
Aku menatap sendu pada perempuan yang berada di seberangku, dia tengah menurunkan Azura tepat di dekat gerbang sekolah di saat jam pulang sekolah, jangan tanya seperti apa perasaanku, jelas dadaku terasa sesak melihat tingkah putriku seharian ini.
Terlihat Azura melambaikan tangannya pada perempuan itu dengan senyuman mengembang di bibir cantiknya.
“Sabar ya Nya” Pak Toto menatapku dari kaca spion depan mobil.
“Hmht ...” hanya itu yang bisa ku katakan pada Pak toto,
Azura mendekati gerbang sekolah, tak lama kemudian siswa lain berhamburan keluar dari sekolah, karena memang jam sekolah telah usai.
Aku membuka kaca jendela mobil, lalu melambaikan tangan pada Azura, Azura menyadarinya dan langsung masuk kedalam mobil, lalu mobil melaju, kami terdiam. Suasana hening, kami sudah terhanyut dengan fikiran kami masing-masing.
Tiba di rumah, Azura turun dari dalam mobil, lalu dia bergegas menuju kamarnya. Sementara aku menuju dapur, untuk menyiapkan makan siang mereka.
Setelah selesai memasak, lalu aku memanggil kedua anakku, Aksa dan Azura.
Mereka duduk di kursi makan, suasana menjadi canggung, entah siapa yang membuat suasana ini, tapi rasanya hatiku masih kecewa saja.
“Bibi ... kenapa tidak makan?” Aksa menatapku, sambil menyuapkan makanannya.
“Ah, iya, Aksa saja yang makan, Bibi nanti akan makan” ucapku, sambil tersenyum.
“Bibi ... suapi aku” pinta Aksa,
“Baiklah ...” aku mengambil piring dan sendok yang Aksa pegang, lalu mulai menyuapinya makan.
“Bibi itu seperti malaikat” ucap Aksa tiba-tiba, sementara Azura hanya mendengus, sambil mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah.
“O ya? Kenapa bisa begitu?” tanyaku.
“Bu Guru bilang, malaikat itu baik, dan Bibi juga sangat baik” ucap Aksa dengan polosnya, sambil terus mengunyah makanannya.
“Terimakasih sayang ...” aku mengelus pucuk kepala Aksa dengan sayang.
Trang ...!
__ADS_1
Azura menghempaskan sendoknya, lalu berlalu menuju kamarnya, kenapa dengan anak ini? Tiba-tiba saja tingkahnya menjadi berubah.
Kami diam, aku tersenyum lalu kembali menyuapi Aksa makan.
Selesai makan, aku mengantarkan Aksa ke kamarnya, untuk tidur siang, setelah menyelimutinya, aku kembali ke ruang makan, untuk membereskan semuanya.
Lalu, aku mulai membereskan rumah kembali, yang tadi pagi belum sempat di bereskan semua.
Aku berjalan ke arah belakang rumah, berniat membereskannya, berjalan di lorong yang cukup panjang ini, mengingatkan aku pada sebuah ruangan yang di haramkan untuk di sentuh oleh si AA.
Tiba di depan ruangan itu, aku berdiri, mematung cukup lama, lalu fikiranku mulai menerka-nerka, sebenarnya apa yang dia sembunyikan??.
Tanganku mulai nakal, aku mulai meraih handle pintu itu,lalu memutarnya perlahan.
Ceklek!
“Ini tidak di kunci??” gumamku,
Lalu aku memutar handle pintu itu, membuka pintunya sedikit, lalu mulai membukanya dengan lebar.
Jadi, inikah isi ruangan ini? Inikah alasan kenapa si AA melarangku untuk memasuki ruangan ini?. Kenapa ada rasa perih yang menjalar di hatiku. Bukan iri, bukan juga cemburu, hanya rasanya sakit saja.
Aku mulai berkeliling, menelisik setiap bingkai foto yang terpajang di setiap juru ruangan ini.
Foto-foto perempuan cantik, dengan berbagai fose, dan setelah ku teliti lagi, ternyata foto itu adalah foto perempuan tadi yang menemani Azura bermain seharian. Jadi ini mantan istrinya AA? Yang katanya pergi meninggalkannya di saat anak-anak masih kecil? Jadi, perempuan ini yang sempat mengisi hatinya AA? Kenapa aku merasa sangat tidak suka?.
Pantas saja, tadi Azura terlihat begitu dekat dengan perempuan itu, ternyata benar dugaanku, perempuan itu Ibu kandungnya Azura.
Kenapa hati ini jadi sangat serakah? Aku tidak pernah mencintai AA, dia itu hanya pria tua, yang kebetulan mau menikahiku, karena terbujuk oleh ke adaan, bahkan pernikahan kami selama ini terkesan amat konyol, apa sih yang harus ku harapkan?. Sadar lah Eliana!.
Perlahan kuraih sebuah foto dengan bingkai ukuran kecil, terlihat foto AA dan perempuan itu tengah bergandengan mesra, dengan latar taman, dan menggunakan pakaian casual mereka, mereka terlihat begitu serasi dan bahagia.
“Eliana! Apa yang kau lakukan di sini!?” tiba-tiba suara itu membuatku tersentak kaget, tanpa sengaja aku menjatuhkan foto tersebut, hingga kacanya berhamburan di lantai. Tangan dan lututku sudah bergetar hebat. Apa yang harus kulakukan??.
Aku memundurkan langkah, kala kudapati pria dengan wajah datarnya tengah berjalan mendekatiku.
__ADS_1
“A aku ... aku ...” suaraku tercekat.
“Apa yang kau lakukan di sini Eliana!!??” sekali lagi, suaranya begitu menggelegar, sebegitu tidak sukanya kah dia padaku, hanya karena aku memasuki kamar tempat foto mantannya di tata dengan rapi?. Ini terlalu menyedihkan bagiku.
“Apa? Aku apa??!!” dia terlihat sangat murka, kenapa dia bisa sebegitunya?.
“Aku hanya akan membersihkan ruangan ini” jawabku sambil mencoba menelan salivaku.
“Apa kau tuli??? Sudah kubilang! Jangan dekati kamar ini!” teriaknya semakin menggelegar, membuatku semakin takut.
“A aku, aku ...” aaaaahhhh ... sial! Kenapa bibir ini jadi kelu gini sih?.
“Kenapa kau tidak mendengarkanku Eliana!?” suaranya kian tinggi.
“Ke kenapa? Kenapa kau tidak suka aku masuk kedalam ruangan ini? Apa karena kau tidak ingin foto mantan istrimu terlihat olehku? Apa sebegitu berharganya dia di matamu, hingga kau masih saja mengukir setiap kenangan indahmu bersamanya, dengan mengabadikan setiap momen kalian di sini??” ucapku dengan bibir bergetar.
“Apa?? Kau tidak akan mengerti! Aku benci ketika orang lain mendekati ruangan ini! Aku benci ketika ada oranglain yang mencoba melanggar perintahku!” teriaknya lantang.
“Oranglain?? Jadi aku masih oranglain di rumah ini? Aaahhh ... yaaaa ... kenapa aku harus berharap, bisa lebih dari oranglain di rumah ini, aku bukan siapa-siapa, aku tidak lebih dari seorang upik abu di rumah ini! Aku hanya pembantu!” teriakku tak kalah lantang.
“Jaga bicaramu!” dia menunjuk wajahku dengan telunjuknya, untuk pertama kalinya, aku melihatnya murka seperti ini. Aku memang sudah terbiasa dengan sikap dingin dan galaknya selama ini, tapi melihatnya membela mantan istrinya, jujur hatiku semakin terluka. Entah kenapa? Ahhhh ... mungkin akunya saja yang tidak tahu diri.
“Lalu apa?? Aku ini apa???!!” teriakku prustasi.
Dia diam mematung, seolah tak bernyawa, bahkan napasnya sulit aku dengar.
“Kau adalah pria teregois yang selama ini pernah aku temui! Kenapa? Apa uangmu kurang untuk membayar seorang pembantu? Hingga kau harus menikahiku, dan menjadikanku seorang pembantu gratisan di rumahmu?”
Dia masih diam, terlihat dia mengeratkan rahangnya, lalu mengepalkan tangannya erat, wajahnya berubah menjadi merah padam.
“Atau ... ah yaaa ... kau terpaksa menikahiku karena permintaan Ibuku, atau kau menikahiku karena permintaan media??” aku semakin berapi-api.
“Eliana!” terlihat dia mengamangkan tangannya,
“Kenapa?? Kau masih sangat mencintai mantan istrimu bukan? Hingga kau masih menyimpan semua kenangan indahmu bersamanya di sini?”
__ADS_1
“Pergi dari rumah ini!!!!”