
“Hiks ... hiks ... hiks ... huhuhu ... a aku tidak percaya ini” Eliana menangis sesenggukan sambil memeluk sebuah surat kabar.
“Hiks ... hiks ... apa yang sudah ku lakukan? Ini begitu memalukan” Eliana menggisik matanya yang sudah sembab, sementara itu kedua kakinya terlipat di lantai.
Ya ... Eliana sedang di hakimi oleh Edgar, yang tengah berdiri mondar-mandir, sambil sesekali menatapnya dengan tatapan dingin dan di penuhi amarah.
“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mempermalukanku? Dengan tingkahmu itu? Kau sungguh mengkhawatirkan!” teriak Edgar kalap.
“Sabar Tuan” Aldo berbisik dari samping Ed.
“A aku juga tidak tahu akan seperti ini, aku juga malu ...” Eliana kembali mengelap ingusnya yang sudah menjalar dengan punggung tangannya.
Aldo yang melihat itu, langsung menyambar tissue dan memberikannya pada Eliana,
“Nyonya, maaf ... gunakan ini” ucap Aldo, sambil menyodorkan tissue tersebut, Eliana menerimanya, dan langsung mengeluarkan semua beban yang sudah menyumbat di hidungnya, Edgar mendelik lalu berdecak.
“Astaga ... wanita ini” Edgar kembali mondar-mandir.
“A aku sungguh-sungguh malu, semua orang yang mengenalku, pasti akan menertawakanku, aku tidak akan keluar rumah, hiks ... hiks ... hiks ...” Eliana masih sesenggukan.
“Bagus kalau kau masih punya malu! Kau sekarang faham bukan? Kalau keluar rumah di malam hari apalagi tanpa memberitahuku, akan fatal akibatnya! Apa kau lupa siapa suamimu??!!” Edgar meninggikan suaranya,
Eliana mendongakkan kepalanya, lalu menatap Edgar dalam,
“Bukan itu yang aku sesalkan, bukan itu pula yang membuatku malu, hiks ... hiks ...” Sanggah Eliana dalam isakannya.
“Hah? Lalu apa yang membuatmu malu?” tanya Edgar menghentikan gerakannya, menatap Eliana lekat.
“Kenapa harus poto ini yang di ambil? Kenapa mereka harus mencetak wajah alamiku??? Huuuaaaa ... aku malu” Eliana menghentak – hentakkan kakinya di lantai, layaknya anak kecil yang minta uang jajan sama bapaknya.
“Apppaaahhh??? Astaga ... gadis ini? Sebenarnya siapa dia?” Edgar mengusap wajahnya kasar.
“Sabar Tuan, dia istri Tuan” bisik Aldo kemudian.
“Haahhh ...” Edgar menggelengkan kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
“Lihat ini, kenapa ilernya terlihat jelas sekali di sini?” ratap Eliana dengan berlinang air mata.
“Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Edgar pada Aldo, tanpa memperdulikan gumaman istrinya.
“Tuan, saya dan Siska sudah mempunyai ide, bagaimana jika Tuan dan Nyonya mengklarifikasi berita ini saja?” usul Aldo.
“Dengan cara apa?” Edgar mendaratkan bokongnya di kursi sofa, memejamkan matanya sambil mengurut pangkal hidungnya.
“Bagaimana jika Tuan membuat vlog yang menunjukkan Tuan dan Nyonya baik-baik saja? Lagi pula, beberapa wartawan siap meliput acara khusus untuk Tuan, Tuan dan Nyonya harus berakting, seolah keluarga Tuan adalah keluarga yang sangat bahagia” jelas Aldo.
“Aku tidak mau! Kau pikir aku ini aktris apa?” tiba-tiba Eliana protes.
“Maaf Nyonya, Tuan memang bukan aktor, tapi ketampanan Tuan sebagai seorang pengusaha muda dan sukses membuat pesona nya tidak bisa di tolak seluruh kaum hawa” ucap Aldo sambil menahan senyum.
“Aku tidak mau!” Eliana menggeleng,
“Jika media tahu, kalau keluargaku hancur lagi, ini akan sangat berpengaruh pada perusahaan, aku sudah sangat susah mendirikan perusahaanku selama ini, jadi, bagaimana mungkin aku berdiam diri saja ketika melihatnya akan hancur? El, kau harus mau di ajak kerjasama, lagi pula ini hanya akting” Edgar menatap Eliana dengan tatapan datarnya.
“Ta tapi ...” Eliana tampak berpikir keras, dia memikirkan bagaimana mungkin beberapa hari kedepan dia harus berakting akur dengan Edgar, suami galaknya.
“Ini semua karena ulahmu juga El ...” suara berat Edgar membuat nyali Eliana menciut,
***
Hari ini, di kediaman Edgar Adiswara sudah sangat ramai sekali oleh wartawan, mereka semua tengah sibuk menata kamera masing-masing, dengan semangat mereka mempersiapkan segalanya. Mereka akan meliput kegiatan sehari-hari dari seorang pengusaha kaya raya yang terbilang masih muda.
Memiliki wajah tampan, kekayaan yang berlimpah, memiliki dua anak yang lucu, dan istri cantik yang masih sangat muda, membuat orang lain penasaran dengan keharmonisan keluarga mereka.
Sementara itu, segala berita miring yang di tuduhkan pada Eliana kemarin, telah mereda dengan sendirinya, hanya karena kabar bahawa mereka akan meliput langsung kegiatan harian dari seorang Edgar.
“Aduuuhhh ... apa-apaan ini? Kenapa aku harus menggunakan baju seperti ini? Memalukan sekali” gumam Edgar sambil mondar mandir di depan cermin.
Kkkrriiieettt ...
Eliana baru keluar dari dalam kamar mandi, setelah mengganti bajunya. Dia terlihat sangat cantik dengan pakaian yang di gunakannya, pakaian dengan bahan, warna dan model yang sama dengan yang di gunakan Edgar.
__ADS_1
Edgar melengos, “Kenapa kau memilih pakaian kekanakan seperti ini?” tanya Edgar tanpa menatap Eliana.
“Eeeehhh ... memangnya siapa yang mau memakai baju couple ini? Aku sih gak mau, tapi kau yang memaksaku!” Eliana mendelik tidak terima,
“Lagi pula, bukan aku yang memilih baju ini, tapi Siska sekretarismu itu” ucap Eliana lagi, sambil berjalan melewati Edgar.
“Kau!” Edgar mencengkram tangan Eliana kuat, Eliana yang mendapat serangan tiba-tiba terlonjak kaget, dan tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya, hingga dia hampir saja terjatuh, tapi untung dengan sigap Edgar menangkapnya.
“Astaga ... gadis ini, benar-benar” Edgar berdecak.
“Kau mengagetkanku!” teriak Eliana, sambil meronta mencoba melepaskan tangan Edgar yang masih betah menopang tubuhnya, tapi Edgar tidak bergeming, dia menatap Eliana lekat. Seolah ingin menerkamnya.
Kkkrriiieeettt ...
“Bibi ...” tiba-tiba pintu kamar di buka, terlihat Aksa sudah berdiri, dengan menggunakan kaos yang sama dengan yang mereka gunakan.
“A a ah ... sayang, sini” Eliana berusaha menyadarkan dirinya sendiri, dengan langsung melepaskan tangan Edgar yang masih melingkar di pinggangnya kemudian segera menghampiri Aksa yang masih bengong.
“Bibi ... apa aku terlihat tampan?” tanya Aksa sambil tersenyum, menunjukkan giginya yang sudah hilang dua.
“Ahhh ... kau sungguh tampan” ucap Eliana sambil mengusap kepala Aksa dengan sayang.
Edgar yang masih terbengong, segera menguasai dirinya, lalu dia menatap Aksa. Aksa yang di tatap menunduk.
“Aksa, dengar! Apa yang kau lihat barusan, tolong rahasiakan, jangan sampai ada orang lain yang tahu” ancam Edgar, dia sangat takut mulut polos Aksa akan menceritakan apa saja yang dia lihat kepada orang lain.
“Yang mana? Apa aku harus merahasiakan kalau Ayah dan Bibi sedang berpelukan dan akan berciuman?” tanya Aksa polos.
“Astaga Aksa, itu tidak seperti yang kamu lihat” ucap Eliana prustasi.
“Tidak apa-apa Bibi, aku dan Nadine pun ketika sudah selesai bertengkar, aku suka berpelukan dan berciuman” ucap Aksa dengan wajah tanpa dosa nya.
“Hah? I itu berbeda sayang” El mencoba menjelaskan,
“Apa bedanya?” Aksa semakin penasaran.
__ADS_1
“Aaaahhh ... sudah, sudah, ini pokoknya rahasia, kau harus diam! Kau mengerti?” tanya Edgar meyakinkan.
“Mengerti Ayah” Aksa memanggutkan kepalanya.