
Author Pov
“Apa dia bilang?? Wajahku seperti badut?? Di tidak sadar apa?? Wajahnya saja seperti tembok! Keras dan dingin kayak gituh” Eliana menghentakkan kaki lalu menuju kamar mandinya.
“AAAAAAAAAAA!!! Siapa kamu???!!” Eliana memundurkan langkahnya, sambil menunjuk wajah di hadapannya, yang berada pada pantulan cermin.
“Aku tahu, ini pasti ulah Azura, hhhh ... anak itu! Harus segera ku beri pelajaran!” Eliana membulatkan tangannya.
“Apa yang harus kulakukan dengan wajahku?? Hiks ...” perlahan Eliana menghapus riasan di wajahnya yang sudah sangat berantakan, wajahnya di penuhi oleh lipstik berwarna merah terang dengan gambar bulatan pada pipinya, jidatnya, dan bibirnya, hingga terpampanglah wajah Eliana layaknya badut.
“Hhhhh ... pantas saja Edgar bilang aku seperti badut, ish ... bagaimana ini??” Eliana kembali masuk kedalam kamar, kemudian dia mengambil remover dan mulai membersihkan wajahnya.
Selesai membersihkan dirinya, Eliana segera menuju dapur, menggunakan celemek, dan penutup kepala, lalu dia mulai menyambar kemoceng, sapu dan alat pel. Eliana mulai membersihkan rumah.
“Kenapa nasibku jadi seperti ini?? Sambil beres – beres bolehkah aku bernyanyi?? Ah ... lagu apa yang cocok untukku saat ini?? Upik abu! Iya ... hidupku sudah seperti upik abu ...” Eliana kembali berdecak, dengan tangan memegang kemoceng.
“Ahhh ... aku sudah satu jam membereskan rumah ini, tapi kenapa belum ada seperempatnya yang selesai?? Astaga ... pinggangkuuu ... auuuhhh ...” Eliana memegang pinggangnya, kemudian turun dari tangga.
“Satu!!! Dua!!! Satu!! Dua!!”
Eliana celingukan, kala mendengar suara dari kejauhan,
“Suara apa itu?? Ini baru pukul empat?? Kenapa sudah ada suara sesemangat itu??” Eliana berjalan mencari sumber suara.
“Astagaaa!! Pria itu sungguh keterlaluan! Hoby nya menyiksa orang! Dia tega sekali melakukan itu pada anak – anaknya sendiri! Harusnya, di usia segituh, anak – anak itu harus di sayang orangtua, di bimbing, dan di ajak jalan – jalan bukan?? Dasar jahat!” Eliana menajamkan pandangannya dari sisi jendela kala melihat Aksa dan Azura tengah di latih karate di jam empat subuh.
“Di rumah ini, bukan hanya aku yang jadi upik abu, ternyata anak – anaknya juga!” dengan kesal, Eliana kembali menghentakkan kakinya, melanjutkan menyapu di ruang keluarga.
Dua jam berlalu, waktu menunjukkan pukul enam pagi, tapi Eliana masih setia dengan pekerjaannya, menyapu dan mengepel yang tiada akhirnya.
“Selamat pagi nyonya?” suara itu membuat Eliana membalikkan tubuhnya,
“Hay ... tuan Aldo??” Eliana menunjuk tubuh Aldo.
“Iya, jangan panggil saya Tuan, panggil saya Aldo Nyonya” Aldo membungkukkan tubuhnya sopan.
“Eeehhh ... jangan begituh, jangan panggil saya Nyonya juga, panggil El saja” Eliana melambaikan tangannya, dia merasa sungkan kala Aldo memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
“Tidak apa – apa Nyonya, saya memang harus memanggil anda dengan sebutan demikian” ucap Aldo lagi, ngeyel.
__ADS_1
“Ah, baiklah, terserah dirimu saja” Eliana tergelak, dengan kedua matanya berada di atas.
‘Ahahaha ... lucu sekali, kenapa aku di panggil nyonya? Padahal aku hanya upik abu di rumah ini’
“Nyonya baik – baik saja??” tanya Aldo, membuyarkan lamunan Eliana.
“Aaaahhh ... aku tidak apa – apa” Eliana menggeleng.
“Tuan Ed di mana Nyonya??” tanya Aldo sambil mengedarkan pandangannya.
“Aaahhh ... dia sedang memeriksa PR anak – anak” Jawab Eliana sambil tersenyum di paksakan.
“Oh, baiklah, saya akan menemui tuan di ruang kerjanya” ucap Aldo sambil memutar tubuhnya.
“Ah, Nyonya saya hanya ingin mengingatkan!” Aldo kembali memutar tubuhnya menghadap Eliana.
“Apa??” Eliana menatap Aldo intens,
“Ini sudah pukul enam, apa tidak sebaiknya anda menyiapkan sarapan?? Tuan Ed, paling tidak suka menunggu dan tidak suka pada orang – orang yang telat” Aldo tersenyum, memutar langkah lalu bergegas menuju ruangan Edgar.
“Astaagggaaa!!! Bagaimana ini??” Eliana segera melempar kemoceng dan sapu yang berada di tangannya, dia segera berlari menuju dapur, untuk memasak.
***
Segera kubuka kulkas besar dua pintu itu, terdapat bahan makanan yang sudah bisa kupastikan akan membutuhkan waktu lama untuk mengolahnya, sementara itu aku butuh makanan yang cara penyajiannya cukup singkat, lama aku mematung, memilah milih makanan yang akan aku masak. Tapi buntu, karena sebuah tekanan otakku tidak berfungsi dengan baik, apa yang harus kulakukan?? Hiks ...
Aha! Aku menemukan sebungkus nugget, sosis, dan telur terletak di pojokan kulkas. Akan ku sajikan saja nasi goreng, telur ceplok dan juga nugget dan sosis, semua ini adalah makanan siap saji, yang cara pengolahannya tidak butuh waktu lama.
Aku mulai meracik bumbu untuk membuat nasi goreng, lalu menggoreng telurnya, lanjut aku membentuk sosis berukuran jumbo itu menjadi bentuk spiral, sangat lucu anak – anak pasti suka. Iya ... harusnya begitu bukan?? Lanjut akupun menggoreng nuggetnya.
Dengan gerakan super, aku segera menata semua makanan itu di atas meja makan, waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, sebentar lagi mereka semua akan turun,
Hhuuuhhh ... aku mengurut dadaku, rasanya jantungku berpacu lebih cepat, kenapa? Yang kuhadapi hanya seorang pria dan dua orang anak, tapi jantungku selalu berdebar kencang kala akan bertemu mereka, terutama Edgar.
“Selamat pagi bibi ...” Aksa menarik kursi, lalu duduk di kursi sebelah kiri di kursi yang biasa di duduki ayahnya.
“Pagi sayang ...” Aku mengusap pucuk kepala Aksa, untung saja anak itu sudah bisa mandi sendiri, coba kalau tidak? Pasti aku juga yang akan di suruh memandikan Aksa.
“Pagi Bibi ...” Azura datang dengan tatapan tidak sukanya, aku mengedikkan bibirku, mengingat kejahilannya tadi malam padaku. Sabar El ... sabar ... perlahan aku mengurut dadaku.
__ADS_1
“Pagi semuanya ...” Edgar datang dengan di ikuti Aldo di belakangnya. Aldo sungguh asisten ter uwu yang pernah aku temui, dengan setianya dia selalu datang pagi buta, dan pulang kadang lewat tengah malam, kadang aku berfikir, Aldo itu sempat tidur gak yah??
“Pa pagi ...” Jawabku gugup.
Edgar menarik kursi, lalu duduk sementara Aldo hanya berdiri di belakangnya,
“Apa ini??” Edgar mengerutkan keningnya, menatap hasil masakanku pagi ini.
“Ini sarapan kita semua” ucapku sambil tepuk tangan, merasa bangga akan hasil karya ciptaku.
“Cih ...” Azura berdecih,
“Aku suka sosis!” teriak Aksa girang.
“El ... apa kau lupa? Peraturan nomor dua??” Edgar menatapku dengan tatapan tajamnya,
“A apa??” aku menggaruk kepalaku, sambil mengingat ingat, jujurnya aku sudah melupakan semua peraturan yang dia katakan itu.
“Jangan biarkan anak – anakku memakan makanan instan! Itu sangat tidak baik untuk tumbuh kembang anak – anakku,” ucap Edgar tegas dan dingin.
“Ta tapi ...” belum aku mebuka mulutku sepenuhnya ...
“Peraturan nomor delapan! Jika kau membangkang, hukuman lain sedang menunggumu!” Edgar memajukan wajahnya, seakan dia siap menerkamku, aku memundurkan langkah, sementara itu, kulihat dengan ujung mataku Aldo tengah menutup mulutnya menahan tawa.
“Haish ...” aku menghentakkan kaki karena kesal.
“Ingat nomor sembilan! Jangan coba – coba membantah! Karena di rumah ini, aku selalu benar!” Edgar membuang mukanya.
“Semuanya! Ayo makan! Waktu kita tidak banyak! Lain kali tidak akan ada lagi makanan instan ini di meja makan!” ucapnya sambil meraih piring, mengisinya dengan nasi goreng dan telur, perlahan dia memakannya, sejenak kulihat dia menghentikan kunyahannya, lalu melanjutkannya kembali.
Aksa dan Azura menyambar sebuah sosis ukuran jumbo, mereka terlihat antusias memakan sosis, aku yakin mereka pasti sangat jarang memakannya.
“Bagaimana rasanya?? Apa enak??” tanyaku antusias,
“Lain kali, kau kurangi saja bumbunya, kenapa rasanya begitu asin? Ah ... tidak! Rasanya begitu hambar” ucapnya membuatku semakin kesal, kerja kerasku ternyata hasilnya tidak sesuai ekspetasi.
“Jadi, yang benar itu, asin atau hambar??” ucapku sambil menyambar sesendok nasi goreng di hadapanku,
“Rasanya enak begini kok” aku mendengus kesal, sebenarnya lidahnya itu terbuat dari apa sih? Gak bisa rasain makanan enak! Atau jangan – jangan dia sudah mati rasa? Hish ...
__ADS_1
Tak ingin memperpanjang masalah, aku lebih memilih diam, lalu sarapan, sama seperti Aksa dan Azura yang terlihat seperti sangat menikmati sarapannya.
Selesai sarapan aku segera bergegas menuju kamar, menyambar tas dan segera memasuki mobil, seperti biasa, aku akan mengantarkan anak – anak untuk berangkat sekolah.