DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Suami Era Tujuh Puluhan


__ADS_3

“Hooooaaaammmm ...” berkali-kali Eliana menguap menahan kantuk.


“Kau kenapa terus menguap??” tanya Ed, menatap Eliana yang tengah membaca cerita anak-anak, sementara dirinya membaca buku bisnis.


“Tidak apa-apa” El menggeleng, sambil berusaha membuka matanya yang sudah lima watt.


“Kau mengantuk?” tanya Ed menatap El,


“Kadang aku tidak berhenti berfikir, kenapa aku harus menikah dengan pria kolot seperti dirimu?? Kenapa aku harus berkencan di toko buku?? Yah ... aku memang ingin di bawa ke tempat yang tenang dan damai, tapi tidak ke toko buku juga kali!” Eliana mengoceh, sambil mengebetkan bukunya keras.


“Hah?? Apa maksudmu aku adalah pria kolot??” Ed yang tidak terima, langsung naik pitam.


“Ssssstttt ...” tiba-tiba terdengar suara dari samping mereka.


“Kalau mau ngobrol di luar sana, ganggu konsentrasi aja” peringatnya sambil berdiri, dan menjauh dari mereka.


“Bagiku, ini adalah tempat terdamai, jauh dari kebisingan, dari mulai aku muda hingga sekarang aku beranjak melepaskan masa muda, aku masih suka dengan tempat ini” setengah berbisik Ed menatap El, yang masih membaca buku yang menceritakan tentang putri duyung.


“Dan, apa bacaanmu?? Cerita anak-anak?? Cih ... kekanakkan” timpal Ed, seraya berdecih.


“Heh! Kau lupa?? Berapa usia anakmu??” El mendelik tidak suka,


“Aku membaca cerita ini, untuk di ceritakan lagi nanti pada Aksa” ucap El,


“Oh ...” Ed mengangguk pasrah,


“Kau tidak berniat mengajakku pulang?? Tubuhku menjadi kaku semenjak memasuki toko ini” pinta El, sambil memijat pinggangnya sendiri.


Ed menghentikan aktifitasnya, seketika hatinya kembali mengutuk ide Aldo, yang telah membuat proyeknya gatot kembali.


“El, apa yang kau bayangkan ketika kau berkencan dengan seorang pria??” tanya Ed tiba-tiba, merasa muak dengan semua percobannya, dia merasa akan lebih baik, jika bertanya langsung saja pada tujuan proyeknya.


“Emmhhh ... makan malam romantis, di iringi lagu romantis, lalu si pria akan memberiku setangkai bunga, dan sebuah cincin” ucap el dengan bola mata ke atas, membayangkan.


“Ssstttt ...”


“Ssssttt ...”


Terdengar lagi, suara orang yang tidak suka dengan suara mereka yang menimbulkan keberisikan.


“Baiklah, kita pergi dari sini” Ed menuntun tangan El, lalu berjalan menuju mobilnya, dengan tangan lainnya mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


Tiba di dalam mobil, El bersandar di kepala jok kursi, tak lama El tertidur, mungkin karena dia lelah membaca buku. Sementara Ed, masih asyik dengan rencananya.


Dua jam ...


Malam mulai menyerang, suasana gelap, tapi El masih asyik berkelana dalam dunia mimpinya, keadaan itu justru memudahkan Ed, menjadi bebas mengatur rencananya.


Ketika El tertidur, Ed sempat membeli seikat bunga mawar merah, dan sebuah cincin berlian.


“El, bangun, kita sudah sampai” Ed mengguncang bahu El,


“Hoooaaammm ...” El menguap selebar-lebarnya, Ed mendelik, risih.


“Ups ... hhehehe ...” El segera menutup mulutnya.


“Kita sudah tiba ya?? Huuhhh ... tubuhku rasanya pegal semua” El langsung turun dari mobil, tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


Seketika, kaki El membeku, langkahnya terhenti, kala melihat pemandangan di hadapannya.


Ya ... Ed menghentikan mobilnya, di sebuah restoran mewah ternama di kota itu, berkali-kali El mengucek matanya.


“Apa aku sedang bermimpi??” tanya El pada dirinya sendiri, lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan, kini, dia yakin, dia sedang tidak bermimpi, karena tamparannya terasa sakit.


“Ayo masuk” Ed menuntun lengan Eliana, lalu berjalan menuju kedalam restoran.


“Whhhoooaaaa ... ini bagus banget, indaaahhh ...” El berdecak kagum, melihat dekorasi restoran, yang hanya ada mereka berdua, tak lama pelayan datang, lalu menyuguhkan makanan andalan restoran mereka.


“Whhooaaa ... ini kayaknya enak banget” El langsung duduk, setelah Ed menggeser kursinya.


“Kau menyukainya??” tanya Ed melihat ke antusiasan El, dia yakin seribu persen, kali ini proyeknya pasti berhasil.


“Emmhh ... aku menyukainya” El mengangguk, dengan mata terus berkelana pada setiap dekorasi restoran.

__ADS_1


“Haha ... aku tahu, sepanjang hidupku, aku tidak pernah gagal dalam melakukan proyek apapun itu” Ed terkekeh, merasa menang.


“Maksudmu?? Proyek apa??” tanya El, bingung.


“Proyek membuatmu senang, haha” ucap Ed, terbahak.


“Hah?? Sungguhkah?? AA ingin membuat aku senang??” tanya El antusias,


“Bunga ini untukmu” Ed menyodorkan seikat bunga mawar,


‘Ish ... kenapa tidak sambil berjongkok lalu memohon sih?’ El sedikit kecewa, tapi dia tetap menerima bunganya, dengan tersenyum, yang sedikit di paksakan.


“Dan ini cincinnya” Ed menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah ke hadapan El,


‘Hah?? Kok gak di pakein sih? Capek deh ... gak romantis banget!’ El kembali merutuki ketidak romantisan AA. Tapi, dia tetap menghargai kerja keras AA. El menerimanya, dengan senyum terpaksa.


“Apa kau suka?” tanya AA, dengan hidung yang sudah mengembang.


“Suka,” jawab El agak malas.


“Haha ... aku tahu itu, dan satu lagi ...” Ed menjeda kata-katanya, El bersiap menerima kejutan selanjutnya.


Prok ...


Prok ...


Prok ...


Ed menepuk tangannya tiga kali,


Tiba-tiba saja segerombol orang naik ke atas panggung kecil yang sudah di siapkan,


“Hah?? Kenapa banyak Aki-Aki di sini?? Mereka mau ngapain? Bawa alat musik gede-gede kayak gituh?” gumam El bingung.


“Jangan bilang ...” El membelalakan matanya, kala melihat ternyata rombongan pria yang usianya di atas Edgar tengah memainkan alat music khas zaman dahulu kala itu.


Jreng ... jreng ... jreng ...


Musik di mainkan


“Gini amat nasib punya suami di era tujuh puluhan ...”


Suatu hari ...


Dikala kita duduk ditepi pantai


Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi


Burung camar terbang


Bermain diderunya air


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini

__ADS_1


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Bersamamu


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


Membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa


Tercurah saat itu


Kemesraan ini…


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Bersamamu


Kemesraan ini


Janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini


Inginku kenang selalu


Hatiku damai


Jiwaku tentram di samping mu


Hatiku damai


Jiwa ku tentram


Bersamamu


***


Langit biru di pagi hari menampakkan betapa indahnya ia, kala mentari mulai menimbulkan sinarnya, seolah lupa jika tadi malam, sinar rembulanpun tak kalah indahnya. Rinduku mulai tamak, tapi aku tetap berusaha mengelak.


“Pagi-pagi udah bengong aja” terdengar sapaan seorang perempuan, tepat berada di hadapanku, aku mendongakkan kepalaku.


“Mbak ...” sapaku pada perempuan cantik yang tengah tersenyum padaku.


“Kenapa?? Kok ngelamun??” tanyanya sambil mendaratkan bokong di salah satu kursi makan di hadapanku.


“Gak apa-apa” aku menggeleng.

__ADS_1


“Jangan bohong, aku tahu kamu pasti lagi punya masalah kan? Ayo cerita, anggap saja aku ini Kakakmu” ucapnya lagi, tersenyum lembut dan tulus, aku hanya bisa menghela napas. Haruskah ku katakan resahku padanya? Heeeyyy ... dia dan aku adalah manusia biasa, sebiasa-biasanya manusia, mulut boleh bilang tidak apa-apa, tapi hati?? Siapa yang tahu??.


__ADS_2