DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Tatapan Mendamba


__ADS_3

“Aaaaaaaaa ... sial! Sial! Sial!” berkali-kali Eliana menghentakkan kakinya, setelah tiba di halaman rumah megah Edgar, menuju pulang.


“Hiii ... hhiii ... hhii ...” terdengar suara tawa anak-anak, Eliana celingukan mencari sumber suara.


“Bibi ...” terdengar suara bisikan dari arah samping tempatnya berdiri, Eliana kembali mengedarkan pandangannya.


“Bibi ...” bisikan itu kembali terdengar,


“Bibi ...” tiba-tiba saja kaki Eliana di peluk seorang anak kecil, Eliana terperangah, lalu menundukkan pandangannya.


“Aksa ...” Eliana melambaikan tangannya, lalu tersenyum menatap Aksa,


“Bibi ... apa kau datang untuk menemuiku lagi??” tanya Aksa masih mendongakkan kepalanya, menatap Eliana yang tinggi badannya jauh di atasnya.


Eliana berjongkok, kemudian menangkup kedua pipi Aksa, bibir kecil itu menunjukkan senyumannya. Eliana terkekeh, di matanya Aksa adalah anak laki-laki yang begitu lucu.


“Tidak, aku hanya ada keperluan pada Ayahmu” Eliana menggeleng, lalu tersenyum lembut.


“Aaaahhh ... aku pikir Bibi datang kesini untuk menemuiku” Aksa menunduk, anak itu terlihat begitu kecewa, membuat Eliana semakin gemas melihatnya.


“Baiklah, aku datang kesini untuk menemuimu” Kata Eliana, membuat mata Aksa berbinar.


“Bibi mau makan roti denganku??” tanya Aksa penuh harap, Eliana terlihat berfikir beberapa saat.


“Boleh” Eliana mengangguk.


“Ikut aku” Aksa menarik tubuh Eliana untuk menuju sebuah pintu yang ternyata menuju sebuah dapur, dapur yang terlihat luas dan megah kini terpampang nyata di hadapan Eliana.


“Aksa, apa yang kau lakukan??” Eliana menatap tubuh Aksa yang menarik kursi untuk menggapai rak yang berada di atasnya.


“ssssstttt ... mulai sekarang ini adalah tempat persembunyian kita” Aksa menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. Eliana terdiam, tidak lama Aksa membuka salah satu almari itu, dan setelah almari tempat makanan itu terbuka, terpampanglah berbagai macam coklat dengan segala bentuk dan segala warna. Eliana terlihat bingung.


“Aksa?” Eliana kembali membungkam mulutnya, kala mendengar suara hentakan langkah kaki dari arah ruang tengah, dia segera menarik tubuh Aksa untuk berjongkok di bawah kursi makan yang berada tidak jauh dari sana.


Aksa pun melakukan hal yang sama, dia membekap mulutnya sendiri, dengan beberapa coklat dalam dekapannya.


“Ah iya, atur saja semuanya, malam ini aku akan memeriksa semuanya, ya ya ya ... atur saja” terdengar suara Edgar tengah berbicara di telpon entah dengan siapa.


Tidak lama, terdengar Edgar membuka kulkas, lalu meraih satu buah minuman kaleng, lalu menenggaknya hingga tandas, beberapa saat Edgar berdiri, mengedarkan pandangannya, tanpa dia sadari di bawah kakinya ada dua mahluk yang sedang menahan napasnya.


Tidak lama, Edgar kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah kembali, Eliana menarik napasnya panjang, sementara Aksa, anak itu sudah duduk bersila sambil memakan coklatnya.


“Aksa? Kenapa kau memakan coklat dengan sembunyi-sembunyi?” tanya Eliana merasa heran dengan sikap Aksa.


“Aaahhh ... Ayah selalu melarangku untuk memakan coklat, padahal aku menyukainya” ucap Aksa, anak itu akan asyik sendiri, kala dia sudah menemukan makanan kesukaannya.


“Kenapa??” Eliana mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Ayah bilang, terlalu banyak makan coklat itu tidak baik” ucap Aksa dengan pipi mengembungnya, karena coklat telah memenuhi mulutnya sekarang.


“Kenapa Ayahmu sangat aneh sekali??” gumam Eliana, tapi Aksa hanya asyik dengan kegiatannya.


“Bibi ...” Aksa menatap Eliana,


“Iya, apa??” Eliana balas menatap Aksa.


“Bibi mau jadi Ibuku??” tanya Aksa dengan wajah polosnya.


Deg ...


“A apa?? Eh, ehem ... apa??” Eliana salah tingkah,


“Bibi mau jadi Ibuku?? Setiap hari menemaniku makan coklat, dan menemaniku menggambar” ucap Aksa dengan polosnya.


“Hahaha ...” Eliana tertawa sendiri, membayangkan dia menjadi seorang Ibu, padahal dia belum menikah, sangat menggelikan.


“Huuuaaaa ...” tiba-tiba Aksa menjerit, dan melemparkan coklatnya ke lantai, membuat Eliana bingung, segera Eliana celingukan, lalu menangkap tubuh Aksa, mencoba menenangkannya.


“Bibi jahat! Kenapa tidak mau menjadi Ibuku??” tanya Aksa dengan mata yang di penuhi air mata.


“Duuuhh ... bagaimana caraku menjelaskannya??” Eliana terlihat mulai prustasi.


“Keributan apa ini???” tiba-tiba suara berat itu mengguar telinga Eliana, hingga membuatnya mengerjap, lalu mendongakkan kepala,


Deg ...


“A apa?? Ee eeehhh ... ini tidak seperti yang kau bayangkan” Eliana mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Bukankah kau tidak ingin bertemu denganku lagi?? Bukankah kau bilang harga dirimu begitu tinggi?? Kenapa kau masih di sini? Dengan membuat putraku menangis?!” Edgar meninggikan suaranya, wajah datarnya membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri.


“Aksa! Masuk kamar!” Edgar menunjuk arah kamar Aksa dengan tegas.


“Tapi Ayah ... aku ingin Bibi ini bersamaku, aku ingin Bibi ini menemaniku tidur” ucap Aksa mengeratkan pelukannya pada Eliana.


“Kau! Berani melawanku??!!!” Edgar menyeringai, menatap putranya tajam.


“Apa yang kau lakukan?? Kenapa kau membentak anak kecil??” Eliana menengahi mereka.


“Apa hakmu?? Dia putraku! Apapun yang aku lakukan pada putraku, itu terserah padaku!” ucap Edgar semakin meninggikan suaranya.


“Tapi kau tidak pantas membentak putramu sendirii!!” Eliana tak kalah keras suaranya.


“Aku ingin Bibi tetap disini hhuuaaaa ...” Aksa menangis histeris, membuat kegaduhan di rumahnya, hingga membuat beberapa ART dan penjaga rumahnya berdatangan, alangkah terkejutnya mereka kala melihat perempuan asing ada di dapur tuannya. Apa yang terjadi? Itu fikiran mereka.


“Aksa! Apa yang kau lakukan?? Kenapa kau malah menangis? Membuat kepala Ayah tambah pusing saja!” Edgar memijit kepalanya perlahan.

__ADS_1


“Ayah ... aku ingin Bibi tetap di sini” Aksa kembali mengiba di antara isakannya.


Eliana memeluk Aksa perlahan, memberikan rasa nyaman pada Aksa, perlahan Eliana mengusap punggung Aksa yang masih sesenggukan.


“Aksa, Aksa tidur yah, sudah malam, lain kali Bibi akan menemuimu lagi, Bibi akan membelikanmu banyak roti, bagaimana??” tawar Eliana sambil menyeka air mata Aksa dengan jari-jarinya.


“Tidak, aku ingin Bibi membacakanku buku cerita” Aksa menggelengkan kepalanya.


Eliana terdiam, menatap Edgar yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis,


“Nona, sebaiknya Nona mengantarkan Tuan Aksa ke kamarnya, setelah itu, Nona baru pergi” ucap salah satu ART Edgar memberi saran, dan ART itu seketika mendapat tatapan tajam dari Edgar, dia menundukkan kepalanya dalam, merasa takut.


“Ayo Bibi ... ikut denganku” seketika Aksa berdiri, lalu menarik lengan Eliana, membuat Eliana mengikuti tubuh kecil Aksa.


“Ini kamarku ...” Aksa membuka pintu kamarnya, lalu merangkak naik ke atas kasur, membenahi dirinya sendiri masuk kedalam selimut.


Sementara Eliana hanya melongo, bingung, Eliana masih berdiri di samping pintu, mengedarkan pandangannya pada kamar Aksa.


“Bibi ... ayo cepatlah, ceritakan aku sebuah dongeng” suara Aksa membuat Eliana mengerjap, tersadar dari lamunannya.


“Baiklah ...” Eliana berjalan menghampiri Aksa, lalu dia meraih buku dongeng Aksa yang terletak di atas nakas, di samping lampu tidurnya.


“Aksa, mau di ceritakan dongeng apa??” tanya Eliana lembut, sementara itu tangan kanannya menepuk-nepuk bahu Aksa perlahan.


“Dongeng si kancil saja” saran Aksa, lalu Eliana menganggukkan kepalanya, membuka buku cerita si kancil.


“Dahulu kala ... di sebuah pegunungan yang dalam terdapat seekor kancil yang terkenal sangat cerdik ........................” lambat Eliana membacakan dongengnya dengan penuh penghayatan, hingga perlahan mengantarkan Aksa pada mimpi indahnya.


Eliana menarik napasnya, menghentikan kegiatannya, Eliana menutup buku dongeng Aksa, lalu menyelimuti tubuh mungil Aksa, Eliana mematikan lampu tidur Aksa, lalu beranjak menuju pintu, lalu menutupnya.


Eliana keluar dari kamar Aksa,


“Terimakasih ...”


Tiba-tiba saja suara berat itu membuat Eliana menggantungkan tangannya pada knop pintu, Eliana membalikkan tubuhnya, menatap sumber suara yang tengah bicara padanya.


Terlihat Edgar tengah menyandarkan tubuhnya pada tembok di samping pintu kamar Aksa. Eliana terkesiap, kala melihat tubuh Edgar yang tengah menatapnya dalam. Bukan tatapan dingin, tapi tatapan mendamba.


.


.


.


.


.

__ADS_1



sudah baca SENGKETA HATI belum? Kalau belum yuk mampir


__ADS_2