ucap Edgar seraya berdiri, lalu bergegas meninggalkan Eliana yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mencerna keadaan yang telah menjebaknya.
“Sebentar! AAAAAAAAAAAA apa kau sedang menjebakku?? Aaaaaaa!!!! Apa ini? Tadi kan aku yang mau bicara? Sekarang kenapa jadi dia yang bicara? Dan aku meng iya kan, semua permintaannya? Kenapa kata-kata nya begitu menghipnotis diriku??? Elianaaaa!!! Sadarlah!!”
__ADS_1