
Denting sendok beradu dengan piring, ketukan teratur menimbulkan suara senada, mengikuti rasa hati yang tengah gelisah.
El duduk di hadapan AA, menunduk dalam, gadis itu terlihat hanya diam saja, rona gelisah begitu ketara, tarikan napas yang terdengar berat begitu terdengar jelas. Sementara itu, di hadapannya, AA tengah duduk dengan santainya, menikmati sarapan yang di sajikan pagi ini.
Aksa, dan Azura pun tak kalah beda, merekapun hanya terdiam, menikmati suasana pagi yang terasa hening.
‘Kau! Cintai aku saja, sudah tak ada pilihan lagi!’
‘Tapi aku belum yakin! Kau tidak mencintaiku, akupun begitu!’
‘Cinta?? Haruskah di ungkapkan?? Apa caraku memperlakukanmu itu masih kurang bagimu? Apa yang selama ini aku lakukan dan aku usahakan masih juga belum terasa olehmu?? Begitukah cara anak muda sekarang mengartikan perasaan terdalam seseorang? Haruskah ku katakan, ELIANA PRAMESTI! AKU MENCINTAIMU! Haruskah seperti itu?’
‘Ti tidak! Bukan begitu, maksudku ...’
‘Apa maksudmu?? Katakan! Agar aku mengerti!’
‘Maksudku, semuanya terlalu cepat, iya hanya itu saja!’
‘Apanya yang terlalu cepat?? Aku sungguh tidak mengerti! Kita memang beda generasi, tapi bagiku, rasa cinta itu tak perlu di umbar, cukup di buktikan! Apa kau mencari pria yang senang bergombal?? Tapi tidak bertanggung jawab?? Begitu?? Tolong fahami aku! Aku bukan lagi anak muda, aku tidak mengerti gaya pasutri sekarang! Bagiku sikap lebih penting dari sekedar kata!’
‘Tapi ...’
‘Apa kau akan tetap seperti ini??’
‘Tidak begitu ...’
‘Bagus! Kau memang sudah tak punya pilihan lain!’
‘Cinta itu penting AA, tanggung jawab juga penting! Bukankah ungkapan cinta akan lebih mempermanis hubungan kita??’
‘Aku sungguh tidak mengerti!!’
“Hhhhhhh ...” Eliana menghembuskan napasnya berkali-kali, dia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berkali-kali, berusaha menepis ingatannya, tentang pertengkarannya semalam, tentang AA yang meminta haknya, sementara Eliana yang kukuh mempertahankan egonya, dia merasa belum yakin akan perasaannya sendiri.
“Ibu kenapa??” Aksa menatap El yang tengah terlihat cemas.
“Ah ... aku tidak apa-apa, kalian sarapan ya ...” El menggeleng, lalu mengusap kepala Aksa.
__ADS_1
“Yaaaa ...” ucap Aksa dan Azura kompak.
“Aku berangkat!” AA berdiri, lalu segera beranjak, berjalan menuju pintu utama, menemui Aldo yang sudah menunggunya di teras rumah.
Eliana hanya bisa pasrah dengan sikap AA pagi ini, dia segera beranjak untuk mengantarkan anak-anaknya berangkat sekolah.
***
Di ruangan kerjanya AA menyandarkan kepalanya di kepala kursi, menghalau rasa panas di kepalanya.
“Bukankah dari awal aku sudah berjanji untuk tak memaksanya untuk menjalani pernikahan konyol ini?? Tapi kenapa? Seiring berjalannya waktu hatikupun ikut berubah??” AA bergumam sendiri. Berbicara pada bingkai foto keluarga mereka, foto yang di ambil saat kenaikan kelas Azura tempo hari, foto keluarga kecil yang terlihat begitu bahagia.
“Ed?? Kenapa ngomong sendiri??” tiba-tiba suara Siska membuyarkan lamunan Ed, Ed mendongakkan kepala, menatap Siska yang ternyata sedang menatapnya.
“Hah?? Sejak kapan kau berdiri di sana??” AA terlihat gugup, karena kaget.
“Sejak tadi Ed, kau punya masalah??” tanya Siska lalu duduk di sebuah kursi di hadapan Ed.
“Ti tidak!” jawab Ed menggeleng.
“Kau tidak bisa membohongiku, kita bersahabat sudah terlalu lama Ed, katakan padaku, apa masalahmu kali ini, aku yakin ini masalah pribadi bukan??” Siska mulai menyelidik.
“Katakan sebagai seorang sahabat Ed, kau percaya padaku bukan??” Siska menatap Ed dalam, sebagai sahabat sejak mereka kuliah, maka tak ada satu hal pun yang tidak Siska ketahui dari Ed.
“Aku bingung menghadapi Eliana, aku sadar, jarak usia di antara kita terlalu jauh, aku tahu Sis, dia masih muda, dia pasti memiliki keingina yang berbeda denganku, kau tahu aku Sis, aku bukan pecinta drama, aku tidak suka bertele-tele, aku suka semuanya langsung pada intinya saja, tapi kenapa Eliana harus memiliki banyak keinginan yang tidak masuk akal??” Edgar mulai prustasi.
“Ed ... kau tahu?? Kenapa aku bercerai?? Alasan utamanya karena aku dan suamiku memiliki pendapat, dan pandangan yang berbeda, hingga menimbulkan keretakan dalam rumah tangga kami” Siska mulai membuka ceritanya.
“Hmmhh ...” Ed mengurut keningnya.
“Rumah tangga itu bukan masalah siapa yang lebih tua, siapa yang lebih muda, siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang kuat, dan siapa yang lemah, tapi rumah tangga juga tentang saling menghargai pendapat satu sama lain, kau sebagai laki-laki dan kepala keluaraga, cobalah untuk bisa memahami hatinya, mungkin dia butuh waktu, atau mungkin dia butuh menyesuaikan diri, cobalah bercermin Ed, berapa jarak usia kalian? Lihat status kalian sebelum menikah, dia statusnya apa? Dan kau statusnya apa?? Kau harusnya bisa lebih faham Ed. Ed ... aku harap kegagalanmu di masa lalu, bisa menjadi cermin untuk rumah tanggamu di masa depan. Keburukan apapun yang terjadi di masa lalu, jadikanlah pupuk agar kau bisa memperbaiki diri dan bisa hidup lebih baik lagi” panjang lebar Siska menasihati Ed, baginya Ed bukan hanya sekedar sahabat, tapi juga sudah seperti keluarganya sendiri.
“Kau benar Sis, mungkin aku harus mencoba untuk memahaminya, sekali lagi aku akan mencobanya ... huppptttt!!!”
“Nah ... gito dong, semangat Ed!! Kamu bisa!! Memimpin ribuan karyawan kamu bisa, masa menghadapi satu istri kamu gak bisa??”
“Hahaha ... apa aku harus memiliki banyak istri ya?? Biar bisa aku pimpin dengan sukses??”
__ADS_1
“EDGAR!!!”
Pletak!!!!
***
“Bapak kamu tukang cat ya??” memajukan wajahnya kedepan, dengan tatapan ragu.
“Kok tahu??” jawab orang di hadapannya, dengan gaya menggoda.
“Soalnya kamu sudah mewarnai hari-hariku” tersipu malu-malu, sambil meraba telinganya yang sudah memerah.
“Eeeaaaakkkk” pria di hadapannya tertawa, terbahak-bahak.
“Bapak kamu polisi ya??” lagi-lagi dengan wajah yang sudah memerah, semerah kepiting rebus.
“Kok tua??” menunjuk wajah pria di hadapannya dengan percaya diri.
“Eekkkeeehhheeemmm!!!” mendongakan kepala, menatap lawan bicaranya dengan suara geram.
“Eh, kok tahu??” segera meralat ucapannya yang kepleset, sambil memukul mulutnya yang lancang.
“Soalnya kamu sudah menangkap hati aku” kembali tersenyum, sambil tersipu malu, layaknya remaja yang tengah jatuh cinta.
“Eeeeaaakkkk” tepuk tangan dengan tatapan bangganya.
“Tapi ngomong-ngomong yang di tanya profesi bapaknya, kenapa yang memberi arti anaknya??”
“Eeemmhhh ... ya kan Tuan kalau gak ada bapaknya, anaknya gak akan nikah sama Tuan”
“Ah iya juga ...”
“Tapi ngomong-ngomong apa gombalan itu tidak norak ya?? Do, kamu yakin? Gombalan seperti itu, akan membuat perempuan terpesona??”
“Eemmmhhh ... kalau pacar saya sih begitu Tuan”
“Tapi ngomong-ngomong itu kan gombalan jadul banget Do, kamu yakin?? Kok saya ragu ya??”
__ADS_1
“Tuan, ingat! Tuan harus yakiiinnn ... sama seperti ketika Tuan mengikuti sebuah tender, yakin akan berhasil! Yakin akan menang! Nah, memenangkan hati perempuan juga harus seyakin itu Tuan!” ucap Aldo berapi-api.
“Begitu ya??” memanggutkan kepala berkali-kali tanda mengerti.