DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
AA NORAK!!


__ADS_3

“Hah?? Apa ini?? Kiriman dari AA??” Eliana membelalakan matanya, kala melihat tumpukan kardus yang di angkut menuju kedalam rumahnya.


“Apa ini?? Membuatku penasaran saja” Eliana kembali bergumam, sambil mendekati beberapa kardus yang di simpan begitu saja di atas lantai, sementara para pelayan, hanya menatap orang-orang yang hilir mudik dengan bingung.


“AA mau bikin kejutan?? Tumben?? Kalau hadiahnya sampai beberapa mobil boks kayak gini sih, aku benar-benar jadi terkejut” El masih menggumam gak jelas.


“Nah, kita buka satu-persatu” Eliana meraih dus dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dia membuakanya perlahan, setelah merasakan benda di dalam dus tersebut lumayan berat.


“Hah?? Apa ini?? Astaga ... ish ... menggelikan!!” Eliana langsung belingsatan, kala melihat barang di hadapannya.


“Apa itu Nya??” tanya Suster Eni tiba-tiba.


“Lihat sendiri!” seru Eliana memberengut.


“Woooaaaaahhh ... lucu-lucu sekali” Suster Eni membelalakan matanya.


“Cangkir couple, piring couple, gelas, sendok, garpu, semua peralatan makan dan minumnya couple, Nya lihat! Ini foto Nyonya dan Tuan serasi sekali di cangkir ini, warnanya juga pink, hehe”


“Ish ... AA NORAK!!”


***


Angin malam menerpa menyusup melalui rongga-rongga kulit. Dewi malam yang tergantung di atas sana nampak sempurna ayunya. Pendarnya menerangi sebagian jagat raya, membuat seorang perempuan yang tengah berdiri di bibir balkon merasa nyaman menatapnya. Meski dalam keheningan, perempuan itu masih betah berada di tengah dinginnya malam.


“Di cariin, ternyata kau ada di sini??” suara pria yang sudah mengisi hidupnya beberapa bulan terakhir itu terdengar.


“Hmmh ... kenapa??” tanya El, tanpa memutar tubuhnya, pandangannya tetap pada bulan di atas sana.


Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, sosoknya kini sudah bersebelahan dengan El.


“Gak apa-apa, sedang apa kau disini? Ini sudah malam, memangnya tidak dingin??” tanyanya berderet.


“Tidak, jujurnya aku suka angin malam, suka juga dengan suasana malam, malam itu hening, dan hening itu mendamaikan” ucap El, sambil sesekali mengusap tangannya.


“Oh” hanya jawaban itu yang terdengar.


Hening. Cukup lama.


“Bagaimana hadiahku? Kau suka??” tanyanya memecah keheningan.


Eliana memutar kedua bola matanya, sesungguhnya dia tidak menyukai hadiah AA yang terkesan norak baginya. Dia sudah bukan lagi gadis ABG yang apa-apa harus couple-couplean, toh semuanya tidak akan tertukar bukan?? Tapi, demi menghargai usaha AA dia harus mengatakan sebaliknya.


“Suka, semuanya terlihat imuuuttt” ucapnya dengan nada di buat-buat.


“Apa??? Imut?? Kau pikir aku masih anak-anak?? Jadi kau mau bilang jika seleraku masih anak-anak??” merajuk tidak suka, membuat El menjadi tambah bingung.

__ADS_1


‘itu tahu, hal-hal seperti itu, membuatmu terkesan seperti anak-anak, tapi kenapa kau melakukannya??’ batin Eliana meronta.


“Ish ... bukan seperti itu” Eliana menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak suka di bilang imut!” tegasnya sambil beranjak pergi, meninggalkan Eliana yang tengah kebingungan.


“Baiklah, kalau bukan imut, lalu apa? Lucu?” Eliana bernegosiasi, sambil mengejar langkah AA dengan cepat.


“Kau memperlakukanku seperti pada anak-anak! Aku tidak suka! Aku ini pria dewasa El!” masih merajuk juga, rayuan level dua gak akan mempan rupanya.


“Loh?? Maksudnya??” El mengernyitkan dahinya.


‘Seluruh dunia juga tahu, kalau kamu itu AA! Alias Aki-Aki’


“Kau mengatakan imut, lucu, kata-kata seperti itu harusnya untuk Aksa, bukan untukku” jelasnya dengan nada dua oktaf.


“Ya maaf” Eliana menunduk, merasa bersalah.


“Ayo kita bahas tentang yang lain” ajaknya, sambil duduk bersila di atas ranjang, sementara Eliana, bersedekap berdiri di samping AA.


“Yang lain?? Apa??” El kembali mengerutkan keningnya.


“Tentang kita” senyumnya tiba-tiba mengembang, seiring dengan itu, bulu kuduk Eliana juga ikut meremang.


“Apa kau mencintaiku??” tanyanya tiba-tiba.


“Ke kenapa kau bertanya begitu??” gugup itu yang terjadi.


“Hanya ingin tahu saja, selama ini kau selalu sibuk memaksaku, untuk mengungkapkan kata cinta, bagaimana denganmu? Apa kau sudah siap mengatakannya padaku??” tatapan Ed mengintimidasi, membuat El kembali menelan salivanya susah payah.


“Eeemmhhh ... bagaimana kalau kita tidur saja? Ehehehe ...” secepat kilat El masuk kedalam selimut, lalu menggulung tubuhnya, dengan kain yang membuatnya hangat itu. Sementara AA hanya bisa pasrah melihat tingkah El.


***


Pagi hari ...


TOOOTTTT ... TTTOOOOTTTT ... TTTTTOOOOTTTT!!!!


“Selamat pagi Indonesia!!!” suara AA yang sangat menggelegar, membuat semua orang yang mendengarnya berdecak sebal, bagaimana mungkin, di saat orang-orang masih asyik di lilit selimut, sementara itu, AA sudah mengitari ranjang dengan toa di tangannya.


“Ayo bangun! Semangat!” teriaknya lagi, membuat El menggeliat, dengan mata terkatuk-katuk, gadis itu membuka matanya.


“Apa sih??” tanyanya sebal, dengan suara serak khas bangun tidurnya.


“Minggu depan, ada acara gathering family di kantor, keluarga kita juga harus ikut, untuk antisipasi, ayo kita lakukan pemanasan, belajar beberapa permainan untuk acara nanti! Ingat! Jangan sampai kita kalah!” ucapnya masih menggunakan toa, membuata El segera menutup telinganya rapat-rapat.

__ADS_1


“Yah ... namanya juga permainan, ngapain harus pake gladi resik segala sih?? Permainan tinggal di nikmati aja, ngapain harus serepot itu sih??” tanya El mendelik.


“Tidak bisa, aku tahu kau tidak bisa menggunakan sepeda, sementara nanti akan ada lomba mengendarai sepeda, ayo kita latihan!” secepat kilat tangan Ed, sudah menarik lengan Eliana untuk mengikutinya.


“Aaaaahhh ... hhhoooaaammm, aku malas AA!!” rajuk El.


“Tidak boleh malas! Bagaimana mungkin hidupmu akan sukses jika kau menjadi pemalas. Ayo latihan, akan ku ajarkan padamu cara naik sepeda” terus menggeret tangan Eliana, hingga menuruni anak tangga.


Tiba di halaman rumah, Ed segera menuntun sepeda ke hadapan El, sepeda dari tadi sudah di siapkan Pak Toto.


“Ayo naik!” perintahnya.


“Tidak, aku tidak mauuuu” El menggeleng berkali-kali.


“Mau dengan cara kasar?? Atau dengan cara lembut??” AA menaik turunkan alisnya.


Cara lembut itu, El harus dengan suka rela naik sepeda sendiri, sementara cara kasar itu, El akan di deret atau mungkin akan di panggul layaknya karung beras untuk menaiki sepedanya.


“Ish ... iya! Aku naik, tapi pegangin yaa” El mulai menaiki sepedanya, dengan gerakan ragu, dengan takut-taku dia mulai memegang stang sepedanya.


“Hati-hati!”


“Dasar bodoh!”


“Bagaimana mungkin ada orang tidak bisa mengendarai sepeda??” AA merutuk di belakang El.


“Bahkan Aksa saja sudah pandai naik sepeda!” suaranya kian lantang.


“Aku pernah jatuh! Dan aku trauma naik sepeda!” teriak El tak terima.


“Rasakan pergerakannya, jangan seperti itu! Hey ... hey ... hey!!! Apa kau tuli?? Jangan seperti itu!!” AA berteriak kala El tak bisa di atur lagi posisinya, El hanya berteriak meski sepedanya belum bergerak, hingga membuat suasana tegang, dan sepeda meliuk-liuk tak beraturan.


“Astagaaaa!! Gadis bodoh!!” AA meneriaki El, membuat El tak terima, dan langsung menghempaskan tangan AA yang tengah menahan sepedanya.


Hingga membuat sepedanya menjadi oleng ke sembarang arah.


“Nya! Awas Nya!!!” teriak Pak Mamat yang berada di ujung gerbang rumahnya.


“Hhhuuuuaaaaa!!!! Toloooonnngggg!!! Mingggiiirrrrr!!!”


“Eliiiiaaaannnnnaaaa!!!!”


“Hhhhuuuuaaaaa!!! Awaaassssss!!!!”


“Nyonyyyaaaaa!!!!”

__ADS_1


BBBRRRUUUUUKKKK!!!


__ADS_2