
“Ayah ... ayo kita bertemu dengan Bibi El” aku menoleh ke arah sumber suara, terlihat putraku Aksa tengah membuka pintu ruang kerjaku dengan tangan masih menggantung pada knop pintu, wajah gembulnya terlihat begitu lucu, mata bulatnya terlihat mengiba, sementara itu tas punggungnya sudah melekat di balik punggungnya.
“Siapa yang mengajakmu untuk bertemu dengan perempuan itu?” ucapku tegas. Seketika Aksa menundukkan pandangannya. Tubuhnya sedikit bergetar, bibirnya mengerucut.
“A Ayah ... ayo kita bertemu dengan Bibi El, aku sudah mengemaskan coklat untuknya” ucapnya lagi memberanikan diri berjalan mendekati meja kerjaku, seketika aku mengurut keningku, apa yang sudah di lakukan perempuan itu pada putraku? Untuk pertama kalinya putraku menjadi seperti ini. Ku urut keningku pelan, mencoba menetralisir rasa peningku sendiri.
“Aksa! Sejak kapan kamu menjadi pembangkang? Dan lagi, sudah berapa puluh kali Ayah mengingatkanmu! Jangan pernah memakan sesuatu yang instan! Coklat itu terlalu manis, itu tidak baik untuk kesehatan gigimu!” tegasku sekali lagi, entah harus bagaimana lagi caraku mengatakan semuanya pada anak usia tujuh tahun ini, jika semua yang aku perintah dan yang aku larang adalah untuk kebaikannya, namun seketika mata Aksa berkaca-kaca, hidungnya memerah, mungkin sebentar lagi dia akan menangis.
“Ayah jahat!!!” ucapnya sambil berlalu, dengan air mata yang sudah bercucuran, tangan kecilnya menggisik matanya.
“Huhhhh ... perempuan itu sungguh membuat hidupku sulit!” aku berdecak sebal kala mengingat kejadian demi kejadian yang menimpaku belakangan ini. Belum lagi gosip yang terus gencar di luaran sana, semuanya membuatku tidak nyaman. Bahkan putriku Azura sudah mengatakan jika dia tidak nyaman berangkat kesekolah hanya karena sebuah gosip yang selalu di besar-besarkan, dan pastinya di bumbui fitnah. Sekolah anak-anakku adalah sekolah elit dengan biaya pendidikan yang sangat mahal, tapi anehnya kenapa mulut orangtua mereka sungguh murahan dan tidak berpendidikan, masih saja suka mengumbar aib oranglain, terlebih terus di lebih-lebihkan.
“Tuan ... gawat tuan! Gawat!” seorang ART tiba-tiba masuk kedalam ruanganku dengan napas terengah, membuatku langsung mendongat menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, apalagi ini?.
“Tuan Aksa Tuan, Tuan Aksa!” ucapnya masih ngos-ngosan, berusaha memberikan informasi, namun napasnya masih tidak beraturan, membuatku mengernyit dan masih menatapnya, menunggunya mengatakan sesuatu yang aku yakini tentang Aksa.
“Kenapa lagi dengan anak itu??” jengkel sekali rasanya hati ini, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.
“Tuan Aksa nekat katanya mau kabur dari rumah Tuan, dia sudah membawa kopernya di luar, tidak ada yang bisa membujuknya Tuan” ucapnya lagi dengan tangan dan lutut bergetar, kini napasnya sudah mulai teratur, hingga ART tersebut bisa berbicara dengan jelas.
Astaga ... anak sekecil itu, apa yang tengah dia pikirkan?? Meraup wajahku dengan frustasi, kesal, sungguh kesal.
Dengan amarah yang membuncah, aku bergegas menuju luar ruangan, tidak lama kudapati Aksa tengah menangis tersedu, tubuhnya terdampar di atas tanah yang di tumbuhi rumput sintetis dengan koper kecil di sampingnya, terlihat beberapa penjaga rumahku sedang berusaha menghalanginya.
__ADS_1
“Aksa! Masuk rumah!” teriakku, Aksa mengerjap lalu menengadahkan wajahnya padaku, menatapku dengan sorot mata sendu.
“Ayah! Aku ingin bertemu Bibi” ucapnya lagi, membuatku semakin gemas saja di buatnya, geram namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, meski aku selalu di katai galak, namun pantang bagiku untuk jika harus main tangan, terlebih kepada putraku yang masih berusia tujuh tahun ini.
“Tidak! Ayo masuk rumah! Sejak kapan kau menjadi pembangkang??” memelototkan mata menjadadi lebih galak dari sebelumnya, berharap Aksa mengerti, jika aku tidak suka dengan pembangkangannya.
“Aku mohooonnnn ...” Aksa terduduk di tanah sambil menghentak-hentakkan kakinya, kemudian dia bergulingan di tanah yang tidak di tumbuhi rumput, hingga alhasil bajunya menjadi sangat kotor, tangisannya semakin keras, membuatku semakin tidak berdaya. Haruskah aku mengalah pada putraku sendiri??
Elianaaaa ... apa yang sudah kau lakukan??.
“Baiklah, kita bertemu dengan perempuan itu!” akhirnya, aku tidak bisa meninggikan egoku lagi di hadapannya. Jika itu tentang anak-anakku, aku lemah!.
“Sungguh??” dengan mata yang masih mengeluarkan lelehannya tiba-tiba saja wajah Aksa berbinar, tangisnya berubah menjadi senyuman, Aksa terlihat begitu bahagia, binar di wajahnya membuat segaris senyuman tipis berkembang di bibirku.
“Hmh ... Aldo, siapkan mobil, kita akan menemui gadis itu” perintahku pada Aldo, yang dari tadi hanya mengikuti langkah kakiku saja, berdiri tegak di belakangku tanpa berkata apapun jika aku tidak bertanya.
“Ayah!” aku memutar tubuhku, kulihat Azura tengah menatapku sendu.
“Apa lagi??” tanyaku menatapnya dalam, merasa heran dengan tingkah anak-anak hari ini.
“Selama ini, hanya keinginan Aksa yang di turuti, kenapa keinginanku tidak?” ucapnya menundukkan kepala.
“Memangnya apa keinginanmu?” tanyaku sudah tidak sabaran.
__ADS_1
“Aku ingin ikut ...” ucapnya sambil berlalu menuju mobil,
“Ck!” aku berdecak sambil menggelengkan kepala, tidak menyangka jika kedua anakku kini sudah bisa membantah.
“Jalan ...” ucapku pada Aldo yang sudah duduk di belakang kemudi.
Aldo menganggukkan kepalanya, lalu mobil melaju menuju rumah sakit, tempat Eliana berada.
Sepanjang perjalanan, Aksa dan Azura terus berceloteh, sesekali mereka berdebat tentang apa yang mereka lihat. Selama ini, aku hanya tahu perkembangan mereka lewat pengasuhnya saja, bisa di bilang, ini adalah perjalanan pertamaku dengan kedua anakku. Rasanya begitu berisik, tapi aku menyukainya.
Tiba di rumah sakit, keadaan sudah gelap, aku berjalan dengan menuntun kedua anakku, lampu-lampu di lorong rumah sakit sudah menyala, sepanjang lorong pohon palem dan pohon pelindung lainnya berbaris rapih mengelilingi halaman rumput yang luas, sebagai ruang terbuka dan juga sebagai pensuplai udara segar di rumah sakit ini. Bisa kubayangkan, bagaimana selama ini perempuan itu menjalani hidupnya, hidup tanpa Ayah dan harus merawat Ibunya yang sakit-sakitan, aku yakin dia adalah perempuan tegar.
Sepanjang lorong terlihat lenggang, hanya beberapa pegawai medis yang terlihat lalu lalang, sedang menjalankan aktifitas rutinnya, tiba di depan ruangan yang di yakini Aldo adalah ruangan tempat Ibunya Eliana di rawat terlihat Eliana tengah mondar-mandir sendirian, dia terlihat begitu cemas. Kami tetap berjalan dengan tenang, hanya saja Aksa yang dari tadi memang sudah tidak sabaran, segera berlari menuju Eliana.
“Bibi!!!” teriak Aksa sambil memeluk lutut Eliana, gadis itu terlihat mengerjap, kaget dan juga bingung mungkin melihat kedatangan kami.
“Aksa?? Kenapa kamu bisa ada di sini??” dengan wajah cemasnya Eliana masih bersikap lembut pada Aksa, pantas saja Aksa merasa nyaman berada dekat dengan gadis itu.
“Aku rindu Bibi ...” ucap Aksa jujur, mengeratkan pelukannya.
Eliana berjongkok, kemudian balas memeluk Aksa, mengusap punggungnya dengan lembut.
“Bibi juga rindu kamu” lirih, terdengar suaranya.
__ADS_1
“El! Ibumu semakin kritis!” seorang pria dari dalam ruangan tersebut keluar dengan napas tidak beraturan.
“Apa???” Eliana melepaskan Aksa dan langsung berlari menuju kedalam ruangan. Aku tertegun, apa yang sebenarnya terjadi???.