
“Azura ... makan dulu yaaa ...” aku berusaha membujuk Azura, agar dia mau makan.
Hari ini, Azura sudah di perbolehkan pulang, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Dan sekarang kami sudah berada di kamar Azura kembali,
“Aku gak mau makan!” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya, mendorong sendok yang tengah aku sodorkan pada mulutnya.
“Eeeehhh ... jangan gituh, ayo makan dulu, biar Azura cepet sembuh” aku masih terus berusaha membujuknya, sementara itu AA sudah pergi lagi ke kantornya. Dan karena tingkahnya itu, aku semakin kesal di buatnya. Tidak bisakah dia? Sekaliii saja perhatian pada anak-anaknya?. Bahkan ketika Azura di rumah sakit, aku yang lebih banyak menghabiskan waktu di sana, di banding dia.
Sejatinya, anak-anak tidak hanya butuh materi yang berlimpah saja, tapi juga butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sejak pagi, aku hampir frustasi membujuk Azura, yang tak kunjung mau makan, dan minum obatnya. Dia terus menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
“Ayo dong, Azura makan yah, nanti kalau Azura sembuh, Bibi janji, Bibi bakalan kasih apapun yang Azura mau” rayuku akhirnya. Biasanya anak-anak akan menurut jika diiming-imngi janji, terlebih janjinya adalah hal yang mereka inginkan.
“Sungguh??” mata Azura tiba-tiba saja berbinar, nah, benar-kan tebakanku?
“Sungguh” aku menganggukan kepalaku semangat.
“Aku ingin, Ayah datang di acara kenaikan kelasku, karena aku akan tampil di panggung, aku akan melakukan pentas” pinta Azura, yang membuatku sedikit melongo.
“Apa selama ini Ayah tidak pernah datang ke sekolah Azura?” tanyaku heran, bagaimana mungkin selama ini AA tidak pernah datang ke sekolah anaknya? Sementara anak-anak pasti akan merasa bahagia dan merasa di perhatikan jika orangtua mau mendukung setiap kegiatan anak-anaknya.
Azura menggeleng “Tidak pernah”
“Baiklah, Bibi akan membujuk Ayah, agar mau datang menghadiri acara Zura, sekarang Zura makan dulu yah ... Bibi suapin” aku menyendokkan bubur, lalu dengan sabar menyuapi Azura. Azura mulai mau makan dengan di paksakan, lalu meminum obatnya.
Ku tatap wajah Azura, anak gadis yang akan segera mengalami masa pubernya, tentu saja dia sangat butuh figur Ayah dan Ibu nya, perlahan aku menyelimuti tubuh Azura.
Kkkrriiieettt ...
Kudengar pintu kamar Azura di buka, aku menoleh.
“Zura??” terlihat seorang pria, bertubuh tegap, tengah berdiri di ambang pintu, dengan beberapa papperbag di tangannya.
Azura, yang baru saja akan tertidur, kembali membuka matanya, lalu bangkit, membenahi posisinya.
__ADS_1
“Paman!!!” teriak Azura riang, sementara aku hanya bisa mengerutkan keningku. Siapa dia?.
“Zura?? Paman dengar kamu sakit” Pria itu memeluk Azura erat, lalu mengusap usap punggungnya.
“Hmh ... aku sakit” ucap Azura manja, aku bahkan belum pernah melihat Azura semanja itu pada Ayahnya.
“Tapi, sekarang sudah sehat kan??” pria itu tersenyum, sambil mencubit pipi Azura,
“Hmh ... sedikit” ucap Azura sambil tertawa riang, akupun ikut tersenyum.
“Paman bawakan oleh-oleh untukmu” pria itu menyodorkan papperbag pada Azura, Azura dengan semangat menerimanya.
“Woooaaahh ... paman! Ini ponsel keluaran terbaru, semua teman-temanku memilikinya, kecuali aku, karena Ayah melarang aku untuk menggunakan ponsel” ucap Azura sambil membolak-balik ponsel yang kini sudah berada di tangannya.
“Kenapa Ayahmu tega sekali?” ucapnya seolah memojokkan AA.
Azura hanya menunduk,
“Tak apa, ini ada makanan kesukaanmu juga, coklat” ucapnya lagi, sambil membukakan beberapa bungkus coklat, Azura terlihat sangat senang.
“Kau istrinya Edgar??” pria itu tiba-tiba menoleh ke arahku, yang sedari tadi tengah berdiri, menatap kegiatan mereka.
Aku mengangguk “Iya” jawabku.
“Aku Imran, Kakak dari mantan istri Edgar” ucapnya sambil mengulurkan tangannya, wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat, datar dan dingin. Entah kenapa? Tapi aku merasa nyaliku menciut.
“Mantan istri??” gumamku, jadi AA di tinggal istrinya karena mereka bercerai? Bukan karena meninggal? Tapi kenapa AA selalu bilang pada Aksa, jika Ibunya Aksa sudah berada di syurga? Sungguh terlaluuuuu si AA ini.
“Iya, secara tidak langsung, aku ini adalah walinya Aksa dan Azura juga, aku bisa saja mengambil hak asuh anak-anak, jika Edgar tidak mampu menjadi orangtua yang baik bagi Aksa dan Azura” ucapnya lagi, membuatku semakin bingung. Sebenarnya, ada apa di antara mereka?? Kenapa aura peperangan begitu ketara di wajah orang ini?.
“Bilang pada suamimu itu, jika dia masih saja bersikap buruk pada anak-anaknya, maka aku tidak akan segan membawa anak-anak untuk tinggal di rumahku! Karena aku juga berhak atas mereka! Bilang juga, jangan terus ke asyikan sama istri mudanya, sementara anak-anaknya terus terlantar!” ucapnya sinis, seraya pergi meninggalkan aku yang mematung, bingung.
Aku keluar dari dalam kamar Azura, waktu menunjukkan sudah pukul delapan malam, tapi AA belum juga pulang. Ingin rasanya aku menangis. Kenapa hidupku jadi seperti ini??.
__ADS_1
“Bibi ... bacakan aku cerita sebelum tidur” tiba-tiba tangan kecil itu menarik-narik tanganku. Aku terhenyak. Lalu menyeka wajah lelahku.
“Baiklah ...” ku paksakan agar bibirku bisa melengkung, menciptakan sebuah senyuman.
Aku masuk kedalam kamar Aksa, dan mulai membacakan cerita sebelum tidur untuknya, perlahan Aksa mulai tertidur dalam dekapanku, aku menepuk-nepuk punggungnya lembut, lalu menyelimutinya agar dia semakin nyaman. Ku kecup keningnya, lalu aku kembali keluar kamar Aksa, untuk kembali melihat kondisi Azura, kulihat Azura sudah tertidur dengan lelapnya, mungkin karena pengaruh obat yang dia minum tadi.
Kkrruuuccuukkk ...
Perutku berbunyi, aku baru sadar rupanya aku belum makan dari tadi siang, rasanya begitu lelah, mengurus rumah, juga mengurus anak-anak yang super duper rewel. Huhhh ...
Aku berjalan, menuju ruang makan, baru kusadari ternyata tidak ada makanan, karena aku hanya sempat memasak bubur untuk Azura, dan terpaksa harus memberikan roti untuk Aksa, makanan instan juga tidak ada. Apa yang harus ku makan?? Apa aku harus memasak dulu?? Tapi itu membutuhkan waktu yang lama. Sementara perutku sudah terus berdemo. Hiks ...
“El???” suara berat itu terdengar menyapaku, ku putar tubuhku, lalu ku seka air mataku yang hampir saja tumpah.
“Kau sedang apa di sini??” tanyanya seraya mendekat.
“Aku ingin bicara denganmu! Bisa kita bicara sebentar??” tanyaku sudah tak sabar.
“Apa yang ingin kau bicarakan??” tanyanya datar.
“ ............”
Bersambung .....
.
Kira-kira apa yang mau di bicarakan Mbak El ya???
jangan lupa tinggalkan jejaknya dong, yuk tuliskan komentar terbaik readers semua di kolom komentar yaaaa. terimakasih.
.
.
__ADS_1
.