
Senja memayungi bumi, cahaya jingga terlihat cantik di ufuk sana, angin sepoi meniupi insan yang kini tengah berkacak pinggang sembari menghela napas berulang kali, berulang kali juga pria hampir paruh baya itu mengusap keringat yang menjulur di dahinya. Napasnya kian tersenggal.
“Huh!” gemuruh di dadanya kian berisik, sekuat tenaga pria itu menahan amarah yang hampir meledak, jika bukan karena keinginan istri dan si jabang bayi, maka pria itu sudah pasti enggan untuk melakukan hal-hal diluar nalar.
“Orang kaya kok nyolong!” pria muda yang kini melewatinya mencibir dengan wajah sinisnya, membuat Edgar ingin murka rasanya.
“Apa wanita hamil memang demikian?” Ed menghela napas kembali, kehamilan Eliana sudah memasuki empat bulan, namun ada saja yang dilakukan perempuan itu yang membuat dirinya berkali-kali harus di periksa ke dokter karena darah tingginya kumat.
Teringat kejadian beberapa bulan lalu saat kehamilannya memasuki dua bulan, Ed diperintah untuk mengelus pria botak dengan tubuh kekar layaknya hulk, hulk tersebut menggunakan anting dan kalung yang terbuat dari rantai besi, tentu saja AA yang memiliki fisik hampir lemah ketakutan setengah mati kala dia meminta izin untuk mengelus kepala preman botak tersebut, untungnya AA siap mengeluarkan segepok uang demi bisa menunaikan ngidam sang istri tercinta.
Teringat pula, suatu kali kala mereka tengah makan siang di sebuah restoran, Eliana meminta Edgar untuk menyisir rambut pria dengan model kribo, agar disisir hingga lurus, bagaimana mungkin semuanya bisa terjadi? Tapi Eliana dengan raut memohonnya tetap meminta Ed untuk menunaikan ngidamnya, dengan dalih jika ngidamnya tidak dituruti maka bayi akan ileran, benarkah seperti itu? Edgar tidak tahu, yang jelas saat ini dia sedang kelimpungan, berkat keinginan Eliana yang ngidam ingin mangga muda yang berada di rumah tetangga, Edgar jatuh dari atas pohon, berakhir dengan dikejar Anjing lalu di teriaki maling, karena sebelumnya Edgar hanya meminta izin pada istri sang pemilik rumah yang sudah pergi entah kemana, sementara yang meneriakinya adalah sang suami dari pemilik rumah yang belum tahu apa-apa, jadi lah ada salah paham yang membuat Edgar harus lari terbirit-birit.
“Auuuhhhh ... apa encokku kumat?” Edgar meringis ngilu memegangi pinggangnya.
“Eliaaannaaaa!!” dengan geram AA menyebut nama istrinya. Kembali berjalan dengan terpincang menuju rumahnya dengan buah mangga sebanyak dua biji yang sempat berhasil dipetiknya, AA menyerahkan mangga tersebut dengan wajah kesalnya.
“Apa ini?” Eliana mengerutkan keningnya dengan mulut penuh oleh buah anggur yang baru saja di masukannya, di sebelah kanan dan kiri ada Aksa dan Azura yang tengah memijiti kakinya kanan dan kiri masing-masing. Setelah dijelaskan dan diberi pengertian, akhirnya anak-anak mau menerima kehadiran adik mereka, sekarang justru mereka terlihat tampak saling menyayangi.
“Buah mangga muda yang tadi kau inginkan! Segera makan!” perintah AA dengan galak, sembari mengusap bokongnya perlahan.
“Cih! Sekarang aku sudah tidak menginginkannya”
Duuuaaarrr!!
AA segera membelalakan matanya, apa dia bilang? Setelah AA berjuang naik pohon, lalu jatuh, dikejar Anjing dan diteriaki maling, dengan santainya sang istri bilang sudah tidak menginginkannya? Apa AA boleh menyentil dahi sang istri sebagai wujud kekesalannya?.
“Apa kau bilang? Aku ...”
“Aku menginginkannya tadi, dan karena terlalu lama, maka sekarang seleraku sudah hilang” ucapnya dengan gaya santai seolah tidak bersalah sama sekali.
“Elianaaaaaaa!!!” Edgar berkata dengan geram, giginya gemelatuk menahan amarah.
“Apa? Jangan teriak-teriak, bagaimana jika anakmu dalam perutku menangis dan minta keluar sekarang? Apa kamu mau?” Eliana mendelikkan matanya kesal.
Edgar segera mengusap dadanya dengan lembut, memukul-mukulnya dengan kesal kemudian, menahan amarah yang tidak bisa diluapkan.
“Ya! Ayah jangan memarahi adik bayi, nanti dia sedih!” Aksa melipat kedua tangan di dada tidak terima.
“Kalau Ayah marah-marah terus, kita akan memarahi Ayah kembali” Azura juga turut memberikan suara.
Ha? Satu banding tiga? Lantas Edgar bisa apa? Edgar mengacak rambutnya frustasi.
***
__ADS_1
Bulan-bulan terlewati dengan sangat baik, kadang ada tawa, canda, tangis dan air mata, semua berjalan sesuai dengan kehendak-NYA. Hari ini usia kandungan Eliana tepat berusia sembilan bulan lewat dua hari, menurut prediksi dokter Eliana akan melahirkan beberapa hari lagi, segala persiapan sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, dari mulai pampers hingga sikat gigi untuk bayi sudah ada di dalam tas bayi yang sudah siap sedia, agar nanti jika waktunya mendesak maka mereka tinggal segera pergi.
Reservasi rumah sakit dengan kelas VVIP juga sudah di pesan dari jauh-jauh hari, kelahiran anak pertama dari pasangan Eliana dan Edgar akan dilakukan di tempat yang paling mewah, sebetulnya Eliana tidak berminat seperti demikian, namun karena ada endorse dari rumah sakit terkait maka Eliana tidak akan membuang kesempatan tersebut, sebagai istri pengusaha kaya raya yang jumlah followersnya terus meningkat setiap harinya, jelas saja membuat Eliana kebanjiran endorse, namun hanya beberapa yang dia terima, selebihnya Eliana menolak.
Hari ini, Edgar kembali melakukan kegiatannya seperti biasa, kerja keras bagai kuda, berfikir jika kelahiran anaknya masih beberapa hari lagi, maka Edgar masih akan pergi bekerja seperti biasa, anak-anak juga masih dengan aktivitasnya seperti biasa.
Namun, rupanya rencana hanya tinggal rencana, hari ini saat semua orang sudah pergi dengan urusan masing-masing, Eliana merasa perutnya terasa begitu sakit. Di rumah hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang tengah sibuk beberes rumah.
“Awwwhhhh ... tolooonngg” Eliana mengerang kala Ia mulai melihat cairan berwarna bening dari jalan lahirnya.
“Tolooonnggg ...” suara Eliana rupanya tidak terdengar oleh para asisten rumah tangga yang berada berjauhan dari Eliana.
“Apa aku akan melahirkan? Kenapa rasanya sakit sekali?” Eliana semakin meringis merasakan kontraksi yang rutin datang setiap sepuluh menit sekali.
“Aku harus ke rumah sakit” Eliana berkata lirih dengan menggigit bibirnya, menyambar tas bayi yang sudah dipersiapkan lalu berjalan tertatih menuju luar rumah.
“Tooollooonnngghhhh” Eliana kembali merintih dengan tangan meremas perutnya sendiri, tidak tahan dengan rasa sakit yang kian mencengkram.
“Awwwhhh ... kemana semua orang?” Eliana celingukan.
“Nya! Mau kemana Nya? Nyonya ngompol?” Pak Mamat datang tergopoh sembari melihat lantai teras yang dipijaki sang Nyonya.
“Kalau mau ngompol ke toilet aja Nya, jangan disini, kan jorok kalau ngompol disini” Pak Mamat menutup hidungnya.
“Ah ... kuh ... aaaawwhhh, sshhh” Eliana meringis tidak bisa meneruskan kata-katanya.
“Tuan Ed Nya? Kan lagi di kantor” Pak Mamat malah berwajah kebingungan.
“Awwhhh!! Telpooonnn!! Bilang! Aku mau lahiran!” Eliana berteriak kala kontraksi terus menerjang perutnya, kini Eliana sudah terduduk di lantai.
“Owh, ay ay captain!” Pak Mamat melakukan gerakan hormat lalu segera meraih ponselnya, menghubungi Edgar, Edgar di seberang sana langsung panik, dan memerintahkan sesuatu pada Pak Mamat.
“Nya! Kata Tuan kita langsung ke rumah sakit aja, nanti Tuan Ed akan langsung kesana!”
Eliana tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung segera dipapah oleh Pak Mamat, tak lupa tas bayi yang tadi sempat teronggok di lantai pun segera di panggul Pak Mamat.
“Aaawwwhhh!! Aku sudah tidak kuaaattttt!!” Eliana mengerang menahan sakit, membuat Pak Mamat menjadi tegang dan menyetir dengan tidak fokus.
“Aaawwwhhh! Tolooonngg!” jeritan Eliana menarik perhatian pada orang-orang diluar sana, kala mobil berhenti di lampu merah.
“Nya, sabar Nya!” Pak Mamat hanya bisa menyampaikan kata itu, tangannya kuat mencengkram stir mobil.
“Huh ... huh ... huh ... tolooonnngg!!” Eliana kembali histeris membuat Pak Mamat semakin kalang kabut, kala ada mobil polisi tepat di belakangnya, seperti mengikuti laju mobilnya.
__ADS_1
“Kita di ikuti polisi Nya!” Pak Mamat membelalakan matanya.
“Apa kita melanggar peraturan lalu lintas?” Pak Mamat bertanya, membuat Eliana semakin kesal dibuatnya.
“Cepat!” Eliana membentak di antara rasa sakitnya.
“Baik Nya!” dengan kecepatan penuh Pak Mamat kembali melajukan mobilnya, sementara mobil polisi belakang sana masih terus mengikuti.
“Huh ... huh ... gak kuattt!!!”
CCIIITTTT!
Bunyi decitan terdengar menggema tepat di tempat yang lumayan lenggang, hingga Pak Mamat terpaksa harus membanting setirnya menuju halaman rumah seorang warga.
“Huh! Ada apa ini?” Pak Mamat terlonjak kala mendengar suara ketukan di jendela kaca mobilnya.
“Po polisi? Apes tennaaannn ... piye iki?” Pak Mamat hampir menangis, lututnya bergetar hebat, Ia begitu takut berurusan dengan hukum, terlebih sekarang kaca mobilnya sudah diketuk Polisi.
“Pak, saya gak salah apa-apa Pak”
“Tolooonnngg, huh ... huh ... huh ...” Eliana masih mengatur napas, rasa sakitnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Nya, kita ditangkap polisi Nya” suara Pak Mamat membuat Eliana kian panik.
“Aaawwwhhhh!!” Eliana mengerang hebat,
Polisi terus mengetuk jendela mobil, Pak Mamat membukanya dengan terpaksa.
“Selamat siang, maaf boleh saya memeriksa mobil Anda?” Polisi tersebut bicara dengan tegas.
“A apa?” Pak Mamat kian bergetar.
“Tolooonnngggg!!” Polisi segera membuka paksa pintu mobil.
“Anda baik-baik saja? Apa Anda di culik?” polisi segera memeriksa.
“Awwwhhh! Bayinya mau keluaaarrr, aaaaaahhhh!!” seketika Eliana menjambak rambut Pak Polisi dengan brutal, melampiaskan rasa sakit yang sedari tadi ditahan.
“AAAAA!!” pak Polisi ikut berteriak seiring dengan helaian rambutnya yang rontok di tangan Eliana.
“Nya! Sepertinya kita berhenti di tempat yang tepat Nya!” Pak Mamat melupakan urusannya dengan Polisi tadi, seketika wajahnya berbinar kala mendongakan kepalanya ke atas, dan menemukan sebuah plang yang membuat hatinya lega seketika.
“MA IJAH DUKUN BERANAK”
__ADS_1
“Apah? TIDDDAAAAKKKKK!!!”
END