
Seketika tubuh El melorot ke bawah lantai, dia langsung memeluk lututnya, merasa bingung dan juga prustasi, entah apa yang harus di lakukannya sekarang?.
Duk!
Seketika El merasakan tangannya menyentuh sesuatu di sampingnya, El mencoba meliriknya, ternyata ada sebuah benda yang tak sengaja dia sentuh. El mencoba meraihnya, lalu mengeluarkannya, ternyata benda itu adalah sebuah kotak berukuran lumayan besar.
“Apa ini?? Bukannya ini kotak milikku??” gumam El, sambil mencoba membuka tutup kotaknya.
“Ini barang-barang milik Ibu” gumamnya lagi, sambil mengeluarkan barang-barang yang berada di dalam kotak tersebut.
Seketika mata El terpaku pada barang-barang yang ada di hadapannya, mata El berkaca-kaca, kala netranya menatap sebuah syal berwarna hitam, syal itu di berikan El kepada Ibunya ketika turun hujan, syal itu di belinya ketika dia pulang dari luar kota, untuk urusan pekerjaanya waktu itu.
Lalu, mata El tertuju pada sebuah kertas yang tergeletak di antara barang-barang milik Ibunya yang lain. Tangannya mulai gemetar, tanpa terasa air matanya sudah mengalir di pipi, lalu menetes, El mulai membuka kertas tersebut dengan hati berkecamuk.
Perlahan, El membuka lembaran kertas tersebut, seketika netranya langsung memindai isi dari tulisan tangan Ibunya, yang El yakini, tulisan tersebut di tulis Ibunya saat dia sakit.
Teruntuk putriku Eliana,
Putriku ... apa kabar??? Ibu harap ketika kamu membaca surat dari Ibu, kamu dalam keadaan baik-baik saja.
Eliana putriku, maaf untuk waktu yang tak banyak yang telah Ibu berikan padamu, tak terlalu banyak waktu yang Ibu berikan untukmu, waktu kebersamaan kita begitu terbatas, karena kekurangan Ibu.
Maaf, karena selama hidup Ibu, hanya bisa menyulitkan hidupmu, maaf karena Ibu bukanlah Ibu yang baik untukmu nak ...
El, putri kecilku yang paling Ibu sayangi, tumbuhlah menjadi perempuan yang kuat, tangguh, dan tak terkalahkan.
El, buah hatiku, pergilah kedunia luas, hidup bebaslah selama angin masih berhembus, gapai mimpimu selama mentari masih menyinari daun-daun di pagi hari.
__ADS_1
Pergilah kelaut lepas putriku sayang, pergilah ke alam bebas, selama hari masih mengiringimu, selama hari masih belum petang, selama senja belum kemerah-merahan menutup pintu waktu.
Tapi, setelah El mampu menggapai mimpimu, jangan lupa untuk kembali pada kodratmu sebagai wanita, setelah menikah, jadilah istri yang baik, taati suamimu, patuhi dia, karena suamimu adalah syurgamu setelah Ibu.
Maaf, karena keegoisan Ibu, kamu jadi terluka, maaf Ibu sudah memaksamu untuk segera menikah, padahal Ibu tahu, kamu tidak suka di paksa.
El, maafkan Ibu ...
Anak Ibu, semoga selalu bahagia, selamanya ...
Seketika air mata El terus mengalir hebat, tangisnya sudah tidak bisa di bendung lagi, ia menangis tersedu-sedu, mengingat Ibu yang sudah tenang di alamnya.
“Ibu ...”
***
Dalam hidupmu, bidadari itu datang sejak awal, dengan lihai dia mendekapmu, dalam pelukan dan kecupan, dia telah mengorbankan nyawa, dan menukarkan jiwa hanya untuk bahagiamu saja. Apa yang dia berikan padamu, dia selalu merasa tak pernah cukup, meski bagimu pemberiannya sudah membentang luas berlebihan. Tangannya tak pernah berhenti menengadah, mengucap namamu sepanjang waktunya.
Jika bumi merindukan hujan dan bunga-bunga, bagi seorang manusia dalam wajah seorang Ibu ia akan menemukan bahwa dialah hati yang pertama terluka, tertawa, menangis dan bahagia karenamu. Bahkan jika seumpama kau adalah burung, maka Ibu akan tetap menjadi ranting tempatmu pulang, meskipun daunnya sudah berguguran, tapi ranting akan tetap berdiri kokoh, hanya untuk menunggumu bertengger kembali.
Ibu mungkin tidak sempurna, karena dalam hidupnya mencintaimu adalah hal pertama baginya. Dan dari segenap keinginannya kau tetaplah yang paling berharga. Pada ruang do’a paling sakral, namamu di sematkan, rintihnya abadi setiap lara mengecewakanmu dan dusta menghancurkanmu. Seberapapun dewasa usiamu nanti, baginya kau tetaplah malaikat kecil yang selalu ingin dia lindungi. Seberapa keras hidup yang kau jalani, dia tetap akan bersamamu hingga akhir nanti. Tataplah matanya, dalam bola matanya, disana kau akan menemukan rumah.
Dialah matahari yang tak pernah sekalipun meninggalkan bumi.
Ibu ...
***
__ADS_1
Selesai mandi, dan makan malam, kini AA tengah duduk bersila di atas kasur berukuran king sizenya, El yang menatap AA di ujung ranjang hanya bisa memilin ujung baju tidurnya dengan tangan bergetar. Berkali-kali dia menghela napas berat lalu mengeluarkannya perlahan, seolah gerakan tarik napas ini bisa membuatnya kembali tenang.
“Duduk di sini, kenapa jauh-jauhan??” AA menepuk kasur di sebelahnya, tangan El terlihat semakin bergetar, keringat dingin mulai menjalar, dadanya bergemuruh hebat, biar bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama baginya.
“Eemmmhhh ... aku ... aku ...” El masih menunduk,
“El, apa kau tahu cara membuat anak??” tanya AA to the point.
Bergemuruh dada El saat AA bertanya, AA adalah suaminya, namun El amat ketakutan, ketika membayangkan malam pertamanya.
Dengan suara gugup El menjawab, “Tahu AA”
Keringat dingin terus mengalir di dahinya, “Kata Ibu waktu aku kecil dulu, cara membuat anak itu, siapkan tepung, gula, telur, margarin, lalu kocok, bentuk menjadi bayi, setelah jadi cake, lalu di makan, dan aku akan hamil setelah memakan cake itu, dan setelahnya aku akan melahirkan anak” sahut El, tentu saja, bukan karena El tidak faham, tapi karena ketakutannya makanya El mengada-ada, El begitu gugup saat ini.
AA tergelak, mendengar sahutan istrinya, lucu sekali, begitu fikirnya. Di tatapnya mata bulat El, hidungnya yang sudah kembang kempis, membuat AA semakin tergelak saja. Rambut ikalnya yang di gerai, terlihat seksi di mata AA, bibirnya yang tengah komat kamit membuat AA kian gemas.
Ingin rasanya AA tidak ingin membuang waktu lagi, langsung saja lakukan, apa yang salah?? Kan mereka sudah sah, tidak ada yang salah. Terlalu banyak basa-basi, begitu menurut AA. Tapi AA tak ingin egois, dia masih mempertimbangkan hati El, ini adalah pengalaman pertama bagi El.
“El, apa kau masih meragukan aku??” tanya AA dengan wajah datarnya, membuat El kembali membeku.
“Apa yang kau ragukan dari aku? Hmh?” kini nada bicaranya sudah turun satu oktaf, seperti berusaha sedang merayu, bagaimanapun AA adalah pria normal sejati, di suguhi pemandangan tubuh El setiap malam, bukan AA tidak ingin segera memangsanya, hanya saja AA perlu menata hatinya agar dia yakin. Dan kini, AA sudah yakin akan perasaannya terhadap El, dan kini, AA tinggal menunggu keputusan dari El saja.
“A aku ... aku ... takut” jawab El gugup.
“Takut?? Takut kenapa??” tanya AA mengerutkan keningnya dalam.
.
__ADS_1
.