
Sementara itu, di sebuah rumah mewah dengan luas dua ribu meter persegi, seorang perempuan tengah mengipasi seluruh wajahnya yang memerah dengan tangannya, berkali-kali perempuan itu mengipasi wajahnya, tapi masih terasa sangat panas, napasnya yang sedikit tersenggal membuat hidung minimalisnya menjadi kembang kempis. Hidung itu terlihat semakin tersiksa karena sang empunya yang masih ngos-ngosan.
“Hah ... Azura, bocah licik! Kurang asem! Kenapa juga dia tadi malah teriak-teriak? Untung aja Pak Toto gesit, mau nolongin aku dengan melempar banyak sosis ke arah Anjing itu, coba kalu gak? Bisa mati berdiri aku ini gara-gara lari, hhuuhh ...” dengan kesal Eliana berdiri, lalu mendekati kulkas, dan menyambar segelas orange juice dari dalam kulkas tersebut, perlahan, gadis itu meneguknya, mencoba menikmati rasa dingin yang mulai menjalar ke tenggorokannya.
Pandangan Eliana, tertuju pada sekelebat bayangan yang tengah melintas di hadapannya,
“AA!” teriak Eliana, merasa heran, kenapa juga di siang bolong ini, suaminya sudah berkeliaran di rumah, dengan wajah memerahnya Eliana kembali meneguk orange juice yang ada di tangannya.
AA menghampiri Eliana, lalu duduk di sebuah kursi makan, sambil menekuk wajahnya,
‘Kenapa itu wajah di tekuk kayak gituh? Eh? Tiap hari juga wajah AA emang udah kayak gituh’ batin Eliana terkikik geli sendiri.
Edgar masih terdiam, sungguh tidak seperti biasanya, pria itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari istrinya.
‘Ah ... padahal aku rindu banget omelan AA’ Eliana kembali senyum-senyum sendiri, membuat pria di hadapannya mengerutkan keningnya.
“Kamu kenapa?” tanya Edgar lemas, sepertinya imunitas pria itu menjadi melemah, setelah melihat tingkah istrinya, yang semakin hari justru semakin aneh dan nekat, terbukti dia melihat sekarang istrinya tengah senyum-senyum sendiri.
“AA kenapa? Kok wajahnya di tekuk gitu sih? Kayak baju belum di licin” tanya gadis itu tak peka, Eliana menatap wajah AA dengan sejuta tanya, sambil menelisik wajah pria di hadapannya, sesekali Eliana menyeruput orange juice nya.
“Gak apa-apa!” jawab Edgar judes. Percuma juga Edgar mengatakan segala gundahnya, toh Eliana tidak akan mengerti, atau mungkin justru tidak akan peduli? Entahlah ... yang jelas Edgar memutuskan untuk tetap diam, atas berita yang sudah di dengarnya tadi dari Imran.
Eliana, dengan acuhnya malah mengedikkan bahu, sambil meraih ponselnya, yang tiba-tiba saja menjadi ramai oleh notifikasi.
“Hay ... i’m back! Aku kembali dengan daganganku Nyonya-Nyonya” tiba-tiba saja seseakun yang selama ini jarang nimbrung, muncul di GC Drove Girl.
“Nyonya Mirna? Kemana saja?” Nanayangpalingcantik
“Ada Nyonya, saya sibuk nih, jualan barang baru” balas akun Mirnahobytraveling.
“Ada barang baru? Apa? Apa? Apa?” tiba-tiba akun lain menjadi sangat kepo.
Eliana mengerutkan keningnya, mencoba mencerna isi percakapan mereka.
__ADS_1
“Ini, obat kuat terbaru, terampuh, dan tercanggih, yang di buat khusus oleh pabrik di Jerman” emot ketawa ngakak, guling-guling, di sertai foto sebuah botol seperti botol syrup obat panas untuk anak.
Eliana semakin mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Waaaahhh ... ampuh gak Nyonya?” Liliceriacelalucelamanya.
“Di jamin ampuh dan topcer” Emot kepala dengan mata lope.
“Kalau Nyonya Mirna yang jualan, pasti barangnya bagus-bagus semua, lingeri yang waktu itu saja, mampuh membuat suamiku nambah berkali-kali” Nanayangpalingcantik.
Eliana terkekeh geli dengan obrolan para istri pengusaha, yang ngakunya highclass, tapi ternyata pribadi terdalamnya sungguh sangat tidak berkelas.
“Sebentar, apa hubungannya lingeri, dengan nambah berkali-kali?” Eliana bergumam sambil mengerutkan keningnya. Seketika tangannya menjadi gatal untuk mengetik pesan.
“Maksudnya apa Nyonya?” Eliana mentag aku Nanayangpalingcantik.
“Ya ampuuunn ... masa pengantin baru, gitu aja gak ngerti sih??” Liliceriacelalucelamanya yang membalas, padahal dia tidak di tag.
Eliana mengerutkan keningnya kembali.
“Sebentar apa jangan-jangan ...” akun Nanayangpalingcantik menggantungkan kata-katanya, membuat Eliana menjadi panik.
Seketika Eliana menatap wajah garang suaminya, yang sedari tadi sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya.
“Eehhheee ... “ Eliana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Eliana kembali mengintip ponselnya,
“Eh, jangan-jangan Nyonya El, jarang menservice suaminya, makanya dia gak ngerti?” lagi-lagi akun Nanayangpalingcantik.
“Eeeehhh ... pantesan Tuan Ed kelihatan semakin datar dan galak yaaa, wkwkwk” Liliceriacelalucelamanya.
Eliana semakin prustasi, dia memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan, yang kini suara notifikasi sudah sangat ramai. Eliana menutup ponselnya. Eliana paham betul apa yang di maksud oleh Ibu-Ibu lambe itu, dia paham kewajiban dan haknya sebagai seorang istri, namun, jika menilik kembali bagaimana cara AA bersikap, dan bagaimana jalan mereka hingga menikah, Eliana kembali berfikir, jika pernikahannya bukanlah pernikahan biasa.
__ADS_1
“AA kenapa?” Lirih Eliana menatap pria di hadapannya, yang dia yakini sedang punya masalah, karena tidak biasanya AA hanya terdiam, bahkan ketika melihatnya bertukar pesan chat. Biasanya AA akan langsung mengomel.
“Lagi punya masalah?” tanya Eliana lagi,
“Kata siapa?” pria itu mengangkat alisnya,
“Kata aku kan barusan?” Eliana tampak mulai kesal lagi, percuma juga nanya baik-baik sama si AA, toh ujung-ujungnya pasti jawabannya judes juga kan?.
“Emang kamu peduli? Gak kan?” sinisnya, membuat El menunduk.
“Kok, AA ngomongnya gitu sih? Sudah seharusnya kita belajar berbagi kan?” tanya El mulai sabar dengan situasi yang di hadapinya.
“Gak usah! Semuanya bukan urusanmu!” Edgar bangkit, lalu berjalan menaiki tangga,
“Ya elah, di tanya salah, di diemin salah, gini salah, gitu salah ... sebel!”
“Mengumpat! Bereskan lagi rumah ini dua kali!” terdengar suara lantang itu dari lantai atas.
Eliana mengerjap, lalu bergidik ngeri.
“Ya ampuuunnn wujudnya sudah tidak ada, tapi kenapa dia masih bisa mendengar semua umpatanku ya?” Eliana mengedikkan kedua bahunya.
Eliana kembali mengintip ponselnya,
“Eh, Nyonya El, saya punya rekomen novel 21+, atau mau film-film bagusnya?” Mirnahobytraveling men-tag El,
Tapi El hanya berdecak sambil bergidik, merasa ngeri dengan obrolan Ibu-Ibu yang seperti tengah kalap itu.
***
Pagi ini, setelah aku mengantar Aksa ke sekolahnya, aku mengantarkan Azura ke sekolahnya juga. Berbeda ketika aku semobil dengan Aksa, aku lebih banyak mengobrol dengannya, bernyanyi dengan riang, dan menanggapi segala celotehannya.
Tapi, tidak dengan Azura, gadis ini cenderung pendiam, dan terlihat tak ingin banyak bicara ketika semobil denganku, dan akupun lebih memilih untuk diam saja. Bertanya seperlunya, dan menjawab pertanyaan seperlunya. Karena, meskipun aku berusaha mencairkan suasana, tetap saja, gadis itu begitu sulit di ajak bercanda. Tapi, dengan semua sikapnya padaku, tidak mengurangi rasa sayangku padanya, aku masih tetap menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai seorang Ibu terhadap anaknya. Aku menyayangi semua anak-anak sambungku.
__ADS_1
Tiba di sekolah Azura, dia turun dari mobil tanpa menoleh kepadaku, beda dengan Aksa yang selalu menciumi tanganku dan melambaikan tangannya. Azura langsung mendekati gerbang sekolah, dengan setengah berlari.
Aku memicingkan mataku, mobil memang melaju pelan setelah Azura turun, tapi fokusku tetap pada Azura yang tengah celingukan di depan gerbang.