
“Nya! Jangan!”
“Diam!”
Aku terbelalak kaget kala memasuki ruangan AA, terlihat AA yang tengah memegang tangan seorang perempuan terlihat terperanjat kaget, begitu pula dengan perempuan bergaun merah dengan panjang di atas lutut, memiliki belahan dada, juga ... gaun itu sangat ketat dan terlalu kecil untuk tubuhnya yang montok.
“AA! Apa yang kamu lakukan? Kamu berselingkuh dariku?”
“Apa yang kamu lakukan disini?” AA terbelalak, segera membenahi posisinya, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tenang dan santai, seolah sebelumnya tidak terjadi apapun.
“Apa?” aku yang masih syok begitu tidak percaya dengan sikap AA, bukannya meminta maaf karena telah melakukan kesalahan besar, malah dia begitu santai menatapku.
Baiklah jika ini yang kamu inginkan AA!
Aku tersenyum menyeringai, lalu mendekati perempuan dengan lipstik merah darah itu, dia tengah tersenyum kecil menatapku, apa wajah para pelakor memang seperti itu? Kenapa tidak ada raut bersalah sama sekali? Apakah mereka masih manusia? Ish! Aku harus bisa menahan diri agar tidak menangis di depan mereka, sementara itu Aldo dan Siska masih ada di belakangku, mencoba menahanku untuk tidak mendekati perempuan ganjen tersebut.
“Anda ...?” perempuan itu rupanya ingin menyapaku, bertanya siapa aku? Tapi tidak ada yang berusaha menjelaskan semua orang hanya terdiam memperhatikan, termasuk AA suami laknat yang kini malah memijat keningnya. Menyebalkan!.
“Heh! Pelakor! Kau tidak tahu siapa aku?” aku mengedikkan wajahku pertanda mengejeknya.
“Ya? Apakah client dari pak Ed juga?” tanyanya dengan suara mendayu-dayu, memuakkan!.
“Yah! Tentu saja lebih dari sekedar client! Lalu? Siapa dirimu? Beraninya bermain api dengan Tuan Ed?” teriakku lantang dengan menekankan kata Tuan Ed.
“Lebih dari sekedar Client? Maksudnya?” perempuan itu malah mengerutkan keningnya, lalu memindai penampilanku dari atas ke bawah mirip seperti Siska tadi.
“Nya, sebaiknya ...” Aldo maju ke depan untuk menghentikan aksiku, namun aku belum ingin menyerah.
“Diam!” aku membentak dengan emosi setinggi langit di angkasa.
Mereka semua terdiam, hanya perempuan itu yang masih menatapku dengan bingung, tentu saja dia akan bingung melihat pesona istri dari pengusaha ternama sepertiku.
“Anda bukan selingkuhan Tuan Ed bukan?” tiba-tiba perempuan itu tertawa kecil dengan imutnya, menutupi mulutnya dengan jemari lentiknya yang putih.
“What?” aku terbelalak, dasar pelakor beraninya dia membandingkan istri sah dengannya, perebut suami orang! Dasar! Oh ... aku murkaaaaa!.
__ADS_1
“Heh! Pelakor!”
“Tunggu! Pelakor? Maksudnya siapa?” perempuan itu mengerutkan keningnya, menatapku dengan bingung.
“Tuan Ed, apa anda bisa menjelaskan situasi ini?” perempuan itu menatap AA dengan mata genitnya.
“Kamu yang pelakor! Dan aku adalah istri sah!”
Buk!
“AAAWWWWWHHH!! SSSSHHH!! Toloooonnnggg!!”
Dengan tertawa puas aku tertawa jahat kala melihat lawanku sudah meringis di lantai selepas aku meninju payudara montoknya, rasakan!.
“ELIANA PRAMESTIIIII!!!” AA yang sedari tadi diam, tiba-tiba saja bangkit berdiri, menghampiri perempuan yang sudah terjengkang di lantai sembari meringis menahan sakit.
“Apa? Kamu mau membela pelakor itu?” tantangku dengan mata nyalang.
“Dia bukan pelakor! Dia client pentingku, kenapa kamu mudah sekali memutuskan sesuatu?” AA menatapku tajam sembari berusaha membantu perempuan tersebut, sementara Aldo dan Siska segera menahan tanganku agar tidak melakukan serangan susulan.
“Apa kau juga selingkuhannya?” aku menuding Siska, yang di tuding segera menggeleng.
Aku menatap pada Aldo, tanpa aku bertanya Aldo juga segera menggeleng, kenapa Aldo jadi ikutan geleng-geleng? Apa Aldo ...
“Kau pulang!” AA membentak dengan kencang, membuatku terlonjak karena kaget.
“Apa? Jadi kamu lebih memilih pelakor ini dibanding aku?” mataku sendu menahan tangis, rasanya sakit sekali kala melihat sang suami lebih membela perusak rumah tangga kita di banding istri sah.
“Dia bukan pelakor Eliana, dia adalah clientku!” sekali lagi AA mengelak.
“Awh! Kurang ajar! Beraninya kamu menyakitiku! Akan ku laporkan kamu pada polisi untuk kasus penganiayaan dan pencemaran nama baik!” teriaknya dengan air mata bercucuran.
“Silahkan! Laporkan saja!” tantangku dengan wajah tegas.
“Aku juga tidak akan segan untuk melaporkanmu pada KOMNAS HAIS” teriakku lantang.
__ADS_1
“Komnas Hais? Apa itu?” AA bertanya mengerutkan keningnya, perempuan yang baru saja aku tonjok, Aldo, dan Siska juga tengah menatapku penasaran.
“Komisi Nasional Hak Asasi Istri Sah!” ucapku lantang, lalu dengan segera aku memutar tubuh meninggalkan mereka semua yang masih melongo, lalu tak lama kemudian terdengar jeritan perempuan dengan gaun merah tersebut. Rasakan! Beraninya macam-macam dengan Eliana Pramesti! Ya itu akibatnya.
Sementara itu di dalam ruangan sepeninggal Eliana.
“Memang ada KOMNAS HAIS?” di dalam sana AA masih termenung, memikirkan ucapan istrinya sendiri.
“Saya kurang tahu Tuan,” Aldo menyahuti.
“Tuan Ed! Mohon maaf, sepertinya kerjasama kita harus dibatalkan! Saya tidak terima dengan perlakuan perempuan tadi yang mengaku sebagai istri Tuan!” perempuan bertubuh semampai itu segera menyambar tas dengan beberapa berkas kerjasama di atas meja, segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut sembari meringis memegangi *********** sendiri.
Siska dan Aldo yang melihatnya ikut meringis ngilu, melihat persis jika tonjokan dari Eliana menggunakan tenaga penuh, tak bisa dibayangkan seberapa sakit payudara perempuan tersebut.
“Bagaimana ini? Aku kehilangan client pentingku, sudah sedari lama aku mengincarnya agar bisa bekerjasama, usahaku berbulan-bulan harus sia-sia hanya karena sebuah pukulan dari Eliana” AA memijit keningnya yang tiba-tiba terasa begitu sakit.
“Sabar Tuan, jika saya perhatikan akhir-akhir ini Nyonya El memang agak sensitif, apa Tuan juga merasakannya?” Aldo berkata dengan lembut, sementara Ed tidak menanggapi ucapan Aldo, lebih memilih untuk terdiam sembari merenung.
***
“Hiks ... hiks ... hiks ... Jahat! Tega!” Eliana memukuli tanah tempatnya berpijak, air matanya sudah berderai, sesekali perempuan itu melemparkan batu ke dalam air di hadapannya guna meluapkan kekesalannya.
Eliana kini melarikan diri ke sebuah taman di tengah kota, di mana di taman tersebut terdapat sebuah danau buatan berukuran kecil.
Ting!
Sebuah pesan masuk, Eliana segera memeriksanya, berharap AA akan mengejarnya lalu meminta maaf padanya, namun nihil, AA sama sekali tidak peduli pada Eliana.
‘Nyonya El, ngumpul bareng yuk?’
Itu chat ajakan dari bu Mirna, anggota geng Drove Girl sampai saat ini masih aktif, malah semakin merajalela di media sosial, terutama di IG, Tiktok, Michat, Tantan dan mereka juga punya akun youtube sendiri.
‘Ada acara apa?’ Eliana membalas dengan deraian air mata, sesekali tangannya aktif memasukan salad buah yang tadi sempat akan diberikan pada AA untuk makan siangnya, daripada dibuang dan jadi mubadzir, lebih baik Eliana memakannya.
‘Kita belum menyelesaikan tarian kita untuk upload di Tik tok, kemarin kan Bu Lily keburu encoknya kumat’
__ADS_1
Halah!