
“Ibu, aku akan memberikan seluruh bonekaku padamu, asal Ibu bangun” Azura terisak di sebelah kiri Eliana yang masih terlelap.
“Aku juga akan memberikan semua coklatku yang pernah kita sembunyikan bersama, asal Ibu bangun” Aksa ikut menimpali, membuat Edgar mendelikkan matanya, mendengar fakta ternyata istri dan putranya masih bekerja sama menyembunyikan dan memakan makanan terlarang yang dilarang oleh AA. Namun untuk saat ini AA masih enggan untuk marah, AA hanya memperhatikan dokter yang tengah serius memeriksa Eliana.
“Sakit apa istriku?” AA bertanya pada dokter perempuan tersebut dengan raut penasaran.
Dokter tersenyum, lalu melirik pada AA “Kapan terakhir kali istri anda makan?” tanyanya serius.
Hah?
Mana AA tahu kapan istrinya terakhir kali makan, AA bukan orang yang punya waktu senggang hanya untuk menanyakan kapan istrinya makan? Kapan istrinya tidur? Kapan istrinya buang air? Ouuuhhh! Tolong jangan tanya AA dengan hal yang sesepele itu.
“Aku tidak tahu” AA menggeleng jujur, dokter masih tersenyum, “istri Anda kelaparan, juga ...” dokter menghentikan ucapannya, menilik ekspresi AA yang masih datar.
“Juga?” AA mengerutkan keningnya menunggu ucapan dokter selanjutnya.
“Juga tengah mengandung, usia kandungannya masih sangat muda”
Deg!
AA terbelalak kaget, bingung harus dengan ekspresi apa dia mengungkapkan kebahagiaannya? Di usianya yang ke empat puluh tiga tahun AA akan kembali dipercaya untuk menjadi Ayah, AA begitu terharu, hingga ekspresi wajahnya berubah drastis, dari datar menjadi sendu menahan tangis karena terlalu bahagia.
“Berapa bulan kandungannya?” tanya AA menyeka air matanya.
“Belum tahu pastinya, untuk itu silahkan Tuan Ed periksakan istrinya ke dokter kandungan” dokter tersebut menyarankan, memberikan sebuah resep lalu berpamitan.
“Pantas saja sikapmu begitu absurd belakangan ini” AA terkekeh, lalu bergerak mendekati ranjang.
“Ayah, apa aku akan memiliki adik?” Aksa bertanya dengan matanya mengedip-ngedip lucu.
“Hmh, kalian akan punya adik” Edgar mengangguk.
“Aku tidak suka adik! Aku benci adik! Aku akan diabaikan Ibu jika aku punya adik! Aku tidak suka Adik!” tiba-tiba saja Aksa berteriak tidak terima, turun dari ranjang lalu berlari keluar kamar, membuat Edgar menghela napas berat, lalu berdiri untuk mengejar putranya.
“Ayah tenang saja, aku akan menenangkan Aksa” Azura berdiri menatap Ayahnya meyakinkan.
“Terimakasih Azura” Edgar mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
“Ayah tahu, kamu sudah dewasa” Edgar mengelus kepala putrinya dengan sayang, Azura mengangguk lalu berlari menyusul adiknya.
Tinggallah Edgar dan Eliana, Edgar menatap lekat wajah Eliana sembari berfikir tentang sikap Eliana akhir-akhir ini, istrinya menjadi semakin sensitif dan mudah marah, mungkinkah itu adalah karena hormon kehamilan? Sebelumnya Edgar tidak pernah tahu, karena waktu kehamilan Chelsi Edgar begitu sibuk, hingga tidak mengetahui apapun seputar kehamilan anak-anaknya.
“Engh ...” Eliana membuka matanya, menatap Ed yang tengah menatapnya juga.
“Aku dimana?” tanyanya mengedarkan pandangan, matanya mengerjap menghalau cahaya lampu.
“Kamu di kamar El, tadi kamu pingsan, ingat?” tanya AA dengan nada rendah dan berusaha lembut.
“Hmh, aku sakit?” tanya Eliana dengan wajah bingungnya.
“Kau tidak sakit, tapi ...” AA memberi jeda pada ucapannya, sungguh AA bukan orang yang romantis, pria itu tidak pernah tahu bagaimana mengucapkan kata-kata yang manis, dirasanya mengatakan apapun dengan jujur dan to the point mungkin akan lebih baik, mudah dimengerti dan mudah di proses, sungguh jiwa bisnis AA berlaku untuk kehidupan sehari-harinya, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebetulnya tidak butuh untuk diseriusi sekali.
“Kau hamil” ucap AA akhirnya, setelah AA menimbang dan tidak menemukan kata-kata manis di kepalanya.
“Oh” Eliana menunduk dengan wajah sendu.
“Oh?” AA mengerutkan keningnya, berbeda dengan perempuan lainnya, yang jika dirinya dikabari hamil maka akan berteriak histeris melompat karena bahagia, terlebih ini adalah kehamilan pertama Eliana.
“Hmh, lalu aku harus bagaimana?” Eliana menatap AA dalam.
“Hmh, aku sudah tahu” Eliana mengangguk.
“Sudah tahu? Kapan? Kenapa tidak bilang?” AA langsung memasang wajah datar penuh kecewa.
“Tadi waktu di jalan, aku sempat membeli testpack, lalu mencoba, dan hasilnya garis dua” Eliana menjelaskan.
“Belum sempat aku memberitahumu, tapi aku malah pingsan” tambahnya lagi.
“Oh, baiklah, tak apa, kau pingsan karena telat makan juga,” AA berusaha merengkuh tubuh Eliana yang terlihat lemas.
“Jangan dekat-dekat! Kamu pengkhianat!” Eliana mengacungkan telapak tangannya, menyetop kegiatan yang akan AA lakukan.
“Kenapa?” tanya AA bingung.
“Kau tidak berniat menjelaskan kasus tadi di kantor?” Eliana menatap nyalang pada AA.
__ADS_1
“Bagaimana ini? Aku hamil saat suamiku berselingkuh, apakah itu cocok dijadikan judul film Azab yang tengah viral itu?” Eliana kembali terisak, AA menghela napas jengah, sebetulnya AA bukan manusia yang mau berpanjang lebar menjelaskan segala hal, namun demi kelangsungan hidupnya, AA harus menjelaskan pada Eliana yang tengah merajuk.
“Dia namanya Friska, dia salah satu perwakilan client dari baghdad, aku sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan, berbulan-bulan aku menyusun rencana, dan selangkah lagi rencana itu akan berhasil, tapi kau malah mengacaukannya” AA menggaruk kepalanya kesal.
“Jadi semuanya salahku? Salahku jika istri ingin melindungi suami dari godaan Syaiton? Salahku jika aku ingin menjaga keluargaku? Jahat!” Eliana memukul dada AA dengan lumayan kencang, membuat AA meringis namun menahannya.
“Tidak, semua bukan salahmu, semua salahku” AA akhirnya mengalah, demi kelangsungan jatah malamnya, AA rela melakukan apapun.
“Ya semua memang salahmu” Eliana kian terisak.
“Percayalah, aku tidak selingkuh” AA kembali meyakinkan.
“Sungguh?” Eliana membentikan jari kelingkingnya, Edgar hanya menggelengkan kepalanya, lalu menyambut kelingking istrinya.
“Sungguh”
Eliana dan Edgar berpelukan hangat dan erat, “Terimakasih karena sudah hamil anakku” Edgar berbisik pelan di telinga Eliana, lalu mengusap punggung Eliana yang tengah menganggukan kepalanya.
Pelukan mereka kian erat, hingga teramat dekat tanpa sekat.
“El?” Edgar kembali berbisik dengan napas memburu.
“Hmh?” Eliana menyahuti dengan santai.
“Sepertinya kita belum mencoba gaya katak melompat” Edgar terkekeh, lalu melepaskan pelukannya, menatap istrinya dengan tatapan penuh ajakan.
Eliana membolakan matanya, setelah gaya botol, gaya kupu-kupu dan gaya cicak di dinding, kini AA meminta gaya katak melompat? Gaya macam apa itu? Eliana menerka-nerka.
“AA! Kau lupa?” Eliana mendorong tubuh AA yang kini sudah hampir telanjang dada.
“Lupa apa? Tidak akan lupa El, aku sudah khatam berkali-kali gaya katak melompat” AA terkekeh mesum.
“Dasar suami mesum! Bukan itu maksudku!” Eliana mendelik ketus.
“Lalu?” AA menghentikan gerakan tangannya yang sudah tidak bisa di kondisikan.
“Aku sedang hamil, dan menurut artikel yang aku baca, perempuan yang sedang hamil dilarang melakukannya, benar-benar dilarang!” Eliana menegaskan dengan kedua tangan menyilang di dadanya, seolah sedang melindungi aset berharganya.
__ADS_1
“Hah? Artikel mana yang kau baca?” AA mendesah dengan kesal.